THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 124



Morgan kemudian menekan nomor yang ada di gawainya tersebut untuk langsung menghubungi ke gawai Ferry.


Beberapa saat kemudian sambungan teleponnya tersambung.


" Halo Morgan kenapa baru aktif?" tanya Feri.


" Baterai gawai ku habis."


" Oh ya udah, kamu sudah baca chat yang ku kirimkan kepadamu.?"


" Sudah aku baca."


" Sekarang kamu berada di mana?"


" Aku berada di kota S karena ada sesuatu yang harus ku selesaikan, in sya Allah mungkin setelah ini aku langsung ke Bandung menemuimu, Tapi sebelumnya aku mau menghubungi sahabat ku dulu mengatakan kalau mobil Kak Marco sudah ditemukan, aku akan mengatakan dengan mereka agar mereka menemuimu di kantormu."


" Siapa nama mereka?Arvin dan Clarissa, Clarissa itu adalah calonnya dari kak marco."


" Oh ya udah aku tunggu segera hubungi mereka, memastikan apakah mobil itu milik kak Marco kakak mu, tapi kalau di lihat dari ciri ciri dari mobil itu, benar! kalau mobil itu adalah mobil nya kak Marco."


" Ok Fer makasih ya, aku akan secepatnya menghubungi mereka, sekali lagi makasih ya Fer."


" Iya sama sama "


Mereka pun menyudahi sambungan bicaranya, Morgan menarik nafas dengan berat dan memasukkan gawainya kembli kesaku celananya dan langsung saja dia memutar tubuhnya hendak menemui mereka kembali namun langsung terhalang tubuh papah Boby, Morgan terkejut dan dia pun salah tingkah.


" Ada apa dengan Marco?dan kemana Clarissa?" Tanya Papah Boby sembari kedua tangan nya berada di saku celananya kiri dan kanan.


Abiyasa mendekati mereka berdua.


" Katakan Mor, ada apa semuanya ini?" Tanya Papah Boby.


" Om, maafkan Morgan om, karena belum bisa bilang pada Om Boby, bukan maksud Morgan om begitu, karena kita masih dalam kondisi penyelesaian semuanya di sini."


" Sebenarnya ada apa?Clarissa dan Marco kenapa?


Morgan menarik nafasnya dengan berat sekali.


Sebenarnya dia tidak ingin menceritakan kepada Papah Boby dia ingin menyelesaikan masalah ini setelah pulang dari kota S ini, tapi karena papa Boby sudah keburu tahu akhirnya dia pun tidak dapat berkutik lagi.


Abiyasa melihat sang sahabat merasa serba salah akhirnya dia yang angkat bicara.


" Om Bobby Clarissa ditemani sama Arvin dia berangkat ke Bandung menemui Marco."


" Memang ada apa yang terjadi dengan Marco.?" Tanya Papa Boby Seraya menatap ke arah Abiyasa.


" Saat itu Marco berangkat ke Bandung dan dia ingin menyelesaikan masalah dengan rekan bisnisnya di sana ternyata dia tidak sampai ke Bandung dia menghilang begitu saja dan kami pun berusaha mencari dia kemana-mana dengan menghubungi teman seprofesinya Morgan yang bertugas di sana."


" Terus mereka ada memberi kabar enggak tentang keberadaan Marco."


" Sudah ada Om mereka menemukan mobilnya Kak Marco."


" Sekarang mobilnya ada di mana?"


" Ada di kantor polisi sana Om."


" Ya udah hayo kita kesana sekarang biar cepat! siapa sih yang sudah mengganggu calon menantu ku!." ucapnya mulai emosi.


" Sabar Om, kita juga masih berusaha mencari keterangannya, Clarissa sama Arvin sudah sampai di sana tadi baru aja aku menghubungi mereka dan mereka sudah meluncur menuju ke kantor polisi." ucap Abiyasa.


" Ya udah sekarang aku mau mengatakan semuanya pada mereka,tentang berita ini." ucap papa Boby.


Papa Boby meninggalkan mereka berdua dan menuju kearah papa Andre, Ayah Candra dan Abi Yosep serta Reno yang sedang duduk menunggu surat dari Rahmat.


Langkah papa Boby disusul dengan Abiyasa dan Morgan, mereka melangkah menemui mereka juga terlihat Papa Boby berbisik kepada ayah Candra, Ayah Candra terlihat terkejut Abi Yosep dan papa Andre menoleh ke mereka.


Papah Boby terlihat menjelaskan kepada mereka, mereka terlihat terkejut kemudian ayah Candra menemui Morgan.


" Morgan bisakah secepatnya kita minta surat dari Rahmat tersebut tentang Reno yang tidak bersalah."


Pintanya.


" Bisa Om nanti saya menemui Rahmat dulu saya akan bicara sama Rahmat."


