
BAB 151
" Lia siapa?tanya tante Raisa lagi.
" Lia nama panggilannya sehari-hari,nama lengkapnya Lia, Siti Marliana." ucap Arvin. Tante Raisa langsung terkejut lagi setelah mendengar nama lengkap Lia yang disebutkan Arvin.
Ayah Candra dan Arvin saling pandang,lalu mereka berdua sama-sama menatap kembali kearah Tante Raisa yang masih terlihat terkejut diwajahnya, Arvin sudah dapat mengira kalau Tante Raisa mengenal dengan Lia.
" Ibu mengenali Lia?" tanya Bunda Adel.
" Tidak..." ucapnya singkat.
Tapi ada keanehan diwajah Tante Raisa dan Dokter Roni juga menangkap keterkejutan Mamahnya itu.
" Kenapa Mama berubah gelisah gitu diraut wajahnya,pasti mamah mengetahui tentang Lia,buktinya Mamah terkejut saat Arvin mengatakan nama lengkap Lia " batin Dokter Roni menatap kearah Mamahnya tersebut.
" Apakah Tante Raisa mengenali Lia? Kenapa saat disebutkan nama Lia Tante Raisa langsung terkejut? Tapi hebat Tante Raisa bisa menyimpan rasa terkejutnya dengan sempurna dan tidak diketahui dengan Anak-Anaknya itu, Tapi tidak dengan ku, Aku sempat melihat keterkejutan yang dialami sama Tante Raisa,Ayah pasti sudah mengetahui ekpresi tante Raisa tadi." batin Arvin seraya menatap sang Ayah,namun Arvin tidak tahu kalau Dokter Roni juga mengetahui keterkejutan Tante Raisa.
Ayah Candra hanya tersenyum pada Anaknya tersebut dan dia juga memberikan isarat pada Anak sulungnya itu, agar tidak terlalu curiga dengan calon mertuanya, Arvin hanya mengangguk dan Dia kemudian beralih menatap sang calon Mertua yang masih terdiam.
" Maaf Ibu Raisa kedatangan kami ke sini ada yang ingin kami bicarakan dengan ibu, bukan karena tentang kunci kontak mobil ataupun tentang gawainya Nadine, tapi ada sesuatu yang ingin kami bicarakan kembali dengan Ibu langsung." ucap Ayah Candra mencairkan suasana karena suasananya hening.
" Oh iya Pak Chandra Ada apa ya, perihal penting tersebut."
Nadine, Dokter Roni dan tante Raisa pun menatap kearah Ayah Candra dengan tatapan heran, mereka juga tidak mengira kalau kedatangan keluarganya Arvin bukan hanya bersilaturahmi saja, tapi melainkan keluarga Ayah Chandra ingin menjadikan Nadine sebagai menantunya.
" Begini Bu Raisa, kami kesini mau sekalian menginginkan Nadine sebagai menantu di rumah kami,Apakah Ibu mengijinkan dan memperbolehkannya Nadine menjadi bagian keluarga kami." ucap Ayah Candra seraya menatap ke arah Tante Raisa.
Tante Raisa tersenyum, Dia kemudian melihat kearah Nadine, Nadine menundukkan kepalanya Nadine sangat merasa senang sekali,karena tidak mengira akan segera dilamar.
Tapi Dia takut kalau Mamahnya belum mau menerima lamaran dari keluarga Arvin itu.
Tante Raisa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Kalau saya pribadi jujur saja sangat setuju sekali tapi apakah Nad.." ucapan Tante Raisa terputus karena langsung dijawab Nadine dengan cepat.
Nadine mau Mah..." ucap Nadine dengan cepat sebelum Tante Raisa menyelesaikan kalimatnya.
Mereka kemudian saling bertatapan dan langsung tersenyum mendengar ucapan Nadine.
" Sabar dek... ngebet amat sih mau nikah.." goda Dokter Roni sembari tertawa, mereka yang mendengar perkataan Dokter Roni pun spontan tertawa semua, Nadine Dan Arvin hanya tersenyum malu-malu.
" Alhamdulillah kalau Ibu setuju dengan lamaran kami ini, kami sangat bersyukur sekali. Terima kasih ya Bu." ucap Ayah Candra sambil tersenyum.
" Iya pak sama-sama, karena yang menjalani adalah Nadine dan Arvin, saya sebagai orangtua hanya menyetujui, karena mereka berdua memang sudah sama-sama suka dari pada membuat fitnah lebih baik disegerakan." ucap Tante Raisa sembari tersenyum juga.
" Ayah, sekarang kan udah lamaran nih dan diterima."
