
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Abiyasa memasuki halaman parkir kantor pribadinya tersebut, Dia keluar dari mobilnya dan melangkah menuju ke ruangan loby dan Dia pun langsung menuju ke lantai atas dimana ruangannya tersebut berada.
Sesampainya di lantai atas Dia tidak langsung masuk kedalam ruang kerjanya, tapi melainkan melangkah menuju kearah ruangan Clarissa, Karena dia sudah melihat mobil Clarissa yang parkir terlebih dahulu di tempat parkir kantornya itu,karena Clarissa sudah lebih dulu datang ke kantor daripada dirinya.
Dia kemudian mengetuk pintu ruangan Clarisa.
" tok tok tok "
" Masuk " ucap Clarissa yang berada di dalam dan menghadapi layar laptopnya.
Clarissa menatap kearah pintu yang sudah terbuka Dia menatap seorang Abiyasa yang berdiri di sana.
" Assalamualaikum "sapa Abiyasa.
" Wa'alaikumsalam, tumben kamu Biy mengetuk pintu, biasanya kamu langsung nyelonong aja masuk."
Abiyasa hanya tersenyum saja, Dia melangkah menuju ke arah sofa yang memang berada di dalam ruangan Clarissa itu.
Clarissa kemudian menyudahi kerjanya Dia langsung berdiri dan menghampiri Abiyasa yang sedang menghentakkan tubuhnya terlebih dahulu di sofa ruangan itu.
" Ada apa Biy, Apakah kamu ingin tukaran ruangan nih." ucap Clarissa karena melihat Abiyasa masih lengkap dengan tas kantornya.
Abiyasa baru sadar, kalau Dia masih membawa tas kerjanya, Abiyasa hanya terkekeh.
" Ya nggaklah, Aku kesini kan mau memberitahu kamu ini namanya orang tua dari Lia."
" Siapa yang memberitahukan mu?"
" Om Bobby lah."
" Kenapa ya Papa enggak kasih tahu Aku ya, padahal kan Aku satu rumah dengan Papa."
" Mungkin dia tidak ingin merepotkan kamu, kamu kan Anak ceweknya,jadi kan dia berpikir kamu itu seharusnya cuma di kantor hehehe."ucap Abiyasa.
" Ya enggak gitu juga kali,Papa kan tahu Aku ini tidak seperti wanita-wanita yang ada di luar sana, Aku bisa berubah kok."
" Mau berubah jadi apa kamu?" ucap Abiyasa terkekeh.
" Ya apa aja terserah Aku, Aku yang punya diri kok." ucapnya tersenyum.
" Orangtua itu ya,emang bener-bener ya,mau Dia aku jemur di pohon cabe!" kesal Clarissa seraya mensedekapkan tangannya didada dan menyenderkan tubuhnya disandaran sofa.
" Hahaha... ntar kalau ketahuan Om Boby lho kamu ngomong kaya gitu baru tahu rasa kamu."
" Karena Dianya tidak ada, makanya Aku bisa ngomong seperti ini, Kalau Dianya ada di depan Aku, Aku mah mana berani bilang seperti itu dengannya." ucap Clarissa lagi sembari tertawa lepas.
" Kamu ini ada-ada aja,Ris..Ris.." ucap Abiyasa memberikan selembar kertas yang bertuliskan nama orang tuanya Lia.
Kemudian Clarissa mengambil kertas yang diberikan oleh Abiyasa dan dia pun membaca nama yang tertulis di kertas kecil tersebut.
" Baiklah nanti aku akan menemui HRD dan mencari tahu apakah CS kita disini ada yang bernama Siti Mardiana dan orangtuanya bernama Pak Yuasa Akbar." ucapnya lagi
" Oke Ris kalau seperti itu aku kembali ke ruanganku ya."
Saat Abiyasa berdiri dan dia mau melangkah kemudian Dia teringat akan kata-kata dari Dokter Roni yang menghubunginya tadi.
" Oh Ya Ris, tadi Kak Roni menghubungiku,katanya ada yang ingin dibicarakannya denganku, menurut kamu apa ya yang ingin dibicarakan nya."
" Mana aku tahu, Aku kan tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Kak Roni dengan mu." ucap Clarissa heran.
" Biasanya kan kamu tahu isi kepala seseorang,kamu kan paranormal Ris, jadi kamu tahu apa yang di pikiran orang." ucap Abiyasa terkekeh.
" Yang aku tahu di pikiran orang yang jahat aja, bukan di pikiran orang yang baik, hehehe." ucapnya sembari tertawa.
" Tapi ngomong-ngomong ngapain ya Kak Roni ingin bicara dengan kamu? apakah cuma kamu aja yang ingin ditemuinya? bukan sama yang lain? ya misalnya sama Aku sama Morgan, ataupun sama Arvin,kok dia milih nya sama kamu ya."
