THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 289



" Apakah kamu mengenali Ibu Nellyana Nico?" tanya papah Andre sembari menatap wajah Nico.


" Mengenal secara langsung tidak Om, tapi Nico tahu kalau ibu Nellyana itu adalah Ibu dari teman Nico yang bernama Amiriansyah,siapa tahu itu yang dicari, karena Ibu Nelly itu bekerja dirumah sakit Setia mantan suster disana, ditambah lagi dia tadi baru saja bercerita sekalian mau menjenguk Mama Nellyana katanya yang sedang sakit, Nico langsung bertanya sakit apa? dia bilang sakit tua, mamahnya itu sudah banyak berjuang demi dirinya semenjak dia berusia tiga tahun, dia sudah sering ikut sang mamah bekerja dirumah sakit piket malam dan sampai dia SD pun dia selalu ikut sang mamah, sampai dia sekolah SMP barulah dia tidak ikut mamahnya tersebut bekerja, sedangkan sang Ayah sudah lama pergi entah kemana, kalau dia bertanya kemana papahnya pada mamahnya, mamahnya itu bilang papahnya sudah tidak sanggup lagi hidup dengan mereka berdua, karena waktu sang mamah dihabiskan bekerja dan bekerja." terang Nico pada mereka semua,


" Dimana kamu bertemu dengan Amir nak?" Tanya papah Andre.


" Barusan saja client yang Nico temui itu adalah bosnya Amir, dia bekerja diluar negeri setelah dia lulus kuliah disana dan langsung mendapatkan pekerjaan yang bagus disana dan saat Nico bertanya kenapa tidak diajak sang mamah bersama dengannya, tapi jawabnya mamahnya itu sedang menunggu seseorang dia mengatakan tidak tahu juga siapa yang ditunggu mamahnya itu."


" Jangan-jangan yang ditunggu mamahnya Amir itu adalah suaminya" kata mamah Anisha.


" Sepertinya bukan tante, kata Amir Ayahnya itu sudah meninggal saat dia berusia 17 tahun ditempat istri barunya dan sampai sekarang pun mamahnya itu masih menunggu seseorang yang tidak tahu siapa yang akan ditunggu oleh mamahnya Amir."


" Bisa jadi itu adalah ibu Nellyana yang kita maksudkan." ucap papah Bobby sembari membenarkan posisi duduknya.


" Tapi apakah memang benar mamanya Amir itu bekerja di rumah sakit Setia yang ada di kota B " tanya Papah Andre.


" Iya Om, karena Amir adalah teman Nico sekolah dulu sewaktu SMA, dia tidak mau sekolah di kota B karena alasannya malas bertemu dengan sang Papa, makanya dia memilih sekolah di kota ini, Dia memutuskan untuk hidup sendiri di kota ini, dia juga mengusulkan pada mamanya itu agar pindah bekerja di rumah sakit yang ada di kota ini, tapi mamanya tetap tidak mau dan tetap mempertahankan bekerja di rumah sakit setia yang ada di kota B, Amir anaknya sangat pintar makanya dia mendapat beasiswa dan diapun masuk kuliah di luar negeri dengan beasiswa yang dia dapatkan itu, Sampai akhirnya dia pun dapat pekerjaan yang bagus di luar negeri, Nico juga tadi tidak menyangka kalau client ini adalah bosnya dari Amir, setelah makan siang tadi dia bercerita semuanya dengan Nico dan diapun kayaknya langsung minta ijin dengan Bosnya itu untuk bertemu mamahnya, kebetulan dia berada di tanah air."


" Sekarang apakah dia sudah berangkat ke kota B?" Tanya Ayah Candra.


" Sepertinya iya, karena saat keluar dari resto tempat kami bertemu tadi, dia sudah mengendarai sebuah mobil melalui jalan darat menuju ke kota B, sepertinya dia sekarang dalam perjalanan menuju ke kotanya."


"Apakah dia lama di kota B Nico?" Tanya Mamah Lala.


" Kalau itu Nico kurang tahu tante, nanti coba Nico hubungi dia dan menanyakannya." Ucap Nico.


Mereka semua menganggukkan kepalanya, Amelia hanya bisa terdiam dan selalu berdoa.


" Ya Allah apakah itu saudara laki-lakiku." ucapnya dalam batinnya.


" In sya Allah kita akan menemukan apa yang kita cari dan semua permasalahan akan terselesaikan." ucap Ayah Candra di anggukan oleh mereka semua.


