
Mereka bertiga kemudian duduk dimasing-msing sofa panjang yang ada diruang tengah itu, masing-masing mereka hanya terdiam di ruang tengah tersebut mereka bertiga larut dalam lamunan mereka dan pikiran mereka tentang siapakah laki-laki misterius tersebut dan siapa yang menyuruh melakukan pelemparan itu.
Hanya terdengar helaan nafas ketiganya,dan suara cicak yang asyik bermain diplapon rumahnya itu.
" Berarti ini benar pah, apa yang dikatakan oleh om Yosep tadi." Ucap Marco memecah keheningan.
" Maksud kamu?"
" Tentang keluarga dari Om Rendy dan tante Sinta,karena dari tulisannya itu aja dia mengatakan garis keturunan tante Sinta dan om Rendy, berarti kan mereka mengetahui kalau Om Rendy dan tante Sinta hanya punya dua anak saja, makanya mereka berdua ditindas dengan secara mental dan pikirannya, karena apa? Mereka mungkin mengira kedua anak Almarhum tidak bisa melawan, karena mereka berpikir kak Amel dan Nika itu perempuan tidak akan bisa melawan, setiap perempuan itu di pikiran laki-laki tidak bisa melawan dengan kuat." Ucapnya.
" Eh, eh...jangan salah sayang, ngomong jangan seperti itu, perempuan itu bisa aja melawan, perempuan tidak mau untuk ditindas semakin dia ditindas semakin terasa sakit mereka rasakan pasti akan melawan, seorang perempuan tidak akan tinggal diam, pikir aja semut aja diinjak dia pasti akan menggigit, begitu juga dengan seorang perempuan." Ucap Clarissa.
" Iya sayang... itu perumpamaannya, jika seandainya perempuannya itu seperti kamu, aku sih yakin aja pasti melawan dan segera memenjarakannya." ucap suaminya lagi.
" hmhmhm... benar juga apa yang dikatakan Marco, karena dari tulisan isi dalam kertas itu intinya kita harus tidak boleh membantu Nika dan Amelia." ucap papa Boby lagi.
Clarissa dan Marco hanya menganggukan kepalanya, lagi-lagi mereka hanyut dalam lamunan mereka, lama mereka terdiam entah apa yang dipikirkan oleh mereka, papah Boby melihat kerah Clarissa sesaat,dan Clarissa menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang dia duduknya itu, Sedangkan Marco pun menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan menatap langit-langit ruang tengah rumah mertuanya tersebut, papah Boby pun menghela nafasnya dengan dalam dan dia pun juga menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan sama-sama menatap ke langit-langit ruangan rumahnya itu.
" Besok kamu tetap mau ke kantor Ris?" tanya Papah Boby, tapi dia tidak menatap buah hatinya itu dan tetap dalam posisinya semula.
" Iya Pah, Risa tetap berangkat ke kantor,besok Risa ingin mengatakan semuanya kepada mereka dan menyusun rencana agar segera mengetahui semuanya ini dan mencari tahu tentang perusahaan almarhum Om Rendi di luar negeri." ucapnya.
" Kalau kamu Marco, Apakah kamu ngantor besok?"
" Kayaknya nggak deh Pah."
" Kalau kamu memang tidak ngantor besok, kamu Papa minta untuk berada dirumah papa, biar kamu bisa menemani mereka di sini."
" Iya pah, itu yang ingin Marco katakan kepada papa setelah mengantar Risa ke kantor, Marco akan segera kembali ke rumah Papa."
" Sayang, aku enggak usah diantar, besok aku berangkat sendiri."
" Tapi kan ini terlalu bahaya sayang, Siapa tahu mereka khilap mata dan salah sasaran."
" Nah justru itu yang aku inginkan."
" Maksud kamu?"
" Kalau mereka memang salah sasaran, itu yang aku malah suka, Jadi aku mengetahui siapa semuanya mereka itu."
" Tapi kalau kamu diapa-apain mereka gimana?"
" Kamu nggak usah takut sayang, aku bisa jaga diri kok sayang...."
" Kamu itu sudah bersuami,kamu itu calon ibu dari anak-anakku nanti,kalau kamu kenapa-napa aku tidak bisa hidup tanpamu." ucap Marco,Clarissa pun tersenyum mesra menatap sang suami.
