
Tante Raisa menoleh kearah Nadine, Lia dan Sarah,begitu juga mereka semua melihat kearah yang punya suara.
Tante Raisa tersenyum...
" Nggak apa-apa Nak." ucapnya.
Nadine lalu menatap para tamu sang Mama, Dia baru sadar kalau tamu itu adalah kekasih pujaan hatinya.
" Mas Arvin,Kak Biyas,Kak Morgan? ada apa? kenapa nggak kasih kabar kalau mau kesini?" tanyanya terlihat bahagia karena bisa melihat keberadaan Arvin.
" Mas memang nggak mau gangu kamu yang lagi istirahat." senyum Arvin mengembang karena terpancar juga diwajah Arvin sangat bahagi bisa melihat wajah cantik Nadine sang calon istri.
" Maaf ya Nadine,maksud hati nggak akan ganggu tapi ternyata membuat kalian terganggu juga dan kalian akhirnya terbangun juga." ucap Morgan terkekeh.
" Nggak apa-apa Kak,karena tadi emang kebetulan bangun aja dari tidur takut ada apa-apa sama orang rumah ya kan Kak Lia?" ucapnya seraya terkekeh.
" Iya tuh benar " kata Lia tersenyum.
" Ada apa Mas?" tanya Nadine.
" Nggak ada apa-apa,tadi ada sedikit yang ditanyakan dengan Pak Sahrul " ucap Arvin
" Memang apa yang ditanyakan Vin sama Paman?" tanya Lia
" Tentang ciri fisiknya Pak Bowo dan Alamat rumahnya, Tapi sudah dijelaskan sama Pak Sahrul " ucap Arvin lagi.
Lia hanya menganggukkan kepalanya.
" Oh ya sekalian aja Aku kasih tahu karena Alamat rumahnya Pak bowo pamanmu itu tidak terlalu jauh dari rumah Tante Raisa ini,Jadi Aku harap sementara waktu kamu beserta yang lainnya nggak usah keluar rumah dulu, dan tidak usah ada aktivitas diluar." terang Arvin.
" Iya Nak,kalau kamu mau perlu apa-apa tinggal bilang sama Mama atau Kak Roni mu, begitu juga dengan Pak Sahrul dan keluarga kalau mau perlu apa-apa bilang aja sama kami,jangan sungkan biar kami yang keluar rumah untuk mencari kebutuhan yang kalian perlukan." ucap Tante Raisa lagi.
" Ya Mah,Lia juga tidak menyangka kalau ternyata rumahnya Paman Bowo itu tidak jauh dari sini, karena Lia tidak pernah ke rumah Dia." ucapnya.
" Oh ya Vin kalau kamu menyuruh Lia, sama Pak Sahrul beserta keluarganya tidak boleh keluar rumah,nah kalau Nadine gimana Vin? kan Nadine bagai pinang dibelah dua sama Lia." ucap Morgan.
" Oh iya...ya.. Aku lupa kalau ada kembarannya Lia, benar apa kata Morgan, Aku takut kalau sasarannya nanti Nadine." sambung Abiyasa.
Arvin hanya tersenyum saja.
Membuat mereka heran.
" Sudah Aku duga,Kalian pasti akan bertanya karena Aku kan mengatakan cuma Lia dan keluarganya pak Sahrul aja, Aku memang sengaja tidak mengatakan kalau Nadine tidak boleh keluar rumah." ucapnya tersenyum karena melihat kebingungan dimata mereka.
" Jadi maksud kamu gimana Vin? apa ada rencana lain selain rencana kita ini?" tanya Morgan seraya menatap kearah Arvin.
Arvin hanya mengangguk saja dan sembari tersenyum.
" Memang rencana kamu apa?" tanya Abiyasa.
Mereka berdua pun langsung bertatapan antara Arvin dan Nadine.
" Ini rahasia Aku dan Nadine, ya nggak sayang." ucap Arvin
seraya menatap kearah Nadine.
Nadine hanya menganggukan kepalanya.
" Apa rencana kamu Vin, katakanlah Aku jadi kepo nih.' ucap Morgan.
" Iya Vin ceritakan dengan kami." lanjut Abiyasa.