" Iya kenapa.?" tanya Ayah Candra seraya menatap ke arah Arvin.
" Kapan nih dihalalinnya.?" tanya Arvin.
" Kira-kira kapan ya Bu?" ucap Ayah Candra.
" Itu sih terserah pihak laki-lakinya aja, maunya kapan" jawab Tante Raisa tersenyum.
" Kalau menurut pihak laki-lakinya, apapun keputusan dari kami berarti Ibu setuju aja ya."
" Saya akan setuju aja "
" Hmmm...kapan ya waktu yang baik." ucap Ayah Candra seolah-olah berpikir.
" Ayah, tentukan aja,udah nggak sabar nih." ucapnya terkekeh.
" Memangnya kamu maunya kapan.?" tanya Ayah Chandra lagi sembari menatap kearah Arvin.
" Kalau Arvin ingin secepatnya." Lagi-lagi Arvin tersenyum.
" Kalau Nadine.?" tanya Ayah Candra lagi.
" Nadine sih ngikut aja apa Kata mas Arvin."
" halah..dek.. dek.. kamu sudah ngebet banget sih dek? udah bosen ya tidur sendirian? kedinginan lagi hehehe?" goda Dokter Roni pada adiknya tersebut.
" Itu kakak tahu." Jawab Nadine tersenyum malu-malu.
Arvin hanya tersenyum sembari mengusap wajahnya.
" Kalau menurut saya ya Bu, bagaimana kalau satu tahun lagi pernikahan mereka dilaksanaka." ucap Ayah Candra.
" Apa?!" Nadine dan Arvin saling bersamaan menjawab perkataan dari Ayah Candra.
Ayah Candra kaget langsung mengucapkan salam,dan di jawab dokter Roni dan tante Raisa salam Ayah Candra tersebut dengan ekpresi keheranan mereka terhadap Ayah Candra.
Bunda Adel hanya terkekeh mendengar kaget suaminya tersebut diikuti Alena yang tertawa lepas.
" Maaf ya Bu, suami saya memang seperti itu kalau kaget dia pasti mengucapkan salam, Maaf ya nggak sengaja." terang Bunda Adel.
" Maaf ya Yah, udah bikin Ayah kaget." ucap Arvin dianggukkan Nadine yang tersipu malu.
" Iya nggak apa-apa,Ayah juga sudah bikin kalian menjerit hehehe." ucapnya sambil terkekeh.
" Enggak jadi kan Yah, satu tahunnya.?" ucap Arvin lagi.
" Enggak jadi satu tahun."
" Syukur nggak jadi satu tahun jadi berapa waktunya Yah?" tanya Arvin pada Ayahnya.
" Sepertinya dua tahun hehehe." ucap Ayah Candra terkekeh lagi.
Arvin langsung menepuk jidatnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang Dia duduki.
Dan Nadine kemudian merebahkan kepalanya di pundak kakaknya tersebut Dokter Roni pun kemudian mengusap pipi sang adik sambil berkata.
" Yang sabar ya dek, tunggu dua tahun lagi hahaha." ucapnya tertawa lepas.
Nadine pun langsung mendorong pelan sang kakak.
" Iih kakak apa-apaan sih, malah mendukung ucapan Ayah Candra." deliknya pada sang kakak.
Mereka pun semua tertawa lepas.
" Sekarang Arvin pasrah aja Yah terserah Ayah saja ngaturnya."
Bunda Adel kemudian mengusap pundak Anaknya itu.
" Enggak mungkinlah Nak sampai dua tahun, Ayah kamu berbicara seperti itu cuma bercandain kalian aja, nggak beneran kok, kami juga nggak mau kalian menikah menunggu sampai dua tahun lamanya, kamikan juga pengen punya cucu." ucap Bunda Adel tersenyum berbicara dengan bijaknya kepada sang anak.
Arvin pun kemudian mengusap wajahnya, dia merasa malu karena berbicara seperti itu di hadapan mereka semua.
" Hehehe Ayah cuma bercanda, benar kata Bunda kamu, Ayah juga ingin cepat-cepat kamu melepas masa lajang kamu bersama dengan kekasih pilihan hati kamu, Alhamdulillah sekarang tante Raisa Sudah merestui dan menyetujui lamaran Ayah untukmu bersama dengan Nadine, dan rencana pernikahannya kita rencanakan lagi,karena dalam waktu dekat ini Om Andre kamu juga mau melaksanakan pernikahan Anindita. Setelah semuanya beres, nanti Ayah akan kasih tahu kepada Ibu Raisa dan Nadine serta kamu kapan waktu yang tepatnya. Kamu percaya deh dengan Ayah, Ayah akan mengatur ini semua bersama dengan Om Andre dan yang lainnya,agar kalian bisa merasakan kebahagiaan yang kalian rasakan bersama-sama sahabat kalian itu, Kalian juga bisa menghadiri acara pernikahan dari Marco, Morgan serta pernikahan kamu sendiri. kalian berdua inginkan dihadiri oleh para sahabat kalian.?"