" Ehem... ehem... ehem...kalau mau romantis itu jangan di depan Papa dong, papah nggak ada lawannya hehehe...kita ini lagi berdiskusi." ucap papa Bobby masih tetap menatap ke arah langit-langit ruangan rumahnya itu, mereka berdua pun tersenyum kemudian kembali menyandarkan tubuh mereka di sandaran sofa.
" Risa kalau kamu ngantuk lebih baik kamu naik ke atas kembali ke kamarmu, Biar Papa dan Marco aja yang menunggu di sini bersama, sambil berjaga-jaga, Siapa tahu mereka nanti akan kembali lagi."
" Enggak Pah, Risa tetap disini sama papah dan Marco, Risa tidak mau membiarkan papa dan Marco hanya berdua saja di ruang tengah ini."
" Tapi kamu besok kerja nak, lebih baik kamu tidur."
" Enggak papah, kalau masalah tidur itu gampang pah, sekarang kan Risa nggak ngantuk kok, nanti kalau Risa ngantuk Risa bilang kok."
" Ya udah kalau mau kamu seperti itu." Ucap papah Boby sembari melirik kearah sang anak.
Kembali lagi hening! tidak ada suara di antara mereka bertiga karena posisi mereka duduk masing-masing di sofa panjang tersebut, ditambah suasana ruang tengah tersebut memang tidak terlalu terang, karena Papah Boby menggunakan cahaya lampu ruangan yang redup kalau dia menyalakan lampu yang terlalu terang akan menambah kecurigaan kalau seandainya ada lagi orang yang datang ke rumahnya tanpa permisi.
Kira-kira setengah jam mereka terdiam terdengar suara mendengkur seseorang,Papa Bobby pun kemudian membenarkan duduknya dan mencari arah suara tersebut dia melihat Marco masih tetap bermain dengan gawainya dan matanya pun masih terbuka kemudian mata Papah Bobby pun menatap kearah sang anak.
" Ya salam!" ucap papa Boby seraya menepuk jidadnya sendiri, Marco pun terkejut mendengar ucapan dari sang mertua, karena dia tidak terlalu mendengar dengkuran sang istri karena dia fokus dengan gawainya, dia pun kemudian menoleh kearah mertuanya dan langsung menatap lagi kearah istrinya, Marco pun langsung tersenyum dan meletakkan gawainya di meja ruang tengah tersebu,nyaris saja dia tertawa lepas mendengar dengkuran sang istri, tapi dia masih bisa menguasai dirinya. Papa Bobby pun menutup wajahnya sembari terkekeh.
" Nih anak katanya mau menemanin papa dan suaminya berjaga-jaga di ruang tengah rumahnya sendiri, tapi nyatanya dia tidur sendiri, mendengkur lagi, Aduh-aduh... bagaimana mau menangkap penjahat kalau pengamanannya aja ini molor." ucap papa Boby sembari terkekeh, Marco pun terkekeh sembari berdiri dan mengambil bantalan sofa untuk membenarkan tidur sang istri yang berada di sofa tidak jauh darinya.
Di kamar Amelia dia tidak bisa memejamkan matanya, dia hanya membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, kemudian dia pun langsung duduk di bibir ranjang kamarnya tersebut dia menatap sang adik dan membenarkan letak selimut adiknya itu, Dia membelai rambut adiknya dan mencium kening adiknya sesaat terlihat Nika menggeliatkan tubuhnya dan terlelep lagi, kemudian dia pun melangkah ke sofa yang ada di ruangan itu yang tidak jauh dari jendela kamarnya, dia membuka tirai jendela kamarnya itu sedikit kemudian dia menatap jauh ke luar sana, hari memang sudah sangat larut tapi suasana di luar jalanan itu masih ada satu dua kendaraan yang hilir mudik di depan rumah Omnya tersebut.
" Ya Allah, siapa orang itu yang telah menghancurkan jendela rumah om Bobby, aku jadi tidak enak perasaanku ini, aku dan adikku ditolong om Boby dan keluarganya sampai mereka pun ikut terlibat dalam masalah yang aku hadapi, mama papa, Amel harus gimana? berikanlah Ya Allah petunjukmu agar cepat mengetahui siapa mereka dan berilah aku kekuatan dalam menghadapi masalah yang terjadi, serta kejadian-kejadian yang aneh dan nyata didepan mata ini tunjukkan Ya Allah Siapa mereka sebenarnya." ucapnya sembari menghela napasnya dengan dalam dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tersebut.
