THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 220



Semua pekerjaan yang dulunya di jalankan oleh Aditama Akhirnya sudah diselesaikan dan dibersihkan oleh mereka berdua dari berkas-berkas yang tidak terpakai lagi dan surat-surat kerjasama yang tidak ditandatangani oleh Aditama sudah dibereskan.


" Akhirnya selesai juga Biy, ternyata perusahaan ini kalau diteliti lebih lanjut sudah mendekati kebangkrutan." Ucap Clarissa seraya mengusap rambutnya dan mengikat rambut hitam panjangnya itu,sambil menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan tersebut.


" Iya benar kata mu Ris, makanya aku sebenarnya tidak berminat untuk membeli perusahaan dari Pak Tomi ini, tapi dikarenakan perasaanku mengatakan Pak Tomi ini ada hubungannya dengan permasalahan yang dialami oleh Kakak Nayra, ternyata firasatku itu benar, dugaanku tidak meleset, tapi mudah-mudahan saja kita akan membenahi perusahaan ini dari nol lagi dan semoga saja Pak Toto bisa menjalankan amanah yang kita berikan untuk memimpin perusahaan anak cabang dari Wibawa grup ini." ucap Abiyasa sembari melangkah mendekati Clarissa dan duduk di hadapan Clarissa, terdengar helaan nafas dari Abiyasa dan dia pun kemudian mengusap wajahnya dengan kasar dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari merentangkan tangannya di sandaran sofa panjang tersebut sambil menatap kearah langit-langit ruangan kantor barunya itu.


" Alhamdulillah sudah selesai, besok kita akan pulang ke rumah karena aku sudah kangen banget dengan Istriku." ucapnya lagi.


" Iya Biy, aku juga kangen dengan suamiku, Kamu kan tahu saat aku berada dikota ini, aku jarang menghubunginya, saat dia menghubungi aku, kami bicara cuma sebentar dan kita ngebut menyelesaikan pekerjaan yang amburadul selama berada di tangan Aditama itu." ucap Clarissa.


" Iya Ris benar katamu,aku saja sampai geleng-gelenh kepala, kok ada ya orang seperti itu, banyak pengeluaran tapi sedikit pemasukkan."


" Ya adalah Biy, kalau orang tamak itu semua ingin dimilikinya apa aja,karena dia tidak ingin susah."


Abiyasa menganggukkan kepalanya.


" Oh ya Ris, besok kita ambil penerbangan siang aja ya, untuk kita pulang ke rumah, Nanti malam kita berkunjung ke tempat Pak Toto untuk membahas beberapa orang yang ada di kantor ini dan aku juga ingin menanyakan beberapa hal dengan Pak Toto,lagi pula kita belum mendapatkan wakil dari Pak Toto, Aku kan belum mengenal sama sekali sikap dan perilaku mereka yang ada di sini dan aku juga ingin mengatakan dengan Pak Toto tentang kebijakan-kebijakan yang harus diberikan kepada karyawan di sini, agar mereka nyaman bekerja di sini tanpa ada beban dan tidak ada keterpaksaan. " ucap Abiyasa.


" Kalau kita berkunjung ke rumah Pak Toto dan menjelaskan semuanya, buat apa kita ngambil penerbangan siang Biy, lebih baik kita mengambil penerbangan pagi aja, kan kita sudah menjelaskan dan memberikan keterangan kepada Pak Toto tentang semuanya dan tinggal Pak Toto aja lagi yang menjalankan semuanya." Ucap Clarissa.


" Kalau kita ngambil keberangkatan pagi waktunya juga nggak sempat Ris, di samping itu Kita juga harus berpamitan dengan mereka semua yang ada di sini, karena mereka juga kan bagian dari kita sekarang, disamping itu kalau kita sudah mengetahui siapa yang memang terbaik untuk mendampingi Pak Toto dengan kejujuran dan keikhlasan tanpa ada beban di diri dia menjalankan tugas dari kita ini, Kita juga harus mengenal siapa mereka dan kita harus mengetahui orangnya seperti apa." ucap Abiyasa menjelaskan kembali kepada Clarissa.


Clarissa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum Begitu juga dengan Abiyasa.


