THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 300



Di kantor Abiyasa, mereka yang masih asyik berbicara masaah fhoto tersebut tiba-tiba Abiyasa menatap kewajah Morgan yang terlihat resah, Abiyasa pun menegurnya.


" Kenapa dengan wajah kamu Mor? " tanya Abiyasa seraya melihat wajah Morgan yang kusut.


" Iya nih kusut banget wajah kamu Mor, tadi berangkat kekantor kenapa nggak di setrika dulu sih..." ucap Clarissa tersenyum menggoda sahabatnya tersebut, padahal dia sudah mengetahui akibat wajah kusutnya Morgan.


" Hehehe...kalau disetrika, akunya tidak ada disini Ris..." ucapnya sembari terkekeh.


" Terus berada dimana? " tanya Abiyasa.


" Hehehe...ya dirumah sakit lah, kan wajahku bukan pakaian Biy, adanya terkelupas semua kulit ini." ucapnya terkekeh, padahal dihatinya lagi gelisah kalau seandainya para sahabatnya tahu apa penyebab wajahnya kusut.


Abiyasa, Clarissa dan Arvin tersenyum melihat sahabatnya itu salah tingkah, mereka semua sudah mengetahui semuanya tentang rencana yang akan digelar untuk hari jadi sahabatnya itu.


" Sini coba aku lihat Mor..." ucap Arvin seraya memegang wajah Morgan agar mengarah kewajahnya, Morgan hanya pasrah saja.


" Oh iya ya kusut banget deh...Ada apa sih Mor sehingga kamu seperti ini?" tanya Arvin.


Morgan menghela nafasnya dan menatap satu persatu para sahabatnya yang ada diruangan Abiyasa.


" Istriku marah besar pada ku..." ucapnya pelan seraya menangkupkan telapak tangannya dan menundukkan kepalanya.


Mereka tersenyum dan kemudian berekpresi kaget mendengar ucapan Morgan.


" Apa...? Marah besar?" ucap mereka bersamaan, sedangkan Nadine hanya tersenyum melihat tingkah mereka semua, Nadine tahu semua ini adalah rencana mereka bertiga.


Morgan dengan cepat mengangkat wajahnya dan menatap satu persatu mereka yang ada diruangan Abiyasa.


" Jangan-jangan kalian berdua sengaja mengatakan pada mamah tidak bisa sarapan bersama dengan alasan ada panggilan mendadak dari kantor, padahal tidak adakan, kalian berdua hanya ingin menghindari kekisruhan yang kalian berdua hadapi, dan tidak ingin mamah tahu masalah kamu dan Anindita, iyakan..." ucap Abiyasa seraya menatap kearah Morgan.


Morgan langsung menoleh kearah Abiyasa dan langsung menggelengkan kepalanya


" Tidak Biy, memang ada panggilan darurat dari kantor ku, pas juga sih kebetulan istriku juga ada panggilan dari rumah sakit." terang Morgan.


" Waduh! kalau aku ceritakan yang sebenarnya pasti mereka akan menguliti tubuhku, Aku takutnya mereka tidak percaya dengan yang akan aku ceritakan nanti." gumamnya dalam hati.


" Katakan Morgan kenapa Anindita sampai marah sama kamu?ada apa? apa ada yang kamu sembunyikan dengan kami semua,biasanya Dita tidak mudah marah pasti kamu membuat kesalahan yang membuat dia menjadi marah besar seperti itu." ucap Abiyasa seraya menatap tajam kearah Morgan.


" Iya Morgan apa kesalahan kamu sehingga istri kamu marah padamu?" tanya Clarissa sembari juga menatap Morgan dengan tatapan tajam.


" Jangan-jangan kamu mempunyai hati yang lain nih Mor, jangan sampai itu terjadi Mor, kalau sampai itu terjadi hati-hati kamu dengan mertua mu dan yang lainnya, tapi yang paling sakit yang akan kamu rasakan adalah dari para sahabat kamu ini..." ucap Arvin, Morgan pun langsung menoleh kearah Arvin mendengar Arvin mengatakan seperti itu.


Morgan menghela nafasnya dengan berat.


" Aku tidak memiliki hati lain selain istriku, dia marah karena dia mendengar aku sedang menerima panggilan dari wanita lain, dan dia mendengar semua pembicaraan kami, karena gawai dalam posisi panggilan louspeaker, dia marah besar dan aku disuruh tidur di sofa." terang Morgan dengan nada sedihnya, mereka yang ada diruangan itu menyembunyikan tawanya karena mendengar cerita Morgan.


" Maksud kamu wanita yang pernah kamu ceritakan pada ku itu ya?" tanya arvn, dianggukkan Morgan dengan posisinya menyenderka tubuhnya pasrah disofa yang ada diruangan Abiyasa.


