
Tepat sehabis sholat isya Morgan pun berpamitan dengan kedua orang tuanya beserta kakaknya.
Setelah dia menjelaskan semuanya kepada keluarganya, dan keluarganya pun mendukungnya,keluarganya hanya berpesan selalu hati-hati Morgan pun langsung meninggalkan rumahnya menuju ke rumah kediaman keluarga Wibawa.
Selang beberapa menit kemudian Morgan memasuki halaman rumah keluarga Wibawa, seperti biasa penjaga gerbang rumah keluarga Wibawa itu sudah mengenali Morgan dan Dia pun hanya menganggukkan kepalanya Seraya membukakan pintu gerbang tersebut.
Morgan memasuki halaman rumah keluarga Wibawa ternyata Abiyasa dan Arvin pun sudah menunggunya di teras depan, setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya dan istrinya,Abiyasa dan Arvin pun langsung memasuki mobil Morgan dan menuju ke tempat kediaman Tante Raisa, Di mana mereka ingin menjalankan misi selanjutnya.
Didalam Mobil hening!tidak ada yang bicara,mereka larut dalam pikiran masing-masing sampai mobil yang mereka kendarai pun memasuki halaman rumah Tante Raisa,terlihat suasana rumah tersebut sepi, karena mereka tidak menghubungi terlebih dahulu yang punya rumah.
mereka bertiga turun dari mobil dan melangkah menuju ke pintu utama rumah Tante Raisa, Abiyasa mengetuk pintu rumah itu beberapa kali.
" tok...tok...tok "
" Assalamualaikum " ucap Abiyasa.
" Waalaikumsalam " jawab Tante Raisa seiring dengan pintu terbuka, Tante Raisa terkejut dengan kedatangan mereka bertiga.
" Abiyasa, Morgan, Arvin " ucap Tante Raisa tersenyum.
Mereka hanya tersenyum.
" Ayo masuk, nanti Tante panggilkan Nadine." ucap Tante Raisa mengajak mereka masuk.
" Maaf Tante, bukan Nadine yang ingin Arvin temui, biarkan Nadine beristirahat Tante." Ucap Arvin tersenyum seraya mengikuti Tante Raisa berjalan menuju kearah ruang tamu rumah tersebut.
" Silahkan duduk, jadi siapa yang ingin kalian temui?" Tanya Tante Raisa setelah mereka sudah duduk dihadapan Tante Raisa seraya menatap mereka bertiga.
" Kami mau bertemu dengan pak Sahrul Tante." ucap Abiyasa.
Tante Raisa tersenyum...
" Ya udah kalau begitu sebentar ya Tante panggilkan mereka dulu, karena baru saja mereka masuk kamar tadi." ucapnya seraya beranjak meninggalkan mereka menuju kearah kamar tamu yang berada tidak jauh dari ruang tamu yang ada dirumah Tante Raisha.
Mereka hanya mengangguk dan menunggu Tante Raisa memanggilkan pak Sahrul, Beberapa menit kemudian pak Sahrul dan Bu Sari datang menemui mereka bersama dengan Tante Raisa.
" Maaf Nak,ada apa ya kalian mencari Bapak?" tanya Pak Sahrul merasa heran karena mereka datang malam-malam hanya ingin bertemu dengan Dirinya.
" Begini pak, sebelumnya kami bertiga minta maaf ya pak karena sudah mengganggu waktu istirahat bapak,ada sedikit yang ingin kami tanyakan pada pak Sahrul." ucap Abiyasa.
" Iya Nak, ada apa?"
" Bisakah Bapak memberikan Alamat rumahnya Pak Bowo? dan kalau Bapak berkenan pada kami untuk mengatakan ciri-ciri fisik dari Pak Bowo." ucap Abiyasa.
Terdengar helaan napas pak Sahrul, mereka bertiga saling bertatapan,karena mendengar helaan napas pak Sahrul yang terdengar berat, mereka memahami biar bagaimanapun pak Bowo adalah saudara kandung pak Sahrul, Hening! tidak ada suara beberapa detik.
" Baiklah Nak, Bapak akan memberikan alamatnya,dan Bapak akan menjelaskan semuanya ciri-ciri fisiknya dari kak Bowo." ucap pak Sahrul seraya tersenyum.
" Alhamdulillah " ucap ketiganya setelah mendengar ucapan pak Sahrul.
" Kenapa? takut ya Bapak nggak kasih Alamatnya heheheh..." kekehnya.
" Heheheh...iya pak." ucap Abiyasa.
" Ah..Bapak bisa aja bercandanya bikin kami kaget aja." Lanjut Morgan terkekeh juga.
Mereka yang ada disitupun tertawa pelan.
