
Di kota S...
" Reno, sebenarnya kejadiannya seperti apa sampai kamu dipenjarakan seperti ini.?" Tanya Morgan.
" Ceritanya panjang Pak,intinya Pak Ginos mengatakan kalau saya ini korupsi uang perusahaan miliaran rupiah, padahal saya tidak pernah memegang uang sebanyak itu, Saya memang bagian keuangan tapi saya cuma sebagai staf saja bukan pemimpin atau yang bertugas mengatur keluar masuk uang perusahaan, Saya juga tidak tahu data-data saya sudah ada pengiriman uang,dan entah dari mana uang sudah tersedia ada di di loker saya, sebenarnya memang ini tidak sesuai dengan tuduhan mereka kepada saya, tapi karena saya mengetahui kalau Pak Ginos itu sudah mau menerima perjualbelian kakak saya oleh suaminya sendiri,Saya pernah mengancamnya ingin melaporkan ke polisi,awalnya dia takut dengan ancaman saya, tapi kemudian dia malah berbalik menuduh saya sampai akhirnya saya berada di sini pak." Terangnya.
Morgan hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Kamu yang sabar ya, in sya Allah kami akan berusaha untuk membongkar ini semua." Ucap Morgan
" Tapi Morgan, waktunya cuma satu minggu aja lagi, karena penyelidikan memang sudah sangat memberatkan Reno, semua bukti-buktinya sudah mengatasnamakan Reno semua, besar kemungkinan Reno akan jadi tersangka." Ucap Rahmat.
" In sya Allah, sebelum seminggu kami sudah bisa menyelesaikan ini,yang penting sekarang aku sudah tahu ceritanya, dari sini sekarang Aku mau balik ke kota aku, dan mengatakan kepada mereka semua." Ucap Morgan.
" Pak sebelumnya saya mohon maaf, saya mohon bantuan bapak, kalau Bapak balik ke sana saya mohon tolong ibu dan kakak saya." Ucap Reno meminta pertolongan pada Morgan.
" Kamu jangan khawatir, in sya Allah semuanya pasti akan aman dan terkendali, dan kalian bisa berkumpul kembali " ucapnya.
Kemudian anggota diberi kode oleh Rahmat untuk membawa Reno kembali ke ruang tahanan.
" Saya permisi dulu Pak,Terimakasih ayas semuanya, Assalamualaikum " ucap nya.
" Wa alaikumussalam, sama sama Reno, kamu harus sehat dan kamu harus sabar, kami akan segera menyelesaikan ini semua." Ucap Morgan.
" Ya pak...kalau bapak bertemu dengan ibu dan kakak saya, sampaikan salam saya kepada mereka.
" Iya Ren,kalau saya bertemu saya akan menyampaikannya." ucap Morgan.
Kemudian Reno dibawa oleh anak buah Rahmat kembali ke sel tahanan, setelah kepergian Reno Morgan menarik napasnya dengan panjang dan menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa Seraya mengangkat kedua tangannya untuk menopang kepala belakangnya.
" Sebenarnya ada apa si Mor, Aku jadi bingung deh." Ucap Rahmat.
" Sebenarnya Reno itu adalah sepupu dari istrinya temanku, kamu kenalkan dengan Pak Andre praja Wibawa.?"
" Pemilik perusahaan terbesar itu ?" tanya Rahmat.
Morgan mengangguk.
" Ya,om Andre mempunyai tiga orang anak,salah satunya laki laki bernama Abiyasa Putra Wibawa, nah sepupunya si Reno itu bernama Ayesha, dia itu anaknya om Yosep omnya Reno dan mereka menikah, sebenarnya keluarga Reno dengan keluarga Ayesha tidak saling komunikasi, karena saat itu om Yosep mengalami kecelakaan jadi dia tidak mau menghubungi saudara-saudaranya, baik saudaranya atau temannya pun sekaligus dia tidak mau menghubunginya. Dengan alasan dia tidak ingin merepotkan mereka, karena Allah ingin mempersatukan mereka dengan caranya yang berbeda, sampai akhirnya Om Yosep bertemu kembali dengan para sahabatnya,tapi tidak dengan keluarga kakaknya.
Dan sekarang ini beliau dibawa berobat ke luar negeri bersama dengan Om Andre dan para sahabatnya yang lain.semua perusahaan jatuh pada Abiyasa. Karena Allah ingin memberikan jalan mempertemukan keluarga istrinya dengan keluarganya yang lain melalui cara yang berbeda juga,dengan melalui Abiyasa dan para sahabatnya termasuk aku, yang ikut menyelesaikannya Begitu ceritanya." Jelas Morgan panjang lebar.
" Oh begitu ya, mudah-mudahan aja semuanya akan segera selesai." Ucap Rahmat.
" Amin...Nanti aku dan yang lainnya akan datang lagi,kami akan menyelesaikan masalah yang ada di kota kami dulu dengan suami Bella kakaknya Reno,karena sumber permasalahannya itu ada di suaminya kakaknya Reno itu, Pak Bimo. "
" Oh begitu ceritanya."
" Sebelumnya aku titip Reno dulu ya, beri kabar kepadaku Apa yang akan terjadi selanjutnya." Pinta Morgan pada Rahmat.
" Siap ...!" ucap Rahmat.
" Aku akan memberi kabar kepadamu." Lanjutnya.
