
" Baiklah Mah,Lia akan menceritakan semuanya sebenarnya yang melakukan itu semua pada Lia saat itu adalah Ariel,Ariel yang mau dijodohkan dengan Lia oleh Paman Bowo." ucap Lia
" Apa?!" ucap Paman Sahrul, Dia pun terkejut dan Dia tidak menyangka kalau Ariel berbuat seperti itu.
" Ariel adalah Ayah Kevin." ucap Lia lagi.
" Astaghfirullahaladzim, kenapa seperti itu,terus kita harus mencarinya kemana? kita tidak tahu Dia berada dimana sekarang ini? mungkin saja Dia bebas di luar sana melakukan semuanya dengan wanita yang lain, sungguh jahat kelakuan Dia, biar bagaimanapun dia harus mempertanggung jawabkan semuanya ini." ucap pak Sahrul.
" Tidak paman,Lia tidak ingin menikah dengannya, walaupun Dia mengakui semuanya,Lia berharap Dia hanya mengakui Kevin sebagai anaknya, tapi tidak Lia yang harus menikah dengannya." ucap Lia lagi.
" Kenapa Nak?" tanya Pak Sahrul.
" Kalau Lia menikah dengannya Lia sama aja memasukkan diri Lia lagi kedalam lubang yang sama,Lia tidak ingin itu terjadi Paman, cukup Dia sudah menghancurkan hidup Lia selama ini." ucapnya.
Pak Sahrul pun menganggukkan kepalanya.
" Pak Sahrul, nggak usah khawatir kami sudah menemukan Dia." ucap Papah Boby.
Lagi-lagi pak Sahrul terkejut.
" Maafkan kami sekali lagi Pak, kami memang sengaja menutupi berita ini, agar Lia bisa berbicara sendiri dengan Bapak, apalagi Lia sudah menganggap Bapak sebagai Paman yang sangat sayang dan menganggap Lia seperti Anak sendiri, sekarang Ariel ada di penjara, Dia tinggal menunggu tuntutan proses selanjutnya."
" Apa?Ariel ada di dalam penjara? apakah orang tuanya tahu kalau Dia tertangkap?" tanya Pak Sahrul.
Mereka menatap kearah Morgan, Morgan tersenyum.
" Orang tuanya belum tahu,karena permintaan Ariel sementara waktu tidak menghubungi Orang tuanya,karena Dia takut Ibunya belum bisa menerima kabar kalau Dia ditangkap polisi,tapi biar bagaimanapun pihak polisi tetap akan menghubungi keluarganya dalam waktu dekat ini,orang tuanya harus tahu semua perbuatan Anaknya" ucap Morgan.
" Saya jadi nggak paham kenapa polisi menangkap Ariel? padahal saya tidak melaporkan ataupun memperpanjan peristiwa dulu." ucap Lia.
" Lia semua perbuatan yang dia lakukan itu diawali dari Maya,kamu tahukan Maya?" tanya Abiyasa.
Lia menganggukkan kepalanya.
Dia kemudian teringat beberapa tahun silam kalau Maya sangat mencintai Arvin dan Arvin menyukai Dirinya.
" Maya memang sangat mencintai Arvin,tapi Maya tahu Arvin suka dengan saya, kemudian Maya berbuat seperti itu seolah-olah Arvin lah yang melakukan kejahatan itu pada saya." ucap Lia langsung menundukkan wajahnya,dan Tante Raisa langsung mengusap lembut kepala Lia.
" Iya benar sekali Lia,kamu memang baik tidak mengambil kesempatan Dan kesempitan di saat itu, dan kamu pun membiarkan hidupmu menderita karena kamu tidak mengijinkan Arvin untuk bertanggung jawab saat itu." lanjut Ayah Candra sembari tersenyum.
" Saya memang tidak ingin Arvin bertanggung jawab, karena Arvin tidak melakukannya, kalau seandainya saya mengambil kesempatan saat itu, saat dimana terjadi peristiwa itu dan Arvin mengatakan pada saya kalau Dia akan bertanggungjawab dengan saya, kalau saya mengiyakan langsung saat itu, sama juga saya berdosa, karena saya tidak ingin menyakiti Arvin karena saya berpikir saat itu Kalau seandainya hamil pasti Anak saya golongan darahnya berbeda dengan Bapaknya Arvin, kalau sampai saya menikah dengan Arvin,karena Arvin tidak melakukannya,Saya tidak ingin Arvin mengetahuinya setelah Anak saya besar,Maya Memang jahat padahal saya menganggap dia sebagai teman yang baik,ternyata perbuatannya sangat jahat menggalalkan berbagai cara agar hidup saya hancur dan juga Arvin,tapi sekarang saya tidak tahu keberadaan Arvin sampai saat ini." ucap Lia.
" Maya tidak pantas untuk dijadikan teman Lia, kalau Arvin kamu pasti akan bertemu dengannya." ucap Clarissa.
Lia terkejut mendengar ucapan dari Clarissa tapi Dia berusaha untuk bisa menguasai rasa terkejutnya itu.
" Dia juga menggunakan nama Nadine untuk memancing Arvin." tambah Morgan.
" Apa?! saya jadi tidak mengerti, kenapa Maya menggunakan Nadine untuk menjebak Arvin?" tanya Lia.
