
Sesampainya di halaman rumah sakit mobil yang dikemudikan oleh Bobby langsung menuju ke halaman parkir rumah sakit yang sudah disediakan, mereka berempat kemudian turun dan melangkah menuju ke arah ruangan di mana Marco masih dirawat.
" Assalamualaikum " ucap Papa Andre seraya membuka pintu ruangan tersebut,dengan secara perlahan sembari memberikan senyuman manisnya.
" Waalaikumsalam " ucap Papa Carlos menyambut kedatangan mereka berempat, Mereka kemudian berjabat tangan dan saling berpelukan, kemudian mereka duduk di sofa yang ada di ruang rawat tersebut, Dia melihat Marco sudah bisa duduk bersama di sofa yang ada di ruangan itu.
" Gimana keadaanmu sekarang Marco?" tanya Papah Andre.
" Ya beginilah Om Alhamdulillah sudah mulai membaik, tinggal besok lagi keputusannya apakah boleh pulang atau enggak." ucap Marco menjawab pertanyaan dari Papah Andre.
" Syukurlah kalau seperti itu, mudah-mudahan cepat segera sembuh." ucap Papah Andre lagi sembari tersenyum dan menepuk pundak Marco.
Dianggukkan Marco dengan senyumannya.
Kemudian Marco berdiri beranjak dari tempat duduknya.
" Kamu mau kemana menantu?" tanya Papa Bobby.
Marco tersenyum seraya menundukkan badannya pada mereka semua dengan sopan.
" Sudah sedari tadi Om, saya duduk, saya mau rebahan dulu sebentar, karena agak sedikit pusing." ucapnya.
" Oh ya udah,istirahat aja dulu,biar cepat sembuh dan cepat segera nikah hehehe." ucap Papah Boby terkekeh.
Yang lain hanya tersenyum dan langsung disambut senyuman Marco.
Kemudian Marco permisi dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang rawat inap tersebut.
" Mudah-mudahan besok dia bisa pulang dan bekerja seperti biasanya lagi." ucap Papa Carlos karena saat itu Papa Carlos dan Marco aja yang ada di dalam ruangan tersebut, sedangkan istrinya baru saja keluar dan menuju ke rumahnya untuk menjenguk rumah pribadi mereka yang sudah beberapa hari mereka tinggalkan.
" Begini pak Carlos,saya ke sini mau menanyakan masalah hari pernikahan Anak-Anak kita, karena saya juga didesak oleh Chandra loh." ucap Papah Boby tersenyum sembari melirik kearah Ayah Candra.
" Kenapa Aku Bob." ucap Ayah Chandra sembari tersenyum menoleh kearah Papa Bobby, Mereka pun semua tersenyum.
" Iyakan aja Ndra, yang penting kan urusannya lancar." sambung Abi Yosep lagi terkekeh.
" Ya deh,saya yang memang mendesak Bobby untuk mencari tahu, acaranya kapan dilaksanakan pernikahan Anak-Anak kalian berdua." ucap Ayah Chandra, Papa Bobby dan papa Carlos pun menarik napasnya dengan pelan sembari tersenyum.
" Kebetulan sekali,saya juga mau menanyakan pada pak Boby tentang kelanjutan pembicaraan kita tentang kelangsungan pernikahan Anak-Anak kita Pak Boby, sebagai pihak lelaki menginginkan pernikahan ini secepatnya dilaksanakan, udah nggak sabar pengen nimang cucu." ucap Papah Carlos tertawa pelan.
" Benar banget Pak, hehehe... kalau saya sebagai pihak perempuan mengikuti pihak lelaki aja deh." ucap Papah Boby.
Mereka menganggukkan kepalanya.
" Marco inginnya setelah keluar dari rumah sakit seminggu kemudian Marco ingin melaksanakan pernikahan dengan secepatnya pah." ucap Marco bersuara di tempat tidurnya.
" Lah Anaknya juga sudah mendukung hehe." ucap Abi Yosep.
" Yes..! disepakati." ucap Marco.
" Kalau Anaknya maunya seperti itu saya sih hanya bisa mengikutinya, karena yang menjalaninya kan anak-anak kita." ucap Papa Carlos sembari tersenyum.
" Mantap kalau seperti itu, sudah disepakati seminggu lagi pernikahan antara Marco dan Clarissa dilaksanakan, setelah seminggu kemudian baru menyusul Anindita dan Morgan." ucap Papah Andre tersenyum bahagia.
" Nah setelah seminggu kemudian lagi baru Anakku yang menyusul Arvin dan Nadine." ucap Ayah Chandra.
" Kalau Aku kapan menyusulnya.?" ucap Abi Yosep sembari tertawa pelan.