" Wanita itu mengaku masa lalu ku itulah yang membuat Dita marah besar, aku dulu pernah cerita semuanya tentang masa lalu ku pada dita dan tentang Stevi yang dikabarkan sudah meninggal dunia, dan saat itu memang aku sangat sayang dengan Stevi tapi dia menghilang dan tau-taunya dia memutuskan aku melalui chat pribadi, setelah beberapa minggu ada yang mengabarkan Stevi sudah meninggal dunia dan yang memberi kabar tersebut keluarganya dan aku juga dikasih lihat makamnya, tapi tiba-tiba wanita yang beberapa hari terakhir ini selalu menghubungiku dan tadi malam puncaknya aku marah dengan wanita tersebut dan saat itu Anindita tahu seorang wanita menghubungiku dan parahnya wanita itu mengaku wanita dimasa lalu ku." ucap Morgan terdengar helaan nafasnya, mereka pun menatap kearah Morgan dan tersenyum.


" Benarkan Mor apa yang aku katakan kemaren saat kamu bilang ada seorang wanita yang selalu menghubungi kamu terus dan tidak ingin mengatakan jadi dirinya siapa sebenarnya, aku katakan itu pasti masa lalu mu, kamu tidak percaya sih..." ucap Arvin.


" Aku nggak tahu Vin, kepala ku pusing dan aku mau istirahat dulu, bolehkan Biy.." ucapnya seraya menatap kearah Abiyasa, dan Abiyasa hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


" Jangan sampai hilap ya Mor..." ucap Arvin.


" Iya Nih, ntar viral lagi..." sambung Clarissa.


" Idih...! apaan sih kalian ini, aku ini biar pun lagi stres atau lagi pusing nggak bakalan sampai segitunya, in sya Allah selalu dilindungi Allah dan aku juga tidak ada pikiran sampai kesitu juga kali." ucapnya tersenyum dan dia pun berdiri dan melangkah menuju tmpat istirahat Abiyasa yang ada diruangannya tersebut, mereka mengiringi dengan tatapan mata meraka langkah Morgan memasuki kamar khusus istirahat Abiyasa.


Mereka tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kemudian Arvin dan Nadine berpamitan dengan Clarissa dan Abiyasa, karena Arvin mau mengantarkan sang istri kerumah mertuanya.


Nadine dan Arvin melangkah meninggalkan kantor Abiyasa, Clarissa pun langsung melangkah meninggalkan ruangan Abiyasa menuju keruangannya sendiri.


*****


Papah Andre dan yang lainnya sudah sampai dikota mereka, setelah mereka keluar dari Jet pribadi keluarga Wibawa dan seperti biasanya papah Andre berbicara dengan pihak bandara dan setelah itu mereka menuju kearah taksi yang ada dibandara tersebut.


Mereka pun kemudian memasuki mobil taksi tersebut, saat papah Andre mau memasuki mobil taksi dan duduk disamping sopir taksi tersebut langsung saja dicegah kak Nico, dan kak Nico meminta papah Andre duduk dibelakang saja, papah Andre hanya menganggukkan kepalanya saja, dan kemudian mobil taksi tersebut langsung menuju kearah kediaman keluarga Wibawa.


" Kenapa kamu melarang Om duduk di depan?" tanya papah Andre.


" Nggak apa-apa sih Om perasaan kurang aman aja Om." ucapnya tersenyum.


" Kamu ini, ada-ada aja sih..." ucap papah Andre tersenyum.


Kemudian didalam mobil tidak ada lagi yang berbicara mereka hanya larut dalam lamunan mereka sendiri, terlihat sebuah Mobil berwarna hitam melanggar rambu-rambu lalu lintas dengan melawan arus dan tiba-tiba saja langsung menghantam mobil taksi yang ditumpangi papah Andre dengan yang lainnya tersebut, karena terkejut sopir taksi tersebut pun langsung banting stir kearah kanan dan tak diurungkan lagi mobil taksi itupun langsung terbalik dan masuk kedalam parit yang agak besar, sedangkan mobil berwarna hitam itu banting stir kekiri dan menghantam pot bunga yang ada dipinggir jalan,untung saja kendaraan tidak terlalu banyak sehingga saat kedua sopir tersebut banting stir untuk menghindari tabrakan tersebut tidak mengenai kendaraan yang lain, orang-orang yang ada dijalan itupun beramai-ramai membantu dan menyelamatkan papah Andre dan yang lainnya, dan segera dibawa kerumah sakit, papah Boby, Amelia, papah Andre dan sopir taksi hanya luka ringan sedangkan kak Nico tidak sadarkan diri karena kak Nico kena benturan yang kuat saat pak sopir taksi itu dalam keadaan terkejut dan banting stir, mobil berwarna hitam tersebut sempat menyentuh samping kiri mobil taksi itu dengan keras.


Kemudian kak Nico dilarikan kerumah sakit Wibawa.


Dirumah Lia...


" Kenapa perasaan ku saat ini sangat tidak enak, ada apa ya...ya Allah semoga baik-baik saja..." ucap Lia yang berada dikamar pribadinya, dia pun langsung mengambil gawainya dia melihat ada chat pribadi yang masuk kegawainya ternyata chat itu adalah chat dari calon suaminya yaitu kak Nico.


" Sayang...mas merindukan mu...apakah kamu merindukan mas juga? sebentar lagi mas sudah sampai rumah dan nanti kita jalan-jalan bareng lagi sama Kevin ya sayang....mas bahagia sekali memiliki kalian, jangan tinggalkan mas ya..." isi chat pribadinya kak Nico untuk Lia.


