THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 194



Beberapa saat kepergian Lia dari kamar Nadine gawai Nadine berdering,dan Nadine pun terkejut karena suara gawainya tersebut, Dia menatap gawainya namun tak langsung Dia menjawab panggilan tersebut, Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan menarik nafasnya dengan berat sampai akhirnya panggilan tersebut terabaikan,dan beberapa saat kemudian gawai tersebut berdering lagi dan Dia langsung mengambil gawainya dengan cekatan Dia melihat layar gawai tersebut dan Dia hanya bersuara pelan.


" Mas Arvin? Astaga rupanya tadi panggilan Mas Arvin." ucapnya tersenyum.


Nadine pun langsung menjawab panggilan Arvin.


" Assalamualaikum Mas?"


" Wa'alaikumussalam,udah tidur sayang?"


" Hmmm...belum Mas "


" Sibuk ya?"


" Enggak juga Mas,Ada apa Mas?"


" Ada yang ingin Mas katakan padamu sayang."


" Apa Mas?"


" Tentang Bang Niko dan Lia."


" Ada apa dengan mereka Mas?"


" Besok Keluarga Bang Niko mau kerumah."


" Kerumah? untuk apa Mas? kenapa kerumah Nadine Mas?"


" Untuk melamar Lia."


" Apa?! melamar?Kamu jangan bercanda Mas?Kak Niko kan sudah dijodohkan dengan wanita lain Mas?kenapa tiba-tiba mau melamar Kak Lia?"


" Ceritanya panjang sayang."


" Dipangkas aja Mas "


" Hahahaha...kamu ini memangnya ya lucu baget sih kamu ini sayang,bikin gemes Mas aja deh."


" Heheheh..." kekeh Nadine.


" Tapi Mas..."


" Kenapa?"


" Baru aja Nadine bilang tadi sama Kak Lia kalau Kak Niko sudah dijodohkan dengan wanita lain, dan terlihat Kak Lia sedih banget,padahal Dia tidak pernah bertemu dengan Kak Niko,tapi saat melihat wajah Kak Niko melalui fhoto tadi kayanya Kak Lia seneng banget dan terlihat bahagia diwajahnya terlihat jelas banget diguratan senyumnya itu." terang Nadine.


Arvin tersenyum,dan melanjutkn bicaranya.


" Biar aja sayang, Dia terliht sedih jangan dikasih tahu terlebih dahulu,dan menjadi kejutan terindah buatnya besok." ucap Arvin sembari terkekeh.


Nadine terkekeh dan mereka berduapun menyudahi bicaranya dan sama-sama mengucap dan membalas salam.


Nadine meletakkan lagi gawainya diatas meja kecil tersebut dengan senyuman yang mengembang Dia merebahkan tubuhnya dikasur empuknya tersebut.


" Alhamdulillah,rencana Allah sangat indah sekali." ucapnya seraya menatap langit-langit kamarnya tersebut.


Dikamar Lia...


Lia duduk di bibir ranjangnya sembari mengelus lembut kepala Anaknya yang sudah tertidur sejak tadi, Lia memang berbohong kepada Nadine mengatakan kalau Kevin belum tidur,padahal Dia meninggalkannya sewaktu ke kamar Nadine tadi Kevin sudah lebih dulu tidur.


Lia sengaja mengatakan itu karena Dia merasa hancur mendengar Niko dijodohkan dengan wanita lain.


Entah ada perasaan apa setelah Lia melihat wajah Niko ada rasa tenang di hatinya bahkan Dia merasa sangat bahagia walaupun hanya melihat wajah Niko melalui foto yang ada di gawai Nadine.


Lia merasa perasaan hatinya begitu tenang dan tentram hanya memandang wajah Niko walaupun melalui gawai Nadine.


Terdengar Dia menghela nafasnya dengan berat tidak terasa air matanya pun menetes, Dia kemudian menyadari kalau air mata itu lolos begitu saja dari bening bola matanya.


" Astaghfirullahaladzim Ada apa dengan perasaanku ini? seharusnya Aku sadar Aku tidak seperti wanita yang lain, Aku hina karena sudah ternoda Dan dari hasil ternoda itu Aku mempunyai Anak, mana ada laki-laki yang mau menerima diriku dengan noda hitam yang sangat tebal dan membekas di hati Ini." ucapnya.


Dia membiarkan terus air matanya itu mengalir deras di wajahnya yang cantik, kemudian Dia mengambil tisu dan menghapus air matanya tersebut.