Dia menatap ke arah luar jendela tepat menatap jauh ke langit malam yang gelap namun terlihat indah karena bertaburan bintang menghiasinya.
" Aku jadi teringat apa yang dikatakan oleh mereka tadi,kalau papah bukan anak kandung dari nenek yang ada di kota ini, sebenarnya aku ingin bertemu dengan keluarga Papa ataupun keluarga mama, biar bagaimanapun Aku dan adikku adalah keluarga mereka,karena papah dibesarkan dikeluarga nenek yang ada di kota ini, walaupun mereka tidak menyukaiku tapi setidaknya aku bisa mengetahui keluarga dari almarhum Mamah dan keluarga dari almarhum Papa, aku juga ingin merasakan kebahagiaan bisa berkumpul dengan keluarga papa dan mama, Tapi apa dayaku semuanya tidak aku kenal mama dan papa sempat cerita kalau mereka berada di kota ini tapi mama dan papa sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku, sehingga memilih tinggal di luar negeri untuk membesarkan aku dan adikku, sampai akhirnya Mama sendiri juga yang menyuruh ku untuk pulang ke tanah air, Ya Allah kenapa beban ini begitu berat aku rasakan, sehingga aku harus berjuang dari masalah ini dan kenapa dia selalu mengikuti kami padahal dia sangat baik dengan papa waktu itu, aku juga tidak tahu kenapa? dia begitu saja berubah Setelah Papa meninggal dunia."
Ucapnya dalam batinnya sembari terus menatap ke langit lepas dan tanpa terasa matanya pun menutup dan menikmati malam itu terlelap dalam tidurnya dengan posisinya yang masih duduk di kursi sofa yang ada di ruangannya itu.
" Kak...kak Amel, bangun..."
Dia perlahan membuka matanya dia terkejut melihat sang adik yang menggunakan alat salat berada duduk di hadapannya, Nika tersenyum kepada Amelia dengan begitu manisnya.
" Kamu cantik sekali Dek pakai alat sholat ini."
" Ini diberikan tante Lala tadi, Ayo Kak kita sholat, Kakak bersihkan diri dulu gih."
" Sholat?"
" Iya Kak."
Amelia bingung karena selama ini dia sudah meninggalkan sholat,terakhir mengerjakan sholat sebagaimana mestinya orang muslim pada saat tertentu saja dia menghela nafasnya dengan panjang dia tertegun dengan ucapan sang adik
" Tadi malam Kak Carlo menjelaskan kepada Nika, kalau Nika ingin cepat sembuh dan tidak berpikiran yang negatif ataupun sedih lagi Kak Carlo menyarankan kepada Nika untuk Sholat, karena dengan cara kita sholat kita akan merasa tenang pikiran kita tidak terganggu dan kita bisa menyelesaikan segala macam masalah yang kita hadapi in sya Allah, Allah akan selalu bersama dengan kita." ucap Nika mengulang perkataan Carlo yang didengarnya tadi malam.
Lagi-lagi Amelia tertegun dengan ucapan sang adik.
" Ya Allah, maafkan hamba karena sudah melalaikan perintahmu." Ucapnya terasa matanya perih, air matanya sudah tidak terbendung lagi,dia meloloskan air matanya tersebut dikedua pipinya itu.
" Kakak nggak usah Nagis,Ayo Kak, Kakak bersihkan badan kakak dan kita sama-sama sholat bersama dengan mereka."
Amelia pun kemudian mengangguk dan berdiri dari duduknya dia melangkah ke kamar mandi yang ada didalam kamarnya tersebut, Dia kemudian melakukan ritual mandinya, beberapa saat kemudian dia pun keluar dari kamar mandinya itu dan mengambil baju bersih serta memakainya, kemudian Nika memberikan alat sholat yang sudah dikasihkan oleh Mama Lala padanya tadi pagi sebelum Amelia bangun, setelah memakainya Amelia pun langsung keluar bersama dengan sang adik melangkah menuju ke ruangan sholat dimana mereka sudah menunggu untuk melaksanakan shokat subuh berjamaah di rumah papah Bobby itu.
