THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
Bab 16



Umi Vita mempersilahkan mereka masuk.


" Masuk bang...." Ucapnya.


Mereka bertiga berjalan masuk kedalam, mengikuti langkah umi Vita.


" Silahkan duduk bang" ucapnya lagi setengah kaku karena sudah beberapa tahun tidak bertemu.


" Wah, empuk banget ya kursinya, lama banget aku tidak duduk di kursi seempuk ini" ucap papah Boby.


Umi Vita tersenyum getir, Vita tahu papah Boby berusaha mencairkan suasana.


Umi Vita duduk di depan mereka.


" Kursi itu masih sama bang kaya dulu, nggak pernah berganti" ucap Vita tersenyum.


" Memang kursi itu masih sama seperti dulu, tapi kalian yang berbeda, tidak sama seperti dulu lagi" ucap Boby langsung berkata seperti itu kepada Vita.


" Apa maksud Abang?" Ucap Vita seraya menatap papah Boby dengan lekat.


" Yah, benar Vit, benar banget dengan apa yang di kata kan sama Boby, kalian sudah berubah dan begitu mudah melupakan kami" ucap Ayah Candra lagi.


" Ada apa sebenarnya Vit? Kenapa kalian bersembunyi dari kami? Kenapa kalian selama bertahun tahun tidak pernah memberikan kabar" sambung papah Andre.


" Seolah olah di telan bumi, sampai nomer ponselpun kalian berganti" ucap papah Boby.


" Aku sendiri yang bekerja dalam kesatuan yang sama dengan kalian tidak bisa melacak keberadaan kalian" sambung Ayah Candra.


" Sampai kalian susah seperti ini,derita melanda dan berbagai masalah kalian hadapi sendiri tanpa kami, ada apa sebenarnya" ucap Papah Andre.


" Tolong jelaskan " ucap ketiganya bersamaan.


" Apa yang sebenarnya terjadi" sambung papah Boby.


" Apa sebenarnya" ucap Ayah candra.


" Jangan ada yang di sembunyikan pada kami" lanjut papah Andre.


Umi Vita tidak bisa lagi berkata kata karena dia bingung harus dari mana menjelaskan apa yang terjadi karena dia di berondong banyak pertanyaan dari ketiga lelaki yang ada di hadapannya tersebut.


Umi Vita hanya bisa mengeluarkan air mata yang berhasil mengalir di kedua pipinya.


Mereka bertiga langsung terkejut.


Karena melihat umi Vita menangis.


" Vita, kenapa kamu menagis, abang hanya bertanya saja, bukan menghakimi mu" ucap ayah Candra.


" Iya vit, kami hanya ingin tahu aja, apa yang terjadi" sambung papah Andre.


" Abang semua tidak salah, ini murni kesalahan Vita dan keluarga, tidak seharusnya Vita bersembunyi seperti ini, dan tidak seharusnya juga Vita lari dari kalian semua, tapi ini adalah permintaan bang Yosep agar tidak memberitahukan semua yang menimpa dirinya" ucap Umi Vita sesugukan menangis.


" Apa yang sebenarnya terjadi Vit dengan Yosep?" Tanya ayah Candra.


"Dimana dia sekarang?" Tanya papah Andre.


" Bawa kami menemuinya Vit" sambung papah Boby.


Vita berdiri dan mengajak mereka bertiga kekamar mereka, di mana abi Yosep terbaring istirahat.


Mereka bertiga mengikuti langkah Umi Vita menuju kearah dalam kamar umi Vita dan Abi Yosep.


Umi Vita perlahan membuka pintu kamarnya dan betapa terkejutnya ketiga sahabat itu melihat sang sahabat yang terbaring dengan mata terpejam karena sedang tidur, dan terlihat sekali badan Abi Yosep sangat kurus.


Papah Boby mendekati Abi Yosep dia duduk di bibir ranjangnya dan mengelus rambut sang sahabat.


Air mata papah Boby mengalir karena melihat sang sahabat yang sangat kurus sekali.


Papah Andre dan Ayah Candra mendekat perlahan kearah tempat tidur tersebut.


Mereka berdua tak kuasa melihat sang sahabat yang sudah sangat kurus sekali, air mata keduanya pun lolos sempurna dari kedua matanya.


" Ya Allah, apa yang terjadi pada mu Yos" ucap ayah Candra duduk di bibir ranjang dekat kaki abi Yosep.


Papah Andre langsung bersimpuh di lantai ubin keramik dan menunduk kan lepalanya dekat tangan sang sahabat.


Umi Vita membiarkan ketiga sahabatnya larut dalam kesedihan yang teramat dalam.


Vita duduk di lantai ubin keramik di samping papah Andre.


" Apa yang terjadi Vit? Sehingga Yosep seperti ini?" Tanya Papah Andre.


Abi Yosep yang dulu, gagah dengan poster tubuh yang sangat kuat dan atletis, tapi sekarang berubah drastis dan sangat kurus sekali.


" Waktu itu bang Yosep tugas di pelosok bang, saat pulang dinas bang Yosep pulang kerumah,dia disana hanya tinggal sendiri, sedangkan Vita masih di Kalimantan masih mengurus kepindahan ikut suami,dan surat pindah belum keluar dan saat mengendarai mobil dinas kantor menuju kearah rumah, pas saat itu hari hujan sangat lebat" ucap Vita tertahan karena terisak menangis, kejadian beberapa tahun yang lalu yang menimpa suaminya itu.


Papah Andre menenangkan umi Vita dengan mengusap pundak umi Vita yang sedang menangis, karena melihat kondisi suami tercintanya yang tak berdaya.


Umi Vita menarik nafasnya dengan berat dan melanjutkan ceritanya.


"Saat itu jalan menuju kearah rumah lumayan licin dan terjal, bang Yosep nekat mengendarai mobil tersebut, saat berlawanan arah ada sebuah truk yang tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya karena jalanan sangat licin dan tanpa bisa di elak kan lagi mobil bang Yosep jatuh kejurang dan kaki bang Yosep serta tangan kanannya mengalami patah tulang, dan Vita juga tidak tau kaki nya tidak bisa di gerak lagi setelah sadar dari komanya, saat itu dokter sudah bilang kalau bang Yosep sudah tidak bisa tertolong karena sudah mengalami koma selama satu tahun lamanya, Alhamdulillah karena doa kuat dari keluarga dan anak istrinya Allah memberikan mukjizat nya, dan bang Yosep sadar dari komanya, dokter pun bingung, padahal berulang kali dokter sudah bilang tidak ada harapan lagi karena tubuh bang Yosep sudah menolak obat obatan yang masuk kedalam tubuhnya, saat dia tau dia tidak bisa berjalan dia stres berat dan tidak bisa menerima kenyataan, sampai akhirnya pensiun dini belum pada waktunya dan kadang dia bicara hanya seperlunya saja dan kadang juga dia tidak mau bicara, sampai akhirnya dia meminta pada Vita agar tidak menghubungi kalian semua." Ucap umi Vita dengan deraian air mata.


Ketiga sahabat itu terdiam setelah mendengar cerita Umi Vita barusan.


" Ya Allah, kenapa Yosep menanggung derita sakit sendirian, kenapa dia tidak mau kita semua tahu kalau dia mengalami musibah yang hampir saja merenggut nyawanya"ucap papah Andre seraya mengusap wajahnya dengan kasar.