Dia berjalan ke arah jendela perlahan Dia membuka tirai jendelanya itu, Dia menatap jauh keluar di mana hilir mudik kendaraan berlalu-lalang karena waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam di mana masih ada kendaraan hilir mudik begitu ramainya, tapi tidak dengan perasaan Lia sekarang ini yang sangat kacau.


" Ya Allah apakah Aku tidak bisa untuk bahagia? Apakah ada di luar sana laki-laki yang benar-benar menyayangi dan mencintaiku yang mau menerimaku apa adanya? dan mau menerima Anakku? dan dengan begitu besarnya noda hitam yang ada di hidupku dan tidak akan pernah bisa hilang noda tersebut selama-lamanya akan membekas, adakah laki-laki seperti itu yang mau menerima semuanya." ucapnya sembari menatap lurus kedepan.


" Mama?" panggil Kevin, Lia terkejut mendengar Anak semata wayangnya yang memanggilnya, Karena Kevin terjaga dari tidurnya.


Lia pun langsung cepat-cepat menghapus air matanya dan langsung melangkah menemui Kevin yang sedang menatapnya sambil memiringkan tubuhnya.


" Mama belum tidur?"


" Mama belum ngantuk sayang, kamu lanjutin aja lagi tidurnya ya."


Kevin kemudian menganggukkan kepalanya dan kembali menutup matanya.


Lia menatap kearah Anak tercintanya tersebut.


" Mama akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu Nak, in sya Allah Kamu akan mendapatkan kebahagiaan seperti Anak-Anak yang ada di luar sana Mama janji." ucapnya seraya mengelus lembut pundak sang Anak.


Kemudian Dia pun merebahkan tubuhnya di samping Anaknya itu, dan Dia memeluk erat sang Anak dan tak terasa matanya pun kemudian menutup dan menikmati mimpinya yang indah bertemu dengan seorang pangeran berkuda putih dan memberikan setangkai mawar merah dan mengulurkan tangannya untuk membawanya pergi menuju kebahagiaan, Tapi itu semua hanyalah mimpi! Lia tidak bisa menikmati tidurnya Dia terjaga kembali dan Dia pun menelentangkan tubuhnya menatap ke langit-langit kamarnya.


" Kenapa bayangan Niko selalu hadir di pelupuk mataku? Aku tidak ingin menjadi sebagai seorang pengganggu kehidupan hubungan orang lain, ya Allah kalau seandainya Niko bukanlah jodohku hilangkanlah bayangannya ini dari pelupuk mataku, ingatanku, dan hati ini, kalau seandainya dia jodohku dekatkanlah Ya Allah, lancarkanlah Aku bertemu dengannya dan mudahkanlah Dia menerima akan keadaanku, dengan tebalnya noda hitam yang ada di kehidupanku ini." gumamnya seraya mengusap wajahnya dengan pelan dan menikmati helaan nafasnya yang keluar dari hidungnya tersebut.


" Aku memang tidak pernah bertemu dengan Niko, Tapi saat Aku melihat wajahnya hati ini tidak bisa berkata bohong kalau Aku merasa nyaman dan merasa bahagia serta merasa tenang, Aku tidak tahu! Ya Allah, padahal Aku hanya melihat melalui fotonya, Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? walaupun melalui foto apalagi Aku melihat aslinya Ya Allah, Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin hubungan Niko dengan calon istrinya berantakan karena Aku, Aku tidak ingin perasaan ini menjadi-jadi Karena Aku bukanlah pilihan orang tuanya, Aku sadar ya Allah kalau Aku tidak bisa menjadi yang terbaik untuk Niko, dan wajarlah orang tuanya mencarikan jodoh untuk Niko yang terbaik yang tidak mempunyai peristiwa yang sangat membekas seperti Aku ini, Aku tidak ingin Ya Allah hidupku seperti ini dan Aku juga tidak menginginkan peristiwa yang beberapa tahun lalu merenggut diriku ini,Tapi ini semua karena takdir darimu Ya Allah yang harus Aku jalani, Terima kasih ya Allah karena engkau telah memberikan teguran yang hebat untukku, agar Aku bisa lagi waspada dan menjadi pribadi yang lebih baik, Terima kasih juga ya Allah karena engkau telah mengenalkan Aku dengan Niko walaupun hanya melihat melalui sebuah foto, tapi Aku merasa bahagia setidaknya Hari ini Aku bisa merasakan kebahagiaan yang tidak pernah Aku rasakan selama ini dengan orang yang benar-benar membuatku merasa tenang dan senang, walaupun hanya melalui sebuah foto saja, Terima kasih ya Allah." ucapnya berbicara pelan seraya melirik kearah sang Anak, takut Anaknya bangun dan memperhatikan Dia berbicara sendiri, kemudian Dia kembali memiringkan tubuhnya dan memeluk kembali Anak semata wayangnya itu dan tak terasa Dia pun tertidur.


