THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 277



Mobil yang dikendarai Morgan pun memasuki halaman rumah mertuanya itu, dia kemudian memarkirkan mobil sesuai dengan parkir yang ada di halaman rumah tersebut.


Morgan tidak langsung turun dari mobilnya, Dia menghela nafasnya dengan dalam dan menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobilnya itu, dia kemudian mengambil gawainya dan lagi-lagi menghela nafasnya dengan pelan dan panjang,diapun memejamkan matanya sesaat, lalu dia membuka matanya dan langsung turun dari mobilnya itu,


Setelah dia mengunci mobilnya dengan otomatis,dia melangkah menuju pintu utama rumah tersebut.


" Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam.." ucap mereka yang kebetulan duduk di ruang tamu, Mereka kemudian berdiri semua setelah Morgan datang karena mau makan makan siang bersama, terutama Anindita yang langsung memeluk manja sang suami,Morgan tersenyum melihat tingkah istrinya itu, kemudian Morgan menyalami Mama mertuanya dan tidak lupa juga dia mencium kening sang istri.


Mereka kemudian melangkah menuju ke ruang tamu, setelah Morgan membersihkan tangannya dia pun langsung duduk juga di meja makan untuk melahap makan siang dirumahnya berkumpul dengan yang lainnya, tidak ada suara di meja makan, Mereka hanya menikmati makanan yang tersedia di atas meja tersebut.


Begitu juga Morgan tidak sama sekali bersuara, dan juga kebetulan perutnya memang sudah merasa sangat lapar dan perlu diisi dengan nutrisi yang banyak, mereka asyik menikmati makan siang itu.


Tiba-tiba Gawai Morgan pun berbunyi kembali, tapi dia tidak menghiraukan gawainya itu yang ada di dalam saku celananya, dia menghentikan aktivitas tangannya yang memegang sendok dan garpu, tapi masih dengan mengunyah makanan yang ada di mulutnya tersebut.


" Ini pasti telepon dari dia lagi, sebenarnya siapa sih dia ini, selalu saja menghubungiku, aku malas ngeladenin orang yang gak jelas seperti ini! Tapi kalau dipikir tahu dari mana dia nomer gawaiku ini, aku tidak memberikan sembarangan nomer gawaiku pada orang lain." ucapnya di dalam batinnya, Seraya menatap sesaat ke arah sang istri yang ada di sampingnya itu, mereka yang ada di meja makan pun menatap kearah Morgan sesaat dan menikmati kembali hidangan tersebut. lagi-lagi gawainya Morgan berbunyi.


" Lho Sayang kenapa nggak dijawab? mungkin itu penting."tanya Anindita seraya memakan makan siangnya.


" Nggak usah sayang, kalau dia penting dia pasti akan mengirim chat pribadi pada ku." ucapnya Seraya tersenyum kepada sang istri, Anindita menatap suaminya heran Morgan yang merasa ditatapi sang istri pun langsung menoleh ke arah Anindita.


" Kamu kenapa sayang? kenapa menatapku seperti itu?" tanya Morgan sembari tersenyum.


" Gawai kamu itu lho, berkali-kali berbunyi, kalau kamu tidak mejawabnya tolong dimatikan, biar kita menikmati makanan ini dengan enak, tidak terganggu dengan suara gawai panggilan pekerjaan kita." ucap Anindita.


" Hehehe...biarkan saja." ucap Morgan seraya membelai kepala istrinya itu, mereka pun kembali melanjutkan makanannya lagi, tidak ada suara sama sekali dan mengunyah makanan mereka dan menikmatinya


Setelah mereka selesai makan yang lainnya pun meninggalkan ruang makan menuju ke tempat mereka bersantai seperti tadi, sedangkan yang ada di meja makan hanya Anindita dan Morgan, mereka terdiam sembari mengambil minuman yang tersedia di atas meja tersebut.


" Ada apa Sayang, kenapa wajah kamu sepertinya gelisah sekali.?" tanya Anindita pada sang suami.


" Tidak ada apa-apa, cuma perasaanku aja yang tidak enak hari ini." Jawab Morgan seraya meraih tangan sang istri.


