THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAN 291



Tapi sebelumnya Nadine kemudian diberikan pengeras suara, dan dia diminta berbicara dengan sang kakak untuk sepetah dua patah kata.


Saat Nadine meminta ijin menikah dengan Arvin pada dr Roni melalui pengeras suara tersebut, semua yang ada disitu pun terdiam, dan haru dengan ucapan Nadine tersebut dengan tangis bahagia Nadine mengucapkan kata demi kata yang sudah dirangkainya jauh-jauh hari, dan dr Roni pun terharu dengan ucapan sang adik, setelah Adiknya itu selesai berbicara, dr Roni pun mengatakan setuju dan mengijinkan sang adik melepas masa sendirinya bersama pujaan hatinya itu.


Dengan suasana haru tersebut mamah Raisha tak terasa meneteskan air matanya, air mata tersebut bukanlah airmata seorang yang pesakitan, tapi air mata bahagia seorang ibu melepas putri tercintanya untuk bersama orang lain yaitu pilihan hatinya itu.


" Baiklah kalau gitu, sudah siap nak?" Tanya pak penghulu mengulang lagi pertanyaannya.


Dianggukkan Arvin.


" Dengan ijin dari pihak wanita menyerahkan pada saya untuk menikahkan anak, adik tercintanya menikah dengan pilihan hatinya, ulurkanlah tanganmu nak!" Ucap pak penghulu.


Arvin pun mengulurkan tangannya, dan disambut pak penghulu dan pak penghulu tersenyum.


" Gugup ya?" Tanyanya.


Arvin spontan mengangguk dan disenyumi pak penghulu.


Ayah Candra tersenyum pada anaknya tersebut.


" Bismillahirrahmanirrahim..." Pak penghulu pun kemudian mengucapkan kata-katanya dan seleai kata-katanya tersebut dia menarik pelan tangan Arvin dan dengan tarikan nafas Arvin lancar menyebutkan semuanya,dan pak penghulu pun mengatakan.


" Sah.."


" Sah! " Ucap kedua belah saksi.


Karena Arvin tidak mengira akan selancar itu dia tidak fokus dengan ucapan pak penghulu pada kedua belah saksi, dia pun langsung bersuara dengan lantang.


" Siap! Laksanakan!!" Ucapnya dengan keras.


" Heh! Apa yang siap? Apa yang dilaksanaka?" Tegur Ayah Candra.


Arvin terkejut dan baru menyadari ucapannya, dia cengengesan setelah ditegur Ayahnya itu.


" Kamu sah sudah menikah, bukan mau melaksanakan tugas!" Ucap sang Ayah.


" Kamu berhadapan dengan saya pak penghulu, bukan sama komandan mu Broo.." ucap pak penghulu, terdengar gelak tawa diruangan tersebut, dan Arvin pun melepas peci putihnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Biar dia konek cepat keluarkan mempelai wanitanya." Ucap papah Boby terkekeh, kemudian Nadine keluar diapit dengan Clarissa dan Lia dikanan kirinya, Arvin terperangah melihat sang istri yang baru saja dinikahinya beberapa menit yang lalu, dengan balutan kebaya putih keemasan dan dengan kecantikan yang dimiliki Nadine ditambah polesan dari tangan mbak Yoana Arvin hampir saja tidak mengenali istrinya itu, dia terus menatap sang istri yang sedang melangkah menuju kearahnya duduk.


" Nah benarkan konek kan dia,. Kesadarannya sudah pulih hahaiii..." Ucap papah Boby terkekeh.


Arvin tersenyum, Nadine pun disandingkan disamping Arvin dan Nadine meraih tangan suaminya tersebut dan menciumnya, begitu juga Arvin mencium pucuk kepala sang istri beberapa detik dan Nadine pun memejamkan matanya sesaat dan setelah itu mereka berdua saling menyematkan cincin pernikahan mereka berdua dan dilanjutkan penandatangan berkas pernikahan mereka, setelah itu mereka bersungkeman dengan masing-masing orang tua mereka.


Mereka juga bersalaman dengan para sahabat mereka.


" Selamat ya Bro, akhirnya sudah berstatus suami." Ucap Abiyasa seraya memeluk Arvin, dianggukkan Arvin sembari tersenyum.


" Selamat Vin...akhirnya lancar juga, tidak salah dalam pengucapannya..." Ucap Clarissa.


" Selamat kawan, sahabat, saudara dan teman ku, akhirnya status sudah punya Istri, ngomong-ngomong lancar juga ya, takut ya kalau salah dikawinkan ulang dengan Lelim hehehe.." sambung Morgan.


Arvin terkekeh.


" Seribu Lelim tidak akan mengalahkan peri cantik ku ini." Ucapnya sembari menggenggam tangan sang istri, Nadine tersipu malu.


Mereka pun tersenyum.


Kak Nico, Lia, Anindita,dan Marco serta Amelia dan dr Roni juga memberikan selamat disusul para Adik Arvin Alena dan Smith, serta Nika dan adik-adiknya yang lainnya, mereka berfhoto bersama, setelah sesi fhoto selesai, kemudian dilanjutkan dengan acara pedang pora, mereka berdua pun sudah berganti pakaian dengan pakaian resepsi karena setelah acara tersebut dilanjutkan resepsi.


Pernikahan Arvin dan Nadine, tidak jauh berbeda dengan pernikahan yang lain yang digelar beberapa minggu yang lalu, mereka tidak ada acara malam, karena acara dilaksanakan seharian penuh.