" Begini saja kalau sudah Nico menghubungi Amir dan menanyakan apakah dia mempunyai waktu lama berada di kotanya, kalau seandainya dia mempunyai waktu yang lama disana kita biarkan saja dulu semantara permasalahan ini, kita fokus dengan pernikahan Arvin dua hari lagi pernikahan Arvin, setelah pernikahan Arvin digelar, barulah kita mencari tahu tentang ibu Nellyana ini " ucap papah Andre.


" Bagaimana apakah setuju dengan saran Andre?" Tanya Papa Boby, Mereka lagi-lagi mengganggukkan kepalanya


" Kami setuju aja dengan apa yang disarankan sama papah Andre." Ucap Abiyasa.


" Terimakasih karena kalian mementingkan pernikahan anakku." Ucap Ayah Candra.


" Candra, kamu jangan bilang seperti itu, anakmu adalah anak kami juga." ucap papa Boby di anggukan oleh papa Andre.


" Benar apa kata Boby, anakmu adalah anak kami juga, kesusahanmu adalah kesusahan kami, jadi jika kamu senang kami juga ikut senang, kita sudah sepakat untuk menyelesaikan pernikahan Arvin terlebih dahulu, baru kita mencari tahu siapa sebenarnya Ibu Nellyana ini, mudah-mudahan aja apa yang diceritakan oleh Niko itu adalah ibu Nellyana yang kita cari." ucap Papa Andre sembari tersenyum.


Mereka pun kemudian mengangguk sembari tersenyum.


" Bagaimana Amel, Apakah kamu bisa bersabar dalam waktu dekat ini sementara waktu?" tanya Mama Lala.


Amelia terdengar menarik nafasnya dengan berat seberat perasaan yang telah dia rasakan saat ini.


" Amelia akan mengikuti apa kata kalian semua, karena sekarang Amelia tidak bisa berpikir banyak dan Amelia hanya pasrah dengan keadaan ini, mudah-mudahan saja yang diceritakan oleh kak Nico itu benar adanya yaitu kak Amir adalah kakaknya Amelia." ucapnya sembari tersenyum, walaupun wajahnya terlihat sedih.


Kemudian Papa Boby pun menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruang tengah tersebut.


" Astaga... aku lupa menjemput anakku, mereka berdua pasti sudah menunggu jemputan." ucapnya.


" Ya Allah aku juga sampai lupa dengan anakku sendiri." ucap papa Andre terkekeh, kemudian Papah Andre berjalan menuju kearah pintu luar, dia menoleh kiri dan kanan ternyata mobil Almira sudah tidak ada di garasi rumahnya tersebut, diapun kemudian mengeluarkan gawainya dan menghubungi sopir pribadinya Almira.


" Assalamualaikum Pak.."


" Waalaikumsalam.." ucap Papa Andre.


" Maaf pak, ada apa ya Pak, sehingga Bapak menghubungi saya."


" Bapak sudah jemput Almira?"


" Sudah pak, non Almi ada bersama saya Pak, bersama dengan Den Charlo dan nona Nika."


" Oh ya udah kalau seperti itu, hati-hati ya." ucap papah Andre sembari melangkah mendekati mereka kembali dan memutus sambungan bicaranya dengan sopir pribadi Almira tersebut, setelah memberi salam dan membalas salam diantara mereka berdua.


" Alhamdulillah mereka sudah dijemput oleh sopirnya Almira."


" Alhamdulillah kalau seperti itu, tapi kok bisa ya Charlo udah Nika langsung ikut dengan Almira." Ucap papah Boby.


" Mungkin sudah terlalu lama menunggu kali jadi Almira punya inisiatif sendiri untuk mengajak mereka berdua ke rumah ini, kebetulan kan kita ada di sini juga." ucap Mamah Lala.


Kemudian Nico berdiri...


" Mau kemana Kak Nico?" tanya Abiyasa.


" Kakak mau ke teras belakang dulu, Kakak mau menghubungi Amir."


" Oke! " Ucap Abiyasa.


Kemudian dia pun melangkah menuju teras belakang dan menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di teras belakang tersebut, dia pun langsung mengambil gawainya yang sedari tadi berada nangkring di saku celananya, dia kemudian mencari nomor yang mau ditujunya, beberapa saat dia menghubungi barulah nomor itu tersambung.


" Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam, Ada apa Nico?"


" Mir, kamu sekarang berada di mana?"


" Aku masih di jalan."


" Kamu nyetir sendiri ?"


" Enggak kok, ada yang ikut bersamaku, ya kami ganti- gantian lah nyetir mobilnya, kebetulan temanku ini juga mau ke kota B."


" Oh gitu ya, tapi kamu tidak dalam keadaan nyetirkan?"


" Enggaklah, ada apa ya?"


" Ada sedikit yang ingin aku tanyakan padamu."


