
Morgan ijin pamit keluar ruangan dengan alasan mau menghirup udara segar, sebenarnya dia merindukan Anindita,Dia melangkah keluar ruangan dan duduk didepan ruangan sang kakak, Dia menutup sebagian wajahnya, hidung dan mulutnya dengan kedua telapak tangannya seraya bertopang dengan kedua lututnya sembari membongkokkan sedikit badannya, dengan gaya seperti itu Morgan semakin tampan, Dia menatap lurus kedepan,mencari sosok calon istrinya tersebut, karena Morgan bertemu calon istrinya itu belum secara langsung bertemu dengannya, karena saat itu mereka berdua sama-sama sibuk, dan hanya bisa melewati gawai pribadi masing-masing.
Seperti memang sudah dijodohkan yang maha kuasa dan Anindita memang tercipta sebagai tulang rusuknya Morgan, Anindita sama mempunyai perasaan yang alami oleh Morgan saat ini, karena Anindita yang berada diruangannya tersebut sedari tadi pikirannya pun tidak karuan.
Dia mengutak-atik gawainya yang berada ditangannya dan memandangi wajah tampan sang kekasih yang sudah menempati seluruh relung hatinya dan layar gawainya itu.
" Sayang! aku rindu kamu, padahal kamu sudah sangat dekat dengan ku,tapi aku merasa jauh sekali, karena kesibukan kita berdua, kau seorang aparat Negara dan Aku sebagai seorang tenaga medis, dan kita akan bertemu dipelaminan." Ucapnya tersenyum seraya mengekpresikan wajahnya dengan imut sekali.
Anindita menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan pelan juga, Dia kemudian memasukkan gawainya dengan sempurna kedalam jas kebangsaannya yang sering dipakainya disaat bertugas, Dia berencana mau menjenguk kembali calon kakak iparnya yang sedang dirawat, diapun langsung melangkah menuju keluar ruangannya dengan anggun dan berwibawa Dia melangkah menyusuri koridor rumah sakit, sesekali Dia menyapa para perawat yang berhilir mudik yang melaksanakan tugasnya, Diapun tidak lupa menyapa para pasien yang sedang bersantai diluar ruang rawat inap mereka masing-masing dan Dia juga menyapa para pengunjung atau keluarga pasien, Anindita memang terkenal ramah, dan terkenal sebagai seorang Dokter dan pimpinan rumah sakit yang tidak pernah marah, dan selalu menegur para perawat dan para pekerja yang lain dengan lemah lembut dan tidak pernah kasar, Anindita pun banyak disukai oleh para pasien, baik yang muda dan yang tua ataupun anak kecil karena Dia terkenal dengan kesabarannya dan keramah tamahannya itu.
Beberapa langkah lagi Dia sudah mendekati ruangan calon kakak iparnya tersebut, dimana diruangan itu Marco yang masih ditemani oleh kedua orang tuanya itu, Anindita sengaja keruangan Marco karena Dia ingin berbicara dengan kedua calon mertuanya tersebut, dari pada dia merasa bosan berada diruangannya itu.
Dia tersenyum setelah melihat sosok yang sangat dirindukannya itu sedang duduk di luar ruangan Marco, Dia nampak senang dan bahagia karena melihat Morgan yang sedang duduk santai seraya menatap jauh kedepan, dan Morgan tidak mengetahui kalau wanita yang sangat dirindukannya itu sudah berada dekat dengannya.
" Sayang..." Panggil Anindita.
Morgan menoleh, dan tersenyum.
" Sayangku..!" Ucapnya seraya mengulurkan tangannya hendak memeluk dan langsung dilarang oleh Anindita.
" Iih,sayang! ini tempat umum,tidak boleh!" Ucap Anindita seraya menepiskan tangan Morgan pelan, Morgan tersenyum dan mengusap Wajahnya dengan satu telapak tangannya dan yang satunya lagi nangkring disaku celananya.
" Udah nggak tahan sih." Kekehnya.
Anindita hanya tersenyum saja.
" Sabar kenapa sih, orang sabar itu rejekinya banyak, dan disayang Allah lagi." Ucap Anindita tersenyum manis dan duduk didepan Morgan yang masih berdiri.
" Iya deh, in sya Allah sabar." Ucapnya seraya duduk didepan sang kekasih calon istrinya itu.
" Kalau sabar itu harus iklas sayang, jangan ditekuk seperti itu dong wajahnya, jelek tau.!" Kekeh Anindita.
" Iya-iya sayang...," Ucapnya tersenyum manja seraya mengerlingkan mata manjanya pada Anindita.
" Kalau sabar kenapa masih terlihat kesel gitu sih sayang.." Tatap Anindita.
" Karena kata mamah dan papah kak Morgan duluan yang menikah baru kita." Ucap Morgan seraya mengusap wajahnya dengan kesal.
" Hahahahaha..." Tawa pelan Anindita lepas.
" Kenapa kamu tertawa sayang?" Pandang Morgan kewajah cantiknya Anindita,
" Ya iyalah aku tertawa sayang, karena kamu itu lucu, walaupun kamu mau duluan juga papah dan mamah Aku juga nggak mau kalau kakak kamu belum menikah,terkecuali kak Morgan mau mengijinkan kamu lebih dulu, Biar kita sama-sama dapat berkahnya." Ucap Anindita tersenyum.
