
Mereka kemudian menghentakkan tubuh mereka di sofa yang ada di ruang tengah kediaman keluarga Wibawa.
Sedangkan Papa Boby langsung menuju kearah dapur, dia mau mengambil minum, Karena dia sudah merasa sangat kehausan sekali.
" Mas,ceritakan bagaimana rencana kalian semalam.?" Tanya mamah Anisha pada Papa Andre, Papa Andre tersenyum pada istrinya tersebut.
" Chandra, ceritakan semuanya." Pinta papah Andre.
" Kenapa aku yang harus menceritakannya Ndre." Ucapan Ayah Chandra seraya menoleh kearah Papa Andre sembari tersenyum.
" Yosep kamu aja gih ceritakan semuanya." Ucap Ayah Chandra pada Abi Yosep.
" Kenapa larinya ke aku? aku nggak paham ceritanya dari awal." Ucap Abi Yosep sambil terkekeh.
Kemudian Papah Bobby melangkah sambil membawa segelas air putih dan langsung duduk disamping istrinya.
" Bob, ceritakan semuanya, karena kamu tahu ceritanya." Ujar Abi Yosep tersenyum.
" Aku cerita apa.?" Tanyanya seraya meneguk air putih dan meletakkannya gelasnya di atas meja yang ada di depan dia tersebut.
" Ceritakan rencana kita yang telah berhasil menangkap kunyuk-kunyuk yang telah membuat rencana tidak dipikirkan itu." Ucap Abi Yosep.
Papah Boby menarik nafas dengan pelan.
" Oke dengarkan baik-baik ya pasang telinga Kalian dengan kuat, hehehe." ucapnya.
" Arvin sebenarnya tidak bersalah, dia hanya menjadi korban dari rencana jahat yang dilancarkan oleh Maya dan Ariel,semua murni kesalahan dari Maya dan Ariel." Ucapnya.
" Terus buktinya sudah didapatkan apa belum.?" Tanya mamah Lala.
" Sudah beb, semuanya sudah berada di dalam gawainya Andre."
" Alhamdulillah syukur anakku tidak bersalah." Ucap Bunda Adel.
" Tapi masih ada yang mengganjal di pikiranku." Ucap Papah Boby.
" Soal apa itu om.?" Tanya Abiyasa.
" Antara Lia dan Nadine."
" Memangnya kenapa sayang? dengan Lia dan Nadine?" Tanya mamah Lala.
" Karena mereka mempunyai kemiripan."
" Tapi Om, kalau mempunyai kemiripan itu dimana-manapun kita bisa menemukannya, karena yang maha kuasa sudah menciptakan 7 rupa manusia semenjak mereka lahir ke dunia, walaupun mereka berdua mirip tapi mereka tidak saling kenal dan tidak 1 orang tua." Ucap Abiyasa.
" Kenapa kamu baru sadar sih Vin, kalau Nadine itu mirip dengan Lia, dan Kenapa juga kamu tidak berbicara dengan kami." Ucap Clarissa.
" Bukan begitu Ris, aku pikir saat itu mungkin kesamaan wajah antara Nadine dan Lia itu hanya kebetulan saja, aku baru menyadarinya setelah beberapa kali bertemu dengan Nadine, dan bersama dengannya, tapi aku tidak memikirkan masalah itu. Aku tidak ambil pusing karena aku pikir semua manusia itu pasti ada kemiripan satu dengan yang lainnya." Ucapnya.
Mereka semua pun menganggukkan kepalanya.
" Memang benar apa kata Arvin, mungkin kebetulan saja Nadine dan Lia itu mirip wajahnya tapi tidak kenal satu sama lain dan juga berbeda orang tua." Ucap Mama Anisha.
" Tapi aku masih mempunyai firasat kalau mereka itu masih ada hubungan keluarga, entah itu dari keluarga ayahnya Nadine, atau keluarga dari Mamanya Nadine, nanti aku juga akan menyelidiki semuanya, biar bagaimanapun kita harus mencari tahu Lia berada di mana, kasihan kan Lia karena imbasnya oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab itu, dia pasti sudah menanggung derita selama bertahun-tahun, lagipula dia juga tidak melanjutkan lagi kuliahnya, pasti dia hanya bermodalkan ijazah sekolah menengah Atas nya saja untuk mencari pekerjaan, mentoknya dia menjadi pegawai minimarket ataupun cleaning service di kantor-kantor saja" Ucap Papa Bobby lagi.
Mereka kemudian lagi-lagi menganggukan kepala dan larut dalam pikiran mereka masing-masing mencerna kata-kata dari papah Bobby.
" Oh ya Abiyasa besok kalau kamu sudah masuk kantor coba kamu cek lagi cleaning service kita di kantor, siapa tahu ada yang bernama Lia." Ucap Papa Andre.