" Memang kenapa? Apa ada masalah di kantor ?Kalau ada masalah cerita sama aku biar kita pecahkan sama-sama." ucap Anindita menyentuh pundak sang suami, saat Morgan menoleh kearah Anindita gawainya pun berbunyi dia tetap tidak menjawab panggilan tersebut.


" Sayang, cobalah kamu jawab panggilan itu." Ucap Anindita tersenyum, Morgan mengangguk.. saat Morgan mau mengambil gawainya yang ada di saku celananya, gawai itu pun berhenti berbunyi, kemudian gawai Anindita yang ada di sampingnya yang tergeletak di atas meja makan itu pun berbunyi, Anindita menatap layar gawainya.


" Mama..." ucap Anindita langsung menjawab panggilan si pemanggil tersebut karena yang memanggilnya itu adalah sang mertuanya.


" Assalamualaikum Mah.." sapanya.


" Waalaikumsalam nak..ini papa." Jawab papa Charlos.


" Papa...ya pah ada apa pah?"


" Papa mau tanya, apa Morgan ada di rumah nak?"


" Ada pah, baru aja selesai makan siang."


" Oh maaf ya pah, gawainya ada di ruang tengah pah." ucap Anindita sedikit berbohong dan dia pun langsung menatap kearah Morgan, Morgan langsung melihat gawainya yang dipegangnya itu, ternyata panggilan beberapa kali itu adalah dari mamanya, dia langsung meminta kepada istrinya itu untuk memberikan gawainya agar dia bisa berbicara dengan papahnya tersebut, Anindita pun mengerti dan kemudian menyerahkan gawai pribadinya itu pada sang suami.


" Assalamualaikum Pah..."


" Waalaikumsalam..."


" Ada apa Pah? maaf ya Pah karena Morgan tadi tidak menjawab panggilan Papa."


" Oh ya nggak apa-apa Nak, sebenarnya ada yang ingin Papa mau bicarakan denganmu."


" Bicara soal apa pah?"


" Papah dan mamah mau berangkat ke kota M."


" Untuk apa Papa ke sana?" tanya Morgan merasa heran karena kedua orang tuanya itu sangat jarang pulang kampung kekampung halaman sang mamah.


" Nggak ada apa-apa nak, karena kami mau ke sana, mamamu juga mau berkunjung ke tempat keluarganya."


" Oh ya udah kalau gitu Morgan antar ke bandara ya, kapan berangkatnya pah?" Tanyanya.


" Kalau kamu tidak merepotkan."


" Morgan tidak repot kok pah, jam berapa berangkatnya pah?"


" Jam 2 siang Nak."


" Ya udah nanti Morgan antar ke bandara ya." lanjutnya.


" Iya nak, terimakasih ya, Assalamualaikum.."


" Iya pah sama-sama, Wa'alaikumussalam..." Jawab Morgan menyudahi panggilannya.


" Ya udah ya sayang ..aku mau berangkat kekantor lagi, dan jam dua siang aku mau mengantar mamah dan papah kebandara."


" Iya sayang ...hati-hati ya..." Ucapnya sembari meraih tangan suaminya dan menciumnya.


Mereka berdua pun melangkahkan kakinya menuju kearah pintu luar, dan beberapa saat kemudian Morgan meninggalkan rumah kediaman mertuanya tersebut dan Anindita yang tidak lagi kerumah sakit memutuskan untuk beristirahat dikamarnya.


Dikamarnya Anindita merebahkan tubuhnya dikasur king sizenya itu dan menatap langit-langit kamarnya dengan pikirannya yang menerawang jauh.


" Seperti ada yang disembunyikan Morgan dengan ku, tapi apa? Selama aku bersama dengannya dia tidak pernah menyembunyikan apapun dariku,dari masa lalu dia dan masa-masa tugasnya sampai kami menjalani hubungan jarak jauh, tapi kenapa dia terlihat gelisah? Atau ada masalah yang lain yang tidak bisa dia jelaskan padaku?" Ucapnya berbicara sendiri.


Anindita menghela nafasnya dengan dalam dan memiringkan tubuhnya kesamping kanan dan memeluk guling yang ada disampingnya tersebut dengan mata menatap fhoto sang suami yang berada diatas meja kecil yang ada disamping tempat tidurnya itu.


" Sayang...jangan pernah hianati cinta ku..." Gumamnya sembari tersenyum menatap fhoto tersebut.