*****


Abiyasa yang di bangunkan sang istri pun langsung membuka matanya dengan perlahan.


Dia mengumpulkan nyawanya sembari duduk di bibir ranjangnya.


" Kamu sudah mandi sayang?"


" Ya Mas, Yesha sudah mandi, cepetan gih sana bersihkan diri dan segera kita melaksanakan sholat subuh, ntar waktu subuh habis lho."


" Ya sayang " ucapkan Abiyasa segera berjalan memasuki kamar mandinya, dan beberapa saat kemudian Abiyasa selesai membersihkan dirinya dan Dia pun langsung mengajak sang istri keluar dari kamar menuju ke tempat sholat yang ada di dalam rumahnya tersebut, di mana keluarganya sudah menunggu mereka untuk sholat subuh berjamaah dengan diimami Abiyasa, Mereka pun melaksanakan sholat subuh berjamaah, setelah sholat mereka Langsung melaksanakan kegiatan mereka habis sholat membaca ayat suci Alquran, setelah selesai Mereka pun langsung duduk di ruang tengah rumah tersebut.


" Sudah dipersiapkan Melisa keperluan untuk kita melamar Lia.?" tanya papa Andre pada Mama Melisa.


" Persiapannya tidak ada kak, nanti sebelum kita berangkat ke rumah Tante Raisa, Melisa dan Niko mau ke toko emas untuk membeli dua buah cincin." ucap Mama Melisa tersenyum bahagia.


" Mel, kita kan mau melamar Mel bukan mau tunangan." ucap Papa Andre.


" Iya Kak Mel tahu,kita memang melamar bukan bertunangan, Tapi Mel ingin secepatnya mengikat Lia sebagai menantu Mel Kak,karena Melisa takut nanti Lia berubah pikiran Kak."


" Cuma dua minggu lah batasnya Mel satu minggu pernikahan Anindita satu minggu lagi pernikahan Arvin dan satu minggu lagi pernikahan Lia dan Niko." ucap Papah Andre lagi.


" Memang waktu segitu itu terdengarnya agak cepat Kakak, tapi menurutnya Mel lama banget, jadi Lianya perlu diikat dulu." ucapnya sembari terkekeh.


" Emang Lia kuda Mel harus diikat." ucap Ayah Candra.


" Bukan gitu kak hehehehe, Maksud Mel tunangan instan." ucapnya sembari terkekeh.


" Ya udahlah kalau memang mau kamu seperti itu, kakak sih ngikut aja, Kakak selalu mendukung kehendakmu, mudah-mudahan aja Tante Raisa mau menerima lamaran kita dan Tante Raisa tidak meragukan kalau memang benar-benar Niko ingin membahagiakan Lia dan mencintai Lia serta menyayangi Anaknya dan Niko tidak memandang dari segi apapun Lia, baik itu kejelekan keburukan Lia, Niko akan menerimanya apa adanya,ya kan Niko " ucap Papah Andre tersenyum.


" Benar sekali Om, Niko tidak mempermasalahkan masalah yang telah dialami Lia beberapa tahun yang lalu, justru Niko ingin memberikan kebahagiaan di atas segala-galanya dari permasalahan yang pernah dihadapi Lia, Niko ingin membawa Lia untuk melupakan masalah itu, memang masa lalu itu tidak untuk dilupakan tapi setidaknya bisa memudarkan bekasnya, masa lalu hanya untuk dikenang tapi dikenangnya dengan catatan tidak lagi mengingat-ingat masa lalu yang telah membekas tersebut." ucap Niko tersenyum.


" Mantap! nah ini baru keponakan Om yang sangat hebat! inilah yang dinamakan laki-laki sejati tidak memandang apapun yang terjadi tentang wanitanya, yang terpenting laki-laki sejati itu bisa membahagiakan pasangannya tidak untuk menyakitinya dan menyinggung masa lalu pasangannya." ucap Papa Boby seraya menepuk pundak Niko pelan.


" Tante bangga sayang sama kamu, Kamu adalah lelaki yang terhebat." sambung Mamah Anisha.