" Kamu nanti nyusul setelah lebaran monyet sot." ucap Papah Boby.
" Hahahaha..." Mereka tertawa pelan.
Setelah mereka berbicara dan menemukan kesepakatan akhirnya merekapun berempat berpamitan dengan papa Carlos dan Marco.
Mereka kemudian kembali ke kantor Papa Boby karena mobil mereka berada di kantor papa Bobby.
*****
Arvin dan Nadine berbicara diteras rumahnya Nadine, setelah mereka makan siang bersama Nadine dan Tante Raisa disebuah restoran terkenal yang ada di kotanya itu.
Arvin menarik nafasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.
Nadine menatap kearah Arvin Dia merasa ada yang aneh dengan kekasihnya itu.
" Mas? kamu kenapa?"
Arvin menoleh kearah Nadine dan langsung tersenyum manis.
" Sayang, Lia sudah di ketahui tempat tinggalnya." ucap Arvin seraya menatap Nadine karena Arvin takut melukai hati Nadine dengan kabar yang dikatakannya tersebut.
Nadine tersenyum.
" Alhamdulillah,benarkah Mas?" ucapnya terlihat senang yang tidak dibuat-buat.
Arvin hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Kenapa Mas? kenapa wajah Mas seperti itu?"
" Nggak ada apa-apa sayang"
" Mas, jangan ada kebohongan diantara kita,dan Nadine berharap Mas dan Nadine mengutamakan kejujuran dalam hubungan ini." ucap Nadine.
Arvin terkejut dengan kata-kata Nadine.
" Sayang bukan seperti itu maksudnya, nggak ada kata kebohongan atau apapun sayang." ucap Arvin tidak mengira kalau kata-kata Nadine sangat dalem banget.
" Jadi apa Mas yang membuat Mas terlihat bingung?Mas pasti sudah tahu kan kalau Lia adalah saudara kembar Nadine? Kalau Mas masih merasa ada hati dengan Lia,Nadine iklas kok Mas,karen bagi Nadine tidak ingin saling rebutan hati." ucapnya pelan,terlihat wajahnya sedih.
Lagi-lagi Arvin terkejut.
" Sayang,bukan begitu maksudku walaupun dulu Aku memang menyukai Lia, tapi Aku sekarang sudah tidak ada rasa sama sekali dengannya,bahkan Aku tidak ikut dalam penjemputan Lia kesana. Memang mereka mengajak Aku bertemu dengannya di sana, tapi Aku menolaknya, karena apa? Karena ada hati yang harus aku jaga yaitu kamu sayang." ucap Arvin lagi.
Nadine menoleh ke arah Arvin hampir tak percaya Dia mendengar Arvin berbicara seperti itu.
" Kamu pasti tidak yakin akan perkataanku, Aku takkan pernah berhenti mencintaimu sampai kapanpun bahkan sampai Aku mati, Aku akan setia menemanimu setiap waktu, tak pernah terpikir dari diriku untuk meninggalkanmu dan menghianati cintamu, kamu harus yakin kalau cintaku hanya untukmu, Sayang dengarkan Aku sayang, engkau satu-satunya wanita yang sangat, sangat, sangat Aku cintai dan sangat Aku rindui, dan tidak ada yang lain selain kamu, Aku takkan pernah pergi meninggalkan kamu, walaupun orang yang pernah Aku sukai dan Aku inginkan menjadi kekasihku pada masa dulu hadir kembali diantara kita berdua, tak akan menggoyahkan imanku untuk menghianatimu, biar bagaimanapun dia akan menjadi ipar Aku nantinya, Karena kamu dan dia adalah saudara kandung, walaupun dia masih ada rasa cinta denganku Aku akan menceritakan semuanya padanya, kalau Aku sekarang sudah tidak ada rasa dengannya,dan rasaku sudah ada padamu, mudah-mudahan saja dia tidak ada lagi rasa cintanya kepadaku,jujur sayang yang Aku katakan ini dari hatiku yang paling dalam, karena Aku sangat benar-benar mencintai kamu, dan satu hal lagi kamu jangan meragukan cintaku, Aku ingin bersama denganmu, tua bersamamu dan menghabiskan sisa umurku bersamamu." ucapnya panjang lebar seraya menggenggam tangan Nadine, Nadine tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, dia hanya bisa tertunduk, karena sebenarnya dia juga ada rasa sakit saat mengeluarkan kata-kata kalau Dia akan merelakan Arvin, kalau seandainya Lia memang masih ada cinta dengan Arvin.
