THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 283



Mereka kembali ke Villa lagi, tidak ada yang berbicara didalam mobil dan mereka hanya bisa terdiam saja, terutama Amelia dan Papah Boby serta Papah Andre, Amelia juga mengetahui rahasia yang dialami sang mamah sedangkan Papah Boby dan papah Andre mengetahui siapa diri Amelia sebenarnya.


Sesampai di Villa, Amelia dan yang lainnya pun memasuki Villa .


" Nika, Almira, kalian beristirahat dulu dikamar ya, nanti siang kita akan kembali ketanah Air." ucap Papah Andre.


" Oke pah.. " sahut Almira langsung meraih tangan Nika dan membawanya kekamarnya.


" Abiyasa juga mau istirahat dikamar sebentar ya pah" ucap Abiyasa tersenyum dianggukkan Papah Andre sembari tersenyum.


Saat mereka berdua berjalan menuju kearah kamar mereka masing-masing, tiba-tiba Amelia menegur kedua Omnya tersebut.


" Om..." panggilnya mereka berdua menoleh.


" Ada apa Nak?" Tanya Papah Andre.


" Bisakah kita duduk sebentar dan ada yang ingin Amel bicarakan, terutama Om Andre." ucapnya sembari tersenyum walau dihatinya merasa tidak nyaman dengan Papah Andrea.


Mereka berdua saling bertatapan, kemudian mengangguk dan langsung melangkah menuju kearah sofa dimana Amelia sudah berada disofa tersebut.


" Ada apa Mel?" tanya Papah Andre.


Amelia menarik nafasnya dengan pelan dan tersenyum


" Maafkan Amelia ya Om, karena Amel mengganggu waktu istirahat Om berdua."


" Tidak apa-apa nak, ada perihal apa sehingga kamu mau bicara denga Om?" tanya Papah Andre


Amelia menarik nafasnya dengan pelan.


" Begini Om, sebelumnya Amelia minta maaf ya Om atas kesalahan mamah Amel dimasa lalu, karena Mamah sudah membuat Om Andre sakit hati, Amelia tahu kalau Mamah dulunya adalah wanita yang pernah ada dihati Om Andre dan yang sangat disayangkan Mamah sudah menyelingkuhi Om Andre dengan Papah, maaafkan lah Mamah ya Om." Ucap Amelia seraya menatap kearah papah Boby dan papah Andre secara bergantian.


Papah Andre terkejut dan langsung menatap Amelia penuh tanda tanya, bgitu juga dengan Papah Boby yang terkejut mendengar Amelia berbicara seperti itu.


" Dari mana kamu tahu Mel, itu semua." tanya Papah Boby


Lagi-lagi Amelia menarik nafasnya dengan berat, kemudian Amelia mengambil sesuatu yang ada dalam tasnya sebuah buku kecil tepatnya sebuah buku bergambar hati yang retak berwarna jingga, Papah Andre terkejut melihat buku tersebut, dia ingat dengan buku itu yang selalu dibawa Sinta kemana saja, saat bersama dengannya. Papah Andre pun megambil buku itu dan langsung membuka buku itu dan membacanya lembar demi lembar dan dia nampak sedih.


" Ternyata seorang Sinta yang berprilaku bebas waktu itu, memiliki sisi baik terlihat dari tulisan di dalam buku ini, memiliki arti rasa bersalahnya selama dia menjalin cinta dengan ku dan juga dengan Rendy, ternyata diwaktu itu Sinta hanya memiliki kekasih dua dan itu hanya Aku dan Rendy, walaupun hidup Sinta dulunya sangatlah bebas, suka menghabiskn waktu diclub malam, ternyata dia ada sisi baiknya juga." Gumam batin Papah Andre.


Setelah dia selesai membaca tulisan Sinta itu, dia pun terdiam dan menghela nafasnya dengan dalam dan dia pun hanya tersenyum pada Amelia.


" Amelia ... Om sudah lama memaafkan Mamah mu itu dan Om juga tidak pernah membenci Papah mu ataupun Mamah mu, Om bersyukur karena Mamah mu sudah bahagia dengan pilihan Mamah mu yaitu papah kamu." ucap Papah Andre tersenyum


Amelia mengangguk...


" Terimakasih banyak ya Om, Amelia juga tidak menyangka karena Mamah berbuat seperti itu dengn menduakan Om Andre dengan Papah,sekali lagi maafkan Mamah ya Om." Ucapnya lagi.


Papah Andre mengangguk.


" Amelia...itu namanya nak Mamah mu dan Om Andre tidak berjodoh,melainkan berjodoh dengan Papah mu, buktinya cinta mereka sampai akhir hayat." sambung papah Boby lagi sembari tersenyum.


