
Dikediaman keluarga Wibawa...
" Gimana Mah sekarang persiapan pernikahan Anindita?" Tanya Abiyasa.
Mamah Anisha tersenyum pada Anak laki-lakinya.
" Alhamdulillah Nak sudah rampung semuanya tinggal nunggu hari heppynya aja."
" Alhamdulillah kalau kaya gitu Biyas senang benget." Ucapnya tersenyum bahagia.
Mamah Anisha hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis mengembang diwajah cantiknya.
" Mudah-mudahan aja Kak Nayra baik-baik saja ya Mah,dan suaminya segera menyadari semuanya."
" Iya Nak itulah yang Mamah harapkan,sebelum semuanya terlambat." Ucap Mamah Anisha seraya menarik nafasnya dengan pelan dan melepaskanya dengan berat.
" Kenapa sih Mah, papah nggak membiarkan suaminya Kak Nayra menjalankan salah satu perusahaan papah?" Tanya Abiyasa seraya menatap sang Mamah.
" Sebenarnya Suaminya itu sudah dipinta oleh papahmu untuk menjalankan salah satu perusahaan anak cabang yang dikelola oleh papahmu,tapi Dia menolak dengan alasan ingin membahagiakan Nayra dengan jerih payah kerjaannya sendiri, walaupun Dia saat itu hanya sebagai karyawan biasa yang gajinya cukup untuk makan 1 bulan saja, dengan keputusan Dia yang menolak itu, Papahmu tidak memaksakan kehendaknya untuk menyuruh Dia menjalankan perusahaan tersebut, padahal saat itu Nayra juga menyetujui Apa perkataan Papahmu agar suaminya mau menerima saran dari Papahmu, ya Papamu tidak bisa berbuat banyak karena suaminya sendiri aja tidak mau bergantung sama papamu, begitu pula dengan Nayra Dia tidak bisa membujuk suaminya saat itu,Papahmu tidak mau memaksakan kemauannya pada Nayra kakak sepupu kamu itu, walaupun sebenarnya Nayra itu berhak akan perusahaan tapi karena Nayra memang diajarkan oleh kedua orang tuanya hidup sangat sederhana dan tidak mengandalkan suatu kekayaan dari orang tuanya ataupun dari keluarga masing-masing,ataupun dari Mama dan Papanya." terang Mama Anisha pada Abiyasa.
Abiyasa hanya menganggukkan kepalanya sembari membenarkan duduk.
" Sebenarnya siapa sih Mah nama suaminya Kak Nayra itu?karena selama ini Biyas kan memang tidak terlalu mengenal suaminya, Bias pernah sih dengar tapi Biyas sedikit lupa maklum saat pernikahan Kak Nayra Biyas kan masih ada di luar negeri dan tidak bisa pulang ke Indonesia dikarenakan dalam keadaan ujian saat itu."
Mama Anisha hanya tersenyum dan kembali menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat Dia menatap kearah anak laki-lakinya tersebut.
" Nama suaminya Kak Nayra kamu itu Aditama."
" Aditama?" ucap Abiyasa sepertinya mengingat sebuah nama yang pernah didengarnya.
" Memang ada apa Nak? Apakah kamu kenal atau siapa tahu dia adalah teman sekolah kamu dulu?"
" Oh, tidak Mah, Biyas baru ingat Mah,kalau namanya itu Adi,tapi nggak tahu kepanjangannya siapa."
" Oh kirain tadi kamu tahu, tapi terlihat saat Mama bilang namanya Aditama Kamu terlihat terkejut, makanya Mama mengira kalau kamu itu kenal dengan Dia."
" Nggak Mah, Biyas nggak kenal, dan bertemu juga nggak pernah kok sama suaminya." ucapnya lagi Kemudian mereka pun terdiam dan mata mereka menatap ke arah layar televisi yang masih menyala Mama Anisha tersenyum melihat cerita yang ada di dalam televisi tersebut.
Sedangkan Abiyasa pikirannya menerawang jauh Dia mengingat-ingat nama Aditama tersebut.
" Sepertinya Aku pernah mendengar nama Aditama itu, tapi di mana?" Batinnya.
Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi dan beralih menatap ke langit-langit ruang tamunya tersebut sembari menarik nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat, terdengar jelas sekali nafas tersebut, sampai-sampai Mama Anisha pun menatap sesaat kearah sang anak.
