
" Di dalam ada berapa orang" tanya Papah Andre.
" Setahu kami pah,ada enam orang,pak Bowo, pak Rizal dan keempat orang anak buah Pak Bowo hanya itu, tapi di dalamnya sana tidak tahu ada siapa saja." jawab Abiyasa.
" Kalau cuma mereka kita bisa atur strategi yang lebih matang." ucap Papah Boby
" Kalian berempat dari sebelah kanan,kami berempat dari sebelah kiri." ucap Abi Yosep.
" Salah satu diantara kita harus melihat situasi, kalau ada kesempatan untuk masuk tanpa diketahui dari pintu belakang kita harus masuk dari pintu belakang itu semua,dan saatnya menyergap anak buah kalian berdua dari pintu depan." ucapnya lagi, merekapun mengangguk mengerti dengan ucapan Abi Yosep.
" Anak buahmu sudah kamu hubungikan Morgan?" tanya papah Boby.
" Sudah Morgan kasih tahu tadi Om, anak buah Morgan dan anak buahnya Arvin mereka datang ke sini dan menunggu di depan jalan,mereka akan masuk ke dalam sini setelah intruksi dari Morgan."
" Bagus! kalau seperti itu!" ucap Papa Bobby tersenyum sembari menepuk pundak Morgan.
" Sekarang kita mulai,kami akan mengawasi dari sini dulu kalian mengendap-endap melalui dari pohon satu,kepohon yang lain jangan sampai ada orang melihat satupun dari dalam sana." ucap Abi Yosep.
" Nadine apakah kamu ikut juga? atau kamu menunggu disini.?" tanya papah Andre.
" Nadine ikut juga Om, karena siapa tahu nanti bisa diperlukan di sana." jawabnya.
" Benar banget tuh, mukanya Nadine mirip dengannya." ucap Papah Boby sembari tersenyum.
Merekapun kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala Mereka.
" Sekarang kalian duluan, kami memperhatikan kalian dari disini sampai kalian berada disana, kemudian kami yang bergerak kesana " ucap Papa Boby.
Mereka berempat pun mengangguk, perlahan-lahan satu persatu meninggalkan tempat persembunyian pertama mereka, karena tempatnya tidak terlalu jauh akhirnya mereka sampai di samping rumah markas Pak Bowo tersebut.
Setelah terlihat aman Abiyasa memberikan aba-aba untuk orang tua mereka tanpa halangan sedikitpun,Mereka pun sampai di posisi samping kanan.
Sesampainya di posisi masing-masing mereka pun menganggukkan kepalanya, Morgan kemudian mengendap dari depan samping kiri menuju ke arah belakang,pas banget kebetulan sekali setelah diperhatikan pintu belakang tidak terkunci,memudahkan mereka untuk masuk, Morgan kemudian memberikan aba-aba kepada para sahabatnya dan para orang tua mereka dan mereka pun langsung berkumpul dipintu belakang tersebut, satu persatu mereka memasuki pintu belakang dan masuk kedalam dengan mengambil posisi masing-masing yang sekiranya aman tanpa target ketahui.
Mereka yang berada di ruang tengah itupun terdengar berbicara, mereka yang mengintai dibelakang tepatnya disebuah kamar yang memang terlihat banyak barang tidak tahu isinya apa, tapi memudahkan mereka untuk melindungi tubuh mereka dari penglihatan Pak Bowo dan komplotannya tersebut,ditambah lagi ruangan itu tembus ke arah dalam dan sedikit gelap.
Mereka semua terdiam mendengarkan pembicaraan pak Bowo dan yang lainnya di ruang tengah itu, Pak Bowo tidak menyadari kalau ada enambelas mata dari delapan orang dan telinga mendengar pembicaraan dan melihat kegiatan mereka yang berada di ruang tengah itu.
Mereka melihat ayah Chandra yang duduk di sebuah kursi dengan kaki dan tangan terikat dan mata terpejam.
Pak bowo menatap kearah Ayah Chandra merasa heran.
