
Selesai makan para perempuannya pun melakukan aktifitas mereka masing-masing dan para lelakinya kembali duduk bersantai lagi, tapi bukan bersantai diruang tengah tapi mereka bersantai diteras belakang.
" Smith ...sementara waktu kamu tinggallah dirumah pribadi ku yang ada tidak jauh dari sini." Ucap Abiyasa.
" Rumah pribadi?" Ucap Smith terkejut.
" Iya Smith, rumah itu adalah rumah pribadi ku dengan istri ku karena aku tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah ini dengan mama ku, jadi rumah itu hanya diurus oleh asisten rumah tangga ku saja dan satu orang tukang kebun yang tinggal di sana, Kamu bisa tinggal di sana sesuka hatimu, lebih baik kamu menempati rumah itu daripada kamu tinggal di penginapan atau di hotel." ucapan Abiyasa sembari tersenyum di anggukan papah Andre dan yang lainnya.
" Itu sama saja saya merepotkan kalian semua." ucapnya.
" Kamu tidak merepotkan kami Smith, kami menghargai tekat kamu yang ingin mandiri dan kamu juga tidak akan mau menerima bantuan dari orang lain selama kamu masih bisa berusaha, tapi jangan kamu anggap ini rasa kasihan kami kepadamu ya, jangan kamu berpikiran seperti itu, ini murni untuk kamu tempati, daripada rumah itu tidak ada yang menempati, hanya mereka saja yang menempatinya lebih baik rumah itu ada tuannya." ucap Abiyasa sembari menepuk pundak Smith dengan pelan.
" Smith... Om tidak ingin kamu menolak permintaan dari Abiyasa." sambung Papa Andre
" Ya Smith, kalau kamu sudah masuk dalam keluarga kami ini, kamu tidak boleh menolak bantuan dari kami." ucap Papa Boby lagi.
" Terima saja Smith, karena bagi kami kamu adalah keluarga kami, tidak ada yang menganggap Kamu itu orang lain, karena kamu sudah melamar Anak Om berarti kamu sudah masuk ke dalam keluarga kami ini." ucap Ayah Candra tersenyum.
" Kamu tidak bisa menolak Smith, semuanya itu sudah ditakdirkan oleh Yang mahakuasa untuk kamu, kamu sudah berjodoh dengan Alena dan Allah juga yang menuntun kamu sampai ke sini dan bertemu dengan keluarga Alena, Bukannya kami meremehkan tekat kamu itu, tidak! kami tidak meremehkannya dan kami malah bersyukur kamu memiliki kemandirian yang sangat kuat, tapi setidaknya kamu tidak boleh menolak bantuan dari keluargamu sendiri yaitu kami ini, kalau kamu sudah menjadi bagian keluarga kami ini baik keluarga Om, keluarga Om Bobby Calon Ayah mertuamu dan Om Andre, berarti kamu sudah ada di daftar keluarga ini." ucap Abi Yosep memberi penjelasan pada Smith, sedangkan Smith hanya bisa terdiam dan dia pun menatap satu persatu mereka yang ada di teras belakang itu.
" Satu lagi Smith, kalau kamu ingin menikahi Alena Jangan menunggu kamu sukses." Ucap Papah Andre.
" Iya Smith kelamaan..." Ucap Arvin tertawa pelan.
Smith terkejut dengan ucapan Papah Andre dan Arvin, dia menatap kearah keduanya dengan tatapan penuh tanda tanya.
" Maksudnya? Saya tidak mengerti, Kalau saat ini saya belum bisa untuk menikahi Alena dengan cepat, yang hanya bisa saya lakukan sekarang, Saya ingin bertunangan terlebih dahulu dengannya." ucap Smith berbicara dengan pelan takut menyinggung perasaan mereka semua.
Papa Andre tersenyum...
" Kamu akan segera menikah dengan Alena." ucap Papa Andre dengan santainya.
Dianggukkan oleh mereka semua, karena mereka semua yang ada di situ sudah mengerti dengan ucapan Papah Andre, hanya saja Smith yang dibuat bingung dengan ucapan Papah Andre tersebut.
" Tapi Om..." Smith menggantung kalimatnya...
