
Setelah acara lamaran sederhana dan saling bertukar cincin antara Marco dan Risa,akhirnya keluarga Marco pamit pulang dengan membawa kebahagian yang tak terhingga.
Setelah berpamitan dengan keluarga papah Boby dan saling mengucapkan salam,mereka meninggalkan kediaman keluarga papah Boby.
*****
Ke esokan harinya Clarissa berangkat kekantor seperti biasanya dan menggunakan mobil kesayangannya hadiah dari sang papah, saat dia sudah berada di indonesia,setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya Clarissa melajukan mobil nya menuju kearah kantor Wibawa Group.
Saat di perempatan lampu merah dia melihat mobil Sugeng dan samar samar dia melihat Sugeng bersama seorang wanita yang tidak nampak jelas di lihat Clarissa, karena mobil Sugeng agak gelap dari luar tapi kaca jendela mobilnya terbuka sedikit jadi samar samar terlihat kalau di dalam mobil tersebut ada dua orang manusia.
" Siapa wanita itu?" Ucapnya.
Tak seberapa lama kemudian Lampu lalulintas tersebut beganti hijau,semua pengendara perlahan lahan melajukan kendaraannya,dan mobil yang di kendarai Sugeng dengan seorang wanita tersebut berlawanan arah, Clarissa belok kearah kanan dan sugeng berbelok kearah kiri.
" Laki laki itu memang sangat menjengkelkan,tunggu saja nanti aku beri pelajaran dia, yang belum pernah dia pelajari di sekolahnya!" Ucap Clarissa menggerutu.
Kemudian Risa sampai di kantor nya dia memarkirkan mobilnya di tempat parkir dan langsung saja dia keluar berjalan menuju arah Lobby,dan lift membawanya kelantai atas menuju ruangan nya.
Sesampai nya di atas saat dia mau memasuki ruangannya dia di kejutkan suara mbak Tia.
" Bu Risa" panggilnya.
Risa menoleh kearah suara dan tersenyum.
" Mbak Tia ada apa mbak" ucapnya.
" Saya mau memberikan keterangan soal penyelidikan saya terhadap keluarga Sugeng" ucapnya pelan sambil tersenyum.
" Oke Mbak,kita bicara di dalam aja" ucap Clarissa seraya mengajak mbak Tia memasuki ruangannya.
Semua mata yang ada di lantai atas tersebut memandang kearah mereka berdua dan merasa aneh.
" Ada apa.sebenarnya,??"
Itulah pertanyaan yang ada di hati semua karyawan di Wibawa group,karena sekarang mereka tahu kalau Mbak Tia adalah kaki tangannya bu Risa,mereka takut kalau kalau mereka membuat kesalahan dan mereka tidak ingin mengalami hal yang serupa dengan kedua resepsionis yang sudah hengkang dari kantor Wibawa group karena kesalahan yang di buatnya sendiri, apa lagi Clarissa adalah orang kedua yang terpercaya di kantor Wibawa group tersebut.
Didalam ruangan Clarissa, mereka berdua duduk di sofa.
" Gimana mbak ceritanya?" Tanya Risa.
" Begini Bu, Sugeng sudah menelantarkan anak istrinya,kalau menurut saya di telantarkan namanya karena tidak di nafkahi olehnya,dengan alasan uang gajihnya tidak di beri oleh pihak kantor yang di katakannya pada istrinya,ya..seperti yang ibu dengar kemaren saat Sugeng nelpon secara sembunyi sembunyi itu," ucap mbak Tia.
" Kalau tidak di beri nafkah,mereka makan apa? Kenapa istrinya percaya aja pada suaminya yang seperti itu." Ucapnya lagi.
"Kata sumber yang terpercaya,dia masih menjanjikan pada istrinya tersebut dan dia masih sering menghubungi keluarganya dan sekarang untuk membiayai kebutuhan hidup mereka istrinya bekerja serabutan walaupun sampai di marah marahi oleh bos tempat dia bekerja karena banyak alasan,gimana nggak banyak alasan Bu,karena kerjanya sampai larut malam,kasian Bu, dan istrinya tampak pucat banget dan memang terlihat jelas capenya." Ujar.
"Gaji yang tiap bulan itu dia ke mana Kan? kalau dia tidak memberikan nafkah kepada keluarganya " pikir Clarissa.
"Jadi gimana Ibu ?masih kita tahan aja gaji bulan ini?" Tanya Mbak Tia.
" Lanjutkan aja dengan rencana kita semula,menahan gajinya,jadi saya mau tau apa reaksinya karena tidak menerima gajih bulan ini,karena dia sudah membawa bawa nama kantor untuk menyensarakan istri dan anak anaknya, padahal kantor ini yang sudah memberikan dia pekerjaan dan gajih yang cukup,dan tunggu kabarnya sampai pak Abiyasa masuk kantor kembali," ucap Clarissa.
"Baiklah ibu saya akan menahan gaji dia bulan ini "ucap Mbak Tia.
"Ya udah kalau kayak gitu Ibu, saya permisi dulu ucapnya kepada Clarissa.
Clarissa hanya menganggukkan kepalanya sambil memandang kepergian mbak Tia yang keluar dari ruangannya tersebut.