Arvin dan Nadine menganggukkan kepalanya.
" Nah saya setuju itu, kalau nanti sudah tidak bertepatan dengan keluarga yang lain untuk acara pernikahan tersebut, barulah kita bicarakan pernikahan mereka berdua." ucap tante Raisa tersenyum..
" Nah denger tuh dek,harus sabar menunggu jangan ngebet-ngebet banget hehehe." lagi-lagi dokter Roni menggoda sang adik.
Nadine hanya tersenyum bahagia sesekali Dia dan Arvin saling tatap.
Mereka pun semua tertawa saking asyiknya mereka berbicara satu sama lain dan membahas yang lainnya juga, dan disepakati rencana pernikahan Arvin dan Nadine akan dilaksanakan tidak bertepatan dengan acara yang lain.
Sebenarnya ini adalah kabar gembira bagi seorang ibu yang ingin melihat, mendengar, anaknya sudah mau menikah, tapi tidak dengan Tante Raisa Dia masih terlihat sedih, walaupun dia tetap tersenyum tapi raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya itu.
Bunda Adel pun mengetahui wajah Tante Raisa yang sangat sedih Itu, dia memberanikan diri untuk menegurnya.
" Bu Raisa, Kenapa Ibu terlihat sedih?Bukankah ini adalah kabar bahagia untuk Anak-Anak kita.?" tanya Bunda Adel seraya menatap kearah Tante Raisa.
Tante Raisa pun menoleh kearah Bunda Adel, Dia hanya bisa tersenyum.
" Saya bahagia,Saya senang mendengarnya."
" Tapi kalau Ibu bahagia,kenapa Ibu terlihat sedih?"
" Saya tidak sedih kok Bu, tapi Saya sangat senang sekali, beginilah wajah Saya Kalau merasa senang, orang melihat seperti ada kesedihan di wajah Saya ini hehehe, Ibu tahu kan namanya juga seorang Ibu yang akan melepas seorang anak perempuannya, pasti rasa sedih itu terlihat di wajah Ibu-Ibu yang lain,terutama bagi Saya pribadi." ucapnya.
Bunda Adel hanya menganggukkan kepalanya.
" Bener juga ya Bu." ucapnya, tapi tidak dengan Ayah Candra dan Arvin dia masih merasa kalau Tante Raisa itu menyembunyikan sesuatu yang memang tidak bisa untuk diceritakan saat ini, mereka pun kemudian mengalihkan kembali pembicaraannya sampai waktu menunjukkan pukul 21.00 tepat, Kemudian mereka pun berpamitan pulang.
Setelah kepergian keluarga Arvin dari rumah Tante Raisa, merekapun kemudian duduk kembali di ruang tengah, tapi tidak dengan Tante Raisa Dia berpamitan dengan kedua anaknya untuk segera beristirahat, dengan alasan Dia merasa capek sekali.
Nadine dan Dokter Roni hanya saling berpandangan dan mengangguk, Kemudian Nadine pun berpamitan kepada kakaknya untuk memasuki kamarnya dan beristirahat, dia ingin kembali menghubungi kekasih hatinya itu karena Arvin yang memintanya untuk menemani dia malam ini chatting-an bersama.
Dokter Roni merasa ada yang aneh dengan Mamanya tersebut, Dia kemudian berdiri dan melangkah menuju ke kamar Mamanya,dia membuka pintu kamar Tante Raisa yang memang tidak dikunci itu.
Dokter Roni melihat sang Mama duduk di bibir ranjangnya dan menatap jauh ke luar jendela.
" Mama " panggilnya.
Tante Raisa menoleh kearah pintu dimana Dokter Roni masih berdiri.
" Roni boleh Masuk mah?"
" Masuk saja nak."
Kemudian Dokter Roni melangkah masuk dan duduk di depan Mamahnya yang memang kebetulan sofa yang ada didepan tempat tidur mamanya tersebut.
" Mama sebenarnya ada apa? kenapa Mama terlihat seperti orang menyimpan sesuatu? memang ada apa mah?"
Tante Raisa menarik nafasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan Dia menatap lekat sang Anak.