" Tidak ada tapi-tapian, Kamu tetap akan menikah segera setelah semuanya selesai dengan urusan kamu di luar negeri dan kamu sudah menetap resmi di tanah air, kamu akan segera menyusul yang lainnya untuk menikah, biaya pernikahan semuanya Kamu tidak usah memikirkannya, karena setelah kalian menikah kalian bisa memikirkan tentang usaha yang tepat untuk kalian berdua, kalian berdua bisa mengelola usaha kalian tersebut, kalau kalian bersatu Kalian pasti akan sukses menjalankan usaha yang kalian impikan, terutama kamu Smith, in sya Allah dengan izin nya Kamu pasti akan mencapai usaha kamu yang ingin kamu jalankan, karena kalau kamu berdua bersatu pasti akan berkembang." ucap Papa Andre lagi.
Smith tidak bisa berkata apa-apa antara senang dan terharu dengan ucapan Papa Andre padanya itu.
" Sudahlah kawan, terima saja." ucap Morgan sembari menepuk pundak Smith.
Smith pun tersenyum dan dia hanya bisa menganggukan kepalanya, dia tidak bisa menolak, kalaupun seandainya dia menolak sama aja dia tidak menghargai ucapan dari sahabat calon mertuanya tersebut.
" Smith, nanti aku antar kamu ke rumah pribadiku itu dan tempatilah sesuka hatimu." ucap Abiyasa.
Smith pun hanya menganggukkan kepalanya, Mereka pun kemudian melanjutkan pembicaraan mereka lagi, Terdengar senda gurau dan canda kecil di teras belakang tersebut terdengar tawa yang bahagia yang mereka ciptakan di sela-sela pembicaraan mereka itu.
Tempat sore hari setelah sholat Ashar Abiyasa meminta izin kepada sang istri untuk mengantarkan Smith ke rumah pribadi mereka yang tidak jauh dari rumah kediaman keluarga Wibawa, rumah tersebut adalah rumah pembelian Abiyasa dari pertama dia berada di tanah air dan menjabat sebagai CEO di kantor Wibawa grup.
Rumah itu sudah dipersiapkannya untuk dirinya setelah dia menikah, tapi dia tidak bisa meninggalkan kedua orang tuanya yang ada di rumah besar itu, terpaksa dia mengikuti keinginan kedua orang tuanya untuk tidak meninggalkan rumah orang tuanya dan rumah pribadinya itu pun hanya diurus oleh art rumahnya.
Kadang-kadang Abiyasa dan istrinya pun menjenguk rumahnya tersebut dan menginap di rumahnya itu.
Setelah berpamitan dengan sang istri dan diantar oleh Ayesha ke depan pintu rumahnya Abiyasa dan Smith pun memasuki mobil pribadi Abiyasa, perlahan-lahan mobil itu pun meninggalkan rumah kediaman keluarga Wibawa menuju ke arah rumah pribadi Abiyasa, Ayesha yang menatap kepergian suaminya itu pun kemudian masuk ke dalam rumah setelah mobil sang suami sudah tidak terlihat lagi di pandangannya, Dia berjalan menuju ke arah kamar pribadinya dan merebahkan tubuhnya untuk melonggarkan urat-urat tegang di tubuhnya karena dia sudah banyak duduk hari ini.
Beberapa saat kemudian mobil Abiyasa memasuki sebuah rumah yang terlihat bagus dengan desain masa kini dan bercat warna biru dan dihiasi taman bunga di samping kiri dan kanan rumah tersebut, mobil Abiyasa pun terparkir rapi di depan rumah pribadinya itu, mereka berdua pun turun dari mobil tersebut.
Abiyasa mengajak Smith masuk ke dalam rumah pribadinya itu dimana pintu rumah tersebut memang sudah terbuka, Abiyasa sudah menghubungi para Art rumahnya itu untuk menunggu kedatangan mereka berdua.
Abiyasa memperkenalkan Smith kepada penghuni rumah pribadinya itu, setelah menjelaskan semuanya kepada Smith, Abiyasa pun menyerahkan duplikat kunci rumah tersebut dan sebuah kunci mobil pribadi untuk Smith, dia pun tertegun menatap kearah Abiyasa, Dia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Ini adalah kunci mobil pribadi untuk kamu, agar memudahkan kamu pergi kemana saja, baik itu kamu berkunjung ke rumah calon mertua mu ataupun berkunjung ke rumahku, serta rumah-rumah Om yang lainnya dan mobil itu berada di dalam garasi yang ada di samping rumah ini, Mobil itu memang disediakan di rumah ini untuk keperluan kami, Kalau kami berada di rumah ini, kadang-kadang istriku mau menggunakan mobil yang ada di rumah ini untuk berjalan-jalan dan kadang-kadang dia menggunakan mobil pribadi ku itu kalau seandainya kami menginap di rumah ini." ucap Abiyasa menjelaskan kepada Smith, Smith pun menganggukkan kepalanya dan Abiyasa Kemudian berpamitan dengan Smith dan melangkah menuju ke arah Mobilnya, perlahan-lahan mobil Abiyasa meninggalkan Smith yang sedang berdiri di teras rumah pribadinya itu, Smith kemudian melangkah kearah sofa yang ada di depan teras rumah itu dia pun menghentakkan tubuhnya diatas sofa tersebut, sembari menghela nafasnya dengan pelan dan menyenderkan tubuhnya di kursi yang ada di depan teras itu.
