THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 330



" Jangan cemas nak, in sya Allah tidak akan terjadi apa-apa dengan istrimu, serahkan semuanya pada yang maha kuasa, karena tidak ada yang tidak mungkin dihadapannya kalau kita berserah diri padanya." ucap mamah Anisha tersenyum dan mengusap pundak anak lelakinya itu.


" Iya nak, benar apa yang dikatakan mamah kamu itu, jangan terlalu cemas dan khawatir papah yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan menantu papah, perbanyaklah berdoa nak..." sambung papah Andre tersenyum menguatkan sang anak, dianggukkan Abiyasa sembari menatap sang papah sekilas, kemudian dokter kandungan yang bertugas menanganin sang istri berjalan mendekati mereka bersama dengan Anindita, Abiyasa yang melihat kedatangan dr Karmila itupun langsung mendekati sang dr yang sering memeriksa kandungan Ayesha dirumah sakit tersebut.


" Bagaimana dok keadaan istri saya? apakah tidak terjadi apa-apa dengan keduanya dok?" tanya Abiyasa yang disambut senyuman sang dokter.


" Nak,sabar ya, tenang dr Karmila akan menjelaskan semuanya." ucap mamah Anisha sembari memegang tangan anak sulungnya itu, dianggukkan Abiyasa sembari memegang tangan sang mamah dengan tangan kirinya.


" Istri bapak tidak apa-apa, istri bapak hanya kelelahan saja sehingga membuat kandungannya melemah, tpi bapak tidak usah khawatir karena kami sudah menanganinnya, sekarang istri bapak sedang istirahat karena sudah kami beri vitamin untuk menguatkan kembali kandungannya, sebentar lagi istri bapak akan dipindahkan keruangan rawat inap, pesan saya istri bapak harus istirahat total tidak boleh terlalu cape, karena tinggal menunggu beberapa minggu lagi udah melahirkan." ucap dr Karmila sembari tersenyum.


" Terimakasih dok..." ucap Abiyasa merasa lega setelah mendengar keterangan dr Karmila.


" Sama-sama pak..." ucapnya sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan diapun kemudian berpamitan dengan mereka dan melangkah keluar ruangan tersebut.


Kemudian datang seorang perawat yang mendekati Anindita dan berbicara sesaat dengannya terlihat Anindita mengangguk dan kemudian diapun berpamitan dengan kedua orang tuanya dan kakaknya itu karena ada yang harus ditanganin, dianggukkan kedua orang tuanya dan Anindita pun kemudian melangkah meninggalkan mereka dan dia menuju keruangan yang lain sesuai dengan keterangan perawat tersebut.


Beberapa saat kemudian dua orang perawat yang bertugas diruangan UGD itupun keluar membawa Ayesha yang terlihat tertidur untuk dibawa keruangan rawat inap untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi, Abiyasa dan kedua orang tuanya mengikuti langkah kedua perawat tersebut menuju ruang rawat inap untuk Ayesha.


Setelah selesai kedua perawat itupun berpamitan keluar dan yang berada diruangan itu hanya Abiyasa dan kedua orang tuanya.


" Mah, Pah...sebaiknya kalian berdua pulang saja kerumah beristirahat karena kalian terlihat cape." ucap Abiyasa pada kedua orang tuanya itu.


" Mamah akan temani kamu disini nak, kamu juga terlihat cape."


" Iya Biy, papah juga akan menemani kamu disini." sambung papah Andre tersenyum.


" Pah, Mah, nggak usah, biar Abiyasa saja disini menemani istri Biyas, mamah dan papah kan sudah tua, tidak baik untuk berjaga tengah malam karena mamah dan papah tidak lagi muda, Biyas harap papah dan mamah tidak tersinggung dengan ucapan Biyas, karena Biyas sangat menghawatirkan kesehatan kalian berdua, lebih baik mamah dan papah pulang saja dan beristirahat dirumah, nanti Abiyasa akan kasih kabar tentang keadaan istri Biyas." ucap Abiyasa sembari tersenyum kemudian dianggukkan sang papah dan mamahnya.


" Baiklah kalau begitu keinginan kamu, mamah dan papah akan pulang kerumah dan beristirahat, tapi ingat kalau ada apa-apa dengan istri kamu segera kabari kami." ucap papah Andre dianggukkan Abiyasa sembari tersenyum.


