
Mereka menatap kearah Anindita dan menantikan Anindita mengatakan siapa sebenarnya yang memiliki fhoto tersebut.
" Siapa Dita yang kamu maksud memiliki fhoto saat masa kecil itu." Tanya dr Roni.
" Tapi aku sebenarnya sedikit yakin sih, karena saat itu aku memergokinya sedang mengawasi sebuah fhoto yang sama yang ada didalam gawainya, saat aku tegurkan dia, dia langsung terkejut dan hanya tersenyum saja, aku pun bertanya padanya siapa yang ada didalam fhoto itu,dan dia hanya mengatakan bahwa orang yang difhoto tersebut adalah dia dan seorang ibu yang telah menyelamatkan dirinya saat kecelakaan waktu kecil, tapi aku tidak mnanyakannya lebih lanjut dengannya kenapa dia sampai kecelakaan karena aku dan dia langsung melanjutkan pekerjaan yang lain." terang Anindita sembari menarik nafasnya dengan dalam.
" Siapa Dit..." tanya Abiyasa seraya menatap kearah sang adik.
Saat Anindita hendak mengatakan siapa orangnya tersebut, tiba-tiba pintu ruangan rawat inap tersebut terbuka dan dr Ilham memasuki ruang rawat inap tersebut dia menoleh kearah mereka dan menundukkan kepaanya sesaat dan melangkah kembali keranjang kak Nico, karena kak Nico baru saja melewati masa kritisnya dan dia harus diawasi dengan intensif dan dr Ilham lah yang merawat kak Nico.
Mereka hanya menghela nafasnya dan Anindita menatap dr Ilham yang sedang melaksanakan tugasnya itu.
" Itu...." ucap Anindita seraya mengisyaratkan dengan kepala dan tatapannya pada ketiga orang yang ada di depannya itu,
Mereka bertiga saling pandang...
" Iya,... itu memang dr ilham yang sedang merawat kak Nico kamu sendiri yang mengatakannya kalau dr Ilham yang merawat kak Nico dari awalkan." ucap Abiyasa.
" Ya itu kak.." ucap Anindita.
" Maksud kamu apa sayang...kami kurang paham.." ucap Morgan karena memang dia dan Abiyasa tidak memahaminya sedangkan dr Roni mencerna penjelasan Anindita.
" Iya itu sayang,,," Saat Anindita hendak melanjutkan pembicraannya secara perlahan dr Roni langsung menyanggah kata-kata Anindita.
" Tunggu-tunggu sebentar...maksud kamu anak yang ada didalam fhoto itu adalah dr Ilham? " tanya dr Roni.
Dianggukkan Anindita sembari tersenyum.
" Ya Allah...orangnya dicari kemana-mana ternyata dia berada tidak jauh dari kita, dan jadi teman kita juga, Ya Allah rencanamu sangat indah ya Allah..." ucap dr Roni, Abiyasa dan Morgan terdiam seraya menatap kearah dr Ilham yang masih memeriksa keadaan kak Nico.
Setelah selesai memeriksa dr Ilham lagsung berpamitan dengan mereka yang ada diruangan tersebut, mereka tidak ingin langsung menanyakan padanya secara langsung karen dr Ilham masih ada kerjaan yang mengharuskannya dia tidak bisa duduk santai beberapa jam.
" Pantas saja tadi saat dia memeriksa Amelia dia menatap Amelia lama sampai di tegur sama suster jaga, dan dia kemudian menanyakan nama Amelia." ucap Morgan.
" Itu berarti benar kalau dr Ilham adalah kakak kandungnya Amelia." ucap dr Roni.
" Benar kak, karena kalau hubungan darah itu tidak bisa disembunyikan." ucap Abiyasa dianggukkan Morgan dan Anindita.
" Hampir saja Aku tadi hilap mau menegurkan karena dr Ilham tadi lama sekali menatap kak Amelia tapi aku perhatikan tatapan dr Ilham terhadap kak Amelia itu bukan tatapan yang mengiginkan seorang gadis harus jadi miliknya tapi tatapan itu seperti tatapan seorang kakak pada Adiknya, saat dia selesai memeriksa kak Amelia dan kemudian diserahkn pada suster dia lagi-lagi memperhatikan kak Amelia terlihat tatapan dia sedih gitu sih dan dia pun baru menyadari kalau Aku memperhatikan gerak geriknya dan dia langsung memasuki ruangan dengan cepat bersama dokter yang lain untuk menangani kak Nico." terang Morgan.
" Nanti aku akan menanyakannya padanya, yang jelas aku yakin kalau dia adalah kakak kandungnya Amelia." ucap dr Roni.
