THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 154



Setelah sholat subuh Nadine dan Dokter Roni seperti biasanya melaksanakan olahraga ringan dihalaman rumah mereka,dan Dokter Roni yang melakukan olahraga sendiri tidak menyadari kalau sang Adik tidak bersemangat, karena ada sesuatu yang dipikirkan olehnya,Nadine yang duduk dikursi yang sudah tersedia diteras rumahnya itu hanya terdiam dan tatapannya kosong jauh kedepan dimana mulai terlihat orang-orang yang hilir mudik melaksanak aktifitas mereka masing-masing dipagi hari.


Karena merasa sendiri akhirnya Dokter Roni menyadari kalau sang Adik tidak berada disampingnya.


Diapun menoleh kearah belakang di mana Nadine sedang duduk termenung.


" Ada apa dengan Nadine kenapa dia berubah dalam waktu satu malam, padahal kan tadi malam dia terlihat sangat bahagia setelah mendapatkan lamaran dari kekasih hatinya, tapi kenapa tiba-tiba pagi ini dia begitu sedih dan sepertinya banyak sekali beban yang ada di dalam pikirannya itu." gumam Dokter Roni menarik nafasnya dengan pelan dan Dia lalu melangkah mendekati sang adik Dia duduk disamping Adiknya yang hanya dibatasi dengan sebuah meja kecil yang memang khusus untuk di teras depan itu.


Dia terus menatap sang Adik, tapi Nadine tidak ada reaksi sama sekali walaupun kakaknya sudah berada di sampingnya.


" Nadine " Panggil Dokter Roni, Nadine tidak menggubris panggilannya sama sekali.


" Ada apa dengan Nadine? Kenapa jadi seperti ini?" batinnya.


" Nadine " panggilnya sekali lagi tapi tetap Nadine tidak menggubris panggilan sang kakak.


" Hey... hello... Nadine." Panggil Dokter Roni seraya menggoyang-goyangkan tangannya ke depan wajah Nadine.


Nadine tersentak dia memejamkan matanya sesaat, kemudian dia menoleh ke arah kakaknya.


" Ya Kak,Kakak memanggil Nadine.?" tanyanya langsung menoleh sesaat kearah Dokter Roni.


" Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu melamun dari tadi? Kakak panggil-panggil sampai beberapa kali kamu tidak menggubris panggilan Kakak, cerita sama Kakak ada apa? kalau kamu masih ada masalah langsung cerita sama kakak, biar kakak bisa menyelesaikan masalah kamu, kalau kamu tidak cerita sama kakak, kakak tidak tahu dan kakak hanya bisa menerka-nerka aja ada apa di dalam otakmu itu." ucap Dokter Roni panjang lebar pada Adiknya tersebut.


Nadine lagi-lagi hanya menoleh sesaat ke arah kakaknya tersebut,kemudian dia menatap lagi jauh kedepan.


" Apakah kamu memikirkan soal pernikahan kamu yang ditunda itu.?"


Nadine hanya menggeleng.


" Terus ada apa?kalau tentang pernikahan, Kamu harus sabar. Kamu kan tahu Om Andre mau mengadakan acara pernikahan juga jadi setelah itu pasti acara kamu akan dilaksanakan, kamu yakin aja sama Arvin. Arvin tidak akan kemana-mana Dia akan menjadi suamimu yang terbaik." ucap Dokter Roni seraya masih menatap sang Adik.


" Bukan itu yang Nadine pikirkan Kak." ucapnya tetap fokus menatap kearah jalan,tidak menoleh ke Dokter Roni sama sekali.


" Jadi apalagi yang kamu pikirkan,pagi-pagi kamu ngelamun seperti itu hati-hati lho ntar kesambet." ucapnya terkekeh, tapi Nadine hanya tersenyum saja.


" Katakan Nadine ada apa kalau kamu diam seperti ini, mana kakak tahu kalau kamu punya masalah atau punya pikiran yang sangat berat,berbagilah sama kakak selama ini kan kamu selalu terbuka sama Kakak,jangan setelah kamu mau menikah lalu kamu mau tertutup diri dan tidak mau berbicara apapun lagi dengan kakak."