" Baiklah Nak, Bapak akan memberikan Alamat rumahnya kepada kalian, sebentar ya Nak Bapak ambil dulu Alamatnya, karena Bapak menulisnya dibuku catatan kecil Bapak." ucap Pak Sahrul kemudian berdiri dan langsung menuju kearah kamar dimana tas bawaannya berada, beberapa saat kemudian Pak Sahrul datang bersama sebuah buku kecil yang dipegangnya ditangannya,Dia lalu duduk ditempatnya semula dan membuka buku kecil tersebut dan kemudian memberikannya pada Arvin,Awalnya Arvin tidak terkejut dan terus menulisnya didalam gawainya dan saat Dia mengulang lagi membaca Alamat tersebut Diapun langsung terkejut.
" Ada apa Vin?" tanya Abiyasa dan mereka semua menatap kearah Arvin.
" Apakah nggak salah nih Alamatnya pak?" tanya Arvin.
" Nggak Nak,itu memang benar Alamatnya, kenapa Nak? apakah ada yang salah?"
" Nggak ada yang salah pak, cuma memastikan aja benar atau tidaknya " ucap Arvin.
" Memang kenapa Vin?" tanya Abiyasa lagi.
" Iya kenapa Vin?" lanjut Morgan.
" Alamat ini tidak jauh dari tempat Tante Raisa ini, bahkan kita juga sudah melewatinya tadi." ucap Arvin.
" Apa?!" ucap mereka bersamaan.
" Hmmm...iya Mor, Biy,Tante Raisa Arvin harap tante mengatakan dengan Lia jangan keluar rumah dulu ya sementara waktu menjaga kemungkinan yang ada."
" Iya Vin, nanti Tante sampaikan."
" Apakah benar Alamat itu tidak jauh dari sini?" tanya pak Sahrul.
" Iya pak, saya sering melewati jalan ini disaat saya patroli." ucap Arvin.
" Begitu ya,Bapak malah tidak paham daerah sana, karena Bapak cuma satu kali saja kerumah Dia saat itu,itu juga karena ada acara pesta rumah barunya." ucap pak Sahrul lagi.
" Iya pak,saya harap juga dengan Pak Sahrul dan keluarga,sementara ini nggak usah ada aktivitas di luar rumah sebelum suasan terkendali, karena mungkin saja saat ini pak Bowo mencari kalian, karena saya merasa Bapak adalah target utamanya sekarang,karena Bapak yang terakhir kali ditemui Lia." ucap Arvin.
Pak Sahrul hanya menganggukkan kepalanya.
" Dari cerita kalian tentang Pak Bowo dan yang lainnya yang berhubungan dengan Lia itu,saya menerka pak Bowo bersikap seperti itu karena saya rasa Dia itu sudah berhutang budi dengan keluarga Ariel." ucap Morgan lagi.
" Sepertinya iya Nak, karena sekarang ini rumah baru yang ditempati sama Kak Bowo itu adalah rumah pemberian dari Ayah Ariel yang bernama pak Rizal kalau tidak salah,karena Bapak kurang terlalu tahu nama dari Bapaknya Ariel itu." ucap Pak Sahrul.
" Nah kan sudah saya duga " ucap Morgan.
" Bisa sekarang Bapak beritahu ciri fisik pak Bowo?" tanya Abiyasa.
" Kak Bowo itu badannya besar dan sedikit kekar,penampilannya sangar dan kedua tangannya penuh dengan tato gadis berkepala ular." ucap Pak Sahrul.
" Wow fantastis..ular Broo." ucap Morgan memperagakan gaya metalnya dengan kedua tangannya.
Pak Sahrul tersenyum begitu juga yang lain hanya bisa tersenyum melihat ulah Morgan.
" Terus Pak.." ucap Arvin
" Dia selalu berpakaian baju tanpa lengan,Dia berpakaian seperti itu hanya ingin memperlihatkan kesangaran dan tatoannya,kulitnya agak hitam,berkumis tipis,selalu menggunakan rantai di ikat pinggangnya dan Dia juga takut sama kodok." ucap Pak Sahrul.
" Hahahah.." Morgan dan Arvin langsung tertawa lepas dan karena tawanya itu memecah keheningan malam dirumah Tante Raisa mengakibatkan Nadine,Lia dan sarah pun terjaga,Mereka bertiga langsung keluar kamar dan setengah berlari menuju kearah suara tawa tersebut,untung saja Kevin masih terlelap tidurnya, sedangkan Dokter Roni tidak ada Dia ada tugas malam dirumah sakit.
" Mama!" ucap Nadine memanggil Mamahnya tersebut.
" Nadine....." ucap Tante Raisha.
" Ada apa Mah?" ucap Nadine seraya menatap Mamahnya Dia belum menyadari kalau tamu sang Mama itu adalah kekasih hatinya bersama kedua sahabatnya.