" Aku juga tidak tahu Dia mau bicara apa, katanya Dia sudah menuju ke sini, ya udah Aku nunggu Dia di ruanganku nanti kalau memang Dia mau kalian juga tahu, ya tinggal Aku hubungi aja kalian." ucapnya.
" Oke bos " kata Clarissa lagi sembari tersenyum.
Kemudian Abiyasa meninggalkan Clarissa di ruangannya, dia pun langsung melangkah menuju ke ruangannya sendiri dengan pikiran yang bertanya-tanya karena Dokter Roni belum datang menemuinya.
Di rumah sakit di mana Morgan masih berada bersama dengan kedua orangtuanya beserta Marco yang masih dirawat, Morgan dan kedua orang tuanya asyik berbicara di sofa ruangan rawat inap nya Marco, saat mereka asyik berbicara sembari terdengar gelak tawa pelan yang mereka ciptakan sendiri, tiba-tiba gawainya Morgan berbunyi, Dia mengambil gawai tersebut yang berada di dalam saku celananya itu, Dia menatap layar gawainya Dia tersenyum melihat panggilan tersebut.
" Ini pasti ada kabar berita dari anak buahku." batinnya.
Pak Carlos menatap kearah Anaknya itu yang terlihat tersenyum senyum.
" Sebentar ya Pah,Morgan terima telepon dulu."
" Ya udah silahkan"
Kemudian Morgan melangkah meninggalkan kedua orang tuanya menuju kearah luar ruangan sembari menjawab panggilan dari gawainya itu.
" Ya ada apa? Apakah kamu sudah mendapatkan kabar hari ini?"
" Ya Bos hari ini kami sudah mendapatkan kabarnya dan kami juga sudah mengetahui tempat tinggal terakhir di mana Lia berada,Lia berada terakhir kalinya di tempat Adik Mamanya."
" Baiklah share alamatnya biar kami segera kesana."ucapnya
" Ya Bos, Saya akan memberikan alamat tersebut."
" Terima kasih ya " ucap Morgan kemudian dia pun memutuskan sambungan bicaranya tersebut.
" Akhirnya aku menemukannya, mudah-mudahan orang ini akan memberikan keterangan yang seakurat mungkin." ucapnya seraya memasukkan gawainya kembali ke dalam saku celananya, dan Dia pun langsung memasuki ruangan lagi,Dia kemudian duduk di samping sang papa.
" Sudah selesai Nak bicaranya."
" Sudah Pah."
" Dari siapa?"
" Dari Anak buah Morgan Pah"
" Dalam misi apa ?"
" Misi mencari Lia pah yang sudah Morgan ceritakan kemarin masalah Lia itu Pah."
Pak Carlos hanya menganggukkan kepalanya.
" Papa salut dengan calon mertua mu itu, Dia sangat baik sikap sosialnya tingkat dewa sekali, Dia rela mengeluarkan dana berapapun untuk membantu orang-orang yang ada di luar sana yang sangat membutuhkan bantuan, Papa senang kenal dengan orang baik seperti pak Andre, Papa juga senang dengan sikap Pak Andre yang sangat baik itu, Papa mengenal Pak Andre saat pertama kali Papa melihat Pak Andre dikanada bersama para sahabat-sahabatnya itu, apalagi sikapnya dalam bersahabat Dia sangat baik dan sangat peduli dengan para sahabatnya, bersahabat dengannya bagaikan seraya saudara,Papa bangga dengannya dan Papa juga bangga kamu mendapatkan mertua seperti Dia, bukan karena Dia kaya tapi karena sikap sosial dan kebaikannya sangat tinggi itu yang Papa bangga,semoga kamu bisa meniru seperti calon mertua mu itu nak." ucapnya sembari menepuk pundak Anaknya dengan pelan.
" Iya Pah calon mertua Morgan itu adalah inspirasi bagi Morgan, tapi yang lebih inspirasinya lagi adalah Papa dan Mama." ucapnya Tersenyum.
Pak Carlos hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum begitu juga dengan istrinya yang menyunggingkan senyum kebahagiaan karena melihat sikap Anaknya yang semakin hari sangat dewasa dalam menyikapi suatu permasalahan dan sikap ingin menolongnya sudah terlihat sangat tinggi.
" Ya sudah ya Pah, Kalau seperti itu Morgan mau berangkat kekantor Abiyasa, Morgan ingin mengatakan semuanya kepada Abiyasa kalau Anak buah Morgan sudah menemukan tempat terakhir Lia singgah saat dia pertama kali diusir oleh keluarga dari Mamanya tersebut."
" Memang yang ditemuin ini siapanya? Paman, Bibi atau sepupunya."