Nadine menarik napasnya dengan berat, Dia hanya bisa menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki sekarang.


" Nadine ingin mencari Lia." ucapnya masih dengan tatapan jauh kedepan.


Dokter Roni terperanjat dia tidak menyangka Nadine akan berbicara seperti itu, Nadine kemudian menoleh kearah Dokter Roni, tapi karena dokter Roni pintar menyimpan rasa terkejutnya saat Nadine mengucapkan ingin mencari Lia.


" Mencari Lia? memang kamu mau apa Kalau kamu menemukan Lia? kamu kan sudah tahu dan kamu sudah mendengar keterangan dari Arvin kalau Lia seperti itu bukan karena gara-gara Arvin, dan biang keroknya juga sudah ditemukan, buat apa lagi kamu mencari Lia.kamu kan sama Lia tidak ada hubungan apa-apa, jadi biarkan saja Lia hidup diluar sana dengan kehidupannya sendiri dan Kamu hidup di sini dengan masa depanmu yang telah ada di depan mata,buat apalagi kamu mau mencari keberadaan Lia." ucap Dokter Roni panjang lebar karena dia tidak ingin menceritakan kalau Lia adalah saudara kembarnya Nadine, karena waktunya belum tepat. Dia memang ingin mengatakan kepada Nadine tapi tidak saat ini, tapi sayang Dokter Roni tidak mengira kalau sebenarnya Nadine sudah mengetahui kalau Dia adalah saudara kembarnya Lia, karena Nadine sudah mendengar pembicaraan antara Dokter Roni dan Tante Raisa mamahnya.


" Udahlah Kak, Kakak nggak usah berbohong dengan Nadine."


" Maksud kamu apa dek? Kakak berbohong soal apa? Kakak kan sudah cerita semua kepada kamu, Kamu juga mendengarkan kalau Arvin tidak bersalah, jadi apalagi yang kamu pikirkan."


" Bukan masalah Mas Arvin Kak."


" Jadi masalah apa?selama ini kakak rasa, kakak tidak berbohong denganmu dek"


" Nadine sudah mendengar semuanya Kak,saat Kaka dan Mama berbicara tadi malam."


Lagi-lagi Dokter Roni terkejut, Dia tidak bisa berbicara apa-apa lagi seakan-akan dia sudah di skakmat oleh Nadine dengan Nadine bicara seperti itu kepadanya.


Nadine menoleh ke arah dokter Roni.


" Kenapa kak? Kenapa Kakak terlihat gelisah?"


" Enggak kok, Kakak tidak terlihat gelisah,Kakak santai aja mendengar kamu berbicara seperti itu, Kenapa saat itu kamu mendengar pembicaraan kakak dan Mama kenapa kamu nggak langsung masuk aja ke kamar Mama."


" Nadine sangat terkejut tadi malam setelah Mama bicara kalau Papa sudah tiada,pupus sudah harapan Nadine Kak, Nadine berharap Nadine bisa bertemu dengan Papa dan Nadine juga berharap saat pernikahan Nadine Papa akan hadir di pernikahan Nadine, Kakak kan tahu Nadine dari kecil sudah tidak pernah melihat Papa yang hanya bisa Nadine lihat cuma melalui sebuah foto saja, Nadine rindu dengan Papa Kak, harapan Nadine untuk bertemu dengan Papa sudah tidak ada lagi,Papa sudah tenang di sisinya Kak." ucap Nadine seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan air matanya pun mengalir seiring kedua tangannya menempel di wajahnya tersebut.


Dokter Roni merasa iba dengan Adiknya tersebut,dan Dia langsung berdiri Dia membuka perlahan tangan Adiknya yang menutupi wajahnya itu, Dia kemudian menghapus air mata sang Adik.


" Nadine sayang,jangan menangis dek,kamu masih ada kakak dan Mama, seharusnya kamu bangga dengan Mama, karena selama berpisah dengan Papa, Mama tidak menikah lagi,karena Mama memprioritaskan kita berdua, sampai saat ini. Kita berhasil menuju ke gerbang kesuksesan kita dan saat ini Mama juga berhasil ingin mengantarkan kita ke jenjang pernikahan in sya Allah itu akan terlaksana dek." ucap dokter Roni Seraya menatap sang Adik dengan menempelkan kedua tangannya di pipi kiri kanan Adiknya itu, air mata Nadine terus mengalir dia membiarkan air mata itu jatuh seiring dengan beban berat yang dia dengar saat Mamanya bercerita dengan Dokter Roni Kakaknya tersebut.