" Saat Aku melihat waktu itu laki-laki yang ada di dalam foto yang bersama Lia itu terlihat tampan dan masih muda, Kenapa ini terlihat berbeda.?" ucapnya.
Pak Rizal yang mendengar perkataan dari Pak bowo pun menoleh dan menatap ke arah pak Bowo dengan lekat.
" Maksud kamu apa Bowo?" tanyanya heran.
" Rizal Aku nampak jelas melihat di depan kedai kopi itu wajah laki-laki itu tampan, bukan seperti ini,memang sih wajahnya sama mirip sekali tapi usianya terlihat tua perhatikan rambutnya sudah terlihat ubannya." ucapnya.
" Bowo,Kamu salah lihat aja kali saat itu, ternyata memang dia ini, coba kamu bayangkan bertahun-tahun lamanya perubahan manusia itu pasti ada, kalau Aku meneliti wajah Dia ini memang mirip dengan yang di foto tapi kan namanya usia siapa tahu saat itu dia memang sudah lebih tua daripada Lia." ucap Pak Rizal lagi.
" Dasar bodoh! tidak bisa membedakan mana yang muda dan mana yang tua!itu bapak nya yang kamu tangkap.!!" bisik papa Boby pada Abi Yosep.
" Itulah bodohnya Bowo! tidak bisa meneliti siapa sebenarnya yang ditangkapnya, Dia menangkap salah sasaran yang ditangkap Bapaknya bukan Anaknya." ucap Abi Yosep sembari tersenyum.
" Kamu tersenyum Yos?" tanya Abi Yosep.
" Iya! hehehe..." ucap Abi Yosep pelan.
" Tapi Aku nggak liat kalau kamu sedang senyum."
" Heh ulat keket, jelas kamu nggak liat tempatnya aja gelap dodol!" ucap Abi Yosep seraya merangkul papa Boby,Mereka berdua pun tersenyum dan kembali memperhatikan mereka lagi.
" Kalau dilihat-lihat kita tidak perlu melaporkan Dia ke polisi, kita sendiri yang akan membereskannya. Setelah Dia kita bereskan kita bikin seakan-akan Dia mengalami kecelakaan bereskan, Aku merasa puas kalau Dia ini menderita!syukur-syukur Dia mati." ucap pak Rizal sembari tersenyum sinis.
Pak bowo pun menganggukkan kepalanya senang!
" Benar juga apa kata kamu Zal! hebat kalian bisa menangkap Dia ini! kalian bertemu di mana?" tanya pak Bowo kepada kedua anak buahnya yang memang khusus disuruhnya mencari keberadaan Arvin, tapi sayang anak buahnya tidak mengenali benar-benar yang ditangkapnya itu, mereka hanya bermodalkan dengan wajah yang mirip saja.
Dengan rasa bangganya kedua anak buahnya pun tersenyum dan menjelaskan bagaimana mereka bisa membawa Ayah Chandra ke hadapan bosnya tersebut.
" Awalnya kami menjemput teman kami yang baru datang dari kota lain, sebelum kami bertemu dengan teman kami itu kami melihat Dia ini sedang berjalan menuju ke arah belakang, awalnya kami tidak terlalu fokus kepadanya, tapi kemudian si Sam mengenali wajah laki-laki ini dan Dia pun langsung mengambil foto yang ada di saku celananya, setelah saya teliti lagi memang wajahnya mirip sekali dan tidak pikir panjang lagi kami pun langsung membuntutinya, ternyata Dia mau kekamar kecil saat Dia mau masuk dan kondisi sangat sepi kami pun melumpuhkannya dengan memukul tengkuknya, Akhirnya Dia pun pingsan dan kami langsung membawanya,tapi saat itu security bertanya dengan kami, ada apa dan kami pun menjawabnya Kalau teman kami ini mengalami sakit jantungnya kumat, security itu pun langsung mengangguk dan menyarankan kami agar segera membawa Dia kerumah sakit, dan kami pun langsung membawanya ke sini,bukan kerumah sakit." ucap salah satu anak buah Pak bowo menceritakan semuanya dengan bangganya pada Bosnya tersebut.