" Ada apa Biy? kamu seperti menyimpan sesuatu?"
" Tidak ada Mah, Biyas tidak menyimpan apa-apa kok dari Mama, kalo ada pun pasti Abiyasa akan bercerita kepada Mama."
" Nak,jelas sekali lho dari helaan nafas Kamu, sepertinya kamu memikirkan sesuatu, ada apa nak? bilang aja sama Mama, kamu kan anaknya selalu terbuka dari kecil sampai sekarang sama Mama,jangan ada yang disembunyikan sayang." Ucap Mamah Anisha seraya menatap kearah wajah sang Anak.
" Iya Mah, tidak ada apa-apa, Bias memang seperti ini Mah, tidak ada yang Bias sembunyikan dari Mama, percaya deh." ucapnya tersenyum.
" Iya nak Mama percaya." ucap Mama Anisha lagi, padahal di dalam hatinya dia tidak merasa yakin dengan ucapan Abiyasa.
Pasti ada yang disembunyikan oleh anaknya tersebut, Tapi karena Mama Anisha memang orangnya bijaksana dan memahami apa yang terjadi dengan anaknya,Diapun akhirnya kembali menatap ke layar kaca yang masih mempertontonkan cerita komedi itu,sesekali terdengar tawa pelan dari Mama Anisha, tapi tidak dengan Abiyasa, dia masih larut dengan pikirannya sendiri.
" Astaghfirullahaladzim!! Aku baru ingat,kalau bapak itu kan pernah mengatakan bahwa perusahaannya dipimpin oleh menantunya Aditama, Tapi apakah Aditama itu yang dimaksud oleh Mama? Aditama suaminya Kak Nayra? Apakah Aditama menantunya bapak itu?kalau memang benar Aditama yang dimaksud Mamah itu adalah Aditama menantunya bapak tersebut,tapi mertuanya Aditama kerja di kota ini, memimpin perusahaan keluarga Wibawa yang ada di sini bukan di kota dimana kak Nayra berada, tapi kenapa dia mengatakan menantunya adalah yang bernama Aditama? mungkin namanya aja yang sama kali ya? tapi orangnya tidak sama, mudah-mudahan aja prasangka Aku ini tidak benar." ucapnya kemudian dia pun mengusap wajahnya dengan kasar dan masih terdengar helaan nafasnya yang sangat berat.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara gawainya yang berada di dalam saku celananya tersebut.
" Astaghfirullahaladzim." ucapnya dengan nada terkejut seraya mengangkat kakinya keatas.
Mama Anisha pun langsung menoleh ke arah Abiyasa.
" Ada apa Nak ?"
" Nggak Mah, Bias kaget aja mendengar nada dering dari gawai Biyas." Ucapnya tersenyum.
" Ya udah diangkat aja siapa tahu penting."
Abiyasa pun kemudian mengambil gawainya di dalam saku celananya tersebut kemudian Dia menatap layar gawainya tersebut,terlihat si pemanggil bernama Pak Tommy.
" Sebentar ya Mah, Abi mau mengangkat panggilan dari klien dulu."
" Oh ya Nak silakan " Mama Anisha kemudian mengecilkan suara televisi tersebut.
" Abi mau menerima di luar sebentar Mah.." ujarnya seraya berdiri Mama Anisha hanya menganggukkan kepalanya dan kembali fokus menatap ke layar televisi lagi.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam pak Abiyasa, sekarang Bapak berada di mana? Apakah Bapak berada di kantor? kalau memang Bapak berada di kantor saya mau bertemu dengan Bapak sekarang."
" Saya berada di rumah karena hari ini saya tidak ngantor pak, rencananya besok saya mau masuk kantor, Ada apa ya Pak?"
" Kebetulan saya berada di kota Bapak ini, saya ingin bertemu dengan Bapak dan ada yang ingin saya bicarakan tentang tawaran saya kemarin kepada bapak, bagaimana Pak? Apakah bapak mau dengan tawaran saya tersebut ?"
" Baiklah Pak sekarang Bapak ada di mana? Saya mau ketemu sama bapak biar saya yang menghampiri Bapak dan kita akan membicarakan tentang tawaran yang Bapak berikan kepada saya dengan senang hati saya akan menerima tawaran tersebut."
" Benarkah? Bapak mau menerima tawaran saya itu?"
