
Arvin hanya terdiam dan tak berbicara lagi.
" Ya Allah maaf kan hamba yang sudah menyakiti hati seorang wanita yang sangat hamba sayangi tapi sudah jadi milik orang lain" ucap Batinnya.
" Kamu kenapa nak? Ada apa sebenarnya? Apakah kamu menyakiti nya?" Tanya Bunda Adel pada anaknya.
Arvin mengangguk dan tersenyum pada bundanya.
Bunda Adel tersenyum dan mengusap pundak anak lelakinya.
" Nanti kalau kalian ketemu lagi, coba lah beranikan diri meminta maaf padanya,karena tidak baik membuat sakit hati anak orang sayang,biar tidak ada dendam" ujar Bunda Adel pada anaknya.
" Ya udah kalau gitu kita pulang dulu dan istirahat buat nanti malam,biarkan para EO nya mengurus semuanya." Ajak papah Andre.
Semua mengangguk dan langsung masing masing berjalan membawa barang bawaan mereka,dan Abiyasa menggenggam tangan sang istri dan mengajaknya memasuki mobil pribadinya yang memang sudah di bawa kan oleh sopir keluarganya.
Semua mobil meninggalkan gedung resepsi dan menuju kerumah masing masing,sedangkan keluarga Abi Yosep di bawa kerumah papah Andre di karenakan terlalu jauh pulangnya.
Di mobil Abiyasa...
" Sayang terimakasih ya sudah mau menjadi istri mas" ucapnya tersenyum seraya memegang tangan sang istri.
Ayesha tersenyum malu malu,karena setiap berdekatan dengan Abiyasa jantung Ayesha selalu berdebar,bahkan sekarang Abiyasa sah sudah jadi suaminya,degupan jantungnya tidak beraturan,antara gugup dan bahagia.
Sesekali Abiyasa menatap istrinya yang duduk manis di sampingnya.
" Kamu cantik sayang kalau lagi tersenyum kaya gitu" ucapnya menggoda istrinya.
Ayesha menoleh kearah suaminya,seraya menatap suaminya penuh makna.
"Iih,mas ..." Ucap nya pelan.
" Apa sayang...kamu bikin mas selalu rindu" ucapnya lagi.
" Udah ah mas, ngegombal mulu" ucapnya seraya memalingkan wajahnya kesamping tersenyum malu malu.
Abiyasa hanya terkekeh saja,mobil yang di kendarai oleh mereka berdua memasuki halaman rumah keluarga Wibawa.
Abiyasa turun dan membukakan pintu untuk sang istri,mereka berjalan beriringan memasuki rumah dan langsung menuju kekamar utama pribadi Abiyasa.
Karena mereka lebih dulu sampai di rumah tersebut.
*****
Di kediaman Nadine...
Dokter Roni mendekati sang adik,yang sedang terlihat bersedih.
" Lagi apa nih?" Tanya Dokter Roni langsung duduk di sebelah adiknya tersayang.
Dokter Roni memang sudah lama tidak bertemu dengan sang adik dan mamahnya,karena dia ada perjalanan dinas keluar kota selama satu bulan.
Nadine tersenyum simpul pada kakaknya itu.
" Lagi nyantai aja kak"
"Kamu nggak datang nanti malam ke acara pertunangannya Anindita ?" Tanya Dokter Roni kepada adiknya.
Nadine hanya menarik nafasnya dengan pelan.
" Hmmm... kayaknya nggak deh kak,mungkin Mbak Ria aja yang ke sana dia yang Nadine utus kesana untuk membawakan pakaian mereka "ucap Nadine datar.
" Memang kenapa kamu enggak mau datang ke sana?" Tanya dokter Roni lagi.
" Enggak aja Kak" ucapnya singkat.
Dokter Roni hanya tersenyum kepada adiknya dan menepuk pundak adiknya.
" Kalau kamu merasa menyukai dia, kamu nggak boleh bohong sama hati nurani mu sendiri." Ucap Dokter Roni.
Mendengar kakaknya berbicara seperti itu, Nadine langsung menoleh kearah dokter Roni.
"Maksud kakak?" Tanya Nadine terkejut dan menatap sang kakak penuh selidik.
Dokter Rani tersenyum dan menarik napasnya dengan pelan,
" Kamu sedang bertengkar kan dengan Arvin" ujarnya santai.
" Arvin?" Kaget Nadine karena sang kakak menyebut nama Arvin.
" Udah jangan bohong sama kakak, Arvin itu yang berfoto sama kamu di saat acara pernikahan kakaknya Anindita itu kan, kakak tahu soal itu, kakak tahu semuanya Kakak rasa Arvin itu orangnya baik,Kakak suka kok kepribadiannya,kalau kamu memang suka dengannya nggak usahlah pasang muka jutek-jutek entar diambil orang nanti baru tahu rasa" ledek kakaknya pada adik tersayangnya itu.
"Nadine juga nggak tahu kak,apakah Nadine suka dengan dia atau tidak,Nadine juga nggak tahu apakah dia itu punya cewek atau tidak, lagipula ngapain juga Nadine yang duluan mengatakan cinta kepadanya, ini zaman apa Kak,masa perempuan yang mengatakan cinta nya" kelakar Nadine.
" Bisa aja kali," ucap dokter Roni.
"Udah ah kak, Nadine capek Nadine mau istirahat dulu ya" ucapnya.
Kemudian dia meninggalkan kakaknya yang sedang senyum-senyum sendiri,seraya memandangi kepergian adiknya tersebut.
Kemudian dokter Roni mengambil ponselnya dan dia menghubungi calon istrinya, sedangkan Nadine memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang ada di kamarnya tersebut.
Dia teringat akan kata-kata kakaknya barusan pada nya.
"Apa benar aku menyukai Arvin? Masa sih,Aku kan nggak terlalu mengenal Arvin,aku juga cuma 3 kali bertemu dengan nya,masa aku langsung jatuh cinta padanya.aku rasa nggak deh,aahh...! pikiranku pusing bayangannya selalu Arvin, Arvin, dan selalu Arvin, Aku juga nggak tahu apakah hatiku emang benar-benar menyukai Arvin, atau membenci Arvin, dan aku juga nggak tahu apakah Arvin itu udah punya cewek apa nggak,sedangkan saat itu aku melihat dia berbicara dengan cewek aja hatiku terasa sakit apa benar aku menyukai Arvin? ah... pusing....! pusing....! kepala ku pusing...!" Ucapnya.
Kemudian Nadine duduk sambil memukul ringan kepalanya sendiri.
Saat itu dia tidak bisa menghilangkan bayangan Arvin yang selalu ada di di benaknya dia berjalan ke dalam kamar mandi yang ada di ruangannya itu, dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin dan dia merasa plong dan melupakan beberapa saat kelelahan dalam pikirannya.