" Terimakasih ya.."
" Sama sama.."
" Kalau kayak gitu, aku mau pulang dulu,penerbangan hari ini, Ada nggak ya. ?"
" Sebentar aku akan tanyakan sama anak buah ku."
Kemudian Rahmat menelpon seseorang dan menyuruh seseorang itu mengecek Apakah ada penerbangan pagi ini, dan meminta anak buahnya itu untuk mengurus keberangkatan sahabatnya tersebut.
Beberapa saat kemudian setelah dia berbicara dengan anak buahnya, satu pesan masuk ke gawainya, ternyata anak buahnya mengatakan kalau penerbangan ada dan tiket semuanya sudah dibereskan oleh anak buahnya Rahmat.
"Alhamdulillah Mor, penerbangan ada menuju ke kotamu, semuanya sudah di bereskan diurus oleh anak buah ku,dia sudah menunggu di bandara, Ayo aku antar ke bandara sekarang." Ucapnya seraya berdiri di ikuti Morgan mengikuti langkah kaki Rahmat.
" Terima kasih ya Rahmat, karena kamu mau aku buat sibuk saat aku ada di sini."
Morgan pun memeluk kawannya tersebut, kawan senasib seperjuangan nya.
Kemudian mereka berdua memasuki mobil Rahmat dan mobil tersebut meninggalkan halaman parkir kantornya dan menuju ke bandara yang ada di kota S tersebut.
*****
Mobil yang dikendarai Abiyasa bersama yang lainnya memasuki sebuah halaman rumah besar, Bella heran bukan rumah sakit yang di tuju tapi malah sebuah rumah besar, rumah siapa lagi kalau bukan rumah kediaman keluarga Wibawa.
" Maaf, kenapa mamah saya di bawa kesini? Bukan kah mau di bawa kerumah sakit? Tolong bawa mamah saya kerumah sakit dulu, baru nanti saya akan menuruti keinginan kalian" ucapnya memohon pada Abiyasa dan yang lainnya.
Abiyasa tersenyum,mbak dan ibu mbak aman disini, percayalah! Kami orang baik,bukan orang jahat yang sering di perkenalkan suami mbak pada mbak." Ucap Abiyasa.
Bella masih kurang yakin...
Abiyasa dan yang lain tahu akan pikiran Bella karena terlihat dari wajah nya yang sedikit ada keraguan.
Mereka kemudian turun dan tetap membawa Tante Dwi yang masih terpejam matanya masuk kedalam rumah tersebut.
Kemudian Tante Dwi di bawa kedalam kamar tamu,
Ayesha melihat kejadian tersebut tidak memperhatikan siapa yang dibawa suaminya itu,kemudian dia bertanya pada sang suami.
" Siapa itu mas.?"
" Itu adalah tante kita sayang, itu adalah Tante Dwi dan itu adalah kakak kita Bella." Jawab Abiyasa.
Mendengar pengakuan dari suaminya dia langsung mendekati Tante Dwi dan Bella yang duduk di atas tempat tidur.
Mereka semua memandang ke arah Tante Dwi,kemudian tante Dwi membuka matanya dan langsung duduk bangun dari tidurnya.
Mereka semua kaget..
" Tante Dwi " ucap Clarissa dan Abiyasa.
" Mamah.." ucap Bella.
Tante Dwi tersenyum, kemudian Arvin mendekati Tante Dwi dan bertos dengan menepuk kedua tangan mereka bersamaan.
" Apa-apaan ini? apa maksudnya?" tanya Abiyasa yang bingung melihat Arvin dan tante Dwi.
" Kamu bingung kan Biy? kamu tadi menyuruh aku cuma menanyakan ajakan memberi tanda kepadaku agar aku menanyakan apakah benar namanya Tante Dwi atau bukan, nah saat itu kesempatan bagi aku bertanya habis-habisan kepada Tante Dwi, dan aku mengajak Tante Dwi untuk bermain sandiwara,di depan mu dan di depan kampret itu, dan kita bisa membawa Tante Dwi dan Bella keluar dari kandang si Bimo itu " ucapnya.
" Astaghfirullahaladzim,pintar juga ya kamu punya rencana " ucap Clarissa.
" Ya iyalah pintar, kalau nggak pintar nggak mungkin aku jadi polisi " ucapnya seraya menaik turunkan alis matanya.
" Iya juga sih ..." ucap Clarissa tersenyum.
" Tante... " panggil Ayesha sambil bersimpuh di kaki Tante Dwi nya.
Tante Dwi dan Bella menoleh ke arah Ayesha.
" Kamu siapa nak?"
" Ini saya tante, Ayesha kecil tante dulu, Yesha adalah anaknya Abi Yosep."
" Astaghfirullahaladzim... subhanallah... Alhamdulillah... akhirnya aku bertemu dengan mu nak, kamu cantik banget." ucapnya mengangkat tubuh Ayesha dan memeluknya.
"Apakah ini Yesha kecilku yang dulu?" tanya Bella.
" Iya Kak, ini Yesha kakak yang kecil dulu." ucapnya.
Bella langsung memeluk Ayesha dengan menumpahkan tangisnya, mereka bertiga berpelukan sambil menangis.
Abiyasa dan yang lainnya memandangi ketiga wanita tersebut yang sudah bisa berkumpul kembali.