" Iya pak, dengan senang hati pak "
" Alhamdulillah saya sangat bersyukur karena Bapak mau menerimanya, saya juga senang bisa memberikan tawaran ini kepada pimpinan Wibawa grup secara langsung seperti ini."
" Hehehe bapak bisa aja, ya sudah Pak, Bapak bisa kirimkan alamatnya Nanti saya akan datang membawa berkas-berkas yang sudah dipersiapkan dan yang berada sama bapak juga."
" Terima kasih banyak ya pak, nanti saya akan kirim alamatnya segera, Oh ya Pak saya tunggu ya pak."
" Baiklah Pak Tommy."
" Terima kasih atas waktunya pak Abiyasa."
" Iya pak sama-sama."
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam " Jawab Abiyasa.
Abiyasa pun kemudian menatap ke layar gawainya, mudah-mudahan keputusanku ini tidak salah." ucapnya pelan seraya menghela napasnya dengan pelan.
Kemudian dia pun langsung memasukkan kembali gawainya ke saku celananya dan melangkah kembali menuju ke arah ruang tv di mana sang Mama masih menunggunya di ruangan tersebut.
" Sudah nelponnya Nak?"
" Iya Mah sudah "
" Apakah kamu mau bertemu client?"
" Rencananya sih Mah, tapi nanti menunggu Dia mengirimkan lokasi di mana kami bisa bertemu."
" Oh ya Mah, Abi mau tanya di mana suaminya kak Nayra itu bekerja?"
" Kalau kerjanya sih Mama kurang tahu,dia itu di bidang apa tapi kalau nama perusahaannya kalau nggak salah Yash Group."
" Apa Mah? Yash group?"
" Iya, memang ada apa Nak? Apakah kamu mengetahui perusahaan yang dipimpin oleh Aditama suaminya Kak Nayra kamu.?"
Abiyasa hanya terdiam, Dia kemudian membenarkan tatanan duduknya.
" Ada apa Bias,Apakah kamu mengetahui perusahaan itu ?"
" Oh nggak Mah, cuman bertanya aja, kemarin ada pihak dari perusahaan Itu kalau tidak salah mau meminta kerjasama dengan perusahaan Wibawa group, tapi Biyas masih pikir-pikir dan belum ditandatangani sampai saat ini."
" Oh kirain ada apa." ucapnya tersenyum kemudian kembali lagi menatap ke layar televisi.
Abiyasa menatap kearah Mamanya yang sedang menatap ke layar televisi dan terlihat tersenyum menyaksikan adegan komedi yang disiarkan oleh salah satu stasiun TV yang ada di hadapannya tersebut.
Abiyasa tidak bisa mengatakannya kepada Mamanya, karena ini adalah urusannya.
" Nanti Mama pasti akan Aku kasih tahu juga kalau semuanya sudah selesai." ucapnya kemudian Diapun sama-sama kembali menatap ke arah layar televisi.
Tidak berapa lama gawainya pun berbunyi menandakan satu chat pribadinya masuk.
Abiyasa pun langsung mengambil kembali gawainya yang ada di dalam saku celananya itu, dia melihat ternyata Pak Tomy sudah share lokasi dimana mereka harus bertemu, dan Abiyasa pun membalas chat pribadi tersebut kepada Pak Tomy, dia pun tersenyum misterius hanya Abiyasa yang tahu, saat dia menatap ke layar gawainya dengan senyuman misteriusnya tersebut mereka berdua yang ada di ruang tamu itu pun terkejut dengan suara Ayeshah ditemani Anindita.
" Sayang...." Panggil Ayesha.
Abiyasa menoleh kearah Istrinya itu.
" Iya sayang, ada apa?"
" Yesha mau izin ke pasar ya."
" Ke pasar?sama siapa?" Tanya Abiyasa.
" Sama Anindita "
" Sama Anindita?"
" Ya iyalah kak sama Dita,maunya sama siapa?mumpung Dita nggak masuk kantor,lagiankan hanya ada Dita disini " ucap Anindita sembari tersenyum.
" Mas temenin ya sayang " ucap Abiyasa tidak menghiraukan ucapan Anindita.
" Enggak usah Mas,kan ada Anindita yang nemenin."
" Iya Kak kan ada Dita nemenin Kak Yesha, Jadi Kakak nggak usah khawatir Dita akan jaga Kak Yesha kok kakak percaya deh kalau Kakak masih repot atau ada yang dibicarakan sama Mama lebih baik selesaikan dulu sama Mama daripada kami berdua nantinya mengganggu kamu lebih baik kan Dita nemenin kak Yesha ke pasar." ujarnya.