" Kalau dia orang yang kita cari, kenapa dia tidak bermaksud mencari tahu keluarganya, kan keluarganya masih ada yang masih hidup." Kata Morgan.
" Dulu dia pernah cerita saat dia mendapatkan kabar kalau ibunya mengalami sakit dan dia langsung meminta ijin untuk berangkat keluar kota, tapi sebelum dia berangkat keluar kota dia menceritakan pada ku kalau dia sangat merindukan ibu yang pertama kali dikenalnya selain kedua orang tuanya, dan dia juga berkeinginan mencari tahu dimana sang ibu itu berada, dan Aku tanya kenapa baru sekarang mau mencari tahunya, dia hanya menjawab singkat karena waktu, dan aku hanya mengangguk saja dan tidak menanyakan lebih lanjut lagi saat itu." Terang Anindita.
" Apakah kamu tahu dek dimana kedua orang tuanya." Tanya Abiyasa.
" Di kota S." Jawab Anindita.
" Lho? Kenapa di kota S? Kan kata papah menurut keterangan keluarga Amir, mereka pindah kekota kita kenapa kedua orang tuanya ada di kota S?" Tanya Morgan.
" Kalau itu aku tidak pernah bertanya sayang dengannya, oh ya kak Rony, bukankah dia itu teman kak Roni? Apakah dia ada cerita dengan kaka atau dia curhat gitu?" Tanya Anindita.
" Dia tidak pernah curhat ataupun cerita apapun pada kakak, makanya kakak tidak tahu dia punya istri, kami dengarkan Dit, saat suster bilang ada telpon dari istrinya." Terang dr Roni.
Dianggukkan Anindita...
" Waktu pertama kali menginjakkan kaki dirumah sakit ini kakak memang berteman, walaupun kami berteman tapi kami tidak saling terbuka, dan anehnya dengan kamu Dit dia mau cerita." Ucap dr Roni.
" Aku juga nggak tahu kak, mungkin karena dia bawahan aku kali ya, dan diakan sering ijin akhir-akhir ini, biar aku percaya padanya karena dia sering ijin itu makanya dia mengatakan sedikit tentang keluarganya itu." Ucap Anindita.
Terdengar helaan nafas mereka semua, hening sesaat diruangan tersebut.
Kemudian Abiyasa berbicara dan menyarankan pada mereka bertiga...
" Oh ya lebih baik kita jangan dulu mengatakan pada mereka sebelum kita mengetahui semua kebenarannya, karena kita belum menanyakan langsung pada yang bersangkutan." terang Abiyasa dianggukkan mereka bertiga, dan kemudian pintu terbuka kembali Arvin yang baru saja datang langsung duduk dengan mereka karena Arvin setelah mengantarkan sang istri kerumah mertuanya langsung kembali kerumah sakit lagi dan kebetulan dia sudah mengetahui identitas dan kronologi kejadian kecelakaan yang menimpa papah Andre dan yang lainnya.
Arvin menghentakkan tubuhnya di sofa ruang rawat inap tersebut, mereka melihat kearah Arvin.
" Kenapa kalian menatap ku seperti itu? Ada yang salah kah dengan penampilanku ini." Ucapnya pada mereka seraya menghela nafasnya dengan pelan.
" Bagaimana dengan orang yang menabrak papah Vin?" Tanya Abiyasa, Arvin kemudian membenarkan posisi duduknya dan diapun menceritaka semuanya pada para sabatnya.
" Dia itu baru pertama kali membawa roda empat dan kebetulan juga dia baru bisa mengendarai mobil,menurut Alibinya dia menghindari seorang pengendara motor yang sedang melaju kencang jadilah doa melawan arus itu sih keterangan sementaranya, tapi kami tidak mudah percaya begitu saja dan tetap menanyakan saksi-saksi yang saat kejadian melihat secara langsung." Terang Arvin.
Mereka menganggukkan kepalanya.
" Mudah-mudahan aja itu memang murni kecelakaan tidak ada motif lain dari ini semua." Ucap Anindita.
" Iya mudah-mudahan aja..." Ucap Abiyasa dianggukkan dr Roni, Morgan dan Arvin.
" Ya udah kalau gitu aku mau mengajak dr Ilham bicara diruangan Dita, lebih baik kita semua keruangan Dita, nggak enak disini berbicaranya kasian Nico dan Lia." Ucap dr Roni sembari melihat jam yang melingkar ditangan kirinya itu dianggukkan mereka semua.
Arvin yang bingung karena belum diberitahu mereka dan diapun tidak bertanya apa-apa hanya bisa mengikuti langkah mereka saja menuju ruangan Anindita,tapi setelah mereka berpamitan sebentar dengan Lia.