
Mereka memasuki rumah dan langsung menuju kearah ruang tengah dimana anggota keluarga yang lain menunggu mereka.
Satu persatu mereka menghempaskan tubuh mereka disofa empuk yang ada diruang tengan tersebut.
" Bagaimana sayang? Apakah mereka kalian biarkan pergi begitu aja?" Tanya mamah Anisha pada suaminya.
Papah Andre tersenyum dan menatap sesaat kearah istrinya itu.
" Mereka berdua sudah dibawa Morgan kekantor polisi, mereka pantas mendapatkannya." Ucap papah Andre seraya menghela napasnya dengan pelan, sembari meletakkan gawai dan kontak Mobilnya di atas meja yang ada dihadapannya tersebut, semua yang berada di rumah itu pun menatap kearah Papa Andre, papa Andre menoleh kearah istrinya lagi
" Ada apa sayang?"
" Si Hendy lah yang membuat ulah" Ucapnya.
" Apa? Hendy yang ada di kota S itu pah?"
" Iya sayang...dia yang mengatas namakan Almarhum Om Handoyo."
" Astaghfirullahaladzim,apakah ibunya tahu dengan perbuatannya itu?"
Papah Andre mengangguk.
" Iya sayang,penyusup yang masuk rumah kita adalah orang suruhannya, yang lebih papah tidak menyangka kang Uut yang membantu penyusup tersebut, pantas saja mereka mengetahui kalau kita sudah menghadapi masalah disitulah Hendy melancarkan aksinya." Terangnya.
" Ya Allah, mamah tidak menyangka sayang, kalau kang Uut itu terlibat, apa kesalahan kita dengan kang Uut, sehingga kang Uut sampai berbuat begitu tega dengan keluarga kita dengan membocorkan masalah yang dihadapi kita sekarang ini." Ucap mamah Anisha.
" Begitu lah Nis, seseorang itu tidak pernah akan puas dengan apa yang didapatnya itu, pasti saja akan merasa sangat kekurangan." Ucap papah Boby.
" Benar banget Mas Boby, semua tidak akan puas, syukurlah semua sudah terungkap." Ucapnya lagi.
Papah Andre kemudian menceritakan semuanya lagi pada sang istri sampai selesai, mereka semua mendengarkan cerita papah Andre, setelah selesai ceritanya tersebut, papah Andre mengusap wajahnya dengan kasar.
Mamah Anisha membelai lembut pundak sang suami papah Andre tersenyum.
" Ndre, bagaimana selanjutnya ini?" Tanya Papah Boby.
" Begini saja Bob, sebagian mendatangi hotel berbintang dan sebagian ada di rumah ini untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan dengan rumah ku ini." Ucap papah Andre.
" Memang ada apa pah?apakah mereka akan ke sini ?" tanya Mama Anisha.
" Ya sayang... mereka akan merencanakan selanjutnya, itu keterangan dari 2 orang tersebut, dia sudah mengatakan semuanya kepada kami dan mereka juga mengatakan kalau Johanes itu ada di hotel berbintang." Ucap papah Andre.
" Apa Om? Johanes?" ucap Amelia setelah mendengar nama Johanes disebut.
Mereka menoleh ke arah Amelia yang duduk di sebelah Ayesha.
" Iya nak, Apakah kamu mengenalnya?" Tanya papah Boby.
" Ya om, Amelia mengenalnya, Dia adalah orang kepercayaan dari almarhum Papa, dia adalah adiknya Om Kris." ucap Amelia seraya menarik nafasnya dengan berat seberat beban masalah dan kerinduannya pada kedua orang tuanya saat ini.
" Dialah yang selalu mengikuti dan menampakkan wajahnya dihadapan Nika dan Amel, Amel sering melihat dia keluar masuk perusahaan ataupun kantor di mana saat itu Amelia melamar pekerjaan, Setelah dia masuk dan keluar dari perusahaan dan kantor itu sampai sekarang Amelia tidak pernah dipanggil untuk bekerja." Ujarnya sedih.
" Memang sekarang Kamu kerja dimana nak,dari kemarin-kemarin kamu belum cerita kamu kerjanya di mana?" Tanya Mamah Lala.
" Amelia kerja di rumah makan lesehan Tante."
" Sebagai apa kamu kerja di sana?"
