
Tepat jam yang sudah ditentukan acara resepsi pernikahan dr Roni dan Amelia berakhir seperti biasa mereka yang bertugas dalam pelaksanaan acara tersebut mulai membersihkan tempat yang sudah digunakan buat acara pernikahan itu, tapi tidak seperti biasanya mereka setiap selesai acara pernikahan selalu saja meluangkan waktu mereka untuk berbicara bersama-sama tapi saat ini mereka langsung kembali kerumahnya masing-masing, karena dr Ilham dan Anindita dapat panggilan darurat dari rumah sakit dan terpaksa harus menangani pasien yang seharusnya ditangani sama dr Roni karena dr Roni berada dalam situasi yang sangat bahagia jadi mereka berdua yang menangani pasien tersebut.
Dr Roni berpamitan pada papah Boby dan yang lainnya untuk meminta ijin membawa sang istri untuk pulang kerumahnya karena sekarang Amelia adalah tanggung jawabnya sepenuhnya karena sekarang Amelia sah sudah menjadi istrinya.
" Om...Roni pamit dan akan membawa serta istri Roni kerumah." ucapnya sembari meraih tangan papah Boby dan mencium punggung tangan papah Boby.
" Iya...Om titipkan Amelia padamu, Om berharap kamu menjaga dan membahagiakannya." ucap papah Boby sembari mengangguk dan menepuk pundak dr Roni dengan tersenyum bahagia,karena dia percaya kalau dr Roni mampu membahagiakan Amelia yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.
Dr Roni mengangguk...
" Pasti Om...itu pasti, karena Amelia adalah segala-galanya buat Roni, dan satu lagi, Roni juga akan membawa serta Nika bersama Roni apakah Om dan Tante memperbolehkan kami membawa Nika? karena Roni tidak ingin memisahkan istri Roni dengan adiknya." ucapnya lagi, papah Boby dan mamah Lala hanya terdiam mereka hanya bisa menatap kearah Nika mereka berdua tidak bisa berkata apa-apa dan terlihat Amelia mendekati adik semata wayangnya Nika, dengan sedih diapun langsung memeluk sang Adik begitu juga dengan Nika dengan tatapan sedih, walaupunpun dia sedih tapi ada rasa bahagia karena sang kakak sudah mendapatkan orang yang tepat untuk melindunginya dan membahagiakannya dan merekapun saling berpelukan dengan disaksikan mereka semua, membuat suasana haru diluar gedung resepsi itu,terlihat Amelia menangis dan dengan sigap Nika menghapus buliran bening diwajah sang kakak dan dia tersenyum pada sang kakak dengan menggelengkan kepalanya mengisyaratkan pada kakaknya itu agar tidak menangis di hari bahagia kakaknya itu.
" Kamu ikut kakak dan kak Roni kan Dek?" tanya Amelia.
Terlihat Nika tersenyum dan dia langsung menggelengkan kepalanya.
" Maafkan Nika kak, Nika nggak bisa ikut bersama kakak, karena Nika sudah nyaman tinggal bersama om Boby dan tante Lala, karena mereka berdua sudah Nika anggap sebagai orang tua Nika sendiri, karena Nika merasakan kasih sayang mamah dan papah yang sudah tiada, kini hadir kembali dengan adanya mereka, kak Amelia jangan marah dengan Nika, tapi Nika tidak ingin mengganggu kebahagiaan kakak dan kak Roni, jujur Nika bahagia sekali karena kakak sudah menemukan jodoh yang terbaik untuk kakak, Nika harapkan kakak tidak kecewa dengan keputusan Nika ini." ucapnya sembari menggenggam kedua tangan sang kakak,Amelia menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk sang adik, dia juga merasa bahagia karena Nika berada ditangan keluarga yang sangat baik dan sangat bersahaja dan kebaikan mereka tidak bisa mereka berdua ungkapkan dengan kata-kata.
" Baiklah dek, walaupun kita berdua tidak tinggal satu atap tapi kita berdua masih tinggal satu kota dan bisa bertemu kembali seperti biasanya." Ucap Amelia tersenyum pada sang Adik, mendengar ucapan Nika dan Amelia itu, kemudian mamah Lala dan papah Boby tersenyum dan mamah Lala mendekati Nika dan langsung memeluk keduanya.