" Enggak bisa Dita."
" Kok enggak bisa? emang kenapa?" tanya Anindita merasa heran.
" Anindita Adikku yang tercantik dan yang terhebat kamu kan sebentar lagi mau nikah,orang yang mau nikah itu nggak boleh jalan-jalan keluar,harus tetap di rumah, kalau masih melanggar jalan-jalan keluar pamali." Ucap Abiyasa.
" Iih...apaan sih kak, kayak tahu aja."
" Iya kan Aku dulu aja nggak boleh keluar, tanya tuh sama Istriku, iyakan kan sayang." Ucap Abiyasa.
" Iya sih,memang enggak boleh keluar."
" Benar juga sih." Ucap Anindita
" Kamu kan sebentar lagi mau menikah,lebih baik kamu di rumah aja." Ucap Abiyasa.
" Kalau seperti itu lebih baik Ayesha aja pergi sendirian di temenin sama Pak sopir." Ucap Yesha lagi.
" Enggak bisa, Mas yang temanin kamu sayang."
" Tapi, Mas kan pasti capek dan benar kata Anindita, sapa tahu kan ada yang ingin dibicarakan bersama Mama belum selesai, lagi pula kan Mas dari pagi ke sana kemari ngurus ini itu dan mengantarkan Papa dan yang lainnya, pasti capek kan, lebih baik Mas istirahat aja sayang." Ucap Ayesha.
Abiyasa lalu berdiri dari duduknya sembari mendekati Ayesha.
" Semenjak kita resmi menikah dan sekarang kamu lagi hamil muda Mas takut kamu kenapa-napa lagi di luar sana, selama Mas menjadi suami kamu semua tanggung jawab atas kamu itu semua sudah menjadi tanggung jawab Mas, lagian gak baik untuk seorang muslimah keluar tanpa mahramnya, Mas tetap akan menemanimu, dan khusus buat kamu Anindita Kakak melarang kamu keluar rumah dan kamu tetap di rumah." Ucap Abiyasa.
" Sayang mas temenin ya,Mah Biyas keluar dulu ya, mau temani istri tercinta ke pasar " ucapnya tersenyum.
Mama Anisha hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sedangkan Anindita pun merubah wajahnya menjadi cemberut.
" Iih Kakak, apa-apaan sih, masa sih Dita dilarang keluar, jadi Dita ke rumah sakitnya gimana?"
" Ya nggak bisa, biar izin aja sama semuanya."
Kemudian Mamah Anisha berdiri.
" Iya Dita, kamu harus tetap berada di rumah sampai hari pernikahan nanti, benar kata kakak kamu, kalau kamu keluar rumah bisa tidak baik untuk kamu."
" Ya udah kalau gitu mah Yesha pergi dulu ya."
" Ya sayang, hati-hati ya, Biyas jaga menantu Mama baik-baik ya, jagan lupa jaga juga cucu Mama ya." Ucap Mamah Anisha sembari tersenyum.
" Siap Mah!" Ucap Abiyasa merangkul sang istri menuju ke arah luar.
Sebelumnya mereka pun berpamitan mengucap salam kepada sang Mamah dengan tatapan penuh bahagia dan senyuman terukir di wajah mama Anisha dia menjawab salam pada Anak dan menantunya itu,hanya sekelumit doa di dalam hatinya agar kedua anaknya dilindungi oleh Allah subhanahu wa ta'ala di dalam perjalanannya, baik hanya pergi ke pasar karena mama Anisha selalu memberikan doa terbaik untuk anak-anaknya dan keluarganya.
Mobil yang dikendarai oleh Abiyasa dan Ayesha pun meninggalkan depan rumah kediaman keluarga Wibawa menuju ke arah tempat tujuan dengan senyuman bahagia Abiyasa merasa senang menemani sang istri untuk mencari sesuatu keperluan yang diperlukan oleh istrinya tersebut,dengan rasa bahagia Abiyasa melajukan kuda besinya itu dengan kecepatan sedang menuju arah pasar tradisional yang ada dikotanya itu.
*****
Terimakasih atas doaยฒnya semua ๐
Maaf tidak bisa balas satuยฒ komennya.๐๐