THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 143



Mobil terus melaju menuju kearah tempat klub malam yang sudah mengetahui alamatnya tersebut,beberapa saat kemudian mobil mereka sampai ditempat tujuan dan memarkirkan mobil mereka dengan rapi sesuai dengan arahan tempat parkir yang disediakan.


Morgan keluar dari mobil dan menghubungi gawai Nadine yang dipegang Maya.Abiyasa, Clarissa, dan Arvin menunggu didalam Mobil menunggu Morgan menghubungi Maya,sembari menunggu Abiyasa dan Clarissa mendandani Arvin agar Arvin bisa masuk kedalam juga.


sedangkan mobil yang berisikan orang tua mereka hanya mengawasi dari dalam mobil karena mereka membiarkan anak-anak mereka terlebih dahulu masuk barulah mereka memasuki klub tersebut yang memang sangat ramai hilir mudik orang memasuki klub itu.


Ada yang keluar dengan gaya sempoyongan ada juga yang keluar dengan cekikikkan karena senang, entah apa yang terjadi didalam sehingga mereka yang keluar dari klub tersebut sangat senang selepas dari dalam, ada juga yang awalnya masuk sendirian beberapa saat kemudian keluar kembali dengan menggandeng wanita untuk bersamanya tersebut.


Mereka yang ada didalam mobil itu hanya saling berpandangan menyaksikan orang-orang yang hilir mudik tersebut,


" Ingat tuh Yos, kalau sudah masuk jangan keluar ngajak wanita yang ada didalam sono." Ucap papa Boby.


" Buset dah! kok aku sih, kamu aja tuh yang harus hati-hati kamukan jauh dari Lala." Ucap Abi Yosep membela diri.


Papa Andre dan Ayah Candra hanya terkekeh mendengar mereka berdua berbicara.


" Boby memang jauh dari Lala, tapi dekat dengan Clarissa." Ucap papah Andree tersenyum.


" Hehehe, itu Andre tau, kamu kan nggak ada yang liat, makanya aku bicara seperti itu." Ucap Papah Boby terkekeh seraya menyentuh dagu Abi Yosep.


" Enak aja, iih, aku kan masih ada yang liat karena Abiyasakan mantu aku, bisa aja nantinya dia yang bilang dengan Vita, bisa-bisa aku tidur diluar dan ditambah sapu ijuk nempel dijidad." Ucap Abi Yosep seraya mengusap dagunya yang dipegang oleh papah Boby sembari tersenyum.


" Udah jangan berisik, tuh ada seorang cewek berjalan mendekati Morgan." Ucap Ayah Candra.


Mereka semua menoleh kearah seorang wanita yang mendekati Morgan yang tersenyum genit dan manja.


" Itu yang namanya Maya!" Ucap Abi Yosep.


" Iya sepertinya." Jawab Papah Andre.


" Itu bukan Maya, tapi Mayat hidup yang sedang berkeliaran cari mangsa baru keluar dari liang kubur!" Ucap papah Boby.


Mereka terkekeh mendengar papah Boby berbicara.


" Dedy?" Tanya Wanita itu.


" Nadine?" Ucap Morgan seraya tersenyum.


" Sebenarnya aku ogah kenal dengan wanita kaya kamu ini." Batin Morgan, seraya membalas jabatan tangan Maya atau Nadine palsu.


" Dedy? sejak kapan Morgan jadi Dedy." Bisik Clarissa Abiyasa dan Arvin hanya menggelang sembari tersenyum.


" Bukan kah dia tidak mengatakan namanya samarannya sama kita?" Tanya Arvin sembari berbisik.


" Ada sama aku, dia bilang Clarissa Menjadi Anni, aku jadi Devan." Jawab Abiyasa berbisik


" Terus aku jadi siapa?" Bisik Arvin


" Jadi Naruto.!" Kekeh pelan Clarissa.


Arvin hanya mendelik saja.


" Itu Maya kan Vin " Bisik Abiyasa.


Arvin hanya mengangguk,tangan Clarisa memasangkan kumis palsu pada Arvin karena kurang hati-hati kumis palsu itu yang ada bulunya menusuk hidung Arvin karena tangan Clarissa memasangkan kewajah Arvin dengan posisi matanya menatap kearah Morgan dengan Nadine palsu.


Arvin pun langsung bersin..


" Hatcih." Langsung saja Abiyasa dan Clarissa menundukkan kepala Arvin kebawah dan menutup wajah Arvin dengan sebuah bantalan kecil yang ada didalam mobil.


Nadine palsu menengok kearah mobil yang di belakangi oleh Morgan.


" Kamu dengar sesuatu nggak Ded?"


" Sesuatu? kayanya nggak deh, kamu aja kali yang salah denger." Ucap Morgan.