" Kalau itu Morgan belum tahu Pah,nanti Morgan tanyakan lagi dengan Anak buah Morgan, tapi kata Anak buah Morgan tadi saudara dari ibunya, tapi tidak tahu apakah dia Adiknya atau Kakaknya."
" Ya udah semoga berhasil ya Nak."
Kemudian Dia meraih kedua tangan Mama dan Papanya dan mencium punggung tangan mereka berdua,tidak lupa Dia berpamitan dengan Kakak tersayangnya,Morgan kemudian mengucapkan salam dan langsung meninggalkan ruangan Marko menuju ke arah parkir mobil yang sudah menunggunya sedari tadi, beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Morgan meninggalkan halaman rumah sakit melaju di jalan beraspal menuju ke arah kantor Abiyasa.
Dokter Roni yang sudah berada di kantor Abiasa langsung menuju tempat resepsionis karena dokter Roni baru pertama kali mengunjungi kantor Abiyasa,Dia berbicara sebentar dengan resepsionis tersebut dan langsung diarahkan oleh resepsionis itu, karena resepsionis tersebut sudah ditelepon oleh Abiyasa yang akan kedatangan tamu bernama Dokter Roni.
Dokterr Roni pun langsung memasuki lift dan menuju ke lantai atas dimana ruangan Abiyasa berada, sesampainya di atas dia kemudian diarahkan kembali oleh sekretarisnya Abiyasa menuju ke ruangan Abiyasa.
" tok tok tok "
" Masuk " ucapan Abiyasa.
" Maaf Pak tamu Bapak sudah datang."
" Oh iya terima kasih ya,silakan masuk saja."
" Silahkan masuk Pak,Bapak sudah menunggu di dalam." ucap sekretaris Abiyasa dengan ramah.
Setelah mengucapkan terima kasih dengan sekretaris tersebut, Kemudian Dokter Roni pun melangkah masuk disambut oleh Abiyasa dengan senyuman khasnya,lalu mereka berdua duduk di sofa.
" Maaf ya dek, Kakak mengganggu kamu."
" Nggak apa-apa Kak, kalau ingin ada yang dibicarakan silakan aja,Aku juga penasaran Apa sih yang ingin Kakak bicarakan denganku, sehingga meluangkan waktu kakak untuk menghubungiku pagi-pagi sekali." ucapnya.
" Begini dek,sebelumnya Kakak mau minta maaf, maksud kakak bisakah kalian berkumpul disini ada yang ingin Kakak bicarakan dengan kalian berempat."
" Soal apa Kak?"
" Soal Lia,maksud Kakak, Kakak ingin bicarakan semuanya, tapi tunggu kalian berempat kumpul."
" Ya udah Aku akan menghubungi mereka semua."
Kemudian Abiyasa menghubungi Clarissa, Arvin, dan Morgan.
" Sebentar lagi Kak mereka datang." ucap Abiyasa setelah menghubungi ketiga sahabatnya tersebut, tidak berapa lama Clarissa masuk ke dalam ruangan tersebut, tanpa mengetuk pintu.
" Maaf Aku tidak mengetuk pintu karena Aku penasaran banget sehingga cepat cepat kesini." ucapnya sembari terkekeh.
Mereka berdua hanya tersenyum melihat ulah Clarissa, tidak seberapa lama Morgan pun datang karena Dia kebetulan memang mau bertemu dengan Abiyasa, jadi disaat dihubungi oleh Abiyasa Dia sudah berada di jalan.
" Kalian sudah berkumpul tapi tinggal kita tunggu Arvin"
" Kenapa sih Kak enggak langsung telepon Arvin saja." ucap Risa merasa heran.
" Sebenarnya kakak tidak enak dengan kalian."
" Memangnya ada apa?"
Dokter Roni hanya terdiam, dia ingin mengatakan semuanya sampai Arvin berada disini, beberapa saat kemudian Arvin pun masuk kedalam dengan menggunakan pakaian dinas nya, karena dia memang sedang berdinas, saat dihubungi Abiyasa dia memang lagi berada di kantor,saat Abiyasa menghubunginya Abiyasa mengatakan ingin berbicara tentang Lia,Arvin pun dengan sigap langsung tancap gas menuju ke kantor Abiyasa.
" Ada apa kak,sekarang kami sudah kumpul kakak ingin cerita?cerita apa kak?" tanya Abiyasa, Dokter Roni menarik napasnya dengan pelan, Kemudian dia melepaskannya dengan berat.
Mereka menatap kearah dokter Roni dengan heran.
" Sebelum kakak bercerita semuanya tentang Lia kakak ingin memohon maaf dulu dengan Arvin."
" Memang Ada apa kak?Kakak kan tidak salah dengan Arvin, tadi malam kan kakak baik-baik aja."
" Tadi malam? Maksud kamu apa Vin?" tanya Morgan Arvin tersenyum malu-malu.