" Tanyakan soal apa?"


" Kamu berada di kota B berapa lama?"


" Rencananya sih dua minggu aku berada di kota B, sekalian aku cuti karena aku ingin bersama dengan Mamah dulu di kota B ini, Memangnya kenapa? Apakah kamu mau ke sini main ke tempatku?"


" Rencananya sih iya, aku mau main ke kotamu."


" Iya bener, aku juga ingin menjenguk Mamah mu tapi tidak bisa hari ini atau besok, karena 2 hari lagi pernikahan adik sepupuku, dua hari lagi, mungkin selepas pernikahan adik sepupuku, aku mau berkunjung ke rumahmu, bolehkan?"


" Boleh... dengan senang hati hehehe..."


" Tapi ngomong-ngomong aku tidak tahu nih alamat rumah kamu."


" Nanti aku kirimkan alamatnya, dan aku akan menunggu kamu di kota B."


" Kalau kamu sempat kamu bisa datang ke sini dalam pernikahan adikku."


" Maaf nih Nico, aku tidak bisa datang, Karena kamu kan tahu Mama dalam keadaan sakit, aku juga tidak tahu siapa yang ditunggunya, setiap aku mau mengajak dia keluar negeri, Dia selalu bilang menunggu seseorang, aku sampai sekarang pun tidak tahu."


" Apakah kamu tidak mau mencari tahu siapa yang mau ditunggu oleh mamamu itu?"


" Makanya ini aku mau bertanya sekalian sama mamah."


" Apakah beliau tahu kamu datang ke tanah air ?"


" Tahu aja, aku sudah menghubunginya."


" Terus mama mu disana tinggal sama siapa?"


" Ada seseorang yang memang khusus tinggal bersama dengan mama."


" Keluarga mamamu tidak ada selain kamu? maaf aku bertanya ini kepadamu mungkin terlalu pribadi sih."


" Enggak apa-apa, wajar kamu bertanya seperti itu mungkin perkiraan orang Aku adalah anak durhaka yang membiarkan orang tuaku berada di tanah air dan aku berada di luar negeri, Aku juga merasa lega bercerita dengan kamu karena kamu mengetahui kenapa aku bisa berpisah dengan mama ku, Aku tinggal di luar negeri dan mama tinggal di tanah air, orang-orang hanya bisa melihat dari luarnya saja, tapi tidak bisa melihat dari dalamnya, mereka boleh berpendapat semau mereka, tapi mereka tidak mengetahui kenyataannya bagaimana benar enggak hehehe.."


" Iya bener banget tuh." ucap Nico sembari tersenyum.


" Maafkan aku ya, aku tidak bisa datang di pernikahan adik sepupumu nanti."


" Oh ya nggak apa-apa, semoga Tante Nellyana cepat sembuh ya."


" Iya Nico Amin.."


" Oh ya Mir, Aku juga mau tanya siapa tahu kamu tahu di tempatnya Mama kamu bekerja di rumah sakit setia waktu itu, seingat kamu, Apakah nama Nellyana ada dua atau cuma mamah kamu aja yang bernama Nellyana?"


" Setahu aku ya, sejak aku sering ikut dengan mama waktu itu ada dua nama, sama-sama sebagai perawat di rumah sakit setia, tapi aku tidak tahu sih siapa Tante Nellyana yang satunya itu."


" Oh gitu ya..."


" Iya Nic,tapi kenapa kamu bertanya tentang nama Nellyana?"


" Tidak apa-apa, karena aku mau bertemu saja dengan orang yang bernama Nellyana itu, karena dia temannya Mama, mama sudah lama tidak bertemu." ucapnya sembari berbohong pada Amir, agar Amir tidak merasa curiga kalau dia mencari tahu tentang nama seseorang tersebut.


" Oh begitu...Ya siapa tahu aja Mama kamu adalah teman mama aku, jangan-jangan yang ditunggu mamaku selama ini adalah mama mu lagi hehehe...karena seorang sahabat itu kan biasanya selalu kontak batin hehehe." ucap Amir sembari terkekeh.


" Hehehe... bisa jadi itu ucap Nico, eh....tapi Nellyana itu mempunyai seorang anak juga atau beberapa orang anak, bukan mama kamu maksudnya."


" Setahu aku dulu ada sama seperti aku yang sering diajak juga ke rumah sakit."


" Laki-laki atau perempuan anaknya."


" Laki-laki..."


" Oh gitu ya..."


" Iya, nanti coba aku tanyakan apakah mamah ku kenal dengan mamah mu, oh ya nama Mamah kamu siapa namanya Nic?"


" Melisa..." Jawab singkat Nico.


