
" Nadine...!" Ucapnya.
" Mas Arvin.." ucap Nadine pelan singkat dan langsung tak sadarkan diri.
Arvin meraih tubuh Nadine dan mengangkat tubuh Nadine serta membawanya ke arah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan yang tidak jauh dari lokasi kecelakaan.
Dari kejauhan mobil Morgan yang kebetulan lewat di jalan tersebut langsung berhenti setelah melihat kerumunan orang orang yang ada di tengah jalan dan mata Morgan melihat Arvin sedang mengendong korban.
" Ya udah zi,bawa mobil abang kekantor ya,abang mau bantu pak Arvin dulu," ucapnya pada adik leting nya tersebut yang kebetulan ikut dia berangkat kekantor.
" Siap bang!" ucapnya.
Morgan langsung turun dan setengah berlari menuju kearah Arvin.
" Ada apa Vin?" Tanya Morgan
" Morgan?!" Ucap singkat Arvin.
Morgan kemudian membukakan pintu mobil samping untuk Arvin dan korban.
" Ya udah Vin kamu masuk aja dan pangku gadis itu kita bawa kerumah sakit segera,biar aku yang bawa mobil mu " ucapnya.
Morgan langsung masuk dan duduk di kursi pengemudi.
Mobil langsung melaju kearah rumah sakit.
" Nadine...! bertahanlah sayang...!" Ucapnya tanpa sadar mengucapkan kata sayang.
" Nadine?" Ucap Morgan langsung menengok ke kaca yang ada di dalam mobil tersebut yang mengarah ke bangku belakang.
Tapi Morgan tidak mau banyak tanya dia hanya fokus kedepan dan stir nya dalam pikiran nya dia harus secepatnya sampai di rumah sakit dengan segera.
Mobil Arvin yang di kendarai oleh Morgan sampai di rumah sakit harapan insan milik keluarga Wibawa.
Mobil langsung berhenti di depan ruang UGD dan Nadine di sambut oleh para perawat dan segera di tangani.
Kemudian Arvin mengambil ponselnya dan menghubungi anggota yang lain untuk segera olah TKP kecelakaan yang menimpa Nadine tersebut.
Arvin mondar mandir ke kiri dan ke kanan,morgan sampai bingung melihat Arvin yang gelisah karena melihat kejadian Nadine kecelakaan,
"Vin sabar, aku jadi bingung lihat kamu hilir-mudik kayak setrikaan kaya gitu, Nadine kan sudah ditangani dengan yang ahlinya di ruangan sana," ucap Morgan.
" Aku juga nggak tahu kenapa bisa aku seperti ini,seperti shock aku melihat Nadine penuh darah" ucapnya seraya duduk di samping Morgan.
" Biasanya aku tidak apa-apa melihat darah, tapi sekarang aku merasa takut Apalagi itu berada di badannya Nadine" ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Pakaian dinasnya pun penuh bercak darah Nadine. saat dia duduk menunggu di ruang UGD itu matanya tertuju pada sepasang lelaki dan perempuan yang bergandengan mesra setengah berlari menuju ruang UGD.
" Itukan kekasih Nadine?mesra sekali dia dengan wanita itu? Wah ini tidak bisa di biarkan,buat apa dia datang kesini membawa wanita lain lagi" ucapnya seraya berdiri dan berjalan mendekati dokter Roni yang baru datang.
Dokter Roni baru datang ke rumah sakit,karena diberi kabar dari salah satu temannya yang ada di rumah sakit tersebut.
Dokter Roni memang belum masuk bertugas karena dia diberi waktu tiga hari untuk beristirahat di rumah paska perjalanan dinas keluar kota selama satu bulan lamanya.
Morgan melihat Arvin berjalan tergesa gesa Morgan langsung menegurnya.
" Hey!Vin mau kemana?" Teriak Morgan yang langsung berdiri mengikuti langkah Arvin,namun Arvin tidak menggubris teguran Morgan.