" Iya Pah memang rencananya besok Abiyasa akan masuk kantor, karena udah lama tidak ngantor." Ucapnya sembari tersenyum.
" Begitu juga dikantor Boby,cek juga semua cleaning servicenya,aku akan bicara dengan David siapa tahu kan di kantornya David ada yang bernama Lia." Lanjut papah Andre.
" Kalau bernama Lia pah pasti banyak, tapi kita nggak tahu nama sebenarnya itu siapa." ucap Abiyasa.
" Benar juga tuh." Sahut Clarissa.
" Oh ya Vin, nama Lia itu siapa kepanjangannya?" Tanya papah Boby.
" Siti Marliana, nama lengkapnya,sering dipanggil Lia." Ucap Arvin.
" Oh ya Bob, kamu bisa kasih tahu nama orang tuanya? biasanya kan CV diri yang melamar ada saat melamar sebagai CS " Ucap Papa Andre.
" Siap bos!ada nanti aku chat pribadi semua ya nama kedua orang tuanya." Ucap papa Boby.
" Walaupun dia bukan keluarga dari Nadine, setidaknya kita akan memberikan kesejahteraan untuk dia, apalagi kalau seandainya dia mempunyai seorang anak, bagaimana rasanya seorang ibu menghidupi seorang anak tanpa seorang ayah, dan jauh juga dari keluarganya terbuang, karena kesalahan yang sebenarnya tidak dia inginkan." Ucap papa Andre.
" Itu benar apa yang dikatakan Andre." Ucap Abi Yosep.
" Walaupun kita dalam keadaan hidup sederhana kita wajib untuk membantu sesama." Lanjutnya lagi.
" Bagaimanapun Lia sebagai seorang manusia yang harus mendapatkan kesejahteraan yang layak karena tidak mungkin dia menghendaki kehidupan dia seperti itu." Lanjut Mama Anisha.
" Abiyasa juga mau mencari di mana Lia, Abiyasa akan mengerahkan anak buahnya Abiyasa untuk mencari keberadaan Lia, kasihan Lia,kalau seandainya Lia sudah ditemukan kita harus berusaha menyatukan keluarganya kembali pah." Ucap Abiyasa, dianggukkan oleh papah Andre dan yang lainnya.
" Seharusnya pamannya tidak mengusir dia seperti itu, semua masalah seharusnya diselidiki bukan mengambil keputusan secara cepat dan mensengsarakan kehidupan Lia." Ucap Ayah Chandra.
" Bagaimanapun dia harus mengetahui keadaan kedua orang tuanya saat ini." Ucap Mamah Lala lagi.
Mereka hanya menganggukkan kepalanya, karena saking asyiknya berbicara mereka tidak menyadari kalau Umi Vita mengajak mereka makan siang, Umi Vita mengatakan kalau makan siang sudah selesai,Mereka tersenyum dan melangkah menuju keruang makan, Mereka kemudian melanjutkan ceritanya di meja makan sambil menikmati masakan dari Umi Vita.
Mereka kemudian melahap makan siangnya dengan senda gurau yang tercipta di antara mereka,tapi tidak dihadiri oleh Morgan, karena Morgan sudah kembali ke kantor untuk memproses Maya dan Ariel.
Sehabis makan siang mereka kembali duduk bersantai, mereka juga mau bersiap-siap sore harinya Mereka ingin pulang kembali kerumah mereka masing-masing, sebelum mereka pergi Arvin pun berbicara kepada Bunda dan Ayahnya.
" Sebelum kita pergi dari rumahnya Abiyasa, Arvin ada permintaan dengan Bunda dan Ayah disaksikan dengan mereka semua." Ucap Arvin.
" Katakanlah nak,Apa yang ingin kamu katakan dan apa yang kamu inginkan dari kami " Ucap Bunda Adel.
" Bunda, Ayah, Arvin ingin secepatnya melamar Nadine,Bun."
Mereka tersenyum.
" Itu sudah dari dulu Bunda ingin bicarakan dengan kamu nak, karena Bunda sudah sangat menyukai Nadine." Ucap Bunda Adel.
" Terima kasih ya Bunda." Ucapnya senang.
" Bunda, maafkan Arvin, karena selama ini Arvin tidak pernah jujur sama Bunda."
" Kamu itu sudah jujur kok Nak, Bunda malah berterima kasih kepada kamu, karena selama Bunda dan Ayah jauh dari kamu, kamu sudah menjaga Adik kamu dengan baik, maafkan bunda dan ayah Karena di masa kalian mengharapkan kasih sayang ayah dan bunda saat itu Ayah dan Bunda malah sangat jauh dari kalian berdua." Ucap Bunda Adel seraya mengusap kepala anaknya.
Arvin hanya tersenyum.
" Satu lagi bunda Arvin ingin jujur kepada bunda dan ayah."
