
Setelah Mamah Raisa mengungkapkan keinginannya tersebut dan disetujui dengan kedua belah pihak serta puas sudah berbicara dan bersenda gurau dengan mereka semua, akhirnya mereka berdua pamit pulang, Mamah Raisa dan dr Roni meninggalkan rumah kediaman keluaga Wibawa menuju kerumah kediaman pribadi Mereka.
Mereka yang berada diruang tengah itu masih bersenda gurau dengan keluarga yang lain dan yang lainnya seperti Bunda Adel, Umi Vita dan Anindita melangkah menuju kearah dapur, karena mereka ingin bereksperimen masakan yang akan mereka buat, untuk santapan mereka semua, sedangkan Nika, dan Almira bersama yang lainnya memisahkan diri mereka, karena Almira ingin menghibur Nika agar tidak terlalu bersedih dan berusaha untuk melupakan trouma yang dihadapi sahabatnya tersebut.
" Oh ya Pah bagaimana kelanjutan tentang perusahaan Om Rendy yang ada diluar Negeri?" tanya Abiyasa.
Abiyasa tidak mengetahui tentang keputusan Amelia yang akan menetap di tanah Air tersebut dan berkeinginan akan menjual perusahaan sang papah, bukan karena dia tidak menghargai jerih payah Almarhum Papahnya itu, tapi dia ingin bahagia dan tenang tanpa ada pikiran tentang urusan perusahaan.
" Perusahaan itu mau kakak mu jual." Ucap Papah Andre
" Dijual?" Ucapnya terkejut.
" Iya nak, karena kakakmu tidak ingin menjalankan lagi perusahaan itu, karena dia mau melanjutkan hidup dan tenang di tanah Air dengan Nika."
Abiyasa menarik nafasnya dengan dalam.
" Ehmmm...bagaimana kalau perusahaan itu dijual dengan teman Abiyasa yang berada diluar negeri dan sama juga dia mempunyai bisnis yang sama dengan Almarhum Om Rendy." Ucapnya.
" Bagus itu! lebih cepat lebih baik." ucap Papah Boby
" Iya lebih baik kamu hubungi teman kamu itu sekarang juga." lanjut Papah Andre.
" Baiklah Pah, semoga saja dia mau dengan segera membelinya." ucap Abiyasa langsung mengambil gawainya yang berada diatas meja tersebut,dia pun berdiri dan menjauh dari mereka untuk bisa tenang dalam membicarakan tentang keinginananya menawarkan perusahaan tersebut, kemudian dia pun berbicara dengan teman kuliahnya itu yang berada jauh disana dan menjelaskan semuanya perihal penawaran pada temannya tersebut untuk menjual perusahaan Om Rendy itu.
Beberapa saat kemudian pembicaraan itupun selesai dan Abiyasa melangkah menemui mereka dengan meletakkan kembali gawainya dan kembali duduk disamping istrinya dengan mengukir senyum diwajahnya.
" Bagaimana Biy apakah teman kamu itu mau? tanya Morgan
" Alhamdulillah Mor, dia mau membelinya dan dia sendiri yang ingin secepatnya membayarnya dan bertemu langsung dengan kak Amel." terang Abiyasa.
" Alhamdulillah, Allah memudahkan semuanya." ucap Arvin.
" Alhamdulillah." ucap mereka semua.
" Alhamdulillah, dimudahkan Allah untuk Amel dan Nika sekaligus diberi kemudahan itu dalam satu hari untuk kalian berdua." ucap Papah Andre.
" Iya Om Alhamdulillah, Amel senang sekali dan tiada kata yang indah selain kata syukur yang teramat dalam karena Allah memberikan ujian yang berat buat Amel dan sekarang Allah memberikan kemudahan bagi Amel semudah membalikkan telapak tangan, Amel kehilangan kedua orang tua tapi Allah gantikan dengan beberapa orang tua yang sangat sayang dan melindungi Amelia yaitu kalian semua yang sudah Amel anggap orang tua bagi Amel dan Nika." ucapnya bahagia terlihat dari wajahnya yang terlukis kebahagian itu.