" Sekarang kakak nanya dengan Nadine,kalau Nadine sudah tahu tentang Lia Apakah Nadine benci Lia? dan membenci Mama? serta membenci papa?"


" Nadine Tidak membenci semuanya Kak, Nadine malah bersyukur sudah tahu kalau dia itu adalah saudara kembar Nadine, Nadine bangga dengan Mama dan Nadine juga merasa bangga terlahir dan menjadi anak mereka berdua. walaupun sebenarnya Papa tidak pernah Nadine lihat." ucapnya di sela-sela tangisnya.


" Nadine dengerin kakak, kamu dengan Lia itu sama sama-sama tidak bisa melihat secara langsung kedua orang tua kandung kita, kamu tidak bisa melihat Papa secara langsung dan Lia juga tidak bisa melihat Mama secara langsung, kamu melihat Papa melalui foto belum tentu Lia bisa melihat Mama melalui foto,Kamu mengetahui kalau itu adalah Papa kita tapi Lia belum tentu melihat kalau itu adalah Mamahnya."


" Nadine, Mama sudah berusaha menjadi seorang Papa untuk kita berdua dan berusaha juga menjadi seorang Mama untuk kita berdua agar kita berdua tidak kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua, walaupun itu tidak sempurna kamu seharusnya bangga dengan Mama,karena Mama selama tidak ada papah dia berjuang untuk kita berdua."


" Nadine tahu Kak, apa salahnya Nadine merindukan seorang Papa."


" Iya kamu tidak salah, bukan kamu saja yang merindukan Papa,tapi Kakak juga merindukan Papa dek, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, Ini semua adalah takdir dari yang mahakuasa, Nadine bisa menerimanya kan " ucap Dokter Roni lagi.


Nadine hanya menganggukkan kepalanya.


" Kalau kamu tidak benci dengan Papa ataupun Mama serta Lia kamu harus menerimanya dengan ikhlas tentang penjelasan dari Mama, kenapa Mama sampai saat ini menutupi semua tentang masalah ini dari kita berdua, karena Mama menjaga hati kita berdua agar tidak tersakiti di saat kita tumbuh dewasa sampai saat ini,mungkin Mama bercerita saat ini sudah waktunya sangat tepat untuk kita berdua mengetahui tentang peristiwa yang pernah Mama alami saat dulu."


Nadine lagi-lagi mengangguk.


" Iya Kak,maafkan Nadine."


" Kamu tidak salah dek, kamu wajar terbuat seperti ini, kamu wajar untuk menangis, karena kamu sudah mengalaminya sendiri, yang kakak pinta kamu jangan sampai membenci Papa ataupun Mama."


" Nadine tidak akan pernah membenci mereka,Nadine merasa bangga dengan mereka dan Nadine juga merasa bahagia menjadi Anak mereka berdua." ucap Nadine.


Tante Raisa yang mendengar percakapan kedua Kakak Adik tersebut dari balik pintu merasa sedih, tidak terasa air matanya pun mengalir, dia bergegas keluar dan langsung menghambur memeluk Nadine. Nadine dan Dokter Roni terkejut karena Mamanya tiba-tiba langsung memeluk Nadine.


" Maafkan Mama Nadine, Mama tidak bermaksud ingin memisahkan kamu dengan Papa kamu, dan Mama juga tidak bermaksud untuk menutupi kalau Papa kamu sudah tiada, Tapi saat itu Mama belum sanggup untuk mengatakannya kepada kalian berdua, mungkin karena ini adalah jalan dari yang kuasa agar mama bisa mengatakan semuanya dan mendapatkan kekuatan untuk mengatakan kepada kalian tentang kejujuran yang selama ini Mamah simpan, maafkan Mama.


Nadine hanya mengangguk dan mempererat pelukannya dengan Mamanya itu.