" Ya Allah begitu indahnya rencanamu untukku, Alhamdulillah aku dipertemukan dengan mereka yang mempunyai kebaikan yang tidak terhingga, dan Alhamdulillah juga aku sudah diterima di tengah-tengah keluarga Alena, Aku tidak akan menyia-nyiakan kebaikan mereka denganku, insyaallah dengan usaha yang akan aku jalankan nanti aku bisa membahagiakan Alena calon istriku." ucapnya pelan seraya matanya menatap ke arah langit lepas dimana matahari sudah mulai menyembunyikan cahayanya di langit yang sudah mulai meredup.
" Terimakasih ya Ndre, kamu sudah mempermudah urusan Alena dan calon suaminya, dan kamu juga sudah memberikan tempat untuk Smith tinggal sementara waktu sebelum dia Sah jadi suami Alena." Ucap Ayah Candra tersenyum.
Papah Andre tersenyum dan mengangguk...mereka semua pun ikut tersenyum dan merasakan kebahagiaan yang diterima Ayah Candra sahabat mereka itu.
*****
Tepat jam 8 malam setelah mereka melaksanakan sholat Isya dan bersantap malam, Mereka pun kemudian bersantai sesaat untuk membiarkan makanan yang sudah mereka santap itu berjalan di usus mereka dan mentok di lambung mereka masing-masing.
Kemudian satu persatu orang-orang yang duduk di ruang tengah itu pun melangkah meninggalkan ruang tengah tersebut untuk beristirahat dengan melepaskan kelelahan yang sudah mereka lakukan seharian tadi.
Masing-masing mereka memasuki kamar mereka sendiri, yang masih berada di ruang tengah itu hanyalah mereka berempat saja, Abi Yosep, Ayah Candra dan papa Andre serta Papah Boby.
" Besok aku harus pulang ke rumah ku Ndre." ucap Abi Yosep.
" Kenapa kamu begitu cepat mau pulang ke rumah? memang di rumahku kamu sudah nggak senang lagi nih." Ucap Papa Andre sembari tersenyum.
" Bukannya tidak senang, tapi sudah lama aku berada di rumah ini, aku ingin menjenguk ke rumahku, kalau aku kelamaan di sini nanti rumahku dihuni para genderuwo." ucapnya sembari tertawa.
" Mana berani genderuwo berada di rumahmu Yos, kan kamu itu rajanya genderuwo, jadi anak buahmu nggak bakalan berani menempati rumah kamu itu hahaha..." ucap Papah Boby sembari tertawa lepas Abi Yosep langsung melemparkan bantalan sofa ke arah Papah Boby sembari tertawa juga.
" Sama Ndre, Aku juga mau pulang besok beserta keluargaku ke rumah, untuk mempersiapkan dan mematangkan kembali rencana pernikahan Arvin biar Arvin bisa dipingit di rumah saja." ucapnya sembari memberikan senyumannya pada mereka semua.
" Ya udah kalau seperti itu, besok juga kan kami mau berangkat ke luar negeri untuk menyelesaikan penjualan perusahaan Almarhum Rendy, sekalian juga aku mau berkunjung ke makamnya." ucap papa Andre di anggukan oleh Papa Bobby.
Papa Andre dan papa Bobby pun menganggukkan kepalanya.
" Iya, kami akan membawa Nika beserta dengan kami dan berkunjung ke makam mereka berdua, karena Nika menginginkan bisa menemui kedua orang tuanya, walaupun hanya makamnya yang terlihat, setidaknya kita bisa memberikan kebahagiaan kepada anak itu, siapa tahu dengan kita bisa membawanya ke luar negeri dan dia bisa berkunjung serta mencurahkan isi hatinya dengan kedua makam orang tuanya itu dia merasa lega dan dia merasa bahagia dan dengan cepat melupakan kejadian yang sudah menimpanya " ucap Papah Boby.