" Jadi sekali lagi Kamu jangan berbicara seperti itu,dan Aku harap tidak ada lagi prasangka buruk tentangku dan cintaku tulus,cinta ini hanya untukmu." ucapnya meyakinkan Nadine, Nadine hanya bisa menganggukan kepalanya, karena bagaimanapun Lia adalah saudaranya yang pernah dicintai oleh Arvin, yang hanya bisa dia lakukan hanya mengiyakan ucapan Arvin karena dia tidak tahu kalau seandainya nanti bertemu dengan Lia, apa yang akan terjadi dikarenakan Dia belum pernah melihat sosok Lia dihadapannya, walaupun Arvin bercerita kalau Lia sangat mirip dengannya.
Setelah Arvin meyakinkan Nadine kalau cintanya Arvin hanya untuknya, Arvin pun kemudian berpamitan dengan Nadine dan kembali ke kantornya.
Hatinya merasa lega karena sudah sangat jujur pada Nadine.
Mobil Arvin melaju di jalan beraspal menuju kearah kantornya, karena Dia ingin segera sampai kekantor dan menyelesaikan pekerjaannya, dan ingin secepatnya pulang ke rumah memberikan kabar kepada kedua orangtuanya perihal rencana mereka tersebut.
*****
Tepat pukul 16.00 sore Abiyasa dan Clarissa menyudahi pekerjaannya dan mereka sama-sama melangkah meninggalkan ruangannya tersebut,sama-sama menuju kearah Loby dan melangkah kearah parkiran dimana mobil mereka terparkir,dan kedua buah mobil tersebut meninggalkan halaman parkir kantor Wibawa group.
Begitu juga dengan Morgan dan Arvin mereka berdua dengan cepat pulang, karena ingin menyusun rencana yang akan dijalankan mereka selanjutnya.
Sesampainya di rumah Abiyasa, Dia memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah tersedia.
Seperti biasanya sang istri selalu menunggunya di teras depan menanti sang suami yang datang dari kantor,Abiyasa tersenyum pada istrinya yang setia selalu menantikan dirinya datang dari bekerja,rasa lelah sirna begitu saja karena telah melihat senyum manis sang istri.
Setelah melihat suaminya itu Ayesha langsung melakukan kebiasaannya tersebut meraih tangan sang suami dan mencium pinggung tangannya dan begitu juga dengan Abiyasa langsung meraih strinya mencium kening dan pucuk kepala sang istri, mereka berdua langsung memasuki rumah dan menuju ke arah kamarnya,
Abiyasa langsung meletakkan tas kerjanya dan lalu membersihkan badannya dikamar mandi.
Ayesha pun mempersiapkan pakaian sang suami,setelah selesai membersihkan dirinya Dia langsung berjalan bersama istrinya keluar kamarnya menuju ke arah ruang tamu di mana keluarganya sedang asyik bercengkrama menikmati acara televisi yang sedang menyala.
Abiyasa langsung mencium punggung tangan kedua orangtuanya dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa bersama dengan sang istri tercinta.
" Kok pulang cepat?" tanya papa Andre.
" Iya Pah, Abi memang pulang cepat, karena ada yang ingin Abi dibicarakan dengan teman-teman,tentang rencana selanjutnya."
" Rencana apa Nak?"
" Rencana untuk menemui Lia di kampung sebelah."
" Apa?Lia sudah ditemukan?" tanya Papah Andre.
" Dari mana kamu tahu Dia berada di kampung sebelah Nak?"
Abiyasa pun kemudian menceritakan semua rencana yang telah mereka jalankan dan sampai akhirnya menemui Pak Sahrul pamannya Lia, dari Pak Sahrul lah penjelasannya semua tentang Lia yang berada di kampung sebelah, mereka yang ada di ruangan itu mendengarkan penjelasan dari Abiyasa, sampai akhirnya Abiyasa pun selesai menjelaskan dan menceritakan semuanya kepada kedua orangtuanya beserta istrinya itu.
" Terus sekarang rencana kalian apa Nak?" tanya Papah Andre.
" Kata pak Sahrul jam 21.00 malam kami akan berangkat ke kampung sebelah."
" Kenapa mesti jam 9 malam.?" tanya Mama Anisha.
" Jam 9 malam itu adalah waktu yang aman untuk bertemu dengan Lia Mah, karena Pak Sahrul selalu diawasi oleh saudaranya itu,pak Sahrul tidak boleh memberikan kasih sayang dan perhatian kepada Lia." terang Abiyasa.
Mamah Anisha pun menganggukkan kepalanya begitu pula dengan Papah Andre.
" Paman tidak ada akhlaqnya!!kalau ketemu dengan Papah sudah Papa habisi Dia." ucapnya sedikit emosi.
Mama Anisha tersenyum dan mengusap punggung suaminya dengan pelan.