Arvin langsung memegang kerah baju dokter Roni,dan mengepalkan tangannya, kepada dokter Roni,tapi belum sempat Arvin melontarkan jotos nya tangan nya sudah di pegang oleh Morgan.
" Gimana aku nggak sabar Mor,dia ini lelaki tidak tahu aturan, kekasihnya sedang berjuang di ruang sana karena kecelakaan Dia malah memegang erat seorang wanita ini " ucap Arvin dengan muka marahnya.
" Arvin kamu salah paham," ucap Morgan.
" Salah paham apa?! Dia kan kekasihnya Nadine, Kenapa dia memegang wanita ini,disaat Nadine berjuang di ruangan sana karena sedang mengalami kecelakaan, dia enak-enaknya berpegangan erat dengan wanita ini "ucap nya penuh emosi.
Dokter Roni dan calon istrinya hanya tersenyum,dokter Roni tahu kalau Arvin lagi emosi.
" Maaf ya dok, silahkan aja dokter menemui Nadine" ucap Morgan.
" Nanti saja saya jelaskan ya Vin, saya masuk dulu" ucapnya masih tetap tersenyum.
" Ayo Vin kita duduk lagi." Ajak Morgan.
" Kenapa aku kamu cegah untuk memberi kan pelajaran pada nya?" Tanya Arvin datar menahan emosi.
" Kalau aku biar kan, ntar kamu nggak bisa nikah sama Nadine," ucap Morgan santai.
" Maksud kamu?" Arvin menoleh kearah Morgan.
" Kamu itu salah paham dengan dokter Roni itu," ucap Morgan.
" Salah paham gimana?" Tanyanya lagi.
" Dokter Roni itu adalah kakak kandungnya Nadine" ucap Morgan santai.
" Apa ?kakak kandung Nadine, yang benar Bule" ucap Arvin terkejut.
"Iya Arvin, Aku adalah kakak kandungnya Nadine " ucap Dokter Roni yang tiba tiba muncul di depan mereka.
Arvin dan Morgan terkejut mereka berdua langsung berdiri.
" Yang kamu lihat kemarin di acara pernikahan Abiyasa itu yang dipeluk oleh Nadine adalah aku, karena satu bulan aku tidak bertemu dengan adikku, dia tidak tahu kalau aku datang saat itu, makanya aku langsung ke pernikahan Abiyasa Karena aku memang diundang dan Aku pun mencari dia, dia kaget aku datang saat itu makanya dia memeluk aku, kamu salah paham Aja, aku paham kamu terbakar emosi karena melihat aku dengan calon istriku yang bergandengan tangan." Ucap dokter Roni tersenyum seraya menepuk pundak Arvin.
Arvin menarik napasnya dengan pelan, Morgan yang berada disampingnya langsung menepuk pundak sahabatnya itu.
" Sabar bro, emosi jangan di pelihara" ucapnya terkekeh.
Arvin langsung menyentil jidad Morgan.
" Aw! Sakit bro..." Ucapnya seraya mengusap jidadnya.
Dokter Roni tersenyum.
" Ya udah minta maaf sana, sama calon kakak ipar,ntar nggak bisa nikah lho kalo kakak ipar nggak ridho" ucapnya lagi.
Arvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Dokter Roni maafin saya ya,ini murni kesalahan saya, nggak bertanya dulu siapa sebenarnya dokter Roni dan membuat kesalahpahaman ini terjadi" ucapnya sambil menangkup kan kedua tangannya di dada.
Dokter Roni tersenyum dan menepuk pundak Arvin.
" Udah enggak apa-apa, saya paham kok,wajar kamu bersifat seperti itu,karena kamu belum pernah melihat aku,aku juga tahu kamu menyukai Nadine,aku selalu mendukung mu,karena bagi ku kamu pantas untuk Nadine adik ku" ucap dokter Roni santai sambil tersenyum.
" Perjuangkanlah cintamu kepada Nadine dia tidak mempunyai pacar masih ada kesempatan menaklukkan hati singa betina itu" kekeh dokter Roni.
Arvin tersenyum bahagia karena kesempatan nya mendapatkan Nadine terbuka lebar.