" Mama tidak salah, Mama berbuat seperti itu karena Mama ingin menjaga agar Nadine dan Kak Roni tetap bahagia, dan Nadine juga tidak merasa kehilangan kasih sayang Papa, Karena kasih sayang itu ada di Mama dan Kak Roni,walaupun itu tidak sempurna yang Nadine rasakan.Tapi maafkan Nadine karena mengeluh ingin mendapatkan kasih sayang papah." ucapnya.


Tante Raisa kemudian melepaskan pelukan Anaknya tersebut dan menghapus air mata Anaknya itu,begitu pula dengan Nadine mereka berdua sama-sama tersenyum begitu pula dengan Dokter Roni yang telah menyaksikan kedua wanita yang sangat dia sayangi sedang menumpahkan kesedihan mereka berdua, tapi akhirnya mereka sama-sama merasakan kebahagiaan walaupun didasari dengan tangis yang mereka keluarkan Dokter Roni lagi-lagi tersenyum bahagia,kemudian dia mengajak kedua wanita yang sangat disayanginya itu masuk kedalam dan menyantap sarapan pagi mereka.


*****


Di kediaman keluarga Wibawa seperti biasanya pagi-pagi Mereka sarapan pagi setelah sarapan pagi selesi,Mereka pun beraktifitas kembali seperti biasanya.


Saat Abiyasa mau berangkat ke kantor setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya dia kemudian berpamitan dengan sang istri,seperti kebiasaan hari-harinya Dia mencium kening dan pucuk kepala sang Istri,begitu pula dengan Ayesha meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya tersebut.


Abiyasa tersenyum kepada istrinya kemudian tangannya mengelus lembut perut sang istri,dimana benih-benih cintanya sudah bersemayam di rahim sang istri,kemudian Dia melangkah menuju ke ke arah mobilnya saat dia mau memasuki mobilnya gawainya pun berbunyi, Dia mengambil gawainya tersebut yang berada di saku celananya itu.


Dia lalu menatap layar gawainya ternyata panggilan dari dokter Roni.


" Kak Roni? Gumamnya kemudian dia langsung menjawab panggilan tersebut.


" Assalamualaikum Kak"


" Waalaikumsalam, Maaf Abiyasa Kakak mengganggu kamu,karena ada yang ingin Kakak bicarakan dengan kamu."


" Soal apa Kak?"


" Kakak boleh bertemu denganmu?"


" Boleh Kak "


" Nanti Kakak mampir ke kantor kamu ya."


" Oh iya Kak silakan, karena saat ini juga Aku mau berangkat ke kantor." ucap Abiyasa.


" Ya udah kalau seperti itu silakan kamu berangkat, Kakak juga mau menuju ke sana sekarang." ucapnya.


Kemudian panggilan dari Gawai tersebut pun terputus, setelah mereka sama-sama saling mengucapkan salam.


Abiyasa langsung menoleh kearah istrinya Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Ayesha,Istrinyapun tersenyum manis pada suaminya, Dia langsung masuk ke dalam mobilnya, setelah melihat senyuman manis sang istri.


Mobil yang dikemudikan oleh Abiyasa pun melaju menuju ke arah kantornya dalam pikirannya dia bertanya-tanya.


" Ada apa Kak Roni menghubungiku pagi-pagi sekali,ada berita apa ya." ujarnya berbicara sendiri seraya fokus menyetir menuju ke arah kantor pribadinya tersebut.


Sedangkan Papa Andre berpamitan kepada istrinya, Dia ingin mengunjungi kantor yang dipimpin oleh Papa Bobby karena Papah Boby juga memanggilnya kesana.


Mama Anisha pun hanya menganggukkan kepalanya dan Dia pun mengantarkan suaminya keluar sampai mobil yang dikendarai oleh suaminya menghilang dari pandangan Mama Anisha.


Papa Andre melajukan mobilnya menuju kerumah Abi Yosep karena saat Papa Boby menghubunginya tersebut Dia menyuruh agar Papa Andre membawa Abi Yosep menuju ke kantornya.


" Ada apaan Boby menghubungiku agar kami berkumpul di ruangannya tersebut." ucap Papa Andre sembari melajukan kendaraan pribadinya tersebut di jalan beraspal yang mulus tanpa hambatan menuju ke rumah Abi Yosep.