" Apa itu nak.?" Tanya ayah Candra.
"Arvin kemarin menjalani operasi."
" Apa?operasi? operasi di mana?" Tanya Bunda Adel seraya meraba wajah anaknya, tangan serta menarik celana panjang anaknya, melihat kakinya tapi tidak ada cedera sama sekali.
" Kamu operasi di mana sayang?" Tanya Bunda Adel.
" Bunda,dengarkan dulu penjelasan Arvin, jangan Bunda potong penjelasannya." Ucap Ayah Chandra.
" Tapi dia mengatakan operasi Yah, operasi di mana?" Tanya Bunda Adel.
" Tante Adel, Arvin menjalani operasi kecil aja di badannya karena tusukan yang dilakukan oleh penjahat yang sudah Arvin tangkap saat itu." Ucap Abiyasa.
" Benar kata Abiyasa Bunda" Sambung Arvin.
" Tapi kamu nggak apa-apa kan sayang."
" Buktinya kan Arvin ada di depannya Bunda sekarang." Ucap Arvin.
Bunda Adel pun langsung menepuk jidatnya.
" Hehehehe..kapan kejadiannya nak, kenapa kamu tidak pernah cerita sama Bunda."
" Kejadiannya saat bunda berada di luar negeri, maafkan Arvin ya Bunda karena Arvin tidak berkata jujur kepada Bunda,bukannya Arvin tidak mau mengatakan ini semua kepada Bunda, tapi karena Arvin tidak ingin merasa Bunda kepikiran." Ucap Arvin.
" Arvin, kali ini Bunda maafkan, tapi lain kali Bunda tidak akan pernah memaafkannya kalau kamu tidak pernah jujur kepada Bunda, sesakit apapun bunda harus tahu, biar bagaimanapun Bunda ini Bunda kamu nak, Bunda tahu apa yang pernah kamu alami di saat kecil, walaupun kamu merasa Kalau kamu jujur dengan bunda pasti akan membuat Bunda kepikiran, janganlah kamu mempunyai pikiran seperti itu nak, kamu harus jujur, berbagai macam masalahmu kamu harus katakan dengan Bunda, biar kita bisa mencari solusinya sama-sama." ucap Bunda Adel panjang lebar seraya menepuk pundak anaknya dengan penuh kasih sayang.
" Ya benar, tante Adel Arvin tuh memang orangnya diantara kami ini sikapnya tertutup." Ucap Clarissa.
Mereka terkekeh..
" Kamu tidak boleh lagi seperti itu ya nak." Ucap Ayah Candra.
Arvin hanya menganggukkan kepalanya, tanpa terasa mereka berbicara kemudian terdengar Adzan sholat Dzuhur berkumandang, mereka pun sama-sama melaksanakan sholat dzuhur, laki-lakinya pun melangkah menuju ke masjid yang dekat dari rumah keluarga Wibawa tersebut,dan perempuannya melaksanakan sholat dzuhur di rumah, beberapa saat mereka melaksanakan sholat dzuhur tersebut, Mereka pun kemudian berbenah karena mereka ingin kembali ke rumah mereka masing-masing, setelah semuanya selesai berbenah mereka memasukkan barang yang perlu dibawa masuk ke dalam mobil masing-masing, setelah berpamitan dengan yang punya rumah akhirnya mereka meninggalkan rumah keluarga Wibawa tersebut menuju ke rumah mereka masing-masing.
Papa Andre dan mama Anisha kemudian memasuki kamarnya begitu pula dengan Abiyasa dan Ayesha mereka juga memasuki kamarnya tersebut, di dalam kamar mereka beristirahat dengan merebahkan tubuh mereka di atas kasur empuk King size yang berada di dalam kamar mereka itu, Abiyasa mengelus perut sang istri yang masih rata itu dengan penuh cinta dan kasih.
" Aku tidak menyangka akhirnya aku sebentar lagi akan menjadi seorang papa." Ucapnya.
" Terima kasih ya sayang." ucap Abiyasa kepada Ayesha sang istri,Ayesha hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Lebih baik Mas istirahat, karena Mas kan udah terlihat capek besok kan sudah mulai masuk kantor." Ucapnya.
Abiyasa hanya menganggukkan kepalanya, mereka berdua pun beristirahat melepaskan lelah mereka tersebut.
Sesampainya mereka di rumah mereka masing-masing, Arvin kemudian membantu ayahnya untuk mengeluarkan barang bawaan mereka, saat Arvin sedang membawa barang bawaannya tersebut gawainya pun berdering, Arvin kemudian mengambil gawainya yang berada di dalam saku celananya tersebut, dia melihat layar gawainya ternyata sang kekasih yang memanggilnya dengan tanpa lama-lama dia pun langsung menjawab panggilan dari Nadine.
" Assalamualaikum Sayang."