" Ya udah kita tunggu ya kemudian Morgan berbalik arah menuju ke ruangan Rahmat dia melihat Rahmat yang sedang memperhatikan layar laptopnya bersama 1 orang anak buahnya dia menoleh ke arah Morgan yang sedang berjalan menuju ke arahnya.


Rahmat langsung berdiri dan mendekati Morgan.


" Ada apa Mor?" tanyanya.


" Begini Rahmat, suratnya sudah jadi."


" Ini sudah tinggal diprint sebentar, aku minta tanda tangan pimpinan dulu." ucapnya.


" Lama enggak.?"


" Sebentar aja, karena aku sudah mengatakan kepada beliau tentang masalah ini semua dan beliau pun menunggu suratnya ini." Terang Rahmat.


" Ya udah kamu tunggu aja nanti aku akan memberikan surat ini."


" Oh ya terima kasih ya rahmat."


" Iya sama-sama." Ucap Rahmat sambil menepuk pundaknya Morgan. Kemudian mereka berdua keluar dari ruangan Rahmat. Sesampai nya di luar..


" Sebentar ya pak saya minta tanda tangan pimpinan dulu." ucapnya sambil membawa kertas yang ada di tangannya dan menangkup kan kedua tangannya memohon maaf karena mereka sudah cukup lama menunggu.


Dia pun kemudian berjalan menuju ke ruangan pimpinannya. yang sudah ditunggu sama pimpinannya tersebut.


" Oh iya memangnya apa yang terjadi sampai mereka seperti itu.?" Tanya papa Andre.


" Biyas juga tidak tahu pah, Kenapa bisa seperti itu." Jawab Abiyasa.


" Ya udah sekarang kita dari sini langsung lanjut ke Bandung." ucapnya.


Kemudian beberapa saat Rahmat datang kembali dan memberikan amplop coklat yang berisi kan kertas yang ada didalamnya menyatakan kalau Reno tidak bersalah.


Kemudian mereka bergegas pamit dengan Rahmat dan memberhentikan 2 buat taksi dan mereka pun menuju ke arah bandara Tapi sebelumnya mereka menuju ke kediaman Reno yang berada tidak jauh dari kantor polisi, mereka menjemput istri dan kedua anaknya.


Istri dan anaknya sangat bahagia akhirnya suami dan ayah tercinta mereka sudah bebas, keluarga Reno terpaksa mengontrak karena di usir paksa oleh orang kepercayaan nya Ginos, dan semua fasilitas rumah mewah nya pun di sita perusahaan,karena memang hak perusahaan.


" Enggak usah dipikirkan Reno, nanti ada anak buahnya Abiyasa yang akan mengurusnya ucap papa Andre.


Mereka semua mengangguk...


" Iya, kak Reno nggak usah memikirkan itu, nanti aku yang akan mengurus semuanya." ucapan Abiyasa tersenyum.


Begitu juga dengan istrinya dan kedua anaknya mereka pun kemudian memasukin taxi.


Dua buah taksi itu pun membawa mereka dengan kecepatan yang sedang.


Mereka akhirnya sampai di bandara beberapa saat kemudian papa Andre berbicara seperti biasanya dengan pihak bandara dan kemudian mereka pun meninggalkan bandara yang ada di kota S dan langsung menuju ke kota Bandung, sedangkan Mr.Robert tetap tinggal di kota S dan dia pulang kerumah anaknya.


Jet pribadi keluarga Wibawa meninggalkan bandara yang ada di kota S menuju ke bandara dikota Bandung.


" Dimana Clarissa dan Arvin berada sekarang?" Tanya Ayah Candra.


" Sudah menuju kantor polisi menemui Feri." Ucap Abiyasa.


Di kota Bandung tepatnya di kantor polisi mobil yang mereka kendarai memasuki halaman parkir kantor tersebut, mereka berempat turun dari mobil dan melapor ke penjagaan dan menanyakan ruangan pak Feri karena ingin bertemu dengan Pak Feri setelah salah satu dari anggota yang berada di pos penjagaan menghubungi Pak Feri akhirnya mereka dibolehkan masuk dan diarahkan menuju ke ruangan Pak Feri.


Salah satu anggota itu mengetuk pintu tersebut...


" tok tok tok."


" Masuk." ucap pak Feri.


" Sore Ndan."


" Sore ada apa?"


" Ada tamu yang mau bertamu Ndan."


" Oh, ya udah suruh masuk."


" Siap Ndan." Ucap salah satu anggota yang bernama Yoyo tertera nama nya di seragamnya.


Yoyo mempersilahkan mereka masuk.


" Sore pak...saya Arvin ini Clarissa dan ini dua orang teman saya." ucapnya dia tidak mau mengatakan dua orang anak buahnya tapi dia mengatakan kepada siapapun yang dia temuin bila mengenal dirinya dia pasti akan mengatakan anak buahnya itu adalah temannya begitulah sifat Arvin di luar dia tidak mau mengatakan kepada orang-orang kalau anak buahnya ikut serta bersama dia dikatakan anak buahnya tapi dia selalu mengatakan mereka adalah temannya.