" Iya tuh benar kata Om Boby, sekarang kamu istirahat aja dulu, setelah santap siang kita akan pulang ke tanah Air." ucap Papah Andre, dan diangguklkan Amelia, dia pun kemudian melangkah menuju arah kamarnya dan mengambil kembali buku tersebut yang diletakkan Papah Andre di atas meja dan langkah Amelia di iringingi dengan tatapan papah Andre dan Papah Boby.


" Memangnya ada apa didalam buku tersebut Ndre.?" tanya Papah Boby pada sahabatnya tersebut.


" Mendiang Sinta menuliskan semuanya tentang masa lalunya waktu bersama dengan ku dan bersama dengan mendiang Rendy dan saat aku dan Sinta selalu bersama buku itu yang selalu dibawanya." terang Papah Andre dan dianggukkan Papah Boby seolah-olah mengerti dan menyenderkan tubuhnya, Papah Andre langsung berdiri dan melangkah kearah kamarnya sembari berbicara.


" Istirahat dulu Bob." ucapnya.


" Aku mau tiduran di sofa aja Ndre." ucapnya sembari merebahkan tubuhnya disofa empuk tersebut.


*****


Ditanah Air...karena perbedaan beberapa jam saja antara tanah Air dan waktu Kanada, disebuah rumah seorang wanita sedang menghubungi seseorang didalam kamarnya dan sambungan suara itupun bersambut, siapa lagi kalau bukan Clarissa yang berada didalam kamarnya yang berada dirumah keluarga Wibawa.


" Selamat pagi " sapa Clarissa


" Pagi mbak..." Jawab suara diseberang sana.


" Sekarang kamu dimana?" tanya Clarissa.


" Aku sudah sedari tadi menunggu kamu mbak di kedai kopi ini." jawab seseorag yang ada diseberang sana, siapa lagi kalau bukan si pemilik nomer gawai yang misterius itu.


" Baiklah, sekarang Aku kesana, tapi kami sarapan pagi dulu sebelum kesana." ucapnya.


" Iya Mbak silahkan saja, karena waktunya masih banyak, karena kita bertemunya sudah ditepatkan jam delapan pagi, jadi silahkan saja mbak sarapan pagi dulu " ucapnya lagi.


Kemudian mereka berdua memutus sambungan bicaranya secara bersamaan.


" Sayang.... bagaimana?" tanya Marco


" Dia sudah ada disana...."


" Apa sekarang kita kesana ?"


" Iya sayang, sekarang kita kesana setelah kita sarapan pagi, tapi kita harus mengatakan pada orang rumah untuk berangkat kekantor agar mereka semua tidak curiga pada kita terutama Morgan dan Anindita." ucap Clarissa dianggukkan oleh Marco.


Awal mula Anindita dan Morgan yang berpamitan, kemudian barulah mobil Clarissa yang keluar dari rumah keluarga besar Wibawa tersebut.


Mereka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tapi sayang mereka tidak menyadari sebuah mobil mengikuti mereka dari tadi, mereka tidak menyadari mobil yang mengikuti mereka adalah mobil yang tidak asing mereka lihat dan mereka juga tidak menyadari si pengemudi tersebut sangat mereka kenal sekali.


Beberapa saat kemudian mobil Clarissa memasuki halaman kedai kopi yang sangat terkenal di kotanya tersebut dan mereka pun keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk kedalam, sebelum memasuki kedai kopi tersebut Clarissa menengok kiri dan kanan dan merasa aman-aman saja dia pun langsung mngambil gawainya dan menghubungi si wanita misterius tersebut sesampainya di depan pintu kedai kopi itu.


Mobil yang mengikuti mereka itupun memasuki kedai tersebut, dan memarkirkan mobilnya disamping mobil Clarissa, tapi dia tidak langsung turun dari mobilnya dan hanya terdiam sesaat didalam Mobilnya.


" Ngapain mereka berdua kesini? apakah ini tempat mereka akan bertemu dengan wanit itu?" Ucapnya sembari berbicara sendiri.


Clarissa menghubungi wanita misterius tersebut dan melihat salah seorang wanita yang duduk membelakangi pintu masuk itu mejawab panggilannya dan kemudian Clarissa mematikan gawainya dan terlihat si wanita meletakkan kembali gawainya ditempat semula.


" Apakah itu dia?" ucap batin Clarissa dan dia kemudian menghubunginya lagi dan lagi-lagi wanita tersebut mengjawab panggilan dari gawai pribadinya.


Clarissa mencoba berbicara sembari matanya mengawasi semua pengunjung yang ada dikedai kopi itu hanya wanita itu yang menjawab panggilan tersebut.