" Kayanya ada yang tidak beres nih, kayak berbau-bau lamaran nih." ucap Risa lagi.
" Itu Risa tahu "
" Kenapa kamu nggak bilang sih Vin, kalau kamu melamar Nadine tadi malam." Ucap Morgan.
" Rencananya kemarin itu Aku mau ke rumah Nadine untuk mengembalikan kunci kontak mobilnya dan gawainya saja, tapi Ayah meminta saran Aku, Apakah aku setuju kalau Ayah mau melamar Nadine dengan segera, namanya Aku sangat sayang banget dengan Nadine dan ingin cepat-cepat menikah dengan Nadine ya langsung aja aku iyakan aja, makanya saat itu Ayah mengutarakan dengan Tante Raisa, ya Alhamdulillah akhirnya Tante Raisa menerima Aku sebagai calon menantunya bahagiakan Aku." ucap Arvin terkekeh.
Mereka pun bertiga mengucapkan syukur, Dokter Roni hanya tersenyum saja melihat ulah keempat orang yang ada di hadapannya tersebut yang sangat akrab dan penuh kekeluargaan.
" Nah sekarang apa yang ingin Kakak bicarakan,karena Arvin merasa kakak tidak pernah ada salah."
" Sebelumnya memang kakak tidak punya salah, tapi ini atas nama keluarga kakak meminta maaf yang sebesar-besarnya, walaupun sebenarnya ini bukan kesalahan dari kamu, dan bukan juga kesalahan dari Lia."
" Maksudnya apa ini.?" ucap Morgan.
" Nadine dan Lia itu saudara kembar."
" Apa?!" ucap semua berbarengan terkejut dan menatap kearah Dokter Roni dengan tatapan tajam penuh tanda tanya dan ingin mengetahui semuanya.
" Kak Roni cerita yang selengkapnya kak." pinta Abiyasa.
Dokter Roni hanya menganggukkan kepalanya.
" Tapi kenapa baru sekarang ceritanya Kak? Kenapa saat itu kakak tidak cerita kalau memang Nadine dan Lia itu adalah saudara kembar." ucap Clarissa.
" Maafkan kakak Ris, kakak tidak tahu, baru aja tadi malam Mama cerita yang sebenarnya, Nadine dan Lia saudara kembar, Nadine ikut Mama dan Lia ikut Papa, tapi mereka berdua sama-sama tidak pernah melihat orang tua kandung kami "
" Maksudnya?" tanya Arvin heran.
" Nadine tidak bisa melihat langsung Papa secara berhadap-hadapan dan begitu juga Lia tidak bisa melihat Mamah secara langsung, Kakak juga tidak tahu apakah Papa bercerita kalau Mama adalah ibu kandungnya dari Lia, tapi Mama tirinya itu sangat sayang banget dengan Lia yang jahat itu pamannya Lia yang mengusirnya karena dianggapnya Lia pembawa sial dikeluarganya."
Mereka semua terdiam.
Dokter Roni terus menceritakan dari awal sampai akhirnya, mereka mendengarkan dengan seksama, setelah selesai Dokter Roni bercerita, mereka semua menarik nafasnya dengan pelan.
" Ya sudah kalian jangan terlalu banyak terdiam, ayo kita berangkat." ucap Morgan mencairkan suasana.
Mereka semua menatap kearah Morgan.
" Memang kita mau berangkat kemana?" tanya Clarissa.
" Yang jelas kita tidak liburan Clarissa..."
" Terus kita berangkatnya kemana?" ucap Carissa lagi.
" Anak buahku sudah mendapatkan kabar di mana Clarissa tinggal."
" Clarissa ya tinggal sama Om Boby dan Tante Lala lah..." sambung Arvin tersenyum,memang kebiasaan Morgan kalau berbicara yang sangat bersemangat sering lupa nama targetnya.
" Walah,salah maaf,maksud Aku di mana Lia terakhir berada setelah diusir sama pamannya itu."
" Ya udah kalau seperti itu ayo kita berangkat." ucap Risa lagi.
" Kita harus mencari tahu dengan Dia, apa Lia masih berada di situ, atau Lia sudah pergi entah kemana." ucap Abiyasa.
" Gimana Kak Roni,Apakah Kak Roni mau ikut?"
" Kakak mau ikut,karena bagaimanapun Lia adalah adik kandung Kakak."
" Ya udah ayo kita berangkat." kata Abiyasa.
Mereka semua berdiri dan melangkah keluar ruangan Abiyasa,mereka memasuki lift yang membawa mereka turun ke arah lobby,Mereka pun langsung melangkah menuju ke mobil Abiyasa, beberapa saat kemudian mobil tersebut meninggalkan kantor Abiyasa menuju ke arah tujuan.