" Oh silakan duduk saya sudah dihubungi oleh Pak Morgan tadi karena mereka dalam perjalanan ke sini mungkin dari kota S."


" Apa ? berarti Papa juga sudah tahu dong Vin?"


" Kayaknya." Jawab singkat Arvin.


" Begini, kami sudah menemukan sebuah mobil yang di katakan ciri cirinya dengan pak Morgan, dan mobil tersebut kami temukan satu hari yang lalu, ayo kita melihat ke tempat barang bukti." Ajak Feri.


Kemudian mereka berempat mengikuti langkah kaki Pak Feri menuju ke arah gudang di mana mobilnya Marco di parkir. Sesampainya di sana Clarissa terperangah...


" Arvin ini memang benar mobilnya Marco."


" Kamu yakin ?kalau ini mobilnya kak Marco?"


" Iya ini mobilnya Marco."


" Mbak yakin ?kalau ini mobilnya Marco?" Tanya Feri


" Iya pak ini mobil tunangan saya Marco."


" Karena saat kami menemukan mobil ini posisinya sudah miring ke arah jurang dan identitas diri di dalamnya sudah tidak bisa kami temukan, karena mobil dalam posisi miring otomatis barang-barang bawaan atau apapun pasti akan jatuh ke dalam jurang itu,jadi saat kami cari tidak ada sama sekali identitas apapun yang ada di dalam mobil semuanya kosong, jadi kami tidak menemukan siapa pemilik nya saat itu." Terang Feri


" Astaghfirullahaladzim di mana Marco?" Ucap Clarissa pelan.


" Tapi kami besok pagi akan mendatangi TKP dan kami berusaha akan mencoba turun ke jurang tersebut yang diperkirakan dalamnya 8 meter." Terangnya


" Astaghfirullahaladzim kalau seandainya Marco terjadi apa-apa Aku tidak kuat Vin." ucapnya sembari bersandar di lengan Arvin


" Sabar Ris, kita nanti akan ikuti olah TKP di sana." Ucapnya menenangkan perasaan Clarissa saat ini.


" Tapi kami bisa ikut kan Pak?" Tanya Arvin.


" Bisa! besok jam delapan pagi kita olah TKP di sana."


" Sebentar pak, posisi mobil miring dan barang-barang kalau miring seperti itu otomatis mobil jatuh terbalik kalau dilihat dari kondisi mobil sih mobil tidak ringsek ataupun lecet berarti mobil memang disengaja dimiringkan." ucap Arvin


" Yah sepertinya sudah di rencanakan, Saat itu mobil memang terlihat agak miring tapi tidak ada satupun lecet di mobil itu sepertinya dimiringkan secara disengaja." Ucap Feri.


" Di temunya mobil nya kapan ya Pak?" Tanya Arvin


" Sudah satu hari yang lalu ketemunya." Ucap Feri.


Arvin menoleh kearah Clarissa.


" Kamu dapat chat dari Marco kan kemaren Ris."


Clarissa mengangguk, namun dia tidak bisa berpikir jernih, Arvin mengerti.


" Pak maaf nanya kalau seandainya jatuh ke jurang itu apakah..." Clarissa tidak melanjutkan ucapannya.


" Ada dua kemungkinan hidup atau mati, memang hidup atau mati tapi jarang yang bisa hidup kecuali memang ada kehendak dari yang kuasa."ucapnya.


" Karena jurang itu emang terkenal lebih mengerikan sudah banyak memakan korban." Terangnya.


Clarissa menarik nafas dengan berat terlihat jelas kesedihan di wajah Clarissa dia terus berdoa agar Marco segera ditemukan.


" Begini Pak teman saya ini kan tunangannya Kak Marco, sedangkan Kak Marco sudah berangkat beberapa hari yang lalu dan mobilnya ditemukan satu hari yang lalu sedangkan teman saya ini mendapatkan chat pribadi dari ponselnya kak Marco berarti kak Marco Ada kemungkinan masih hidup atau dia diculik " ucapnya.


" Bisa jadi itu,tolong bisa kah kami minta nomer pribadinya Marco, biar kami lacak keberadaannya." Pinta Feri.


" Tapi nomernya sudah nggak aktif lagi pak."


" Nggak apa apa,in sya Allah bisa, siapa tahu dengan ijin Allah nomer nya Aktif."


Kemudian Clarissa memberikan kan nomor pribadi Marco, setelah itu Feri mengajak mereka menuju ke ruangannya kembali, mereka kemudian disuguhi minuman dan beberapa kue untuk menenangkan diri dan beristirahat sesaat sementara anggota Feri melacak keberadaan Marco.