" Coba kamu berbalik kearah pintu biar aku mengetahui dimana posisi kamu sekarang." Ucap Clarissa langsung mematikan gawainya dan langsung duduk disamping pintu dengan menarik pelan suaminya sebelum si wanita berbalik kearah pintu masuk.


Ternyata wanita yang diperkirakan oleh Clarissa ternyata benar, dia pun langsung berbalik kearah pintu tapi dia tidak melihat kedatangan Clarissa.


" Dimana dia? " Ucapnya sembari berdiri menatap kearah pintu masuk.


Karena Marco masih sibuk menatap layar gawainya untuk membalas chat pribadi dari sekretarisnya dikantor jadi dia tidak mengawasi wajah wanita misterius itu, Clarissa pun berdiri dan melangkah menuju wanita tersebut dan saat wanita tersebut kembali duduk dan menghubungi Clarissa melalui gawainya Clarissa sudah berada dibelakang si wanita itu, Dia kemudian mendongakkan kepalanya.


" Anda menghubungi aku?" Tanya Clarissa seraya duduk dan menaruh tas tangannya diatas meja seraya menatap wajah wanita tersebut.


Clarissa sengaja meninggalkan Marco dimeja dekat pintu, dan Morco juga tidak mengetahui kalau sang istri sudah berada bersama dengan wanita misterius itu dan juga sudah berpindah meja.


Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Apakah mbak ini istrinya Kak Marco saudaranya Morgan?" Tanyanya.


" Iya! Aku istrinya Marco, siapa kamu?!" Ucapnya seraya menatap kearah wanita tersebut dengan tatapan tajam seolah-olah ingin menerkam si pemilik wajah tersebut yang sedang duduk di depannya itu.


Lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum.


" Sabar mbak, nggak usah seperti itu, sebelum saya mengatakan siapa saya, saya lagi menunggu seseorang kesini." Ucapnya.


" Siapa?!" Tanya Clarissa tanpa mengalihkan tatapannya.


" Suami saya..." Jawabnya santai.


" Suami?!"


" Iya...kenapa Mbak?"


" Kalau kamu sudah punya suami kenapa kamu menghubungi Morgan terus? Ada hubungan apa dengan Morgan?"


" Saya ini..." Sebelum dia melanjutkan bicaranya, Marco tiba-tiba datang dan memanggil sang istri.


" Sayang...kenapa nggak diajak sih aku pindah meja." Ucap Morgan sembari mengambil duduk di samping sang istri dan dia belum fokus dengan wanita yang ada didepan sang istrinya itu.


" Apa kabar kak Marco..." Sapanya.


Marco kemudian tersadar dan dia pun terkejut melihat sosok wanita yang dikenalnya ada dihadapannya sekarang.


" Antis? " Ucapnya.


" Antis? Siapa Antis? Kamu kenal dengannya?" Tanya Clarissa heran.


" Iya sayang, dia adalah sahabat kecil Morgan, tapi...apakah kamu yang sering menghubungi Morgan?" Tanya Marco.


Antis mengangguk dan tersenyum.


" Kenapa kamu tidak jujur dengan Morgan?" Tanya Marco.


" Aku memang sengaja kak, mengganggunya dan aku juga ingin mengerjainnya kan sebentar lagi hari jadinya dan aku akan membuat kejutan untuknya." Ucapnya tersenyum.


" Ya Allah...ternyata kamu temannya Morgan, kenapa baru muncul sih? Kemana aja? Pantesan saja kamu kenal dengan Marco, hampir saja kamu kena..." Ucap Clarissa menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki sekarang ini.


" Kena? Maksud mbak?" Tanya Antis heran dengan ucapan Clarissa.


" Kena ajian elemen Air dan udara.." ucap Clarissa tersenyum.


" Elemen air dan udara?"


" Iya karena negara api sedang diserang .." ucap Clarissa tertawa santai.


" Hahahah...." Antis dan Marco tertawa pelan mendengar ucapan Clarissa.


" Saya baru muncul sekarang karena saat itu saya berada didaerah kalimantan dan suami saya ditugaskan dikota ini baru-baru ini, dan saya menyusul suami saya untuk tinggal disini, suami saya ditugaskan disebuah rumah sakit sebagai tenaga medis tepatnya dokter spesialis dalam, suami saya tahu rencana semuanya ini dan dia juga tahu hari ini akan bertemu dengan kalian." Terangnya.


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara Anindita yang sudah berada diantara mereka.


" Ada apa Clarissa? Apakah wanita ini yang kalian temui dan kalian sudah janjian disini?" Tanya Anindita sembari mengambil duduk di samping mereka semua, Clarissa, Marco dan Antis terkejut melihat kedatangan Anindita, dan yang lebih terkejut lagi adalah Clarissa, karena dia tidak menyangka Anindita sudah mengetahui pertemuan mereka disini.