" Bagus! Bangunkan Dia, Aku ingin bicara dengannya sebelum kita menghabisinya." ucap Pak Bowo.
" Baik bos " ucapnya kemudian salah satu dari anak buahnya itu pun mengambil air yang memang sudah disediakan untuk menyadarkan Ayah Chandra dari pingsannya tersebut, kemudian Ayah Candra disiram dengan air dan Ayah Chandra pun langsung membuka matanya, Dia melenggokkan kepalanya kekiri dan kekanan karena masih terasa sakit di area tengkuknya tersebut.
Dia membuka matanya dan Dia menatap kesekelilingnya serta satu-persatu orang yang ada di hadapannya itu Dia tatap.
" Siapa kalian?!" tanyanya dengan heran.
" Hahaha..! akhirnya sadar juga kamu! kamu mau tahu siapa kami hah! Aku adalah pamannya Lia, dan Ini calon mertuanya Lia!
tapi karena ulah kamu pada Lia beberapa tahun yang lalu membuat kami tidak jadi berbesanan! dan hari ini kamu akan menanggung akibatnya dari ulah kamu itu!! bertahun-tahun Aku menunggumu dan mencari kalian berdua akhirnya Tuhan merestui pencarianku saat ini, Aku pun berhasil menemukan kamu.!! " ujar pak Bowo seraya membentak Ayah Candra.
" Pamannya Lia? calon mertua Lia? kamu sudah gila!!" ucap Ayah Candra keras.
" Kamu yang gila! sudah tahu salah masih ngeyel!" ucap pak Bowo tersenyum sinis.
" Kamu akan menyesal menangkapku!!" ucap Ayah Chandra lagi.
" Menyesal katamu? tentu tidak! Aku malahan senang dan senang sekali! silakan kamu mau berbicara apa? karena sebentar lagi umurmu tidak akan panjang! hahahah! kamu akan berakhir di tanganku!" ucap pak Bowo seraya mendekati Ayah Candra dan mencengkeram kedua pipi Ayah Candra dengan satu tangannya.
" Dengarkan lelaki tidak ada gunanya! karena ulah kamu itu membuat keponakanku sampai saat ini tidak bisa Aku temukan!! Dimana Lia?! kamu sembunyikan hah?!!" tanyanya dengan keras seraya menghempaskan wajah Ayah Chandra ke samping.
Ayah Candra hanya bisa melenggak-lenggokkan kepalanya karena merasa pipinya sedikit sakit.
" Kampret!! berani-beraninya Dia menyentuh sahabatku! belum tahu dia dengan ku!"ucap papa Boby terlihat geram dengan mengepalkan kedua telapak tangannya tersebut.
" Kapan kita beraksinya ini.?" tanya Morgan, karena memang Dia sudah tidak sabar juga, karena melihat Ayah Chandra diperlakukan seperti itu.
" Kita lihat situasinya dulu, dia tidak akan mencelakai Om Candra mu karena Dia sepertinya masih memerlukan keterangan Om kamu tentang keberadaan Lia." ucap Papah Andre.
" Keterlaluan! mereka sudah membuat Ayahku seperti itu!!" ucap Arvin.
" Sabar Vin, kita akan menggerebek mereka di saat waktu yang tepat,sebatas ini Om Chandra masih bisa kita perhatikan,kalau terjadi apa-apa dengan Om Chandra kita langsung akan keluar." ucap Abiyasa.
" Bukh..!" Tidak sengaja papah Boby pun menjatuhkan sesuatu dan menimbulkan suara, mereka yang berada di ruang tengah itu langsung menoleh ke arah belakang, mereka semua saling berpandangan.
" Siapa itu?!"
" Diam kamu!!" ucap Pak Bowo.
" Saya juga tidak tahu Bos!" ucap salah satu anak buahnya.