Merekapun kemudian melaksanakan sholat subuh berjamaah, beberapa saat sholat subuh pun selesai dilaksanakan, mereka seperti biasa juga membaca ayat suci Alquran, Amelia dan Nika tertegun mendengar mereka semua melafalkan ayat suci Alquran, begitu sangat syahdu dan merdunya terdengar di telinga mereka berdua, setelah mereka selesai membaca ayat suci Alquran tersebut Amelia pun kemudian mengatakan kepada Mamah Lala.
" Tante bisakah tante mengajari Amel dan Nika agar bisa seperti kalian yang bisa melantunkan ayat suci Alquran yang begitu merdunya di telinga kami berdua yang mendengarnya."
Mama Lala pun tersenyum Begitu juga dengan yang lainnya mereka tersenyum mendengar permintaan dari Amelia.
" Alhamdulillah kalau kamu ingin belajar in sya Allah tante akan mengajari kalian berdua."
" Terima kasih ya Tante " ucapnya.
Mama Lala pun mengangguk Seraya memeluk Amelia dengan penuh kasih sayang, Kemudian mereka pun melepaskan alat sholat mereka masing-masing dan membawanya kembali ke dalam kamar mereka seperti semula, Mamah Lala dan Clarissa duduk di ruang tengah bersama dengan suami, anaknya dan menantunya.
" Mbeb kamu jadi hari ini menemani aku ke tempat tante Rena?"
" Iya Mbeb."
" Terus bagaimana dengan si peneror tadi malam?" Tanya mamah Lala seraya menatap ke arah suaminya tersebut.
" Kamu nggak usah mikir kan itu mbeb, setelah dari Tante Rena aku akan menemui Andre dan yang lainnya,itupun Setelah mengantar kamu juga ke rumah."
Mama Lala pun menganggukkan kepalanya, beberapa saat kemudian Amelia dan Nika berjalan mendekati mereka dan ikut juga duduk di tengah-tengah mereka tersebut.
" Hari ini kamu masuk sekolah Carlo?" tanya papah Boby pada Carlo.
" Iya Pah "
" Bisakah Nika sekolah hari ini Om, Tante?" Tanya Nika seraya menatap mereka semua secara bergantian.
Merekapun kembali menatap kearah Nika dan lalu saling bertatapan satu sama lainnya.
" Memangnya kamu mau sekolah?" tanya Mama Lala.
" Iya Tante, Nika mau masuk sekolah boleh kan.?"
Mama Lala kemudian menatap ke arah papah Boby,terlihat papah Boby menarik napas dengan pelan dan menatap ke arah Nika.
" Nika sayang, sementara waktu ini, kamu jangan masuk sekolah dulu, kamu istirahat aja di rumah ya, kamu harus memulihkan tenaga kamu yang baru saja keluar dari rumah sakit." ucapnya
" Jadi Nika tidak boleh masuk sekolah Om?"
" Bukannya tidak boleh, kalau kamu sudah sembuh kamu boleh masuk sekolah kembali bersama dengan Carlo dan Almira "
" Iya Nika, kamu nggak boleh sekolah dulu, kamu di rumah aja, nanti aku segera pulang, kita cerita-cerita lagi." ucap Carlo tersenyum.
Akhirnya Nika pun menganggukkan kepalanya, walaupun terlihat jelas di wajahnya kesedihan karena tidak diperbolehkan untuk masuk sekolah saat ini.
" Iya Dek, kamu harus berada di rumah bersama kakak, kamu kan baru sembuh dari sakit kamu, masak kamu mau masuk sekolah sih, ntar kalau kenapa-napa kamu di sekolah gimana coba? mau kamu masuk rumah sakit lagi, kamu nggak mau kan." ucap Amelia pada Nika seraya merangkul sang adik yang duduk disampingnya itu,Nika menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
Kemudian asisten rumah tangga nya pun mengatakan kepada mereka kalau sarapan pagi sudah tersedia, merekapun kemudian menganggukan kepalanya, Papa Boby pun mengajak mereka sarapan pagi bersama, mereka semua melangkah menuju ke ruang makan dan menikmati hidangan pagi yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangga keluarga Papa Bobby tersebut.