Lia tersenyum dan membalas chat tersebut dengan mengirimkan emotikon love dan tersenyum.


kemudian Lia meletakkan gawainya diatas meja kecil yang ada dikamarnya itu, Dia berdiri dijendela kamarnya.


" Kenapa ya kok perasaan ini sangat gelisah..." ucapnya.


Gawai Abiyasa berbunyi dan dia melihat gawainya ternyata panggilan dari sang papah.


" Papah...apakah mereka sudah sampai kenapa mereka tidak menghubungi kalau sudah sampai." ucapnya seraya menjawab panggilan sang papah.


" Assalammualaikum pah..."


" Waalaikumsalam...nak, papah dengan yang lainnya mengalami kecelakaan dan sekarang dalam perjalanan kerumah sakit." ucapnya.


" Innalillahi...tapi papah nggak apa-apa kan?bagaimana dengan yang lainnya pah?" ucapnya sembari mengambil jasnya dan kunci kontaknya, Morgan yang ada dibelakang Abiyasa pun terkejut medengar Abiyasa berbicara, tapi Morgan tetap diam saja dia tidak ingin memotong pembicaraan Abiyasa.


" Papah Allhamdulillah tidak apa-apa cuma luka ringan aja begitu juga dengan Om Boby dan Amelia serta pak sopirnya hanya mengalami luka ringan, tapi..." Papah Andre menggantung kalimatnya, terdengar helaan nafas papah Andre.


" Kenapa pah dengan kak Nico?"


" Kak Nico tak sadarkan diri dan mengalami luka dikaki dan tangannya." ucapnya.


" Ya udah kalau gitu Abiyasa segera kesana..." ucapnya setelah mengucap dan membalas salam sambungan tersebut terputus.


" Aku ikut Biy..." ucap Morgan dianggukkan Abiyasa dan mereka berdua melangkah keluar dan saat dia berada diluar ruangan Clarissa langsung menghampiri mereka.


" Biy...tunggu..." ucapnya sembari melangkah dengan cepat, mereka kemudian memasuki lift dan menuju kearah lantai bawah menuju kearah mobil Abiyasa dan mereka langsung meninggalkan kantor Wibawa group menuju kearah rumah sakit.


" Kok kamu tahu Mor papah kecelakaan...?" tanya Abiyasa sembari menyetir mobilnya.


" Aku terkejut saat keluar kamar istirahat tadi dan aku mendengar papah kecelakaan. " terang Morgan.


Hening sesaat tanpa ada suara, didalam Mobil, kemudian Morgan menghubungi salah satu anggota satlantas yang piket hari ini. Morgan pun kemudian berbicara langsung dengan anggota yang sudah ada dilokasi kecelakaan mertuanya itu


" Mudah-mudahan aja tidak terjadi apa-apa dengan kak Nico." ucap Clarissa.


" Mudah-mudahan aja Ris..." ucap Abiyasa.


Kemudian Morgan menghubungi Arvin, Arvin yang baru beberapa saat sampai di depan rumah sang mertua langsung turun dari mobilnya dan melangkah mengikuti langkah sang istri sembari mengambil gawainya yang berbunyi, dan dia melihat layar gawainya tersebut dia tersenyum.


" Assalammualaikum Mor, ada apa?" tanya Arvin, dia belum mengetahui tentang kecelakaan yang menimpa omnya tersebut, karena dia masih dalam keadaan cuti dan tidak mengetahui kejadian itu ditambah lagi dia juga tidak diberi tahu anggotanya dan lagi dia tidak memantau group kantornya itu.


" Waalaikumsallam ...Vin kamu dimana sekarang? " tanya Morgan.


" Aku baru nyampe dirumah mertuku, ada apa?"


" Segera kerumah sakit Wibawa dan pantau lokasi kecelakaan, karena mertua ku mengalami kecelakaan baru saja taksi yang ditumpangi mereka diseruduk mobil berwarna hitam yang melangkar arus lalu lintas." terang Morgan.


" Innalilahi...Baiklah aku akan seger kesana." ucapnya sembari melangkah menuju pintu utama rumah mertuanya.


" Sayang...mas mau kerumah sakit, karena Om Andre kecelakaan..." ucapnya dia tidak menyadari kalau kak Nico ada di dalam taksi tersebut, mendengar Arvin berbicara dengan Istrinya itu, Lia terkejut dan langsung meneteskan air matanya.


" Benarkah itu?" tanyanya seraya memegang lengan Arvin.


Arvin hanya mengangguk dia masih tidak menyadarinya.


" Innalillahi...Mas Nico? apa mas Nico baik-baik saja Arvin?"


" Ya Allah...Aku tidak menyadari kalau ada kak Nico didalam mobil taksi itu lebih baik kita kesana sekarang.


Kemudian dianggukkan Lia dan Nadine, karena Kevin masih tidur Lia pun menitipkan Kevin sama mamah Raisha. Kemudian mereka melangkah meninggalkan rumahnya dan melaju kearah rumah sakit Wibawa.