
Beberapa jam kemudian sebuah taksi meluncur dari bandara menuju ke arah rumah Abiyasa, siapa lagi kalau bukan Morgan yang sudah sampai di tanah kelahirannya dari kota S.
Setelah dia membayar taksi tersebut dia bergegas berjalan masuk menuju ke pintu utama rumah kediaman keluarga Wibawa.
" Assalamualaikum. " ucapnya
" Wa alaikumussalam." jawab semuanya.
" Sudah nyampai Kamu Mor?" tanya Clarissa.
" Belum Ris, aku masih di atas awan, memang enggak senang nih aku udah sampai " ucap nya terkekeh.
" Senang sih,karena yang kami tunggu-tunggu juga sudah datang " lanjut Clarissa.
" Oh ...berarti aku yang kalian tunggu Ya."
" Ya iyalah, kamu yang kami tunggu." Ucap Arvin.
Kemudian Morgan duduk di samping Abiyasa, dia menoleh kearah Bella dan kearah tante Dwi,kemudian dia menatap silih berganti kepada sahabat-sahabatnya.
Mereka tahu kalau Morgan pasti akan bertanya tentang Tante Dwi dan Mbak Bella.
" Alhamdulillah Mor,ini Tante Dwi dan ini Mbak Bella,mereka berdua sudah keluar dari rumah itu, dan tinggal kita menunggu saat yang tepat, kapan kita akan menyelesaikan semuanya." ucap Arvin.
" Sekarang saja.." Lanjut Clarissa.
" Eh... tunggu dulu, tunggu dulu... beritanya dari sana gimana?" Tanya Abiyasa.
" Benar disana adalah Reno, Sudah aku kasih tahu sama Reno tentang semuanya " ucap Morgan.
" Reno? Kamu ketemu dengan dia nak?" Tanya Tante Dwi.
" Iya tante, dia titip salam buat kalian berdua."
" Wa alaikumussalam " jawab tante Dwi dan Bella.
" Mamah kangen banget Bel dengan adik mu " ucap Tante Dwi seraya memeluk anaknya Bella.
Bella hanya mengangguk kan kepalanya saja.
" Terus bagaimana kabar kelanjutan kasusnya?" Tanya Abiyasa.
" Kata Rahmat,tinggal satu minggu lagi penyelidikan yang dilakukan oleh polisi di sana, sudah hampir 75% penyelidikan mereka kalau sebenarnya Reno lah yang bersalah, tapi aku yakin itu adalah jebakan untuk Reno." Ucap Morgan lagi.
" Gimana keadaan Reno ?" tanya Bella.
" Alhamdulillah keadaannya sehat in sya Allah setelah selesai dari sini kami akan kesana menyelesaikan masalahnya dengan perusahaan YL group" lanjut morgan.
" Reno sudah menjelaskan permasalahannya,dia sebenarnya tidak pernah memegang uang miliaran rupiah, jangankan miliaran rupiah jutaan pun dia nggak pernah memegang selain dari gajihnya sendiri, karena dia cuma sebagai staf di bagian keuangan dan bagian untuk tulis menulis bukan untuk hitung menghitung uang,tapi saat kejadian itu dia sempat mengancam Pak Ginos untuk melaporkannya ke polisi, karena sudah mau diperbudak oleh Bimo, Tapi saat itu Ginos ada sedikit ketakutan namun entah dari mana Dia mempunyai rencana untuk menjebak Reno, sampai akhirnya saat Reno mau pulang di lokernya dia menemukan uang banyak yang tidak tahu jumlahnya berapa, saat itulah dia dikatakan korupsi dan langsung dilaporkan ke polisi, dan kemudian ditindaklanjuti dalam mencari cari bukti,hampir 75% Reno bersalah. Kata Rahmat seminggu lagi akan ditetapkan, makanya sebelum masuk penetapan status Reno sebagai tersangka kita harus menyelesaikan kebenaranya kalau Reno itu tidak bersalah, dan kita harus membawa tersangka yang asli " ucap Morgan.
" Lebih baik kita selesaikan dulu di sini, si bangkotan itu harus kita selesaikan dulu, kita siksa dulu, kita mutilasi dulu, baru kita buang ke laut atau kita buang ke sarang buaya biar dia bisa dimakan oleh buaya buaya lapar itu" ucap Clarissa dengan emosi tingkat dewa nya.
" Jika seandainya tidak ada hukum di negara kita,mungkin itu sudah aku lakukan " ucap Arvin.
" Tapi kita harus menjalani prosedur hukum yang ada" ucapnya lagi.
" Sebelum dihukum, dia aku hukum dulu,Ayo buruan kita temuin dia siapa tahu dia lagi asyik-asyiknya mengingat uang 2 miliar itu, padahal tidak ada sama sekali di dalam saku kemejanya,di saku kemejanya sudah tidak ada lagi dicek itu " ucap Clarissa.
" Berarti kalian sudah mengurusnya di sana ?"tanya Morgan.
" Sudah! makanya kami bisa membawa mbak Bella dan Tante Dwi ke rumah ini " ucap Abiyasa.
" Oke kita lanjut, sebentar aku akan menghubungi beberapa anggota aku dulu " ucap Morgan.