" Terima kasih Tante, Niko juga bangga kok punya tante dan om seperti Om Andre dan Tante Anisha karena mau mengerti akan keinginan dari keponakannya, Niko bangga sekali." ucapnya sembari tersenyum.


" Berarti bangganya nih cuma dengan Tante Andre dan Om Anisha aja Nih " ucap Papah Boby.


" Kebalik Bob!" protes Papa Andre.


" Hahaha...! bercanda Bro! pagi-pagi itu kita harus olahraga pipi, biar nggak kram pipi kita, jadi kita harus tertawa yang lepas." ucap Papa Boby.


" Kamu itu kalau ngeles bisa aja Bob, keseleo bicara sedikit aja udah protesnya tingkat dewa." ucap Papah Andre tersenyum.


" Namanya juga dewa ngoceh!" ucap Abi Yosep terkekeh.


Mereka pun semua tertawa mendengar ucapan Abi Yosep sedangkan Papah Boby hanya bisa mengikutin mereka sama-sama tertawa juga.


*****


Setelah mereka sarapan pagi Melisa dan Niko bersiap-siap untuk menuju ke sebuah toko emas langganan mereka untuk membeli 2 buah cincin pernikahan dengan kebahagiaan dan kesenangan hati mereka berdua pun langsung meninggalkan halaman rumah kediaman keluarga Wibawa menuju ke toko emas tersebut.


Sambil menunggu mereka datang,Mereka yang ada dirumah akhirnya menyibukkan diri sendiri, Abiyasa dan Ayesha memasuki kamarnya, mereka berdua duduk di sofa yang ada di dalam kamar sembari Ayesha merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami dan dengan begitu mesranya Abiyasa membelai rambut panjang istrinya yang hitam tersebut, karena di dalam kamar Ayesha melepaskan hijabnya.


Tangan kanannya membelai lembut kepala sang istri dan tangan kirinya pun membelai perut ramping istrinya yang di mana di dalam perut tersebut ada benih cinta mereka berdua.


" Sayang kapan kita bisa bulan madu?"


" Bulan madu buat apa Mas? kita bulan madu di rumah aja sudah enak kok, dan kita jalan-jalan di kota kita sendiri juga sama aja seperti bulan madu."


" Mas itu ingin menikmati suasan sebuah Villa bersama dengan kamu, hanya berdua! tidak ada yang mengganggu,Mas ingin menghabiskan waktu bersama kamu aja " ucapnya lembut seraya menundukkan kepalanya dan mencium lembut bibir sang istri.


Ayesha membalas ciuman hangat suami itu,dan tersenyum manis.


" Gimana kita mau bulan madu sayang,Ayesha kan lagi hamil, apa lagi hamil muda seperti ini bawaannya mau muntah mulu, dan makanannya juga yang aneh-aneh banget."


" Nanti setelah kamu melahirkan ataupun saat hamil kamu udah gede kita bisa aja berangkat ke Villa keluarga kita yang ada di kota ini, kita nikmati beberapa hari disana hanya berdua saja." ucap Abiyasa, Ayesha menganggukkan kepalanya sembari memiringkan tubuhnya dan tangannya membelai lembut dada sang suami.


" Besok Mas kerja ya?"


" Iya sayang Mas besok ngantor."


" Tapi Ayesha nggak mau kalau Mas masuk kantor besok,temenin Ayesha lagi ya beberapa hari." rengeknya.


" Ya udah, apa sih yang enggak buat kamu sayang." ucapnya lagi-lagi mencium lembut bibir sang istri.


Kemudian mereka berdua dikejutkan dengan suara ketukan di pintu kamar mereka.


" Tok...tok... tok..."


Ayesha kemudian duduk dan langsung mengambil cepat hijabnya dan memakainya.


Abiyasa berdiri dan melangkah menuju ke arah pintu dan membuka pintu tersebut.


" Ada apa Vin?"


" Tante Melisa dan Bang Niko udah datang Ayo kita berangkat."


" Oh ya udah Aku siap-siap dulu ya."


" Oke Aku tunggu di ruang tengah."


" Iya " ucapnya kemudian menutup pintu kamarnya lagi, Mereka pun kemudian berganti pakaian karena mereka ingin melamar Lia dengan keluarga besar mereka.


Setelah siap semuanya merekapun kemudian memasuki mobil, kemudian perlahan-lahan mobil mereka meninggalkan rumah kediaman keluarga Wibawa menuju ke rumah Tante Raisa.