Setelah acara pedangpora dilanjutkan dengan acara resepsi, semua telah hadir, dalam acara tersebut, terlihat kebahagiaan yang dirasakan kedua keluarga kedua belah pihak, dan teman, sahabat dan kawan-kawan mereka, relasi bisnis, Abiyasa, dan relasi kak Niko pun turut hadir dalam acara tersebut.


Acara berjalan dengan lancar, sampai lah diakhir acara beberapa tamu sudah mulai meninggalkan acara pernikahan itu.


Dengan selesainya acara tersebut, Arvin dan Nadine pun berganti pakaian dengam pakaian yang sudah disediakan, yaitu pakaian biasa yang telah dipersiapkan Bunda Adel untuk mereka berdua.


Setelah berganti pakaian, mereka tidak berkumpul ditengah ruangan seperti biasanya setelah pernikahan, melainkan menuju masing-masing mobil mereka, karena waktu sudah mendekati sholat Magrib, para tamu sangat banyak yang berdatangan kepernikahan Arvin.


" Mah, Nadine pamit ya, Nadine pulang kerumah mertua Nadine." Ucapnya.


Arvin pun berpamitan dengan sang Mertua dan kakak iparnya itu, setelah saling mengucap dan membalas salam.


Mereka berdua melangkah dan memasuki mobil Arvin, beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai Arvin meninggalkan tempat resepsi, Arvin sengaja membawa Mobil sendiri agar bisa membawa istrinya pulang kerumah, satu persatu mobil pun meninggalkan gedung itu, setelah saling mengucap dan membalas salam satu sama lainnya.


*****


Dirumah papah Andre...


Tepat jam delapan malam mereka berempat melalui panggilan bersama empat sekawan itu saling berbicara satu sama lain.


" Bagaimana sekarang, kapan kita kekota B ?" Tanya papah Boby.


" Besok!" Jawab Ayah Candra.


" Besok? Apakah kamu tidak cape Ndra?" Tanya Abi Yosep.


" Enggak Yos, karena sudah aku prediksikan, biar semuanya cepat clear masalah Amelia, dia berhak bahagia." Jawabnya pasti sembari tersenyum.


" Wah-wah....mantap sekali kamu Ndra, karena sudah semangat punya mantu hehehe.." sambung papah Andre sembari tersenyum.


" Hahahaha...benar baget itu." Ucap papah Boby lagi-lagi terkekeh.


" Tapi Ndre, aku belum bisa ikut, nggak apa-apa ya, karena keadaan kak Dwi sangat menghawatirkan sekali." Ucap Abi Yosep.


" Iya Yos, kami paham kok, itu saja kamu berada dirumah sakit kan." Ucap papah Andre.


Dianggukkan Abi Yosep.


" Sebenarnya aku ingin banget ikut, tapi karena keadaanlah yang membuat ku tidak bisa ikut." Ucapnya terlihat sedih, disisi lain dia ingin sekali ikut bersama dengan mereka mencari tahu tentang ibu Nellyana, tapi disisi lain kakak tersayangnya tersebut sedang mengalami sakit parah.


" Yos, jangan sedih dong, dari tadi kami sedih mulu, dipernilahan Arvin juga terlihat sedih dan disaat kita bicara sekarang inipun kamu terlihat sedih sekali, kak Dwi sangatlah utama Yos, disamping dia saudara kamu satu-satunya dia juga sedang sakit dan kamu harus berada disampingnya terus Broo...masa ulat keket sedih sih, semangat dong Ket..." Ucap papah Boby memeberikan semangat pada sahabatnya tersebut.


Abi Yosep hanya tersenyum sesekali dia menoleh pada kak Dwi yang sedang tertidur diatas tempat tidur rawat inapnya tersebut, karena sekarang Abi Yosep sedang berada dirumah sakit untuk menemani sang kakak ditemani Reno sang ponakan tersayang.


" Doa terbaik untuk kak Dei Yos dari kami semua." Ucap Ayah Candra.


" Amiin.." ucap mereka berbarengan.


" Kalau terjadi apa-apa dengan kak Dwi, segera hubungi kami ya.." ucap Papah Andre.


" Iya Ndre, aku pasti akan hubungi kalian semua.


" Bagaimana besok? Deal?" Ucap Ayah Candra.


" Deal." ucap papah Boby dan papah Andre berbarengan.


" Aku akan berdoa agar cepat selesai urusannya Amelia..." Ucap Abi Yosap.


" Amiin...." Lagi-lagi mereka berbarengan.


" Aku putus kan begini saja, aku akan tetap disini bersama Yosep menjaga kak Dwi, dan kalian berdua berangkat kekota B bersama Nico, dan anak-anak kita yang lain biarkan mereka bekerja, Bagaimana?" Tanya Ayah Candra.


" Oke Aku setuju!" Ucap papah Andre.


" Aku juga setuju!" Sambung papah Boby.


" Kamu nggak apa-apa Ndra, nggak ikut?" Tanya Abi Yosep.


" Nggak apa-apa Yos, aku tidak ingin kamu sendirian, kita semua selalu akan bersama benar nggak?"


" Benar banget Ndra..." Ucap papah Andre dan papah Boby.


" Yos, slogan kita kan senang, sedih, bahagia, derita kita rasakan bersama, apapun itu." Ucap Papah Andre.


Mereka semua mengangguk dan tersenyum.


Setelah kesepakatan didapat mereka untuk berangkat keluar kota, akhirnya mereka memutuskan Ayah Candra menemani Abi Yosep dikota mereka, papah Andre dan papa Boby lah yang berangkat kekota B bersama Nico.


Kemudian sambungan panggilan itu diputus mereka secara bersamaan dan mereka pun kemudian beristirahat melepaskan lelah seharian penuh berkutat dengan dengan kesibukan yang menguras banyak tenaga.