" Pasti pah..." ucapnya sembari mencium kedua punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Papah Andre dan mamah Anisha berpamitan dengan Abiyasa sang anak, dan merekapun meninggalkan ruangan sang menantu setelah keduanya saling mengucap dan membalas salam, beberapa saat kemudian mobil papah Andre meninggalkan rumah sakitnya menuju kearah rumah pribadinya. Abiyasa mendekati sang istri dan dia kemudian mencium kening istrinya tersebut dengan menggenggam tangan sang istri dia duduk disamping ranjang sang istri sembari menatap teduh wajah istri tercintanya yang sedang tertidur dan dia juga tak lupa mencium perut istrinya seraya mengelus-elusnya.


" Sehat-sehat ya anak papah...." ucapnya kemudian dia merebahkan kepalanya disamping sang istri dengan posisi duduk seraya masih menggenggam tangan sang istri dan tak lama diapun tertidur.


Tepat jam empat pagi Abiyasa bangun dia lagsung menatap wajah sang istri, yang masih tertidur, dia pun langsung mencium kembali kening sang istri dan dia berdiri hendak membersihkan dirinya kekamar mandi dan dia terkejut karena ketiga orang lelaki sudah berada diruangan itu,siapalagi kalau bukan Arvin, Morgan, dan Marco mereka juga sedang lelap tertidur, Abiyasa kemudian mendekati mereka dan membangunkannya untuk segera melaksanakan sholat subuh.


" Heh berandal!! bangun! cepatan bangun!" ucap Abiyasa sembari tersenyum karena melihat ketiga orang itu langsung membuka mata mereka dan langsung duduk dari tidurnya.


" Kenapa sih Biy, aku dibangunkan pagi banget." ucap Morgan disela matanya kembali menutup dan menyenderkan kepalanya disandaran sopa.


" Hooh...masih ngantuk banget nih Biy..." sambung Arvin kembali merebahkan tubuhnya disopa.


" Sama, aku juga masih ngantuk berat nih..." lanjut Marco.


Abiyasa hanya terkekeh dan langsung duduk disamping Morgan.


" Ini waktunya sholat subuh, mau kalian jadi pengikut setan yang bergantung dikedua kelopak mata kalian dan kalian akan menambah daftar panjang penghuni neraka, mau?" ucap Abiyasa tersenyum.


Mereka bertiga pun kemudian membuka matanya dan tersenyum pada Abiyasa.


" Sejak kapan kalian ada disini? dan dari mana kalian tahu aku berada disini." tanya Abiyasa pada mereka setelah mereka menguasai kesadarannya.


" Sejak tadi malam, dan kami tahu dari Morgan." ucap Arvin.


" Iya Biy, mereka tahunya dari aku, dan aku dikasih tahu istriku." ucap Morgan sembari menguap dengan lebar.


" Aku ikut karena aku mewakili istri ku, karena dia tidak dapat hadir untuk menemani kamu dirumah sakit aku yang berinisiatif untuk menggantikan posisinya dan lagi dia juga berada ditempat mertuaku jadi aku aman meninggalkannya, dia juga tidak keberatan dengan keinginanku menemani kamu Biy, kaliankan mempunyai suatu slogan dalam persahabatan kalian, susah sama susah, senang sama senang, baik dalam segi apapun kebersamaan dan saling bahu membahu selalu diutamakan." ucap Marco tersenyum.


" Iya Biy, benar apa kata kak Marco, makanya kami tidak ingin kamu sendirian dirumah sakit dan kami juga tidak ingin melihat kamu diterpa dengan rasa kegelisahan dan kecemasan yang melanda istrimu, karena kita semua disini adalah saudara yang siap berada disamping saudaranya saat saudara yang lain tertimpa musibah." lanjut Morgan dianggukkkan Marco, Abiyasa dan Arvin.


" Terimakasih ya,Awalnya aku sangat, sangat dan sangat cemas sekali karena melihat istriku meringis kesakitan, aku takut terjadi apa-apa dengan keduanya, tapi Alhamdulillah istriku sudah tidak apa-apa, dia hanya kelelahan saja, mungkin hari ini kami pulang kerumah dan dia bisa beristirahat dirumah." ucap Abiyasa.


" Alhamdulillah..." ucap mereka bertiga.


" Ya udah ayo kita segera sholat ntar waktu sholat subuh habis lagi." ajak Abiyasa dianggukkan ketiga sahabatnya.