
" Iya nak papa akan menyerahkan semuanya kepadamu, papa yakin kalian berempat pasti akan menyelesaikannya dengan tuntas, selesaikanlah semuanya, biar papa dan yang lainnya memberikan saran yang sekiranya diperlukan
" In sya Allah pah, semuanya akan beres, Kami juga akan mencari siapa sebenarnya lelaki yang selalu mengikuti Nika itu "
" Kalian Papa minta agar jangan tergesa-gesa menyelesaikan semuanya."
" Ya Pah, kami tidak akan tergesa-gesa dan kami akan mempelajari permasalahan yang telah dihadapi oleh Amelia dan adiknya itu, biar bagaimanapun Om Boby adalah keluarga kita, karena Amelia masih ada hubungan darah dengan tante Lala dan juga sebagai temannya Almira, jadi wajib bagi kami untuk menyelesaikan semuanya ini, papa tenang aja."
" Tapi kamu hati-hati lho sayang." ucap Ayesha seraya menggenggam tangan suaminya penuh cinta dan kasih.
" Iya sayang... mas akan hati-hati."
" Kalau mendengar cerita dari Almira laki-laki yang selalu mengikuti Nika itu sangat ditakuti banget sama Nika, sampai segitunya Nika merasa takut, sehingga dia selalu bercerita dengan Almira."
" Benar sekali kak Yesa, Nika kalau bercerita tentang masalah laki-laki itu dia selalu menahan tangisnya dan dia selalu memeluk Almira, setelah memeluk Almira itu dia pun langsung menangis sejadi-jadinya, kadang-kadang Almira juga heran, dia tidak mau cerita kenapa laki-laki itu selalu mengikutinya, seringkali Almi tanya tapi selalu aja dia tidak mau mengatakannya, dengan alasannya takut nanti keluarga Almi jadi sasaran laki-laki itu, aneh kan?!" ucap Almira lagi.
" Ya Sayang, memang aneh!" ucap Mamah Anisha.
" Ya udah deh mah, kalau kayak gitu Almi mau ke atas dulu."
" Ngapain lagi? katanya tugasnya sudah selesai." Ucap mamah Anisha.
" Iya mah udah selesai, tapi karena meja belajar Almi belum Almi beresin, jadi Almi mau beresin dulu."
" Ya udah.." ucap mama Anisha sembari di anggukan yang lain.
Kemudian Almira pun naik ke atas diiringi dengan tatapan keluarganya tersebut, beberapa saat kemudian sebuah mobil memasuki halaman rumah keluarga Wibawa, siapa lagi kalau bukan mobilnya Papa Boby dan Mama Lala, mereka bertiga pun turun dari mobil dan melangkah memasuki teras rumah tersebut, karena pintu rumah memang masih terbuka dan terlihat mereka masih duduk di ruang tengah.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam.."
Terlihat senyum mengembang di wajah Papa Boby dan mama Lala beserta Charlo.
Mereka pun kemudian melangkah mendekati mereka yang sedang duduk di ruang tengah rumahnya itu, kemudian mereka sama-sama bersalaman dan langsung duduk di kursi sofa yang sudah tersedia.
" Tante, Almi mana?" Tanya Charlo.
" Almi ada diatas." Ucap mamah Anisha sembari tersenyum.
" Mah, pah, Carlo menemui Almi dulu ya." Ijinnya.
" Iya sayang." Jawab mamah Lala
Setelah kepergian anaknya itu, papah Boby langsung menanyakan pada papah Andre.
" Ada apa sih? kamu manggil-manggil Aku kesini?" Tanyanya.
" Katanya tadi mau numpang makan malam." Jawab papa Andre.
" Iisshh...mana ada sih aku bilang mau numpang makan malam."
" Kan kamu bilang, sekalian aku menjamu kamu untuk makan malam, ya sama aja itu kamu numpang makan." ucap papa Andre sembari terkekeh.
Papa Boby langsung terkekeh...
" Ya Udah, bagaimana ini mau makan malam dulu atau aku ceritakan semuanya.?" Tanya papah Andre.
" Cerita aja deh dulu, siapa tahu kan makan malamnya belum tersedia." Jawab papah Boby tersenyum.
" Ya iya memang belum tersedia." Ucap Mama Anisha sembari tertawa.
Mereka pun ikut juga tertawa mendengar ucapan Mama Anisha.
" Sebenarnya ada apa sih? kok kamu sepertinya terlihat gimana gitu wajah kamu?" Tanya papah Boby.