Nadine hanya menundukkan kepalanya.
" Sebelum kami menjelaskannya Kami mau bertanya denganmu dulu." ucap
" Begini,apakah kamu masih mencintai Arvin?"
Lia menarik napasnya dengan pelan, dan melepaskannya dengan berat,kemudian Lia menggeleng.
Mereka tersenyum mendengar ucapan Lia.
Didalam kamar tamu tersebut,Arvin mengintip dari balik pintu.
" Ternyata Lia sudah berubah,dan sudah menjadi lebih dewasa, Aku baru sadar wajah Lia dan Nadine memang sangat mirip dan bagaikan pinang dibelah dua,sangat mirip sekali,nanti kalau aku sudah menikah dengan Nadine Aku akan membawa Nadine keluar dari rumahnya dan menempati rumahku yang baru,karena Aku takut kalau nanti aku salah masuk kamar karena calon istriku kembar hehehe, ups!! dasar kamu Arvin pikiran kamu itu lho ngeres aja hehehe." ucapnya seraya menepuk kepalanya sendiri sembari terkekeh.
" Lia, sebenarnya Arvin itu Anak Om, kamu pasti heran kan dan kamu juga pasti bertanya-tanya kalau Om ini mirip dengan Arvin, Arvin memang Anak kandung Om."
" Apa?Arvin Anak kandung Om?ya Allah berarti Arvin ada di sini?" tanya Lia.
Arvin kemudian keluar dari dalam kamar tamu, Arvin melangkah menuju ke arah mereka.
" Halo Lia,apa kabar " ucapnya.
Lia menatap kearah Arvin,Lia setengah terkejut dan merasa senang bisa bertemu kembali dengan Arvin,senang sebagai seorang teman, tapi dia harus menepati kata-katanya, Kalau memang Dia benar-benar tidak ada lagi rasa dengan Arvin.
Dia berdiri kemudian dia menyalami Arvin.
" Kabar Aku baik " ucapnya kemudian Dia duduk lagi di samping Nadine, Dia tidak tahu kalau Arvin adalah calon suaminya Nadine.
Arvin pun langsung duduk di sampingnya Ayah Chandra.
Lia menatap ke arah Arvin...
" Tidak jauh berbeda Arvin yang dulu dan Arvin yang sekarang,dari dulu tetap tampan sampai sekarang pun Dia tetap tampan, tapi Aku.. Aku memang benar-benar sudah tidak ada rasa lagi dengan Arvin, Aku memang sudah berjanji dengan hatiku untuk menutup hati ini dengan laki-laki lain kecuali memang yang kuasa memberikan Aku jodoh yang terbaik untukku." batinnya berbicara.
Nadine menatap kearah Arvin, Arvin masih menatap kearah Lia, Nadine menundukkan kepalanya ada rasa yang aneh di hatinya.
" Apakah Mas Arvin masih menyukai Lia? kembali lagi ke Diri Aku sendiri, harus menepati kata-kata Aku kalau seandainya Mas Arvin memang menyukai kembali dengan Lia, Aku akan rela melepaskannya dan Aku akan pergi ke luar negeri untuk tinggal dan menetap di sana."Batinnya
" Astaghfirullahaladzim kenapa Aku menatap Lia?secara tidak langsung Aku sudah menyakiti hati seorang gadis yang sangat Aku cintai, ada hati yang harus Aku jaga, ya Allah ampuni Aku karena Aku sudah menatap wanita lain selain calon istriku." ucapnya pelan sembari mengusap wajahnya.
Kemudian dia menatap kearah Nadine, Nadine yang menundukkan kepalanya seraya ngutak-ngatik kan ponselnya yang ada di tangannya, Lia pun tidak menyadari kalau Nadine menyimpan rasa yang kacau di dalam hatinya.
Mereka yang berada disitu pun saling pandang dan kemudian mereka menatap satu persatu antara Lia, Nadine,dan Arvin.
Abiyasa yang berada di situ langsung membuyarkan keheningan yang ada di dalam ruangan tersebut.
" Lia kamu kan sudah mendoakan Arvin agar mendapatkan wanita pilihannya sendiri, dan biarkan Arvin bahagia, Apakah kamu setuju nantinya kalau tahu siapa calon istrinya Arvin." ucap Abiyasa.
Lia menatap kearah Abiyasa Dia hanya tersenyum.
" Iya Pak, saya tahu." ucap Lia tersenyum.
" Enggak usah Kamu memanggil Aku dengan sebutan Bapak, panggil aja namaku saja atau sekira kamu nyaman memanggilku apa." ucap Abiyasa sembari membalas senyuman dari Lia, Lia menganggukkan kepalanya.
" Aku harap kamu tidak terkejut setelah mendengar siapa calon istrinya Arvin, Dia kemudian menatap kearah Arvin, Arvin tersenyum.
Kemudian Arvin menatap kearah Nadine tapi Nadine tidak menatap kearahnya, karena Dia masih menundukkan kepalanya, dikarenakan Nadine masih berdamai dengan hatinya,walau bagaimanapun dia memang masih ada rasa sakit di hatinya tapi dia berusaha untuk tenang.
" Sebenarnya calon istrinya Arvin adalah Nadine." ucap Abiyasa.
Lia terkejut dan langsung menatap kearah Nadine.