" Pelayan tante."
" Astaghfirullahaladzim Ya Allah, menderita sekali nasib kamu." ucap Mama Lala sembari berdiri dan duduk disamping Amelia.
" Nggak apa-apa tante yang penting halal." Ucapnya tersenyum,walaupun diwajahnya terlihat sekali kesedihan, namun dia berusaha terus untuk tersenyum.
" Iya Sayang...itu yang utama nak." Ucapnya.
" Kenapa kamu nggak melamar kerja di Wibawa Group?" Tanya Ayah Candra.
" Amel tidak kepikiran lagi Om,untuk melamar dikantor-kantor ternama, karena Amel selalu diawasi dengan Johanes, itulah yang membuat Amel memutuskan bekerja dirumah makan lesehan aja." Terangnya.
" Maafkan tante, karena selama ini Tante tidak bisa mencari kamu, Tante mengira kalian bahagia dan sehat-sehat saja di luar negeri bersama dengan mama dan papa kalian, Tante juga tidak tahu kalau ini akan menimpa kamu." ucap Mama Lala seraya membelai rambut Amelia yang tergerai itu.
" Iya Tante, tidak apa-apa... bukan salah tante atau Om, Tapi ini semua adalah kesalahan Johanes dan Om Kris,karena mereka telah membuat kami menderita seperti ini." ucapnya terdengar dengan nada sedihnya.
" Kamu nggak usah sedih, sekarang kamu di tempat yang aman, in sya Allah semuanya akan baik-baik saja dan terselesaikan." ucap Mama Anisha di anggukan dengan yang lain.
" Malam ini Nak, menurut keterangan dari kedua laki-laki itu tadi tengah malam mereka akan melancarkan aksinya disaat kita sedang asyiknya beristirahat"
Abiyasa kemudian melihat sesaat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu.
" Sudah jam delapan lewat, lebih baik kita bersiap-siap." ucap Abiyasa.
" Bagaimana kalau kita berempat yang menemui Johanes di hotel berbintang itu dan anak-anak kita berada di rumah." Ucap Abi Yosep.
" Iya benar tuh, lebih cepat lebih baik." Sambung Arvin.
" Tapi apakah diantara kita berempat ini ada yang pernah dilihat oleh dia, atau malah sebaliknya kita yang pernah melihat dia tapi kita tidak mengetahui kalau itu dia." Ucapnya.
" Jangankan terlihat oleh dia, kita aja tidak pernah melihat wajah dia itu seperti apa, perawakan dia seperti apa." Sambung Papah Andre seraya menghela nafasnya dengan pelan.
" Tunggu sebentar Om, Amel mau ngambil album dulu, kalau tidak salah di dalam album itu ada foto Johanes, Om Kris bersama dengan almarhum papah." ucap Amelia seraya berdiri dan melangkah menuju ke arah kamarnya, mereka semua menatap kepergian Amelia yang selangkah demi selangkah menaiki anak tangga yang ada di rumah itu, dikarenakan kamar Amelia berada di lantai atas, mereka semua di situ pun terdiam menunggu Amel datang, Beberapa saat diapun datang dengan sebuah album lama yang ada di tangannya, dia pun kemudian memberikan album tersebut ke Papah Andre.
" Ini Om..albumnya." ucapnya seraya memberikannya dan dia pun kembali duduk ditempatnya semula.
Papah Andre pun mengambil Album tersebut dan membukanya bersama diatas meja yang ada dihadapannya itu.
Satu persatu album itu dibuka, Papah Andre pun melihat foto Sinta dan Rendy, dia pun tersenyum kemudian satu persatu juga dibukanya saat dia membuka satu halaman terlihat di situ almarhum Rendy sedang tersenyum mengapit dua orang laki-laki dikiri dan kanannya.
" Apakah ini yang namanya Kris dan Johanes?" tanya papa Andre menunjuk kan fhoto itu ke arah Amelia, Amelia pun menganggukkan kepalanya.
" Apakah kalian pernah melihat orang ini?" tanya papa Andre kemudian pada mereka semua, mereka bersamaan menatap Foto tersebut, dan bersama pula mereka pun menggeleng.
" Kalau kalian belum pernah melihat orang ini, berarti kita bisa menemui dia sekarang." Ucap papah Andre sembari menutup Album fhoto tersebut.