" Ya sudah kalau seperti itu, ayo kita pulang ke penginapan, karena kita masih berada di sini dan kitalah yang menempatinya karena Papa belum check out dari sana." ucap Abiyasa.


Lagi-lagi Clarissa hanya mengangguk saja karena disamping Clarissa sudah lelah dia juga ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk dan memejamkan matanya untuk menikmati istirahatnya.


Mereka berdua kemudian berdiri dari duduknya dan merapikan kembali barang-barang bawaannya setelah terlihat rapi dan sudah memasukkan ke dalam tas masing-masing, Abiyasa dan Clarissa melangkah meninggalkan ruangan tersebut dan menuju ke arah lobby, apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul empat sore yang ada di kantor itu hanya mereka berdua dan dua orang security yang memang bertugas di kantor tersebut dan para karyawannya sudah pulang terlebih dahulu, karena kantor itu beroperasi dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore saja, mereka berdua pun kemudian memasuki mobil dan berlahan-lahan mobil yang digunakan Abiyasa adalah mobilnya pak Maman, mobil itu pun kemudian meninggalkan kantor tersebut menuju ke arah penginapan, tidak ada suara di dalam mobil, hening! mereka berdua menikmati suasana sore di kota itu, karena mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing dan larut dalam kelelahan yang mereka rasakan karena mereka sudah seharian bekerja membenahi berkas-berkas yang amburadul dikarenakan Aditama yang tidak bisa memimpin perusahaan dengan cara yang benar.


Mobil yang ditumpangi Mereka pun memasuki area parkir penginapan, mereka berdua turun dan sama-sama tersenyum sembari berjalan menuju ke arah lantai 2 di mana kamar mereka berada, sebelum sampai ke kamar mereka itu Abiyasa sempat melihat kelelahan di wajah Clarissa, dia pun kemudian tersenyum pada Clarissa dibalas Clarissa dengan senyuman manisnya.


" Clarissa kalau kamu capek biar aku aja nanti malam selepas solat isya mau ke tempatnya Pak Toto, sekalian mau mengembalikan mobil beliau dan besok minta dijemput aja sama beliau ke kantor, selepas dari kantor langsung ke bandara." ucap Abiyasa.


" Nggak Biy, aku juga ikut ah! masa aku tinggal sendirian di penginapan, Aku tidak mau ah! mending aku ikut aja biar aku juga mau menghilangkan kejenuhan aku sendirian di penginapan, Aku juga ingin mengenal lebih dekat kembali dengan Pak Toto dan keluarganya." ucapnya sembari terkekeh pelan.


" Baiklah kalau kayak gitu, Kita istirahat sesaat setelah itu nanti aku akan menghubungi kamu biar kita berangkat ke tempat Pak Toto." ucap Abiyasa, Clarissa menganggukkan kepalanya dan mereka pun memasuki kamar masing-masing.


Di rumah Pak Toto...


Pak Toto yang bersantai dengan istri, dihampiri oleh Pak Maman yang keluar dari arah dalam, dia pun ikut duduk santai di teras depan rumah adiknya itu.


" Mas aku mau bertanya nih sama Mas Maman."


" Tanya apa Dek?"


" Sebenarnya bagaimana sih mas, Pak Abiyasa itu?"


Pak Maman tertawa mendengar pertanyaan dari adiknya tersebut, dia mengetahui kalau perasaan adiknya itu merasa bingung dan merasa ingin mengetahui bagaimana sikap Abiyasa yang sebenarnya, karena Pak Maman belum pernah menjadi anak buah Abiyasa sebelumnya dan wajar saja dia bertanya seperti itu.


Pak Toto menganggukkan kepalanya.


" Memang ada apa? Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?"


Pak Toto menghela napasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.


" Sebenarnya aku itu belum siap untuk menjadi sebagai pemimpin utama perusahaan itu mas, karena pengetahuan aku sedikit, walaupun aku udah lama bekerja di situ, aku tidak enak dengan teman-teman yang lain dikiranya aku berlindung di bawah ketek kamu, karena kamu sangat dekat dengan keluarga Wibawa."


Lagi-lagi Pak Maman tertawa...