" Yang sabar Pah, nanti tekanan darah tinggi naik lagi."ucap Mama Anisha tersenyum, mereka pun terkekeh mendengarkan ucapan Mamah Anisha.
Terdengar bunyi mobil memasuki halaman rumah keluarga Wibawa tarnyata keluarga Clarissa disusul kemudian keluarga Ayah Chandra, beserta Morgan dan Dokter Roni bersama dengan Nadine dan Tante Raisa, karena Morgan datang sendiri tidak bersama dengan keluarganya.
Mereka mengucapkan salam dijawab oleh keluarga Wibawa dan merekapun diterima di rumah keluarga Wibawa dengan penuh sukacita, akhirnya mereka berpindah duduk menuju ke ruang tengah karena dirasa cukup besar untuk mereka duduk bersama.
Merekapun kemudian menceritakan dari awal sampai akhir rencana yang akan mereka lanjutkan, orang tuanya semua pun menganggukkan kepalanya dan mendukung rencana dari anak-anaknya tersebut, kemudian Arvin menjelaskan kalau Dia tidak bisa ikut dalam misi yang mereka jalankan.
Arvin menjelaskan panjang lebar, Dia tidak ingin menyakiti perasaan Nadine, mereka semua menganggukkan kepala dan memahami penjelasan dari Arvin sampai akhirnya Adzan maghrib berkumandang, merekapun kemudian melaksanakan salat Maghrib berjamaah dirumah keluarga Wibawa.
Setelah salat magrib mereka melanjutkannya dengan makan malam bersama dan melaksanakan salat isya bersama.
Tepat jam 20.30 malam,wereka pun berpamitan dengan kedua orangtua mereka masing-masing, dengan diiringi doa keluarganya mereka melajukan dua buah mobil yang disetir oleh Morgan dan Abiyasa menuju ke arah sebuah toko yang sangat besar yang ada di depan jalan menuju ke rumah Pak Sahrul tersebut.
Selang beberapa menit kemudian Pak Sahrul dan istrinya pun datang dengan berjalan kaki dari arah barat, Abiyasa yang mengenali kedua pasutri tersebut langsung mendekatinya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
" Bagaimana pak kita melalui jalan mana?" tanya Morgan yang ada diluar mobil Abiyasa, setelah Pak Sahrul berada di dalam mobilnya.
" Maaf ya nak, kalian menunggu lama." ucapnya.
" Tidak apa-apa Pak, kami baru juga nyampe." ucap Carissa.
" Sekitar satu jam menuju ke arah kampung sebelah." ucap Pak Sahrul.
" Tapi bisa kan melalui dengan roda 4 Pak?
Bukannya apa-apa, agar kita bisa lebih cepat sampainya." ucap Abiyasa.
Pak Sahrul pun menganggukkan kepalanya, merekapun kemudian melajukan mobilnya menuju ke arah yang dikatakan oleh Pak Sahrul kepada mereka.
Tidak ada suara di dalam mobil Hening! mereka semua menikmati jalannya mobil tersebut di suasana malam.
kemudian mobil memasuki perkampungan yang terlihat sangat sepi,semakin mereka memasuki kampung itu semakin terlihat suasananya sepi karena hanya beberapa rumah yang berjarak dengan tetangganya, kira-kira jarak seratus meter baru ada sebuah rumah begitu selanjutnya, dan kiri kanan jalan ditumbuhi dengan tumbuhan sayur-mayur yang sengaja ditanam warga kampung tersebut, Mereka pun terus melajukan mobilnya sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah yang sangat sederhana sekali, dan lampunya pun masih menggunakan lampu lentera, tidak ada aliran listrik yang berada di kampung tersebut.
" Ini rumahnya Pak?" tanya Abiyasa.
" Iya, inilah rumah dimana Lia berada di dalamnya bersama anak saya."
" Suasananya sih sebenarnya agak nyaman, tapi sedikit ngeri juga ya." ucap Clarisa.
" Tumben kamu takut Ris?" ucap Morgan.
" Kamu juga takutkan sebenarnya,tapi malu untuk mengakuinya." ucap Clarissa tersenyum.
Morgan hanya terkekeh.
" Biasanya bapak ke sini naik apa?" tanya Abiyasa
" Kami biasanya melalui jalan air lewat sungai sebelah." ucapnya.
Abiyasa hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berenam melangkah menuju kearah rumah tersebut,Pak Sahrul mengetuk pintu tersebut.
" tok tok tok "
" Assalamualaikum " ucap Pak Sahrul.
" Waalaikumsalam " Terdengar suara berada di dalam kemudian pintupun terbuka.
" Paman?!" ucap Lia terkejut menatap kearah paman dan Bibinya dengan empat orang asing yang baru saja dilihatnya,dan tidak pernah sama sekali ditemuinya.