" Oke! nanti aku kasih tahu kalau memang Mama aku kenal dengan mamamu." ucap Amir.


" Okelah Mir, silakan dilanjut hati-hati di jalan Kalau sudah sampai kota B dan sampai di rumah kabarin ya."


" Siap! Broo...." Ucap Amir sembari terkekeh.


Kemudian mereka berdua pun sama-sama memutus sambungan pembicaraannya melalui gawai pribadi tersebut, setelah mengucap dan membalas salam Nico menarik napasnya dengan pelan.


" Walaupun aku tidak tahu cerita awalnya seperti apa, mudah-mudahan saja Amir memang adalah saudaranya Amelia." ucapnya sembari berdiri dan melangkah kembali menuju mereka, tapi dia melihat ke kiri dan ke kanan karena pujaan hati dia sudah tidak ada lagi duduk di sofa tersebut.


" Mana Lia dan keluarganya Om?"


" Lia dan keluarganya sudah pamit pulang, karena sudah lama mereka berada disini dan mereka juga ingin istirahat sepertinya." Ucap papah Andre.


" Memangnya kenapa?" tanya papah Boby.


" Nggak puas ya bertemu dengan sang kekasih hehehe.." Lanjut Ayah Candra.


" Makanya kalau mau teleponan itu jangan jauh-jauh, kesempatan untuk bertemu kan jadinya terputus hehehehe..." sambung Abiyasa sembari terkekeh.


" Makanya cepat-cepat nikah..." Sambung Arvin.


" Lama sih...masih nunggu satu minggu lagi, kamu sih nggak mau ngalah dengan kakak, kamu kan lebih muda seharusnya mengalah dengan yang tua hehehe.." ucapnya sembari menghentakkan tubuhnya disamping Arvin.


" Hahahah... enakan aku sudah aman..." ucap Morgan sembari tertawa lepas, mereka yang ada disitu pun tertawa bersama-sama setelah tertawa mereka reda Nico pun kembali menceritakan tentang dirinya dan Amir saat berbicara barusan.


" Oh ya Om, sepertinya Amir berada di kota B dalam waktu yang lama sekitar dua mingguan, dia berada di tanah air dan dia juga ingin menanyakan perihal tentang mamahnya yang sedang menunggu seseorang itu, karena selama ini dia juga penasaran siapa sih sebenarnya yang ditunggu oleh sang mama." Terangnya menjelaskan pada mereka semua yang ada di ruang tengah.


" Syukurlah kalau seperti itu, berarti waktu untuk bertemu Amir dan ibunya masih banyak, kita harus fokus dulu dengan acara pernikahan Arvin, setelah itu baru kita berangkat ke kota B." Ucap papah Andre.


" Tapi Om, Nico tadi sempat bertanya pada Amir, katanya di rumah sakit setia itu ada dua orang Nellyana dan sama-sama mempunyai anak laki-laki, Nico sengaja bertanya dengannya agar dia tidak curiga, Nico katakan kalau Nellyana itu adalah temannya mama yang sudah lama tidak bertemu, terakhir dia berada di kota B, terus dengan spontan dia langsung menjawab jangan-jangan yang ditunggu oleh mamanya itu adalah mama Niko, makanya dia juga mau menanyakan apakah mamanya itu kenal dengan mamanya Niko, kalau memang mamanya itu kenal dengan mama Nico dia akan menghubungi Nico." terang Nico lagi.


Mereka terdiam masing-masing larut dalam pikiran mereka sendiri.


Tiba-tiba papah Bobby pun langsung berbicara.


" Ya sudah, kalian gak usah memikirkannya dulu, kita tidak ingin di hari pernikahan Arvin terlihat galau dan cemas karena kita memikirkan satu masalah yang belum tahu kejelasannya, yang terpenting kita fokus dengan satu acara dulu, kemudian kita fokus dengan Ibu Nellyana." Ucap Papah Boby.


Mereka mengiyakan ucapan papah Boby.


" Tapi boleh nggak Om kalau nanti ke kota B Amelia ikut."


" Boleh nak, Kamu boleh ikut." ucap Ayah Candra di anggukan oleh papah Andre dan papah Boby serta yang lainnya.


" Bagaimana dengan perasaanmu Amelia? Apakah kamu mendengar nama itu ada sesuatu yang kamu rasakan?" tanya mamah Anisha.


" Merasakan sesuatu? Amelia nggak tahu Tante, Amelia bingung... apakah Kak Amir itu adalah saudara Amel, tapi mudah-mudahan saja iya tante..." Ucapnya seraya tersenyum walaupun wajahnya terlihat sedih sekali, tapi dia berusaha tegar menghadapi semuanya.