Mereka tersenyum dan mengangguk.
" Jadi siapa yang akan menemani Amelia berangkat keluar Negeri.?" tanya Abi Yosep.
" Aku, Boby dan Abiyasa,yang akan berangkat menemani Amelia, kenapa aku bawa Abiyasa, karena yang mau beli itu adalah temannya dan dia yang kenal dengan temannya itu, sedangkan kalian berdua disini fokus dalam pernikahan Arvin, in sya Allah kami tidak akan lama disana dan sebelum hari heppynya Arvin kami sudah berada di tanah air." Ucap Papah Andre.
" Baiklah diel!" ucap Ayah Candra.
" okeh!" lanjut Abi Yosep tersenyum.
" Semangat sekali kamu Ndra jawabnya." ucap Papah Boby terkekeh.
" Ya semangatlah Bob, kan orang mau punya menantu hehehe." sambung Abi Yosep.
" Itu Yosep tahu hahahaha... semangat aku mau punya mantu biar cepat nimang cucu hahahaha..." Ucap Ayah Candra tertawa.
Mereka sama-sama tertawa lepas, begitu juga Smith hanya tersenyum saja karena dia tidak terlalu fokus dengan pembicaraan mereka, dia sibuk membalas chat pribadi digawainya.
Ayah Candra melihat kearah Smith yang sedang ayik dengan gawainya dan dia pun menegur Smith karena terlihat Smith tidak terlalu fokus dengan yang dibicarakan mereka sedari tadi, karena dia memang terlihat tidak lagi ingin bekerja diluar negeri dan benar-benar ingin menetap di tanah air.
" Oh ya Smith sekarang kamu mau pulang kemana? tanya Ayah Candra.
" Oh...iya om..." ucapnya sedikit kaget karena mendengar teguran Ayah Candra, dia pun tersenyum begitu juga dengan Ayah Candra membalas senyuman Smith tersebut.
" Kamu sehabis dari sini mau pulang kemana?" tanya Ayah Candra mengulangi pertanyaan lagi.
" Saya mau cari penginapan om, karena saya dari luar Negeri langsung mengikuti pak Kris kekantor polisi dan belum sempat mencari tempat menginap." Ucapnya.
" Keluarga kamu dimana ?" tanya Abi Yosep
" Keluarga saya tidak ada om "
" Kalau orang tua kamu dimana sekarang?" tanya Papah Boby
" Kedua orang tua saya sudah tiada lima tahun yang lalu, mengalami kecelakaan."
" Oh, maaf kan Om, Om tidak tahu dan Om turut berduka ya Smith." ucap papah Boby.
" Iya Om nggak apa-apa." ucapnya tersenyum.
" Kalau saudara kamu yang lain dimana?" tanya Papah Andre.
" Saudara saya tidak ada Om, karena saya anak semata wayang, kalau keluarga Abi, sama Umi saya ada diluar semua Om, ada juga ditanah Air tapi tidak dikota ini." ucapnya.
" Oh...gitu ya." Sambung Abi Yosep
" Maaf nih Smith, kenapa kamu memutuskan ingin tinggal di tanah air?" tanya Papah Andre.
Smith tersenyum,...
" Disamping saya ingin menetap di tanah Air dan berdikari disini, disamping itu juga saya mengejar jodoh saya Om heheheh." kekehnya.
" Hehehe..wah mantap tuh! kalau boleh tahu siapa tuh orangnya?" tanya Papah Boby.
Lagi-lagi Smith terkekeh.
" Iya nih, siapa tahu kami kenal, karena aku kan berada dijalan terus, hehehe..." sambung Arvin.
" Dia gadis biasa aja kok pak arvin." Ucapnya.
" Ah...jangan panggil pak dong, kesannya tua banget aku ini, hehehe, panggil Arvin aja biar terlihat akrab gitu." ucapnya.
" Hehehe... maaf pak, eh... arvin." ucapnya
" Siapa orangnya yang sudah membuat seorang Smith Pedro yang sudah lama dan lahir diluar Negeri dan ingin menetap ditanah Air dan ingin mengejar jodohnya tersebut sampai sini..hehehe " sambung Morgan.