Kemudian Papah Andre pun mengambil gawainya Abiyasa yang ada di atas meja yang ada dihadapan mereka, kemudian Papa Andre pun menyerahkan gawai itu sembari memperlihatkan sebuah foto yang ada di dalam gawai pribadinya Abiyasa.
" Sinta!!" ucap papa Boby singkat.
" Bukan! itu bukan Sinta,itu adalah Amelia anaknya Sinta dan Rendy."
" Mirip banget ya dengan Sinta." ucap papa Boby.
" Iya memang mirip." ucap papa Andre.
Kemudian Mamah Lala pun mengambil gawai yang ada di tangan papa Boby.
" Ya Allah ini anak Sinta dan Rendy,ternyata sudah besar tapi itu siapa yang tertidur di ranjang... sepertinya itu ranjang rumah sakit deh." ucap Mamah Lala.
" Iya itu memang ranjang rumah sakit tante " Jawab Abiyasa.
" Kenapa? Apa yang terjadi ? kok bisa fotonya ada dengan kalian?" tanya Mama Lala.
" Ceritanya panjang tante."
" Diperpendek aja biar tante paham." ucap Mamah Lala tersenyum.
" Begini tante..." Abiyasa pun Kemudian menceritakan perihal peristiwa yang terjadi dari awal adiknya menunggu kehadiran Nika sampai akhirnya mereka mengetahui kalau Nika berada di rumah sakit, setelah selesai mendengarkan cerita dari Abiyasa, Mereka pun langsung terkejut.
Mama Lala dan Papah Boby langsung mengusap wajahnya dengan kasar,sedangkan mamah Lala langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tersebut.
" Tapi yang lebih sakitnya lagi tante,pasti tante terkejut kalau Tante Sinta dan Om Rendi itu sudah meninggal dunia."
" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun." ucapan mereka berdua.
" Kamu tidak bohong kan Abiyasa?"
" Iya Tante, Abiyasa tidak bohong."
Papah Bobby menundukkan kepalanya, Papa Andre dan mama Anisha pun terkejut.
" Anak adopsi?!" ucap mereka berdua.
" Iya Nis, ya Mas Andre, itulah yang membuat Rendy memutuskan untuk pergi ke luar negeri,setelah kepergiannya itu dia tidak pernah lagi menghubungi keluarga dari mereka berdua."
" Tapi setahu aku beberapa tahun yang lalu Papanya Sinta juga meninggal dunia karena kecelakaan, Tapi aku tidak tahu keberadaan mama Sinta ada di mana, sampai sekarang pun aku tidak tahu dimana mereka." ucap Papa Andre.
" Apakah Sinta mempunyai saudara?" tanya papa Boby.
" Setahuku semenjak dia bersama denganku dulu dia tidak pernah menyinggung apakah dia mempunyai saudara kandung seibu sebapak, setahu aku Dia mempunyai saudara sebapak aja beda ibu, tapi dia tidak pernah bertegur sapa dengan saudara barunya itu, hanya itu yang aku tahu." ucap papa Andre.
" Setelah Dia memutuskan untuk meninggalkanku, Aku tidak mau tahu lagi tentang keberadaannya,aku tahu dia pergi keluar Negeri itu pun dari kaliankan,setelah aku menikah dengan istriku sekarang aku tidak ingin mengingatnya lagi." terang Papa Andre.
Mereka pun menganggukkan kepalanya.
" Tapi yang anehnya Om, di wajahnya Amelia itu ada kegelisahan, kecemasan, bahkan Arvin juga memergoki Amelia berada di depan kantor polisi, tapi dia tidak mau memasuki kantor tersebut, seperti ada rasa keragu-raguannya ditambah lagi Nika yang selalu diikuti oleh laki-laki yang sebenarnya mereka berdua itu kenal laki-laki itu, tapi mereka tidak mau mengatakannya dengan kami sekarang."
" Apakah ada kabar kalau Nika sudah sadarkan diri?" Tanya papah Boby.
" Arvin tidak menghubungi Biyas Om, katanya tadi mau menghubungi kalau Nika sadar."
" Tapi apakah dia merespon suara atau gimana?" tanya papa Boby.
" Alhamdulillah Om, dia merespon dengan suara, kedua tangannya bergerak."
" Alhamdulillah, berarti dia masih ada harapan untuk sadar dan membuka matanya."
" Ya seperti itulah kata Dokter Siska tadi." ucap Abiyasa.
Mama Lala yang sedari tadi meneteskan air mata pun mengingat sepupunya Rendy telah tiada itu pun tidak kuasa lagi membendung air mata yang sedari tadi menetes terus, dia terus mengusap tapi airmata itu selalu bergulir di pipi cantiknya.
