THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 228



Kemudian Arvin pun mengajak Abiyasa keluar ruangan diikuti oleh dokter Roni beserta dengan dokter Siska yang di dalam ruangan hanyalah Amelia Nika dan Almira.


" Almi.. Apakah emang benar Nika pernah berbicara kepadamu tentang laki-laki yang mengikutinya itu?"


" Iya Kak Amel,Dia berbicara dengan Almira, dia juga bercerita tentang keluarga kakak kalau kedua orang tua kalian yang sudah meninggal dunia."


Terdengar Amelia menghela napasnya dengan berat dan melepaskannya juga dengan berat.


" Kakak kenapa? memangnya Kakak punya masalah?"


Amelia tidak menjawab pertanyaan dari Almira, dia hanya diam saja tidak ada suara sama sekali yang hanya terdengar helaan nafasnya Amelia yang sangat berat sekali.


" Kak Amel, lebih baik Kakak cerita sama kakak-kakak Almi tadi, mereka pasti akan membantu Kakak dan akan menyelesaikan masalah Kakak, yakin deh, karena tidak ada satu masalah pun yang tidak bisa diselesaikan oleh mereka, pasti semuanya terselesaikan dengan rapi dan semua yang berbuat jahat pasti ketahuan sama mereka." ucap Almira mengatakan kepada Amelia.


Amelia pun kemudian menoleh ke arah Almira.


" Benarkah itu?"


" Benar Kak, Kak Abiyasa, Kak Arvin, Kak Morgan dan kak Clarissa kalau sudah bertindak tidak ada yang terlepas dari mereka." Jelasnya sambil tersenyum.


" Yang benar kamu Almi?"


" Iya kak, lebih baik Kakak cerita aja terus terang kepada mereka semua, mereka pasti akan membantu kakak menyelesaikannya sampai keakar-akarnya, yakin deh sama Almi, pasti mereka juga akan cerita masalah Kakak ini dengan papa Andre, papah Andre Papanya Almi ada juga Om Bobby, Om Yos..." Kata-kata Almira di potong Amelia.


" Om Bobby?" Ucap Amelia,dengan ekpresi terkejutnya mendengar Almira menyebutkan nama papah Boby.


" Iya kak, Om Bobby, Kenapa? kakak kenal dengan om Bobby?kok kakak terkejut gitu dengar nama Om Boby, Om Bobby itu adalah papanya dari Kak Clarissa."


Amelia terdiam.....


" Kakak Kenapa diam?Apakah kakak mengenal Om Bobby? Om Bobby adalah suaminya tante Lala, Dia mempunyai dua anak,kak Clarissa anak pertama sudah menikah dengan kak Marco dan yang kedua Charlo, dia masih sekolah kelas 12, sebentar lagi dia lulus." terang Almi pada Amelia, Amelia terdiam dia tidak terlalu mendengarkan lagi omongan dari Almira.


" Oh ya Kak Amel .." ucap Almira.


Kemudian Amel menoleh ke arah Almira.


" Ada apa Almi?"


" Cerita Almi belum selesai Kak, masih ada Om Yosep dan Om Chandra, mereka juga sangat terkenal menyelesaikan suatu masalah dan menangkap para penjahat-penjahatnya, mereka juga bisa membantu para polisi dengan mengurangi penjahat yang ada di kota ini hehehe...." kekeh Almira, membuat Amel pun ikut tersenyum, tapi dia teringat akan kata-kata mamahnya waktu Sebelum meninggal dunia, dia mengatakan untuk menemui keluarganya tersebut.


" Mama bilang kalau mama sudah tidak ada, aku harus pulang ke Indonesia dan menetap di Indonesia dan harus mencari keluargaku dan keluarga dari pihak mama,dan juga dari pihak papah, tapi sampai saat ini keluarga Almarhum Papa atau pun Almarhumah mamah belum juga aku temukan, tapi mama sempat bilang agar aku mencari orang tua yang bernama Bobby dan Lala,Apakah yang dimaksud Almi ini adalah Bobby dan Lala yang dimaksudkan oleh Almarhumah Mama saat itu, ya Allah berilah aku cahaya terang agar aku bisa menemukan mereka dan aku bisa mengatakan semuanya,kenapa aku sampai seperti ini dan Kenapa juga Mama dan Papa pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya dan sudah bersama-sama di surganya Allah, tapi di mana mereka berada? aku tidak ingin mengatakan kepada Almi kalau Om Bobby dan tante Lala itu adalah keluargaku siapa tahu itu salah." gumamnya sembari membelai lembut rambut adiknya tersebut.