" Rencana ini adalah rencana awal pertama Aku melihat Lia dan Nadine seperti pinang dibelah dua, karena dari ceritanya Pak Sahrul kalau Pak Bowo ini sangat terlalu berambisi untuk menghancurkan Lia, nah kebetulan Nadine kan kekasihku jadi Aku bisa memancing amarahnya Pak Bowo, agar Dia terus merasa tersakiti didepannya karena melihat antara Nadine dan Aku,dan Diapun mengira kalau Nadine itu Lia padahal bukan, mungkin Dia selama ini sudah berpikir kalau Lia sudah menikah denganku, padahalkan tidak! makanya Aku dan Nadine mempunyai rencana untuk memancingnya, kemanapun Nadine akan bersama dengan Aku terus, besok setelah pengurusan pernikahan Clarissa Sudah kelar semuanya baru Aku menjalankan rencana ini." terang Arvin.
" Tapi gimana Mas kalau Nadine mau ke butik, kalau seandainya Nadine jalan sendiri pasti Dia mengira Nadine adalah Kak Lia." ucap Nadine.
" Kamu jangan kuatir sayang, Mas akan jemput kamu dan kamu cuma berada di dalam butik saja, lagipula yang melayani orang yang datang kebutik kamu kan bukan kamu,jadi masih aman sementara waktu." ucap Arvin.
" Iya bener juga ya." ucap Nadine.
" Besok kamu berangkat jam berapa? Mas yang akan jemput" ucap Arvin.
" Besok berangkat jam delapan pagi."
" Ya udah setengah delapan Mas akan jemput kamu." ucapnya.
" Nadine kamu hati-hati ya Dek, jangan sampai kamu ketangkap sama paman Bowo, karena Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti kalau kamu sampai ketemu dengan paman Bowo, Aku tahu paman Bowo itu orangnya sangat egois dan ingin menang sendiri, apapun akan dilakukannya yang penting Dia merasa dirinya itu hebat dan tidak terkalahkan." ucap Lia seraya merangkul pundak sang Adik.
Nadine hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Tenang aja kamu Lia, selama Nadine bersama Aku, tidak akan pernah ada sedikit orang pun yang dapat menyentuh Dia." ucap Arvin lagi.
"Terima kasih Vin, kamu sudah bisa menjaga Adikku." ucapnya sembari tersenyum.
Arvin hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
" Tenang aja Lia,Arvin itu kan hantu jalanan, Dia selalu mengukur jalan tapi sampai sekarang nggak nemu tuh ujungnya jalan dimana,dan Dia juga tidak tahu tuh panjangnya berapa, lebarnya berapa, hehehe." ucap Morgan.
Morgan yang didelik hanya tersenyum.
" Santai broo... cuma bercanda kok hehehe..." ucap Morgan sembari terkekeh, Abiyasa dan Arvin pun ikut terkekeh juga.
" Oh ya pak Sahrul apakah Pak Sahrul mempunyai fotonya Pak Bowo?" tanya Morgan.
" Bapak tidak punya foto Kak Bowo Nak." ucapnya.
" Oh,ya sudah Pak nggak apa-apa,kalau seperti itu malam ini juga kami mau melihat rumahnya dan mau mengintainya seperti apa sih dirinya itu." ujar Morgan.
" Mas Arvin hati-hati ya Mas." ucap Nadine seraya menatap ke arah Arvin.
" Ya sayang, Mas akan hati-hati." ucapnya membalas tatapan mesra Nadine.
" Perasaan Aku tadi yang ngomong bahwa malam ini mau mengintai rumahnya Pak Bowo, tapi kok yang dikasih pesan hati-hati cuma Arvin saja, ada yang salah gak Biy,kamu ngerasa nggak Biy?" ucap Morgan seraya menatap kearah Abiyasa.
Abiyasa pun terkekeh,begitu juga dengan Tante Raisa,Pak Sahrul, Lia dan Sarah pun tertawa pelan.
" Kalau dipikir iya juga ya.. hahaha.." ucap Abiyasa bersama Morgan tertawa lepas.
Arvin pun ikut tertawa juga, sedangkan Nadine tersipu malu karena sudah diprotes Morgan.
" Enggak gitu juga kali Kak Mor, maksudnya Nadine itu hati-hati untuk Mas Arvin dulu, nah baru kan untuk Kak Abi dan Kak Morgan hati-hati juga." ucapnya tersenyum malu-malu.