" Sudahlah mbeb, kita akan mencari tahu dengan kedua anaknya, Bagaimana kejadiannya sehingga kedua orangtuanya bisa meninggal dunia dan kenapa juga mereka selalu diikuti oleh laki-laki tersebut." Ucap Papah Boby.
" Aku tidak menyangka aja mbeb, dia bertahun-tahun di kota ini tapi kami tidak mengetahui mereka bahkan mereka mungkin juga tidak mengetahui siapa kita."
" Aku merasa pasti Sinta memberikan pesan kepada mereka berdua, Kamu kan tahu tadi Biyas bercerita kalau Almira menyebut nama kita berdua dia terkejut, pasti ada yang dipesankan almarhumah Sinta kepada mereka, kita juga tidak tahu apa isi pesan itu yang tahu hanya mereka berdua, lebih baik besok kita mengunjunginya setelah acara pernikahan Anindita dan Morgan."
Mamah Lala pun hanya menganggukkan kepalanya, seraya mengusap air matanya yang masih mengalir, terlihat matanya sembab dan hidungnya pun memerah karena dia merasa air mata itu tidak bisa untuk dihentikannya lagi, papah Boby pun merangkul mamah Lala dengan penuh rasa kasih sayang dan penuh cinta, mama Anisha hanya tertunduk saja.
" Kita besok akan menjenguknya, setelah acara pernikahan anakku, kita sama-sama akan berangkat ke rumah sakit." ucap papa Andre lagi di anggukan oleh mereka.
" Oh ya, Om Bobby serahkanlah kepada kami, kami akan menyelesaikan dan menyelidikinya semua, oh ya kalau boleh tahu apakah nama perusahaan Almarhum Om Rendy di sana?"
" Kalau masalah perusahaan itu, kami tidak tahu perusahaan apa, tapi yang jelas dia pernah berkata dengan kami mau berusaha mempunyai usaha berlian."
" Berlian?"
" Iya." Jawab singkat mamah Lala.
" Selama itu mereka tidak menghubungi Om Boby dan tante Lala sama sekali?" tanya Abiyasa.
Mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya.
" Sempat saat itu dia ada menghubungi setelah sampai di luar negeri, setelah beberapa hari kemudian nomor itu tidak bisa lagi dihubungi." Jawab mamah Lala.
" Apa mereka mungkin menghilangkan jejak agar mereka tidak bisa diingat lagi atau memang mereka ingin melupakan keluarga di Indonesia?"
" Keluarga dari Sinta ataupun dari Rendy semuanya bermasalah, Sinta memiliki keluarga broken home, kalau Rendy setelah mamanya meninggal barulah ketahuan siapa Rendy sebenarnya,kalau dia itu bukan anak kandung dari mama dan Papanya, itulah yang membuat Rendy ingin pergi dari kehidupan mereka semua, Rendy pernah bicara dengan tante kalau dia sudah sukses barulah dia pulang ke Indonesia dan akan memberi kabar kepada tante, memang sepupu yang paling bisa berbicara dengan tante ataupun bercerita apa saja hanyalah Rendy, setelah tante menikah dan dia pun juga menikah dengan Sinta kami pun tidak seperti dulu lagi suka bercerita suka bercanda dan lain sebagainya, tapi tante tidak menyangka kalau Rendy sudah meninggal terlebih dahulu, ayahnya tidak mau mencari tahu keberadaan Rendy dia menyetujui saja Rendy pergi ke luar negeri, tapi sampai sekarang mereka tidak ingin lagi mengingat Rendy, Apa mungkin karena Rendy harus dilupakan begitu saja karena merasa Rendy bukan anak darah daging darinya, tante juga tidak tahu, perasaan mereka terhadap Rendy " ucap Mama Lala sembari sesekali menghapus air matanya yang masih keluar dari kedua bola matanya yang sudah terlihat memerah karena kebanyakan menangis.
" Negara mana yang ditujunya Tante?" tanya abiyasa
" Kanada "
" Kanada? Rendy dan Sinta di Kanada?" tanya papa Andre.
" Iya Mas Andre."
" Kenapa kamu nggak bilang, kita kan pernah ke Kanada,bahkan kita pernah berlibur ke sana, Kenapa kamu tidak mau cerita." ucap papah Andre.