" Almi..." Panggil Amel Seraya menyentuh tangan Almira yang sedang menatap sahabatnya yang masih terbaring di tempat tidur rumah sakit itu.


Almi menoleh kearah Amelia.


" Iya Kak Amel ada apa?"


" Kalau seandainya Kakak cerita semuanya dengan kakakmu itu, apakah mereka mau membantu kakak?"


" Itu pasti Kak! Mereka pasti akan membantu kakak, asalkan Kakak jujur mengatakan dari awal sampai akhir ceritanya seperti apa, kalau kakak cerita sama Almi sama aja bohong, Almi kan gak tahu apa-apa, yang tahu Almi cuma Nika aja yang cerita kalau Nika sering diikuti laki-laki, tapi Nika enggak mau cerita sama Almi siapa laki-laki itu, jadi Almi tidak tahu ceritanya, bahkan saat Nika cerita pada Almi, kalau laki-lakinya itu berada dibelakang kami saat berjalan berdua, tapi saat Almi menoleh, dia sudah enggak ada, laki-laki itu pintar sekali Kak menyembunyikan dirinya saat Almi mencari-cari dia." ucap Almira berbicara dengan Amelia menjelaskan kalau Nika pernah cerita dan saat mereka berjalan berdua.


" Lebih baik sekarang kakak ceritakan kepada mereka pasti mereka cepat membantu." Ucap Almi lagi.


Terdengar helaan napas lagi dari Amelia,sangat berat seberat beban yang dideritanya saat ini.


" Nanti aja Almi,biar kakak pikirkan dulu, nanti kakak akan cerita semuanya kepada kakak kamu, kalau mereka bisa membantu Kakak."


" Ya udah kalau seperti itu, ini kan waktunya sudah mau malam juga,Almi mau pamit dulu ya kak, besok Almi datang lagi ke sini, nanti setelah itu biar Kakak Almi aja yang mengatakan kepada pihak sekolah tentang keadaan Nika ya."


" Iya Almi, terima kasih banyak ya atas pertolongannya."


" Iya Kak sama-sama."


Kemudian Almira meraih tangan Amelia dan mencium tangan tersebut lalu dia mengucapkan salam dan dibalas salam oleh Amelia, dia melangkah keluar menuju ke pintu utama ruangan tersebut, mereka yang ada di luar pun menoleh ke arah pintu.


" Ada apa Almira?" tanya Abiyasa.


" Almira mau pulang kak, Udah malam, pekerjaan Almi belum selesai tadi, besok udah dikumpul kak, nanti Almi dimarahin sama bu guru kalau tidak dikerjakan."


" Ya udah kalau kayak gitu kita pulang sekarang." ucapnya kepada adik kesayangannya itu.


" Arvin sampai besok ya, sampaikan pamitku kepada Kak Roni, Aku pulang duluan."


" Iya Biy." ucap Arvin.


Kemudian kedua kakak-beradik itu pun meninggalkan depan ruangan Nika, setelah saling mengucap dan membalas salam.


Di dalam mobil...


" Kakak..!" panggil Almi pada Abiyasa.


" hmhmhm..ada apa Dek?"


" Tadi waktu Almi cerita sama Kak Amel agar menceritakan semuanya kepada kakak dan Almi juga nyuruh dia untuk minta tolong sama Kakak, tolong dibantu ya kak,Kasihan mereka berdua disini sudah tidak ada keluarga."


" Iya, in sya Allah Kakak dan yang lainnya mau membantu tapi kalau dia tidak cerita yang sebenarnya mana kakak tahu ceritanya bagaimana,apa yang dia hadapi." ucap Abiyasa.


" Kakak tahu nggak,waktu tadi Almi cerita semuanya pada Kak Amel dia terkejut mendengar nama om Bobby dan tante Lala Almi sebut."


Abiyasa pun langsung menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba, Almira yang kebetulan tidak menggunakan sabuk pengaman dimobilnya pun membuat dia kurang keseimbangan,dan tak diurungkan lagi Almira langsung kejedot kaca mobil yang ada di depannya.


" Aduh! Kak Abiyasa!! apa-apaan sih kak, sakit tahu!! Kenapa juga menghentikan mobil dengan tiba-tiba sih." Ocehnya.


" Hahaha.. sorry-sorry, maaf kan kakak." ucapnya sembari tertawa lepas dan kemudian melanjutkan kembali mobilnya secara perlahan.


" Kamu bilang apa tadi?katanya dia terkejut mendengar nama om Bobby dan tante Lala?"


" Iya! " Ucap Almira singkat seraya mengusap-usap jidatnya yang kena kaca mobil tersebut.


" Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan om Bobby dan tante Lala lagi."