Wibawa group memang mengutamakan gajih yang cukup bagi para karyawan yang sudah punya keluarga,agar keluarga karyawan tersebut tidak merasakan kekurangan selama satu bulan lamanya sampai gajih selanjutnya di dapat lagi.
Clarissa menarik napasnya dengan berat dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa yang ada di ruangannya.
" Masih ada laki-laki seperti itu membohongi istrinya dan empat anaknya, lagipula Kenapa juga istrinya mau percaya sama suami seperti itu,nanti sepulang kantor aku akan menemui Abiyasa sebelum hari pernikahannya, Biyas harus tahu ini semua" ucapnya Kemudian berdiri dan menuju ke meja kerjanya kemudian dia membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaan dia yang menumpuk hari ini.
*****
Di kantor polisi,...
Arvin duduk manis di kantin kantornya,seraya menikmati minuman dingin,karena cuaca yang sangat panas mengharus kan dia menikmati minuman dingin, bagi Arvin minuman dingin yang di nikmatinya tersebut membuat tenggorokannya adem karena hawa panas tersebut.
" Cantik! Saat kamu marah kamu sangat cantik" ucapnya pelan.
Arvin tidak mengetahui kalau Morgan ada di belakangnya,tapi morgan nggak memperhatikan kalau Arvin lagi mengagumi fhoto Nadine cewek yang ditaksir oleh Arvin.
" Masa sih cantik" celetuk Morgan.
Arvin kaget dan langsung menoleh kearah belakang.
" Ya Allah ya Robby..." Ucapnya seraya memegang dadanya karena kaget.
" Kalau nongol tuh bilang! Jangan kaya pocong aja" ucapnya tersenyum langsung mengembalikan layar ponselnya ke menu utama.
" Kamu nya aja yang nggak sadar kalau aku sudah sedari tadi ada di sini, habisnya kamu lagi asyik mandangi cewek sih,Aku rasa nggak cantik kok,dia tuh dah tua kali,buka matamu lebar lebar,liat...resapi...dan rasakan...kalau dia itu sudah tua" ucap Morgan.
" Cantik kok,nggak tua,matamu tuh yang harus di buka" ucap Arvin seraya menyenggol lengan Morgan.
" Nih sudah aku buka, noh!..noh!.. sudah kan" ucapnya sambil membelalak kan matanya dengan melebarkan matanya dengan kedua tangannya.
" Tetap aja nggak cantik,tua dia tuh" ucap Morgan lagi.
Arvin heran ...
"Siapa yang di maksudnya tua, padahalkan aku lagi liat fhoto Nadine bukan siapa siapa yang aku lihat" gumamnya seraya menatap Morgan penuh selidik.
" Parah kamu Vin,kamu tuh muda ganteng kenapa kamu jatuh cinta dengan yang lebih tua?kaya gimana nasib Nadine ya kalau kamu sukanya dengan yang lebih tua" ucapnya seraya berpikir tapi tangan nya mengambil minuman dingin kepunyaan Arvin dan meneguknya.
" Emang siapa yang kamu maksud hah?" ucapnya seraya tersenyum.
" Bude Nana,tuh !" Ucap nya seraya memonyongkan mulutnya kearah Bude Nana pemilik kantin.
Bude Nana menoleh kearah mereka berdua dan tersenyum seraya menunduk kan kepalanya.
"Ya sallam!..teman ku yang sholeh baik hati,murah rezeki pandai bersedekah,dan tidak sombong,bagus bener pikiranmu ya,cakep banget, aku di bilang naksir Bude Nana sih...ach..kelewatan kamu dasar organ tunggal!" Ucapnya seraya merangkul kepala Morgan dan menjepitnya di bawah keteknya dan memberikan jitakan ringan di kepala sahabatnya tersebut.
" Ampun Vin...ampun Vin...jangan di kasih kendor Vin" ucapnya bersuara di bawah jepitan Arvin.
" Emang!nggak akan ku kasih kendor" ucap nya tertawa seraya terus menjepit Morgan.
Morgan mengap mengap kaya ikan kehabisan air,setelah Arvin melepaskan jepitannya, puas dengan menjepit Morgan, Arvin tertawa lepas,dan bude Nana hanya tersenyum senyum saja melihat ulah keduanya.
Arvin menoleh kearah Morgan...
" Bener bener kamu ya kelewatan" ucap Arvin.
" Kalau kelewatan kan gampang, putar balik aja " ucapnya santai.
" Kamu kira aku metro mini yang nyari alamat kelewatan gitu!" Ucapnya tersenyum seraya berdiri dan mau meninggalkan kantin bude Nana.
" Mau kemana kamu Vin?" Tanyanya.
" Mau ke surga" ucapnya santai.
"Ikut Vin kesurga! " Teriaknya.
" Surganya nggak nerima kelles" ucap Arvin terkekeh.
"Trus minuman ini sudah di bayar belum?" Teriaknya.
" Kamu yang bayar nya,kan kamu yang habiskan" ucap Arvin tertawa.
" Apes banget sih aku" ucapnya seraya membayar minuman Arvin yang sebenarnya dia yang menghabisinya.
Setelah membayar minuman tersebut dia kemudian menyusul Arvin keruangannya.
bersambung...