Mereka pun semua menganggukkan kepalanya sembari menarik nafas mereka masing-masing dengan pelan, hening! di ruang tengah itu tidak ada suara sama sekali, mereka larut dalam lamunan mereka, sampai akhirnya papa Andre mengajak mereka untuk beristirahat, biar besok pagi rasa lelah yang mereka hadapi seharian ini hilang dengan mengistirahatkan tubuh mereka di kasur empuk yang ada di kamar mereka itu.
Mereka berempat pun berdiri dan meninggalkan ruang tengah, Papa Andre kemudian mematikan lampu ruang tengah tersebut dan menggantinya dengan lampu yang agak sedikit redup, Kemudian mereka pun memasuki kamar mereka masing-masing dimana para istrinya sudah menunggu mereka untuk beristirahat dengan memasuki alam mimpi mereka.
Dikamar pengantin baru,yang berukuran besar dimana terletak tempat tidur king size terpasang, sepasang pengantin baru sedang duduk disofa yang menghadap ke arah jendela kamar yang langsung jelas terlihat langit malam hitam yang indah dihiasi bintang-bintang yang bertaburan menjadikan langit hitam itu bersinar terlihat indah sekali, seindah hati dan perasaan Morgan dan Anindita.
Anindita berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke depan jendela kamarnya tersebut, dia pun menatap jauh ke arah langit gelap itu yang sangat indah karena taburan bintang berkelap-kelip dia pun tersenyum bahagia, karena sekarang dia sudah menemukan kebahagiaannya bersama dengan Morgan sang suami tambatan hatinya.
Morgan yang selesai menatap layar gawainya untuk membalas chat pribadi dari anak buahnya itupun kemudian meletakkan gawainya di meja yang ada di depannya itu, dia melangkah mendekati sang istri, dan dia pun langsung memeluk istrinya dari belakang, Anindita pun menyandarkan kepalanya didada sang suami yang sangat dicintainya itu.
" Sayang..." Panggil Morgan dengan mesra dan lembut di telinga Anindita yang sedang berdiri didepan jendela kamarnya itu.
" Hmmm..." Jawabnya tersenyum.
" Terima kasih ya sayang...."
" Terima kasih untuk apa?"
" Terimakasih, Karena kamu sudah menerima aku apa adanya dan maafkan juga jika seandainya masa lalu ku penuh dengan luka dan Air mata dan cinta ku juga menorehkan luka di hatimu, Maafkan aku kalau memang itu benar terjadi tanpa sepengetahuanku, tapi aku berjanji padamu, untuk selamanya cintaku ini terakhir berlabuh di hatimu dan cintaku ini akan menghadirkan surga-surga kecil di kehidupan kita, semoga masa depan kita selalu diwarnai dengan kebahagiaan." ucap Morgan sembari mencium pipi sang istri dengan lembut.
Anindita tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Maafkan aku juga ya sayang... kalau seandainya cintaku juga pernah melukai hati kamu, itu memang sengaja!! hahahah...!" ucapnya sembari melepaskan pelukan sang suami dan langsung melangkah cepat kearah tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya dikasur empuknya sembari masih tertawa lebar.
Morgan hanya tersenyum dan menggigit bibir bawahnya sembari memasukkan tangannya kesaku celananya dan tangan kanannya mengusap kepalanya seraya menatap kearah sang istri yang masih tertawa lepas diatas kasur.
Morgan pun melangkah mendekati sang istri dan merebahkan tubuhnya disamping istrinya itu dan dalam posisi Anindita yang terlentang sembari masih tersenyum.
Morgan memiringkan badannya kekanan menghadap Anindita dengan tangan kirinya menopang kepalanya, dia tersenyum dan diapun langsung melabuhkan ciuman mesranya pada sang istri, dan disambut Anindita dengan penuh kebahagian, kamar yang bernuansa romantis dan berwarna pink itu pun jadi saksi bisu dua insan yang menyatu dalam kebahagian yang mereka ciptakan itu walaupun tertunda tapi mereka masih bisa menciptakan dengan sempurna sesempurna bahagia yang mereka rasakan sekarang.
Beberapa saat mereka mengukir kebahagian itu akhirnya mereka sampai pada puncaknya, Morgan tersenyum bahagia begitu juga dengan Anindita yang tersenyum malu-malu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
" Terimakasih sayang..." Ucap Morgan sembari mendaratkan ciuman dipucuk kepala sang istri, Anindita menganggukkan kepalanya dan memejamkan matanya, dia pun langsung memeluk istri tercintanya itu dan mereka pun sama-sama larut dalam alam mimpi mereka berdua...
*****
Keesokan paginya setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah, mereka pun masing-masing menuju ke ruang makan karena mau sarapan pagi bersama, satu persatu kemudian duduk di meja makan dengan tersusun rapi.