" Apakah saat kalian membawa Dia ke sini tadi tidak ada yang mengetahui dan mengikutimu?" tanya Pak Bowo kepada anak buahnya.
" Tidak ada Bos! aman-aman saja karena markas kita ini tidak pernah terjamah dengan orang lain kecuali kita sendiri." ucap salah satu dari anak buahnya tersebut.
" Cepat periksa kesana!"
" Siap Bos!"
Merekapun kemudian bersembunyi dan salah satu dari anak buahnya Pak bowo langsung memeriksa ke arah bunyi suara.
" Siapa itu?!" ucapnya seraya melangkah pelan-pelan dan dengan sebilah balok berada di tangannya, Dia pun melihat sebuah kardus kosong yang jatuh Dia pun membenarkan kardus tersebut dan Dia menaruhnya lagi keatas dan Dia tidak mengetahui kalau Dia menaruh kardus itu pas di atas kepala papah Boby.
" Oh! rupanya kardus ini yang jatuh." ucapnya.
" Dasar monyet! berani sekali Dia menaruh kardus di atas kepalaku! tidak tahu apa Aku ini seekor singa jantan yang sedang lapar! tunggu saja Aku akan pergi menerkam mu!!" ucap papah Boby sambil menggerutu.
Kemudian anak buah Pak Bowo itu pun langsung melangkah kembali kearah mereka.
" Siapa?"
" Tidak ada siapa-siapa Bos! cuma sebuah kardus kosong aja yang jatuh"
" Bagus berarti!aman kalian membawa Dia ke sini!!"
" Siap bos! kami sudah melihat kondisinya tidak ada sama sekali,orang yang curiga dengan kami."
Ayah Chandra pun tersenyum.
" Kenapa kamu tersenyum!"
" Bukan urusanmu! Aku mau tersenyum atau tidak! karena itu adalah malaikat maut kalian! yang tidak bisa kalian lihat hahaha!"
" Kurang ajar!" ucapnya seraya mengangkat tangannya ingin memukul Ayah Chandra, tapi langsung ditahan oleh pak Rizal.
" Bowo !! tahan emosi mu! kita masih perlu dengannya untuk mengetahui dimana Lia berada! jangan sakiti Dia dulu!" ucap Pak Rizal.
Pak Bowo pun langsung menurunkan tangannya dan mendengus dengan kesal! Dia menghentakkan tubuhnya di sofa.
" Kamu masih selamat!" ucapnya menatap kearah Ayah Candra.
" Sekarang Aku yang bertanya denganmu! dimana Lia?" tanya Pak Rizal.
" Buat apa Aku mengatakan Lia berada dimana! karena Lia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kalian! kalau kalian mengetahui sebenarnya kalian akan menyesal seumur hidup! dengan apa yang kalian lakukan!" ucap Ayah Candra.
" Apa?menyesal?" Ucap pak Bowo,langsung berdiri dan menatap kearah Ayah Candra.
" Lebih baik kalian mengatakan penyesalan sekarang! daripada nanti.!" ucap Ayah Chandra lagi.
" Kurang ajar kamu ini!sungguh keterlaluan kamu!!" ucap Pak Bowo lantang.
" Kamu yang keterlaluan!!" ucap Ayah Chandra tidak kalah lantangnya.
Karena sudah tidak bisa lagi menahan emosinya Pak Bowo pun langsung mengepalkan tangannya dan ingin memberikan bogem mentah ke arah Ayah Chandra, karena sudah tidak tahan lagi dengan perbuatan mereka dengan sang Ayah, Arvin pun langsung berteriak karena Arvin sudah diberi kode oleh Papa Andre untuk segera menampakkan dirinya kedepan bersama dengan Nadine.
" Hentikan!! jangan sekali-kali kau menyentuh Ayahku!! kalau kalian menyentuhnya sekali lagi Ayahku!! Aku tidak akan pernah mengampuni kalian!!" ucap Arvin keras sekali.