" Saat itu kan aku tidak mau cerita tentang Rendy dan Sinta, aku juga mengira kalau seandainya aku bercerita tentang mereka pasti kalian juga tidak ingin menemui mereka, biar bagaimanapun permasalahan yang pernah terjadi itu pasti akan membekas di hati, makanya aku tidak ingin menyinggung soal meraka, di saat kebahagiaan kita bersama, ditambah lagi Rendy kan pernah bilang kalau dia akan sukses baru dia bisa menghubungi lagi, setelah kepergiannya itu nomornya tidak bisa dihubungi lagi, makanya aku tidak mau cerita tentang masalah itu." ucap mama Lala.
" Kamu nggak bilang kalau Rendy dan Sinta ada di Kanada ?" Tanya papah Andre pada papah Boby.
" Aku tidak tahu, dia bilang kemana perginya, ya Aku tahunya dia pergi keluar negeri gitu aja, sedangkan dia berangkat ke bandara aja, dia nggak mau diantar, dia berangkat sendiri bersama dengan Sinta beserta Amelia menggunakan taksi, kami hanya mengantarnya di depan pintu rumah kami saja saat itu, karena saat dia mau berangkat ke luar negeri, Mereka bilang ke Singapura,tapi ternyata dia berangkat ke Kanada." ucap papa Bobby lagi.
" Berarti dari cerita ini, mereka tidak ingin diketahui negara yang mereka kunjungi." Ucap papah Andre.
" Kok kamu tahu sih, kalau dia mau ke Kanada? kok kamu tidak cerita dengan aku sih Mbeb kalau dia berada di Kanada, dia kan bicaranya mau ke Singapura."
" Aku pikir buat apa aku cerita, karena itu mungkin tidak penting juga,itu adalah kehidupan dari mereka, mereka ingin memulai hidup dari nol, jadi aku biasa aja saat itu, aku kira kamu juga sudah tahu kalau dia pergi ke Kanada." Jawab mamah Lala dengan polosnya dan dengan ekpresinya.
Papa Bobby menghela napasnya dengan pelan, mereka yang ada disitu pun terdiam,kemudian mereka dikejutkan oleh suara Art rumahnya itu, mengatakan kalau semua masakan sudah tersedia dan dipersilahkan untuk makan malam bersama,mama Anisha pun kemudian mengajak mereka untuk makan malam bersama, di anggukan oleh mereka semua, dengan tidak bersemangat Mama Lala melangkah menuju ke ruang makan, dia memaksakan untuk melahap makanan yang sudah tersedia,karena dia tidak ingin mengecewakan Mama Anisha dan papa Andre yang sudah mengundang mereka untuk makan malam bersama di rumah mereka, karena dia masih tidak percaya kalau sepupunya itu sudah meninggal dunia.
Suapan demi suapan pun dia rasakan, tapi perasaan dia masih tertuju kepada Rendy sang sepupu yang sudah tiada.
" Mbeb, Apakah tidak malam ini aja kita menemui mereka? perasaanku tidak tenang, Aku ingin bertemu dengan mereka sekarang." ucapnya di sela-sela makannya, mereka yang ada di meja makan pun langsung menatap kearah Mama Lala.
" Tapi ini sudah jam berapa?"
" Ini kan baru jam 7, masih bisa kita membesuknya."
" Baiklah kalau seperti itu, nanti selepas makan ini kita akan menuju ke rumah sakit." Sambung Papa Andre di anggukan oleh Papa Bobby.
" Iya mbeb, kita akan menjenguknya dan kita akan mengatakan kepada mereka kalau kita ini adalah keluarga mereka, siapa tahu Sinta mengatakan sesuatu dan menyuruh anaknya untuk bertemu dengan kita." ucap papa Boby, Mama Lala pun menganggukkan kepalanya, Kemudian mereka pun menghabiskan makan malam mereka yang tersedia di atas meja, tidak ada suara hanya suara sendok dan garpu saja yang beradu, beberapa saat kemudian mereka pun sudah menyelesaikan makan malam mereka, setelah mempersiapkan diri mereka kemudian langsung memasuki mobil pribadi mereka dan menuju ke arah rumah sakit keluarga Wibawa.
Abiyasa dan Ayesha beserta Mama Anisha dan papah Andre menggunakan mobil pribadi mereka, papa Boby dan keluarganya beserta Almira menggunakan mobil pribadi keluarga Papa Bobby, kedua mobil itu pun meninggalkan halaman rumah keluarga Wibawa menuju ke arah rumah sakit, dengan kecepatan sedang, tidak ada suara sama sekali di dalam mobil mereka, baik di mobil papa Andre ataupun di mobil papa Boby, mereka hanya diam dan larut dalam fikiran mereka masing-masing.