" Aku juga mau menghubungi beberapa anggota ku juga" sambung Arvin.
" Jangan pakaian lantas kali, entar mau ditilang dianya" sambung Clarissa.
" Enggaklah! Aku perintahkan mereka pakai baju biasa biasa aja baju bebas rapi aja,kayak mau kondangan hahaha..." ucap Arvin lagi sambil tertawa lebar. Di sambut tertawa mereka semua mendengar celotehan Arvin.
Kemudian Arvin dan Morgan mengambil gawainya dan masing-masing menghubungi beberapa anggotanya, setelah berbicara dengan anggota mereka masing masing, mereka berdua langsung bergabung kembali dengan yang lainnya.
" Kita tunggu beberapa anggota kami datang " ucap Morgan.
" Tapi ngapain kita rame-rame datang ke sana, nanti kan dia curiga tuh " ucap Clarissa.
" Jangan jauh juga kali, nanti kalau kenapa-napa kami nya, Kamu nyampe ke rumahnya kami udah keburu modar " ucap Clarissa terkekeh.
" Ya enggak lah Ris, kalian keluar dari Mobil, kami pun ikut keluar dari mobil dan mengambil posisi masing-masing, percaya deh kayak nggak tahu aku aja " ucap Morgan.
" Iya pak polisi yang ganteng,saya percaya sama adik ipar ku yang paling ganteng ini " ucap Clarissa tersenyum lebar.
"Alhamdulillah... sekarang aku sudah di akui sebagai adik ipar, dulu dulunya kemana kakak ipar" ujarnya Seraya menyenggol tangan Clarissa.
Clarissa hanya terkekeh saja..
Setelah beberapa menit mereka menunggu kemudian anggota dari Morgan 6 orang sudah datang dan anggota dari Arvin juga 6 orang sudah datang.
Sekarang mereka bersiap-siap menuju ke rumahnya pak Bimo.
Di rumah Bimo...
Faris datang menemui sang ayah, kemudian Faris duduk di sofa nya melihat sang ayah sedang menikmati minuman beralkohol di dalam botol nya
Faris pun ikut meneguknya.
" Gimana pah, sudah berhasil?" tanyanya.
" Sudah! sekarang di tangan papa sudah ada uang 2 miliar, dan nanti pak Ginos juga akan memberikan uang Ratusan juta asalkan Bella bisa menaninya.
Faris mengambil cemilan kacang yang ada di atas meja di dekat ayahnya tersebut.
" Lebih baik papah ceraikan Bella, papah kan masih bisa mencari yang lain" ucap Faris.
" Kamu itu anak kecil,nggak usah ikut urusannya."
" Kalau papa kasih Bella kepada Ginos dia yang enak pah,papah seharusnya memberikan kebahagiaan kepada Bella bukan di aniyaya seperti ini pah"
" Sejak kapan kamu punya perhatian kepada Bella "
" Sejak papah buat Bella menderita, pah kalau papa seperti itu terus kepada Bella, lebih baik Bella kasihkan pada Faris, biar Faris yang akan menghidupi Bella" ucapnya.
" Hahaha Dari mana kamu mendapatkan uang untuk menghidupi Bella, sedangkan hidup kamu aja ikut masih sama papah "
" Yah terserah papah lah, ngomong-ngomong kemana si tua penyakitan itu sama si Bella ?"
" Mereka lagi di rumah sakit, nanti papa akan menelponnya agar cepat pulang"
Kenapa ke rumah sakit, tumben papah memperbolehkan si tua penyakitan itu ke rumah sakit "
" Karena dia tadi kejang kejang sambil teriak teriak,takut terjadi apa-apa di rumah apalagi dia pingsan terus ntar dia modar,Papah juga yang akan repot nantinya "
" Oh begitu,terus dia ke rumah sakit dengan siapa pah "
" Abiyasa.." ucapnya singkat.
" Apa?! dengan Abiyasa ? dia ke sini ?"
" Iya kenapa ? kamu tidak suka?"
" Bukannya tidak suka pah, suka aja tapi gimana caranya pah bisa mereka yang bawa."
" Udah jangan banyak tanya,kamu kesini kan pastinya minta uang kan?"
" Papah tau aja deh " ucapnya tersenyum.
Kemudian pak Bimo mengeluarkan uang beberapa lembar ratusan ribu dan memberikannya pada sang anak,dan Faris mengambil uang pemberian pak Bimo,kemudian dia beranjak kearah belakang untuk kelamar kecil.
Tiba tiba dari arah pintu utama rumahnya tersebut terdengar suara Abiyasa.
" Siang pak Bimo!" Sapa Abiyasa.
" Pak Abiyasa?" Ucap Pak Bimo senang, dia mengira Abiyasa mengantarkan Bella pulang kerumah nya.
" Mana istri saya pak? Apakah sudah merasakan bagaimana pelayananya? Sangat memuaskan kah?"
" Memuas kan kepala kamu botak!! Dasar edan!! kamu tua bangkotan!!" Ucap Clarissa yang tidak bisa lagi menahan emosinya itu.
Pak Bimo terkejut dengan ucapan Clarissa.