Pak Bowo langsung menghentikan gerakannya dan menoleh kearah belakang, Dia melihat Nadine dan Arvin berada di belakang.
Mereka semua terkejut.
" Lia ?!" ucap Pak Bowo dan pak Rizal berbarengan.
Kemudian Pak Bowo dan Pak Rizal beserta anak buahnya saling pandang dan menatap kearah Ayah Chandra dan kemudian menatap lagi ke Arvin.
" Apa-apaan ini?!" ucap pak Bowo.
" Kalian siapa? dan ini siapa?"
" Hahaha!! Sudah kubilang malaikat maut mu sudah datang! kalian akan menyesal nantinya! Aku sudah mengatakan dengan kalian lebih baik kalian menyesali diawal dari pada menyesal di akhir." ucap Ayah Candra tertawa lepas.
Pak bowo dan Pak Rizal bingung mereka berdua saling bertatapan, kemudian satu persatu pun keluar dari persembunyian mereka dan mereka pun langsung menghampiri dan mengelilingi semuanya.
Pak Bowo, pak Rizal dan keempat anak buahnya pun tidak bisa menahan keterkejutannya.
Papah Andre pun langsung melepaskan Ayah Candra dari ikatannya, mereka tidak bisa berkutik lagi karena mereka seakan-akan terkunci dengan keterkejutan mereka sendiri,dan badan mereka terasa kaku tidak bisa melakukan apa-apa sama sekali,karena keterkejutan itu melihat antara percaya dan tidak.
Terdengar pintu depan di tendang dengan kuat! dan anak buah dari Morgan dan Arvin pun memasuki rumah tersebut.
Pak Bowo, pak Rizal dan keempat anak buahnya menoleh ke arah pintu mereka bertambah terkejut.
" Apa-apaan ini hah?! kenapa kalian tahu rumah kami!!" ucap Pak Bowo merasa heran karena markas mereka sudah ditemukan.
" Tidak sulit bagi kami untuk menemukan mu, bagaimanapun penjahat selalu kami dapatkan biarpun sembunyi dilubang hama sekalipun!dan sampai kapanpun kamu sudah menjadi target bagi kami.!" ucap Morgan.
Kemudian terlihat Dokter Roni berjalan bersama dengan Lia masuk kedalam rumah tersebut, anak buah Morgan dan Arvin pun memberikan jalan agar mereka bisa leluasa masuk kedalam rumah tersebut.
Karena Dokter Roni sudah di diberitahu oleh Nadine melalui chat pribadinya dan Nadine menyuruh Dokter Roni membawa Lia setelah share lokasi diberikan oleh Nadine.
Bukan Pak Bowo, pak Rizal dan keempat anak buahnya yang terkejut, tapi papa Andre, Ayah Candra, Papa Bobby, Abi Yosep dan Niko beserta yang lainnya pun terkejut,tapi mereka pintar menyimpan rasa keterkejutannya itu melihat kedatangan Dokter Roni dengan Lia.
" Paman Bowo!! Aku kan yang kamu cari?! sekarang Aku berada di hadapanmu!"
" Lia? itu juga Lia?!" Ucap pak Bowo sembari menoleh kearah Nadine dan Lia.
Kemudian Nadine mendekati Lia mereka pun saling berpegangan tangan.
" Apa-apaan ini?! kenapa Lia ada dua?" ucapnya Dia merasa bingung sendiri dan Pak Rizal pun terkejut dan Dia langsung terduduk disofa yang ada di ruang tengah itu.
Begitu pula dengan pak Bowo Dia tidak bisa menguasai keterkejutannya, Dia merasa tidak percaya bahwa Lia di hadapannya ada dua orang.
Pak Bowo pun langsung seperti orang Linglung!dan Dia tidak bisa menguasi kesadarannya saat ini. Begitu pula dengan Rizal Dia tidak bisa menguasai keterkejutan juga karena Dia tidak percaya dihadapannya ini ada dua orang Lia dengan wajah yang sangat mirip bagaikan pinang dibelah dua.