" Dia asli tanah air dan dia masih kuliah dan yang membuat saya kagum akan dirinya itu, dia kuliah sambil bekerja dan tidak menyusahkan kedua orang tuanya, dia gadis berhijab, dia adalah cewek idaman saya, dia juga mau menerima saya apa adanya walaupun kami belum pernah bertemu secara langsung." Terangnya.
" Jadi selama ini kalian bertemu melalui apa?" tanya papa Boby.
" Heheheh..kami kenal melalui media sosial..." Ucapnya sedikit malu-malu.
" Berarti kalian kenal dan pacaran melalui virtual nih ceritanya." ucap Arvin lagi terkekeh.
" Hahaha... Ya begitulah ceritanya." ucapnya lagi sembari mengusap rambutnya karena dia merasa di introgasi oleh mereka semua.
" Seperti apa sih dia? sehingga membuat kamu sangat mencintainya?" tanya Abiyasa sembari tersenyum menatap kearah Smith.
" Cantik! " Ucapnya malu-malu.
" Tidak apa-apa Pak Morgan."
" Jangan gitu dong! jangan bilang saya ini pak, sama aja seperti Arvin, aku kan tidak mau tua hehehe...Aku inginnya muda terus." ucap Morgan sembari tertawa lepas.
" Iya nih, siapa tahu kami bisa bantu kamu, berapa lama sudah kamu bersamanya dan menjalani cinta secara virtual." Sambung Arvin.
" Terimakasih Vin, saya bersama dia sudah lama dan bertahun-tahun, saya belum bisa langsung ketanah Air karena saya banyak kesibukan saat itu, dan akhirnya sekarang Alhamdulillah sudah bisa kesini hehehe..."
" Walaupun kita ini baru kenal, kamu orangnya asyik diajak bicara seperti ini, kamu terbuka tentang pujaan hati mu, aku senang kok bisa mengenal kamu Smith." ucap Morgan lagi, Smith pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Saya juga merasa senang bisa kenal dengan kalian semua yang ada di sini, walaupun saya baru dan baru hari ini mengenal kalian semua,tapi saya merasa sepertinya sudah lama sekali kenal dengan kalian, terutama Om-Om semua yang disini, kalian baik semua dengan saya, walaupun Saya ini orang asing tapi kalian menganggap saya ini seperti sudah lama kalian kenal, dan Saya juga merasa seperti curhat dengan keluarga saya sendiri dan bercerita apa adanya dengan keluarga saya sendiri, dan tidak ada rasa ragu dihati saya untuk mengatakan semuanya, Memang semenjak Abi dan Umi saya meninggal dunia waktu itu saya merasa sendirian di luar negeri, walaupun keluarga Abi dan Umi itu ada, tapi mereka cuma sesaat saja berada di samping saya, yang selalu berada disaat bersedih dan memberikan saya semangat untuk menjalani hidup ini dua orang saja, yaitu Almarhum pak Rendy dan gadis pujaan hati saya, walaupun dia berada jauh dari saya, tapi semenjak kepergian pak Rendy saya merasa kehilangan sosok seorang bapak yang memang benar-benar menyayangi saya seperti menyayangi anak kandungnya sendiri, Saya tidak merasa sungkan bercerita ataupun curhat dengan almarhum Pak Rendy, saya juga merasa kehilangan setelah kepergiannya untuk selama-lamanya, pak Rendy memang baik orangnya, begitu juga dengan Bu Sinta mereka berdua tidak berbeda dalam memberikan perhatian kepada seluruh anak buahnya yang ada di kantornya itu, bukan dengan saya saja perhatiannya tapi dengan semuanya dan tidak ada satupun yang di anak tirikan atau di anak emaskan, semuanya sama di hadapan Pak Rendy dan Bu Sinta, Saya rasa Mbak Amelia juga tahu itu." ucapnya panjang lebar seraya menatap kearah Amelia, Amelia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, Mereka pun semuanya tersenyum mendengar cerita dari Smith.