" Tante sangat bahagia, karena tante tidak kalian tinggalkan, karena Nika tetap bersama dengan tante." ucap mamah Lala merasa senang sekali, kemudian papah Boby pun mendekati mereka.
" Mulai sekarang Nika bisa memanggil om dan tante dengan sebutan papah dan mamah." ucap papah Boby tersenyum dianggukkkan Nika dengan senyuman yang sangat bahagia karena dia mendapatkan kebahagiaan yang bertubi-tubi dihari bahagia sang kakak.Mereka yang berada ditempat itu pun tersenyum bahagia semua dan merekapun langsung menuju mobil mereka masing-masing dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sangat lega dan bahagia sekali.
Didalam mobil Abiyasa...
" Mas..." panggil Ayesha.
" Ya sayang..." jawab Abiyasa sembari menoleh sesaat kearah sang istri dan dia baru menyadari ada yang aneh pada sang istri dan dia kembali lagi menoleh kearah sang istri dan bertepatan dengan tangan Ayesha mencengkrap pergelangan tangan suaminya, seketika saja Abiyasa langsung menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan dia terlihat khawatir banget dengan sang istri dan diapun langsung meraih wajah cantik istrinya tersebut.
" Kita segera kerumah sakit, kamu tahan sebentar ya sayang..." ucap Abiyasa seraya melajukan kembali kendaraannya menuju kearah rumah sakit keluarganya, beberapa menit kemudian dia sampai dihalaman rumah sakit dan langsung saja dia memarkirkan mobilnya dan dia pun bergegas turun dari mobilnya dan langsung saja dia meraih tubuh sang istri dan menggendongnya membawanya keruang UGD dan disambut para perawat yang bertugas diruangan itu dan Ayesha pun langsung ditanganin dan dengan gelisah dan cemas Abiyasa menunggu diluar dan dengan perasaan yang tidak karuan dia hanya bisa mondar mandir didepan ruangan dimana sang istri sedang ditanganin. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara sang adik.
" Kak Biyas...ada apa?" tanya Anindita merasa heran karena sang kakak yang berada diruang UGD, padahal tadi sewaktu ditinggal ngggak ada apa-apa.
" Ayesha mengeluh sakit perutnya saat mau pulang kerumah tadi." ucapnya masih dengan perasaan yang tidak tenang dan terlihat mulutnya berkomat kamit memanjatkan doa pada yang maha kuasa akan keselamatan sang istri dan bayi yang dikandungnya buah cinta mereka itu.
" Ya Allah... semoga tidak terjadi apa-apa dengan istri hamba dan calon anak hamba ya Allah." ucapnya pelan sembari mengusap wajahnya seraya menyenderkan tubuhnya didinding ruangan itu dan kemudian dia mensendekapkan tangannya dan salah satu tangannya menekan kedua keningnya terlihat sekali Abiyasa cemas akan keadaan sang istri.
" Kakak yang sabar ya...in sya Allah kak Yesha nggak apa-apa..." ucap Anindita sembari mengusap pundak sang kakak.
Abiyasa hanya mengangguk...
" Baiklah kak, Dita mau melihat keadaannya." ucap Anindita dianggukkan Abiyasa kembali tanpa suara.
Kemudian Abiyasa menatap kepergian sang Adik sampai hilang dibalik pintu ruangan dimana sang istri berada.
Beberapa saat dia menunggu diluar dengan harapan cemas terdengar suara lembut sang mamah dan papahnya.
" Apa yang terjadi nak dengan istrimu?" tanya sang mamah mengejutkan Abiyasa, dia pun langsung menoleh kearah sang mamah dan papahnya yang sudah berada disampingnya, tanpa disadarinya kedatangan mereka.
" Mamah, papah, siapa yang kasih tahu kalian?" tanyanya seraya menatap mereka berdua.
" Adikmu..." ucap singkat papah Andre.
Terdengar Abiyasa menghela nafasnya.
" Ayesha mengeluhkan sakit perutnya saat mau pulang tadi mah, pah..." ucapnya sembari duduk dan kedua tangannya bertopang dikedua pahanya dan kedua telapak tangannya menutup sebagian wajahnya dengan tatapan kosong jauh keluar ruangan tersebut.