" Ya siapa tahu aja lagi,tapi apa mungkin Om Bobby dan tante Lala mengetahui atau kenal dengan kedua almarhum orang tua meraka?"


" Entahlah, nanti kakak tanya kepapah aja."


Almira hanya menganggukkan kepalanya saja, kemudian hening! di dalam mobil tidak ada lagi yang berbicara sampai kemudian mobil itu memasuki halaman rumah keluarga Wibawa, mereka berdua pun turun dari mobil dan melangkah menuju ke pintu utama rumahnya tersebut


" Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam." ucap papa Andre dan mama Anisha yang kebetulan duduk di ruang tengah rumahnya tersebut.


Mereka kemudian melangkah menuju ke ruang tengah dimana kedua orang tuanya serta yang lainnya duduk bersantai, merekapun kemudian menyalami mereka dan langsung saja Abiyasa menghentakkan tubuhnya duduk di sofa di samping papahnya itu,dan Almira langsung menuju ke arah kamarnya melanjutkan pekerjaan rumahnya yang harus diselesaikan hari ini juga, karena besok harus diserahkan kepada guru kelasnya tersebut.


" Ada apa Biy ?" tanya papa Andre.


" Tidak ada apa-apa, Gimana besok acara pernikahan Anindita dan Morgan sudah clear kah semuanya mah, pah?" tanya Abiyasa kepada kedua orangtuanya.


Mereka berdua pun langsung menganggukkan kepalanya.


" Alhamdulillah, besok kita tinggal menuju ke tempat gedung resepsinya." Ucap papah Andre.


" Alhamdulillah akhirnya adikku menikah juga." ucap Abiyasa tersenyum.


Tapi papah Andre mengetahui kegelisahan di wajah anaknya itu.


" Ya udah kalau kayak gitu, Mama siapkan makanan dulu ya." ucap Mama Anisha kemudian berlalu dari hadapannya di temani oleh Ayesha,mereka berdua melangkah menuju kearah dapur, kedua ibu dan menantu itu pun membuat makan malam spesial untuk keluarganya tersebut.


" Kamu kenapa Biy? kelihatannya gelisah sekali setelah datang dari rumah sakit, memang ada apa?"


" Tidak ada apa-apa kok pah."


" Kamu tidak boleh bohong loh sama Papa, Papa tahu dari wajah kamu sudah terlihat jelas ada kegelisahan, Ada yang ingin kamu ketahui."


" Sepertinya papa ini mau tahu aja kayak ahli nujum aja,Papah nih kebanyakan temanan sama Om Bobby nih, jadi bisa menerka-nerka terus wajah orang hehehe." ucap Abiyasa terkekeh.


" Itu kamu tahu, makanya jangan bersembunyi dari Papa, Papa pasti tahu karena Papa bisa membaca dari raut wajah dan pandangan mata seseorang yang menyimpan sesuatu, entah itu masalahnya, entah itu sifat ingin tahunya, ataupun itu tentang seseorang yang dia sukai ,siapa tahu kamu ada diantara yang Papa sebutkan tadi." Senyum papah Andre mengembang.


" Kalau sifat ingin tahu dan menyimpan sesuatu emang benar itu Pah, Tapi kalau tentang seseorang yang disukai perasaan tidak ada deh." ucapnya lagi membalas senyum sang papah.


Papa Andre pun membenarkan duduknya setelah mendengar anaknya berbicara seperti itu, dia langsung menghadap ke arah Abiyasa yang berada di sampingnya tersebut.


" Apa yang ingin kamu ketahui dan sesuatu apa yang kamu simpan, terangkan kepada papa dan katakan semuanya kepada papa, biar Papa bisa mengetahuinya." ucap papa Andre, Abiyasa menarik napasnya dengan pelan.


" Begini pah, di rumah sakit itu temannya Almira yang kecelakaan..." dan Abiyasa pun menceritakan semuanya apa yang diceritakan Almira barusan tadi di dalam mobil, Abiyasa juga menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit dengan papanya itu, papa Andre mendengarkan dengan seksama dan tidak ada satupun Yang terlewatkan dari cerita Abiyasa.


" Siapa namanya.."


" Temannya Almira itu Nika namanya, dan kakaknya bernama Amelia, orang tuanya sudah meninggal dunia dan ini fotonya, sempat diambil gambar oleh Arvin." ucap Abiyasa Seraya mengeluarkan gawainya dari saku celananya tersebut.


" Astaghfirullahaladzim..!" Hanya itu yang terucap dari mulut Papa Andre, Abiyasa pun menatap kearah Papa Andre, karena melihat keterkejutan Papa Andre saat melihat foto di gawainya itu.