" Kalau boleh tahu gadis pujaan hati kamu itu bekerja di mana.?" tanya Abi Yosep.
" Dia bekerja di rumah sakit." Jawabnya.
" Rumah sakit mana?" tanya Abiyasa.
" Kalau tidak salah rumah sakit Wibawa.."
Mereka pun langsung saling pandang kemudian mereka tersenyum...
Smith tidak tahu kalau rumah sakit Wibawa itu adalah milik Papa Andre yang ada dihadapannya itu.
" Teruskan ceritamu Smith, Kami mau dengar tentang gadis yang sudah memberikan bunga-bunga di hatimu itu." ucap Morgan sembari menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa sambil tersenyum.
Smith pun tersenyum malu-malu dan dia menghela napasnya dengan dalam.
" Gadis impian saya itu pun bercerita kalau dia anak bungsu dari dua bersaudara, bapaknya pensiunan polisi." Terangnya
Mereka yang ada di situ pun terkejut mendengar ucapan Smith.
Mereka saling pandang, Abi Yosep menyenggol Ayah Candra, Begitu juga dengan Papa Boby yang menyenggol Ayah Chandra juga, Ayah Candra hanya tersenyum saja sembari garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan mengusap wajahnya dengan pelan.
Morgan mendengar itu pun langsung terkekeh, Clarissa tertawa lepas dan menatap kearah Arvin, Arvin memalingkan wajahnya dan tersenyum, Abiyasa tidak bisa menahan tawanya dia langsung tertawa lepas juga, Smith langsung menoleh kearah Abiyasa dan Clarissa saling bergantian.
" Maaf Smith, aku tertawa lepas karena aku mengungkapkan kebahagiaan aku itu selalu seperti itu." Ucap Abiyasa.
Kemudian Smith menatap kearah Clarissa.
" Maaf ya aku hanya ikut tertawa karena Abiyasa tertawa, maaf banget ya..kamu itu lho Biy tertawa terus sih ah!" Ucap Clarissa.
" Kamu duluan yang tertawa hehehe." Ucap Abiyasa terkeleh Clarissa cengengesan.
" Tapi bahagia kenapa Abiyasa?" tanya Smith dengan polosnya dan merasa heran.
" Karena aku mengetahui cerita kamu, aku sudah menganggap Kamu itu seperti teman aku sendiri, jadi aku senang mendengar cerita kamu dan aku juga merasa bangga, karena kamu bisa mempertahankan cinta jarak jauh kamu dengan wanita impian kamu itu, sampai akhirnya kamu rela ingin menetap di tanah Air demi pujaan hati kamu." ucapnya.
Padahal dia bukannya menertawakan cerita Smith tapi dia tertawa melihat Ayah Candra dan Arvin yang terkejut mendengar cerita Smith.
" Tapi..." Smith menggantung kalimatnya.
Mereka semua menatap kearah Smith.
" Tapi kenapa Smith?" tanya Ayah Candra.
" Kekasih hati saya itu Om."
" Memang kenapa dengan kekasih hati kamu?"
Smith belum mengatakan nama kekasih hatinya itu dan merekapun tidak mau menanyakan siapa nama wanita tersebut, karena mereka itu sudah mengetahui siapa gadis pilihan Smith.
Smith menundukkan kepalanya...
" Katakan Smith, ada apa ? apakah gadismu itu tidak mau untuk menjadi pasangan hidup kamu? Atau ada masalah lain?" tanya Abi Yosep sembari melirik kearah Ayah Candra.
Ayah Chandra pun tersenyum sembari menatap kearah Abi Yosep yang menanyakan pertanyaan tersebut pada Smith.
" Tidak Om! kami berdua memang sama-sama saling menyukai dan sama-sama menerima apa adanya kekurangan dan kelebihan satu sama lain serta masa lalu kami selama ini."
" Apakah ada masa lalu kalian yang sangat membuat kamu bersedih? Atau ada masa lalu gadis kamu itu yang membuat kamu ragu?" Tanya Papah Boby.
" Tidak ada Om, saya ini apa adanya, begitu juga dengan kekasih hati saya itu dia apa adanya dan saya juga sangat menyukainya makanya saya ingin tetap berada di tanah air untuk bisa bersama dengannya."