" Kenapa sih pakai bersin segala." Batin Morgan seraya menggaruk jidadnya yang tidak gatal.


" Mungkin juga ya, mobil kamu yang mana?" Tanya Maya.


" Itu! " Ucap Morgan seraya menunjuk mobil punya orang lain sebuah mobil sport berwarna merah yang terparkir ditempat parkir tersebut entah mobil siapa itu yang jelas Morgan asal menunjuk saja


Maya langsung terkagum-kagum setelah Morgan menunjuk salah satu mobil mahal tersebut.


" Wah! mantap ini,sekali lempar kail banyak ikan yang menghampiri, ibaratnya sekali mengenal seseorang ternyata seorang sultan yang ditangkap ditangan, sudah ganteng,konglomerat lagi,aduh! Maya!kamu jangan lupa niat kamu yang sudah kamu susun rapi tersebut." Ucapnya dalam batinnya.


" Tapi dia sungguh ganteng banget, setelah semuanya ku jalani dengan sempurna aku tidak akan melepaskan lelaki yang ada dihadapanku ini " Gumamnya.


Kemudian wanita tersebut langsung mengajak Morgan menuju kedalam dan terlihat tangan kanan Morgan memberikan kode kepada mereka yang ada di dalam mobil untuk bersiap-siap beraksi dan menguasai peran mereka masing-masing yang sudah dibicarakan di dalam mobil tersebut, sedangkan Arvin sudah menyamar dan didandani oleh Abiyasa dan Clarissa agar tidak nampak seperti Arvin dan Maya tidak akan mengenalinya.


" Kenapa sih,pakai bersin segala hampir saja kita ketahuan lagi." Protes Clarissa.


" Bagaimana aku nggak bersin kamu tuh salah pasang kumisnya, kumis yang seharusnya dipasang di atas bibir malah masangnya mepet banget dengan lubang hidung ya jelas aja aku bersin pakai maksa lagi memakaikannya " Bela Arvin.


" Masa sih?" Ucap Clarissa tak berdosa seraya terkeleh.


Abiyasa tertawa lepas, mereka bertiga langsung keluar dari mobil dan melangkah memasuki klub malam tersebut.


Sebelum masuk kedalam Abiyasa menghampiri mobil papahnya,dan mengatakan kalau segera menjalankan rencananya tersebut.


Kemudian disusul oleh orang tua mereka semua masuk ke dalam,setelah berada didalam merekapun mengambil tempat masing-masing.


Dengan duduk di meja yang sudah mereka pilih Calarissa dan Abiyasa langsung menempati kursi tersebut.


Papah Boby,Papah Andre, Abi Yosep dan Ayah Chandra memilih sebuah meja yang sedikit di pojok karena hanya meja itu yang terlihat kosong.


" Hanya meja ini yang kosong " Kata Papah Andre.


" Ya sudah kita duduk di sini aja, dari sini kita bisa mengawasi anak-anak kita." Ucap Ayah Candra, mereka semua mengangguk.


" Heran apanya?" Tanya Papah Boby.


" Perhatikan meja-meja yang sudah ada semua penggunanya perasaan cuma meja ini deh yang kosong." Ucap Abi Yosep.


" Memang kenapa?" Tanya Papah Andre.


" Sepertinya sudah disediakan khusus, dan mungkin ditakdirkan meja ini untuk para Om pencari daun muda kayanya " Ucap Abi Yosep terkekeh.


Mereka berempat pun tertawa leluasa karena suara mereka tidak terdengar oleh siapapun kecuali mereka sendiri dikarenakan suara DJ yang memainkan musiknya sangat keras.


Dari kursi dan meja yang mereka pilih di pojok itu mereka nampak jelas memperhatikan anak-anak mereka yang sedang beraksi di depan mereka tersebut.


Maya dan Morgan saling berbicara tapi mereka belum memilih meja yang sama, Maya terlihat begitu centilnya dia sesekali memukul pundak Morgan dengan pelan dan dia juga menyentuh dagu Morgan dan pipi Morgan.


Kalau dilihat posisinya salah seharusnya laki-laki yang sangat agresif dan mengganggu perempuan, tapi disini Maya lah yang agresif menyentuh dan dan membelai Morgan, Morgan terlihat santai dia tidak merasa risau diganggu oleh Maya malah dia terlihat happy karena ini adalah salah satu permainan dari mereka. Morgan sangat menguasai akan perannya itu.


Kemudian terlihat beberapa orang laki-laki mendekati Morgan dan Maya entah apa yang dibicarakan mereka. Mereka pun langsung membawa Morgan kemeja yang bersebelahan dengan Abiyasa dan Clarissa sedang duduk.