" Waalaikumsalam Mas, sekarang Mas berada di mana.?"
" Mas udah pulang ke rumah."
" Kenapa Mas nggak bilang kalau sudah berada di rumah?"
" Ini sudah bilang, Kamu kan yang menghubungi Mas nih heheh." Ucapnya seraya terkekeh.
" Ihh...mas bercanda mulu deh ah."
" Mas tidak bercanda kok sayang." Ucap Arvin seraya duduk di depan teras rumahnya.
" Gimana dengan Maya?"
" Maya sudah ditangani oleh Morgan dia sekarang berada di kantor polisi, Oh ya sayang gawai dan kontak mobilmu ada sama Mas, Mas ntar malam mengantarkannya ya karena ada yang ingin Mas bicarakan dengan kamu."
" Oh ya udah kalau kayak gitu Mas lebih baik istirahat aja ya." Ucap Nadine.
Arvin mengangguk dan berucap Iya,kemudian pembicaraan pun terputus,Arvin menatap ke layar gawainya dimana terpampang wallpaper wajah Nadine dia tersenyum.
" Sebentar lagi kamu sudah akan menjadi seorang istri Arvin." Ucapnya sembari tersenyum dan memasukkan kembali gawainya ke saku celana dan melanjutkan membawa barang yang ada dihadapannya tersebut, serta memasuki rumahnya.
Setelah selesai Morgan menangani Maya dan Ariel dia pun langsung keluar kembali, dari kantor menuju ke rumah sakit.
Karena dia ingin menjenguk sang kakak, mobil yang dikemudikan oleh Morgan melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah rumah sakit,beberapa saat kemudian Morgan sampai di halaman parkir rumah sakit tersebut, ia memarkirkan mobilnya itu dia kemudian melangkah secara santai menyusuri koridor rumah sakit menuju ke ruangan di mana sang Kakak sedang dirawat. Sesampainya di ruangan Marco Morgan membuka pintu ruangan tersebut.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam " ucap mereka yang berada di dalam.
Morgan meraih kedua tangan orang tuanya serta tangan Marco dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian.
" Gimana Kak sekarang keadaannya.?"
" Alhamdulillah kakak sudah mulai sehat."
" Terus Apa kata Anindita?"
" Melihat kondisi Kakak lagi, kalau seandainya dua atau tiga hari sudah terlihat sangat efektif kesehatannya kakak akan keluar dari sini."
Morgan tersenyum dia melihat kedua orang tuanya yang sedang duduk di samping Marco yang nampak tersenyum dan terlihat di wajah mereka sangat bahagia.
Morgan merindukan akan kebersamaan kedua orang tuanya tersebut, Marco melihat Morgan dia belum mengetahui kalau mama dan papanya sudah mau rujuk kembali.
" Oh ya Morgan ada kabar gembira nih untuk kamu."
" Kabar gembira? kabar gembira apa?"
" Mama dan Papa mau rujuk kembali."
Morgan tersenyum dan menatap kearah kedua orang tuanya, kedua orang tuanya pun menganggukan kepalanya.
" Alhamdulillah ya Allah akhirnya doaku terkabul." Ucapnya.
" Maksud kamu.?jadi selama ini kamu juga mengiginkan mamah dan papah kembali bersama?" Tanya Marco.
" Iya kak,di setiap akhir sholat Morgan menginginkan Papa dan Mama rujuk kembali dan bahagia bersama dengan kita berdua." Ucap Morgan.
" Doamu terkabul nak." Ucap mamahnya sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya dia tidak henti-hentinya bersyukur akan mendengar kabar sangat bahagia ini.
" Oh ya Nak, Gimana urusan kamu sudah selesai.?" Tanya Papahnya.
" Alhamdulillah sudah selesai pah dengan izin Allah semuanya dilancarkan."
" Alhamdulillah" Ucap mereka semua.
" Berarti sebentar lagi kamu segera nikah dong." Ucap mamahnya.
" Jangan Morgan duluan dong mah, Marco duluan aja, baru Morgan. Pamali kalau kakak di dilangkahi sama adiknya." Ucap Marco.
" Ya itu kan resiko kamu, kan kaka lagi sakit,jadi kan aku duluan yang nikah."
" Enggak bisa seperti itu dong, aku duluan." Ucap Marco.
" Udah jangan berdebat nanti kalian berdua menikah juga kok, setelah Marco menikah duluan beberapa hari baru Morgan yang nyusul." Ucap Mamahnya.
" Ya sama aja itu mah,kak Marco duluan." Ucapnya tersenyum.
" Enggak baik kalau langsung bersamaan." Ucap papahnya lagi.
Senyum dan tawa pun tercipta diantara mereka yang penuh dengan kebahagiaan yang menerpa keluarga mereka masing-masing.
*****
Barsambung.