Mereka kemudian mengambil makanan yang sudah tersedia yang disediakan oleh Mama Anisa dan yang lainnya dibantu dengan Art yang ada di rumah tersebut.
Mereka menatap Anindita dan Morgan yang tersenyum dengan bahagianya.
" Kayaknya ada yang mendaki puncak gunung nih.." ucap Arvin sembari terkekeh.
Morgan pun mendelik ke arah Arvin
" Iya nih, Vin, sepertinya tidak bisa diungkapkan ceritanya." sambung Abiyasa, Ayesha pun tersenyum dan menyenggol suaminya itu.
" Nggak usah digoda kayak gitu dong, nanti mereka malu lagi " ucap Ayesha sembari tertawa pelan.
" Terus..! Teruskan saja, jangan berhenti!! Goda terus, ejek terus." ucap Morgan sembari mengambil air minum dan meneguknya.
Anindita hanya tersenyum saja menanggapi ucapan dari Arvin dan kakaknya Abiyasa, dia pun kemudian mengambilkan makanan untuk suaminya, sedangkan yang lain mendengar ucapan dari Arvin dan Abiyasa hanya bisa tertawa pelan.
" Udah....stop dulu bercandanya, cepetan sarapan, nanti yang mau berangkat kerja atau pun mau berangkat ke luar negeri jadinya telat." ucap Mama Anisha sembari mengambilkan sarapan untuk suaminya itu.
" Papa mau berangkat ke luar Negeri.?" tanya Almira
" Iya Sayang... kenapa?" tanya Papa Andre balik bertanya pada Almira.
" Lama nggak papa di sana?" tanyanya lagi sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
" Sebentar aja, karena papa ada urusan."
" Almira bisa ikut nggak?" tanyanya sembari menatap ke arah sang Papa agar permintaannya itu dikabulkan oleh Papa Andre.
" Kalau kamu ikut bagaimana dengan sekolah mu?" tanya Mama Anisha.
" Kan bisa izin Mah, Kak Morgan yang mengijinkannya kesekolah Almi, Almira ingin ikut Papah ke luar Negeri, Amira ingin nemeni Nika kalau Papa punya urusan biar Nika sama Almira di villa kita, boleh kan Pah kalau Almira ikut." ucapnya lagi sembari tersenyum dan mengekspresikan wajah menggemaskannya, papah Andre pun tersenyum karena melihat wajah sang anak yang sangat menggemaskan itu.
" Boleh! kalau kamu mau ikut." ucap Papa Andre sembari mengangguk dan memperbolehkan Almira ikut bersama dengan mereka.
Terlihat wajah Almira bahagia karena diperbolehkan ikut bersama sang papah.
Papa Andre menoleh kearah Morgan sebelum Papa Andre mengutarakan kata-katanya Morgan langsung bersuara.
" Ya pah, nanti Morgan yang akan meminta izin ke pihak sekolah agar Almira bisa diberikan izin." ucap Morgan langsung seraya tersenyum sambil mengunyah makanannya.
Merekapun kemudian menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makanan mereka menikmati hidangan yang sudah tersedia untuk sarapan pagi meraka itu, setelah semua sarapan pagi selesai, Mereka pun kemudian beraktifitas seperti sedia kala, Morgan dan istrinya pun berpamitan pada orang rumah untuk berangkat bekerja, Setelah dia berpamitan dengan mertuanya Abiyasa pun berpamitan juga dengan sang istri untuk berangkat bersama Papa Andre dan yang lainnya keluar negeri, untuk mengurus semuanya disana.
Mobil Abiasa dan mobil pribadi papah Andre pun meninggalkan rumah tersebut menuju ke arah bandara, papah Andre menggunakan jasa sopir untuk mengantarnya ke bandara,sedangkan Abiyasa menggunakan mobil pribadinya sendiri, Morgan langsung berangkat ke kantor dan kesekolah Almira, dia akan menyelesaikan semuanya, baik itu pekerjaannya yang sudah banyak tertunda, Setelah dia mengantarkan sang istri ke tempat kerjanya yaitu rumah sakit Wibawa, dia pun langsung menuju kesekolah Almira.
Tibalah giliran Ayah Candra dan Abi Yosep beserta keluarganya untuk berpamitan dari rumah tersebut untuk kembali ke rumah pribadi mereka masing-masing dan mempersiapkan kembali secara matang pernikahan Nadine dan Arvin, kedua mobil itu pun perlahan-lahan meninggalkan kediaman rumah keluarga Wibawa.