" Nadine-Nadine kayaknya udah telat deh pesannya,kalau enggak ditagih pesannya nggak bakalan dikasih." ucap Morgan berlaga merajuk.
" Tapi nggak apa-apa Morgan lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali." sambung Abiyasa.
" Nah itu baru benar hehehe..." ucap Arvin lagi.
Mereka berdua tertawa.
" Kak Morgan sama Kak Abi pasti deh gitu ah ngeselin." ucap Nadine.
" Udah sayang jangan didengerin mereka, kalau lagi kambuh ya seperti itu." ucap Arvin seraya menaik-turunkan alisnya sembari menoleh ke arah Morgan dan Abiyasa.
Abiayasa dan Morgan hanya bisa terkekeh saja melihat tingkah Nadine dan Arvin.
Dia merasa senang melihat pasangan Nadine dan Arvin serta keakraban mereka dengan sahabat-sahabatnya.
" Alhamdulillah, bahagia sekali Nadine sudah mendapatkan jodoh yang terbaik untuknya, Ya Allah lindungilah saudara kembarku dan calon suaminya, serta sahabat-sahabatnya dalam menjalankan misi yang mereka lakukan. Terima kasih ya Allah engkau telah mempertemukan Aku dengan orang-orang yang baik seperti mereka ini,semoga saja Paman Bowo cepat sadar dan menyadari kalau Dia itu memang salah, biar Aku bukan keponakan Aslinya Aku masih tetap mengakui Dia sebagai pamanku." batin Lia sembari tersenyum melihat keakraban mereka dan kemesraan tutur bahasa Arvin dan Nadine tersebut.
Pak Sahrul kemudian melihat jam di dinding rumah tante Raisa tersebut.
" Oh ya Nak kalau kalian ingin mengintai lebih baik sekarang juga karena jam segini biasanya Kak Bowo itu sedang duduk minum-minuman di depan terasnya bersama anak buahnya dan bisa juga dia itu bersama dengan Bapaknya Ariel." ucap Pak Sahrul.
" Wah ini kesempatan Biy lebih baik sekarang kita ke sana aja, Aku sudah nggak sabar ingin melihat wajah Dia asli itu seperti apa." ucap Morgan bersemangat.
" Oke! Aku juga sudah tidak sabar ingin melihatnya." ucap Abiyasa.
" Ya sudah kalau seperti itu,Tante Raisa, kami pamit dulu ya,sementara waktu Jangan ada yang keluar rumah." ucap Arvin.
" Iya Nak, kami akan mengingat pesan kalian." ucapkan Tante Raisa tersenyum.
" Ya sudah sayang besok Mas jemput ya, kamu siap-siap sebelum Mas berada di depan rumahmu kamu tidak boleh juga keluar dari rumah sementara sebelum Mas jemput."
" Iya Mas, hati-hati." ucap Nadine.
Kemudian mereka pun berpamitan dengan yang punya rumah Tante Raisa pun mengantarkan mereka sampai di depan teras rumahnya, dan mereka bertiga memasuki mobil, Morgan langsung menjalankan mobilnya tersebut, perlahan-lahan mobil itu pun meninggalkan depan rumah Tante Raisa menuju target yang akan mereka intai.
Mobil terus melaju dijalan aspal tanpa hambatan, karena jalan sudah terlihat agak sepi karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam,lampu lalu lintaspun sudah menyala berwana kuning nonstop menandakan harus berhati-hati dalam berkendaraan,Mobil terus melaju.
Didalam mobil...
" Mor.." panggil Arvin.
" Hmmm...."
" Nggak usah kenceng mengendarai Mobilnya."
" Why.."
" Mulai deh Bulenya keluar."
" Hehehehe " tawa Morgan.
" Santai aja Bro, karena sudah mulai dekat dengan target."
" Aku sebenarnya sudah Nggak sabar ingin menarik kepala ular dari tubuh si Bowo itu." ucap Morgan geram seraya memukul stir mobilnya dan menimbulkan bunyi claksonnya.
" Eh..belanda mati! kaget Aku." ucapnya sendiri.
" Hahaha..., makanya Bule liat-liat yang akan dipukul,kaget sendirikan." ucap Arvin tertawa lepas,begitu juga Abiyasa Diapun tertawa lepas karena melihat ulah Morgan.