" Tapi kalau seandainya dia yang melihat kita bagaimana?" tanya Abiyasa, Mereka kemudian terdiam mendengar pertanyaan dari Abiyasa, Begitu juga dengan papa Andre,walaupun mereka semua terdiam tapi mereka memutar otaknya untuk mencari jalan keluarnya agar mereka bisa menemui Johanes tanpa dia mengenali mereka semua.
" Begini saja ya menurut saranku lebih baik Arvin, Morgan dan Niko serta aku sendiri yang akan menemui Johanes, kalian menunggu di rumah saja sembari menunggu tamu yang tidak diundang itu datang, karena perasaanku mengatakan dia sudah mengetahui keluarga Wibawa, tapi belum tentu dia mengetahui aku, Arvin, Morgan dan Niko." ucap Papah Bobby.
" Kenapa Biyas ditinggal Om? kenapa Biyas tidak langsung ikut dengan kalian?"
" Biar kami aja yang mau menemui Johanes dan yang lainnya berada di sini,Tapi tidak dengan kamu Biy, kamu tetap di rumah bersama dengan yang lainnya, Mungkin dia sudah mengetahui tentang keluarga Wibawa, karena keluarga Wibawa terkenal mempunyai banyak perusahaan di mana-mana, baik di tanah air ataupun di luar negeri, dia pasti akan mencari tahu melalui media sosial, dan sudah pasti dia mengetahui dan mengenal wajah kamu karena kamu adalah pimpinannya, tapi dia tidak akan mengenali kami." ucap papa Boby.
" Tapi kak Niko pasti dikenali dia juga Om,Niko kan masuk dalam keluarga Wibawa." Ucap Arvin.
" Iya memang benar dia bagian keluarga Wibawa,tapi dia jarang terekspos hehehe." Kekeh papah Boby.
Kak Niko hanya mengangguk dan tersenyum.
" Lebih baik kami sekarang berangkat ke sana." Ucap papah Boby.
" Tapi kalau kalian berangkat ke sana, Apa rencana kalian menemui dia?" Tanya Papah Andre.
" Tenang aja Ndre,itu nanti adalah rencanaku, mereka bertiga hanya melengkapi kalau terjadi apa-apa dengan ku, mereka pasti akan bertindak." Jawabnya sembari tersenyum.
" Siap Om...!" Ucap Arvin dan Kak Niko.
" Baiklah kalau seperti itu, rencana kamu kami hanya mengikuti saja dan menyetujuinya." Ucap papah Andre lagi, di anggukan oleh Ayah Candra dan Abi Yosep.
" Kalau rencana di rumah ini, biar aku yang atasi." ucap Abi Yosep dianggukkan mereka semua.
" Mantap!" Ucap Papah Boby.
" Yah itung-itung menjalankan rencana dengan Menantu, kapan lagi kerja sama dengan menantu, hampir kerja sama dengan besan mulu hehehe." Ucapnya terkekeh, yang lainnya tersenyum, dan papah Andre mendelik kearah papah Boby tapi kemudian ikut tersenyum juga.
" Ya sudah sekarang, para perempuannya silahkan masuk kamar masing-masing biarkan kami saja yang disini." Lanjut Ayah Candra, dianggukkan oleh para perempuannya tersebut.
Mereka pun berpamitan dengan sang suami, dan mereka melangkah menuju kearah kamar masing-masing di iringi langkah suami mereka tersebut,hanya Amellia yang beriringan dengan sang adik dan ditemani Carlo, Almira dan Alfarisqi mereka berjalan beriringan menaiki tangga rumah besar tersebut, Abiyasa pun ikut berdiri dan menggandeng tangan Istrinya tersebut.
" Mau kemana kamu Biy?" Tanya Arvin.
" Iya nih mau kemana?" Tanya Kak Niko.
" Iih..kepo amat sih, namanya juga punya istri pastilah mau manja-manjaan dulu,hehehe..." Ucap Abiyasa sembari tetap berjalan menuju kearah kamar mereka.
Arvin hanya mengusap rambutnya sesaat dan Kak Niko hanya tersenyum sembari mengusap wajahnya dengan kasar dan mereka berdua pun langsung terkekeh.
Para orang tuanya hanya bisa tersenyum melihat Anak-Anaknya yang saling menggoda itu.