Morgan kemudian menoleh kearah Carissa dan Abiyasa.


" Hei kalian di sini.?" Ucapnya seraya menjabat tangan Abiyasa dan Clarissa.


Mereka berdiri sembari tersenyum.


" Hai Michael senang berjumpa denganmu." Ucap Abiyasa.


Maya terkejut kalau Abiyasa menyebut Morgan dengan nama Michael, tapi dia tidak langsung beryanya dengan Morgan kenapa Abiyasa menyebut dia dengan nama Micheal.


" Aku yang senang disini bertemu denganmu,sama siapa.?" Tanya Clarissa.


Kemudian Maya langsung merangkul tangan Morgan dengan Mesra.


" Sama aku kekasihnya."


" Oh kekasih kamu Michael? mantap akhirnya Kamu sudah mempunyai cewek orang Indonesia juga ya." Ucap Abiyasa tersenyum.


" Oh ya Nadine ini adalah temanku, kenalkan namanya petrik." Ucap Morgan tersenyum.


" Petrik? bukankah tadi di dalam mobil Morgan mengatakan nama aku Devan,bukan Patrick tapi kenapa sekarang ia bilang petrik?Apakah dia lupa.?" Gumam Abiyasa.


" Oh iya, kenalkan aku petrik."


" Nadine." Ucapnya seraya berjabat tangan sembari mengenalkan namanya dengan gaya manjanya.


" Nadine palsu!." Gumam Clarissa.


" Bulbul kamu makin cantik aja ya?" sapa Morgan seraya terkekeh.


Clarissa menatap ke arah Morgan.


" Adik ipar kurang asem! bilangnya aku Bulbul padahal kan kesepakatan di mobil kalau namaku Anni. Kenapa ini jadi Bulbul tidak benar ini,nanti tunggu pembalasanku ya Adik ipar nggak Ada Akhlaknya!" Gumamnya sembari menatap Morgan tapi Morgan hanya terkekeh.


kemudian Morgan duduk didepan Abiyasa dan Clarissa seraya tersenyum dan memainkan alisnya naik turun.


" Hehehe, kapan lagi bisa ngerjain mereka berdua." Batinnya.


" Oh ya Nadine kamu tadi bilang katanya kamu adalah pacarku, memang kamu mau jadi pacarku.?" Ucap Morgan.


" Aku mau kok tapi kamu ada pacar nggak?"


" Enggak ada." Ucap Morgan.


" Di jamin deh, aku ini wanita yang setia, jadi karena wanita setia itu jarang dapat lelaki setia selalu saja aku disakiti." Ucapnya seraya terkekeh.


" Setia udelmu Itu loh, lama-kelamaan kupites juga kamu ini." Ucap batin Clarissa seraya menatap kearah Maya tapi Maya tidak memperhatikan Clarissa.


" Oh ya Ded, kenapa teman kamu itu tadi bilang kamu Michael?" Tanyanya.


" Oh, itu nama panjang aku Dedy micheal." Ucap Morgan tersenyum.


" Buset dah Abiyasa lupa nyebut namaku." Ucap batinnya.


" Hai boleh kenalan nggak." Ucap salah satu temannya Maya yang datang menghampiri Clarissa.


" Boleh siapa namamu?" Tanya Clarissa.


" Aku Ariel "


" Oh ini yang namanya Ariel." Gumam Clarissa.


" Kamu cantik juga ya Bulbul." Ucap Ariel seraya ingin menyentuh dagu Clarissa.


" Hai!jangan seperti itu dong! kalau mau kenalan, kenalan aja! nggak usah kali nyentuh-nyentuh dagu perempuan!" Ucap Abiyasa.


" Eh Petrik kamu ngapain membela dia?dia kan dengan kamu nggak pacaran."


" Ya memang aku nggak pacaran dengan dia tapi karena aku dan dia kan temenan Jadi kalau kamu main kenalan ya kenalan aja nggak bolehlah pegang-pegang seperti itu."


Ariel menoleh kearah Abiyasa.


" Memang kamu siapanya? cuma temankan bukan kekasihnya.!"


" Aku memang bukan kekasihnya hanya temannya,tapi mana ada sih seorang teman membiarkan teman wanitanya tersebut diganggu dan dicolek-colek oleh kamu, mau aku laporkan kesecurity di sini." Ancam Abiyasa.


" Oh! silahkan aja kalau kamu mau melaporkan aku, tapi security ini sudah mengetahui kalau aku adalah pengunjung setianya di klub malam ini." Ucapnya dengan merasa bangganya.


" Ini laki-laki lama-lama aku seruduk juga dengan tanduk ku." Gumam Clarissa seraya menatap ke arah Ariel yang tersenyum sinis kearah Abiyasa.