" Sudah! kamu Jangan memikirkan orang-orang yang memandang kamu rendah, ataupun mengatakan Kamu itu tidak mampu dalam menjalankan amanah tersebut, Tapi kamu harus maju terus kedepan karena mereka memberikan kepercayaan itu kepadamu, berarti kamu adalah orang yang memang dipilih mereka dan mereka juga tahu pasti kamu mampu untuk menjalankan perusahaan itu, kamu harus percaya diri Dek tunjukkan kepada orang-orang yang mempunyai penilaian yang mengatakan padamu Kalau dirimu itu belum mampu." ucap Pak Maman pada adiknya tersebut sembari menepuk pundak adiknya dengan pelan.


Pak Toto pun menganggukkan kepalanya.


" In sya Allah Mas, aku akan menjaga kepercayaan mereka." ucapnya sembari tersenyum Pak Maman pun menganggukkan kepalanya.


" Itu yang ingin Mas dengar dari mulutmu, Kamu pasti mampu." ucapnya.


Kemudian terdengar suara adzan berkumandang, Mereka pun kemudian menghentikan waktu santainya dan mereka satu persatu melangkah masuk untuk mengambil air wudhu dan salat berjamaah di rumah mereka sendiri dengan diimami oleh Pak Maman.


*****


Di rumah keluarga Wibawa...


Rumah kediaman keluarga Wibawa sudah mulai sepi karena mereka yang sudah berada di kediaman rumah tersebut sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, papa Andre yang sudah melaksanakan salat magrib tersebut pun kemudian melangkah ke ruang tv Dia menatap layar kaca yang masih menyala tersebut, saat dia asik menatap ke layar kaca dengan pikirannya yang masih penuh dengan pertanyaan besar tentang wanita yang tadi siang dia lihat di bandara.


Mama Anisha kemudian melangkah menuju ke ruang tv menemui sang suami, saat dia melihat suaminya menatap ke layar kaca tanpa kedip sama sekali dan terlihat di wajah suaminya itu ada rasa penasaran yang Mama Anisha tidak tahu, kemudian Mama Anisha pun mendekati sang suami dan pelan menyentuh pundak suaminya tersebut.


" Papa ada apa?" tanya Mama Anisha.


Papa Andre pun kemudian menoleh kearah Mama Anisha sembari tersenyum manis dengan sang istri yang ada di sebelahnya tersebut.


" Papa tidak apa-apa kok Sayang." Ucapnya tersenyum.


" Terus kenapa wajah Papa terlihat seperti orang penasaran sekali ?memang ada apa?papa ada masalah atau ada apa nih? coba cerita sama Mama ucap Mama Anisha seraya memegang tangan suaminya dan menggenggamnya.


Papa Andre kemudian membenarkan tatanan duduknya, Dia kemudian menatap kearah Mama Anisha.


" Saat papah pulang dari kota sebelah di bandara papa bertemu dengan seorang wanita, wajahnya itu mirip sekali dengan Sinta, tapi mungkin karena papa ini tidak pernah bertemu dengan Sinta lagi jadi saat lihat dia itu papa terkejut, tapi kata mereka mungkin itu adalah anaknya yang bernama Amelia." ucap papa Andre.


" Memang kenapa Pah dengan anaknya Sinta?" Tanya Mama Anisha.


" Saat dia menabrak Papa tanpa sengaja, Papa melihat di wajahnya ada rasa ketakutan dan seperti menyimpan sesuatu, makanya Papa tadi bertanya dengan Bobby, Apakah Bobby mengetahui kabar dari mereka, karena papa takut Mereka ada di sini dan mengganggu anak-anak kita, karena saat itu kan anaknya Sinta masih kecil dan papa juga ingin mengatakan kepada anak-anak kita kalau ada bertemu dengan wanita yang mirip dengan Sinta Abaikan saja." Ucap Papah Andre.


Mamah Anisha tersenyum,mendengar suaminya tersebut berbicara seperti itu.


" Hahaha....papah ada-ada saja deh, mana mereka tahu wajah Sinta seperti apa,karena papah juga nggak ada Fhotonya kan." Ucap Mamah Anisha tertawa lepas karena melihat kekhawatiran suaminya itu.