" Jadi kenapa kamu merasa sedih?" tanya Papah Andre.
" Karena pujaan hati saya itu mengatakan, Apakah bisa saya ini diterima di tengah-tengah keluarganya dan apakah kedua orang tuanya menyetujui suatu saat saya akan melamar gadis pujaan hati saya itu." Ada nada kesedihan di ucapannya
" Smith, kalau kamu memang sungguh-sungguh Kamu harus yakin kalau kedua orang tua dari wanita mu itu pasti akan menerima kamu." Ucap Mamah Anisha sembari tersenyum.
" Tapi kan tante, saya ini hanya seorang laki-laki biasa saja dan bekerja pun akan memulai dari nol." Ucapnya
" Bagus dong! kalau kamu ingin mempunyai usaha sendiri dan itu perlu diacungi jempol, karena kamu sebagai laki-laki yang mandiri, kenapa kamu jadi takut." Lanjut Mamah Lala.
" Karena pujaan hati saya itu sangat menurut dengan kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya, saya juga berpikir, benar juga sih apa kata gadis saya itu, apakah saya bisa diterima di tengah-tengah keluarganya? Karena saya sedikit takut juga saya bukan seorang Bos yang memiliki perusahaan gede dan saham dimana-mana, saya juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi kedua orang tuanya dan saudara laki-lakinya itu." Ucapnya.
" Pasti diterimalah..." ucap Papah Boby terkekeh sembari melirik Ayah Candra.
" Yakinlah dengan kata hatimu Smith, kalau Allah sudah menunjukkan jalan yang terbaik untukmu in sya Allah jalan itu pun akan terbuka lebar di hadapanmu dan jalan itu juga yang akan menuntun kamu bertemu segera dengan calon mertua mu itu nantinya." ucap Abi Yosep sembari tersenyum.
" Jangan takut Smith, kamu harus maju, perjuangkan cintamu itu, seperti kamu menjalani cinta jarak jauh dan kamu juga harus yakin kalau camer kamu itu akan menerima kamu apa adanya dengan kekurangan dan kelebihan kamu yang ada didiri kamu, apalagi kalian berdua sudah memahami satu sama lain walaupun kalian berjauhan." ucap Morgan.
" Ya Smith ..kami akan mendukungmu." lanjut Arvin seraya tersenyum sembari menatap kearah sang Ayah.
" Lanjutkan kawan.!" ucap Abiyasa memberi semangat kepada Smith karena mereka sudah tahu siapa gadis itu.
Arvin pun sudah menyukai Smith Walaupun dia hanya melihat Smith satu hari ini, karena Smith orangnya asyik diajak bicara dan nyambung dalam pembicaraan dan canda tawa.
Kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah keluarga Wibawa, beberapa saat kemudian terdengar suara seorang gadis mengucapkan salam di pintu luar.
" Assalamualaikum..."
" Waalaikumsalam.." jawab mereka semua.
Mereka pun menoleh ke arah luar, Smith terkejut melihat Alena berjalan melangkah menuju ke arah mereka, Alena pun kemudian menyalami tangan mereka semua yang ada di ruangan itu, dia tidak mengetahui kehadiran Smith, tapi Smith terpukau karena dia tidak menyangka akan bertemu dengan pujaan hatinya di rumah besar itu, Smith memang mengatakan pada Alena kalau dia berada di tanah Air dan ingin bertemu dengan kedua orang tua Alena dan mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Alena itu, begitu juga dengan Alena, dia ingin mengatak pada keluarganya akan kedatangan Smith yang ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, saat Alena sampai di depan Smith dia pun terkejut.
" Smith ?!" ucapnya.
" Alena !" jawab Smith.
" Hahaha... akhirnya ketahuan juga kan." ucap Morgan sembari tertawa lepas.
Ayah Candra dan yang lainnya pun tertawa lepas.
Smith heran dengan mereka semua yang sedang tertawa sedangkan Alena hanya terpukau berdiri disamping sang Ayah.