Morgan hanya tersenyum dan mengucapkan kata ' Amin '
Kemudian Morgan mengajak Anindita memasuki ruangan Marco, Anindita tersenyum dia pun langsung mengikuti langkah Morgan memasuki ruangan tersebut dimana Marco dirawat.
*****
Tepat setelah sholat Isya, Arvin dan keluarganya bersiap-siap menuju kerumah Nadine, sekalian Arvin mengembalikan gawai dan kunci kontak mobil Nadine yang sudah diambil Maya dan keinginan kedua orang tua Arvin ingin meminta Nadine menjadi menantu mereka.
" Sudah siap sayang?" Tanya Ayah Candra seraya menghampiri Bunda Adel yang masih berada didepan cermin. Ayah Candra merangkul Bunda Adel dari belakang yang sedang duduk tersebut.
Bunda Adel tersenyum, Ayah Candra menatap wajah sang istri yang terlihat bahagia dipantulan cermin tersebut.
" Ayo kita segera ketempat Nadine, ntar Arvin bersedih dikira Dia nantinya kita mengulur waktu." Ucap Ayah Candra sembari terkekeh.
Bunda Adel tertawa pelan dan berdiri mengikuti langkah suaminya keluar dari dalam kamar, mereka berdua melihat Arvin yang sedang duduk di ruang tengah rumahnya itu terlihat gelisah. Mereka berdua tersenyum seraya saling bertatapan.
" Tuh kan benar anakmu Bun,terlihat gelisah baru aja menunggu beberapa menit udah terlihat bengong." Ucap Ayah Candra terkekeh.
" Benar Yah,ya sudah kalau gitu kita segera berangkat." Ucap Bunda Adel tersenyum melangkah menuju kearah Arvin yang sedang duduk termenung seorang diri.
" Nak, ayo kita berangkat." Tegur Bunda Adel mengagetkan Arvin.
" Bunda?" Ucapnya tersenyum, malu malu karena kepergok sama kedua orang tuanya dia sedang bengong serta melamun.
" Apa yang kamu pikirkan nak? kita kan udah mau berangkat ini sebentar lagi juga kamu akan menikah dengan Nadine jadi nggak usah dipikirkan." goda Ayah Candra pada anaknya tersebut.
" Ayah ada-ada saja sih jadi malu kan Arvin nya. "ucap Bunda Adel seraya tersenyum.
Arvin tidak bisa berkata-kata lagi dia hanya bisa terkekeh dan langsung berdiri mengikuti langkah kedua orang tuanya menuju keluar.
Alena yang melihat kakaknya digoda oleh kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum.
" Berarti rumah ini nantinya pasti ramaikan Bun, kalau Kak Arvin menikah nanti,Alena senang deh." ucapnya menyunggingkan senyumannya diwajah cantiknya tersebut.
" Ya sayang rumah kita akan ramai nantinya." ucap Bunda Adel seraya memasuki mobil.
Perlahan-lahan mobil yang dikendarai oleh Arvin yang membawa keluarganya menuju ke rumah Nadine tersebut, meninggalkan rumah kediaman pribadinya keluarga Arvin.
Mobil terus melaju di jalan beraspal menuju ke rumah Nadine, tidak ada banyak bicara di dalam mobil tersebut mereka hanya tersenyum melihat Arvin yang terlihat gugup.
" Sudah Jangan gugup nak." ucap Ayah Chandra yang sedang duduk di sampingnya Arvin.
Bunda Adel dan Alena hanya tersenyum saja, beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Arvin pun memasuki halaman kediaman rumah Nadine, ternyata Nadine dan keluarganya sudah menunggu kedatangan dari keluarga Arvin karena Nadine sudah berbicara dengan kedua orang yang sangat disayanginya itu yaitu tante Raisa mamahnya dan dokter Roni kakaknya.
Arvin dan keluarganya turun dari mobil setelah mobil terparkir rapi di depan rumah Nadine.
" Assalamualaikum " ucap Bunda Adel.
" Waalaikumussalam " jawab Tante Raisa.
Bunda Adel dan Tante Raysa serta Nadine kemudian saling berjabat tangan dan cipika-cipiki lalu mereka diajak oleh Tante Raisa masuk ke dalam untuk membicarakan yang selanjutnya walaupun sebenarnya tante Raisa tidak tahu kedatangan mereka ke rumah tante Raisa tersebut. Karena Nadine hanya bilang kalau Arvin akan ke rumah beserta keluarganya.
Kemudian mereka dipersilahkan duduk di ruang tamu yang ada di rumah keluarga Nadine. Mereka awalnya bercerita satu sama lain saling tercipta tawa di antara mereka.
Kemudian Arvin menyerahkan kunci kontak mobil Nadine dan gawai Nadine yang sudah diambil Maya.
Arvin menjelaskan semuanya kepada tante Raisa tentang kenapa Maya bisa berbuat jahat dengan Nadine, tante Raisa mendengarkan dengan bijaksana, Tapi saat Arvin menyebutkan nama Lia Tante Raisa terkejut,tapi dia segera menyembunyikan rasa terkejutnya itu dengan tersenyum, dia menghela nafasnya dengan pelan,Namun sayang Ayah Candra mengetahui ada yang disembunyikan sama Tante Raisa tersebut karena jelas terlihat dari raut wajah Tante Raisa terpancar rasa sedih yang sangat dalam.
" Syukurlah,yang terpenting sekarang kalian tidak apa-apa,tapi siapa Lia?" tanyanya setelah mendengar cerita dari Arvin.