THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 270



Dikediaman keluarga Wibawa...


" Akhirnya terungkap juga semuanya..." Ucap Abi Yosep seraya menghela nafasnya dengan lega dan menyenderkan tubuhnya disandaran sofa yang dia duduki sekarang.


" Iya Yos, benar kata mu, terungkap semuanya aku juga tidak menyangka ternyata sahabat Rendy sendiri yang mencelakainya Alhamdulillah aku memiliki sahabat dari muda sampai tua selalu sama-sama dan tidak ada sedikitpun yang menyakiti satu sama lain, bahkan sahabat-sahabatku inilah yang selalu berada di depanku dan dibelakangku di saat aku susah ataupun senang." ucap Papa Andre sembari tersenyum menatap kedua sahabatnya tersebut.


" Boby lah yang lebih dulu ada yang selalu bersama denganmu, dialah yang lebih tahu akan dirimu Ndre." ucap Ayah Candra tersenyum.


" Iya benar katamu Ndra." Sambung Abi Yosep tersenyum juga.


" Dia yang tahu banyak, dari kalian masih sekolah sampai sekarang." Lanjut Ayah Candra.


" Kalau dilihat dari situ memang Bobby adalah orang yang paling dekat denganku, bagaikan saudara kandung, tapi kalian juga berperan dan selalu membantuku dan kita sama-sama menyelesaikan semuanya, intinya kalianlah sahabat terbaikku dan saudaraku." ucapnya lagi.


" Hehehe... perasaan bukan kamu deh Yang terlalu banyak masalah, malahan kami ya kan Ndra, kita yang punya masalah dan selalu kamu bantu, kamu yang terbaik Ndre, kamu yang selalu ada di saat kami kesakitan dan kamu selalu yang terdepan untuk kami baik dari segi materi, tenaga, dan tempat bernaung, walaupun sebenarnya kami memiliki tempat bernaung masing-masing, tapi kamu selalu menginginkan kami berada diistanamu ini." ucap Abi Yosep sembari tersenyum.


" Benar banget Yos, karena Andre lah aku juga menemukan jodoh aku sampai saat ini." Ucap Ayah Candra.


" Bukan aku Ndra, tapi yang maha kuasalah yang mempertemukan jodoh mu..." Ucapnya tersenyum sambari menepuk pundak sahabatnya itu dengan pelan.


" Iya itu memang benar Ndre, tapi melalui kamu, mana aku tahu kalau istriku itu adik iparmu saat itu hehehe, kamu adalah sahabat terbaikku dan sekaligus saudara bagiku, dulu saat sekolah kita jarang seperti ini, aku hidup dengan duniaku dan kalian berdua Bobby pun hidup dengan dunia kalian, walaupun kita satu kelas tapi kita tidak terlalu akrab, setelah tua inilah aku merasakan keakraban yang sangat dalam dengan kalian dan Allah pun mempersatukan kembali kita walaupun dengan dunia kita yang berbeda. " ucap Ayah Chandra.


" Dunia apaan nih yang diceritakan." ucap papa Boby seraya keluar dari dalam rumah tersebut dan langsung menghentakkan tubuhnya disamping Abi Yosep.


" Hehehe... Aku mengingat masa lalu Bob, saat kita masih sekolah dulu." ucap Ayah Candra sembari terkekeh.


" Yah!! Masa yang paling indah saat itu adalah masa putih abu-abu, sampai masalah pun kadang-kadang abu-abu tidak menemukan putihnya hahahaha..." Ucapnya tertawa lepas.


Merekapun tertawa lepas bersama...


" Ya begitulah...aku sibuk dengan duniaku dan kalian sibuk dengan dunia kalian, walaupun kita satu kelas tapi kita tidak seakrab ini dan kita hidup di dunia yang berbeda." ucap Ayah Candra mengulangi kata-katanya lagi.


" Hahaha.." lagi-lagi papah Boby pun tertawa lepas, mereka menatap kearah Papa Boby.


" Kenapa kamu tertawa Bob? Ada yang lucu?" Tanya Ayah Candra.


Papah Boby mengangguk...


" Memang kamu ada di dunia mana Ndra? di dunia gaib?" ucapnya sembari melempar kulit kacang yang ada di tangannya tersebut.


Ayah Chandra pun tertawa, Begitu juga dengan paoah Andre dan Abi Yosep ikutan tertawa.


" Maksud aku itu, kita ini berbeda dunia, dunia pekerjaan Bob." ucap Ayah Candra sembari tertawa dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


Lagi-lagi mereka tertawa lepas, sembari mereka menikmati cemilan kecil yang ada di depannya itu.


" Kalian enak, satu sekolah, aku aja enggak satu sekolah tapi sudah akrab saat ini."


" Heh piton! Kamu tuh sudah ditakdirkan sama yang mahakuasa dari orok, kalau kamu itu menjadi sahabatku, sahabat terbaikku dan sahabat yang jadi bulan-bulananku....hahaha." ucap papah Boby sembari tertawa, karena suara tawa papah Bobby yang lepas itu, Abi Yosep langsung mengambil bolu yang ada di atas meja dan memasukkan ke dalam mulut papa Boby.


" Makan tuh kue!!" Ucap Abi Yosep terbahak.


Gantian mereka bertiga tertawa lepas, papa Boby pun langsung mengunyah bolu yang sudah terlanjur dimasukkan ke mulutnya oleh Abi Yosep.


" Sekarang rencanamu apa Ndre, Setelah semuanya ini selesai." ucap Ayah Candra sembari mengunyah kacang yang ada dimulutnya tersebut.


Papah Andre pun menghela nafasnya dengan dalam dan melepaskannya dengan lega.


" Rencana kita sekarang menikahkan anak-anak kita dan sesuai dengan rencananya kita fokuskan dengan pernikahan Arvin." ucap papah Andre.


" Iya benar, kita harus fokus dengan pernikahan Arvin,Ntar kasihan candra." Ucap Abi Yosep menggantung kalimatnya.


Semua melihat kearah Abi Yosep dengan heran.


" Kasian Candra? Ada apa dengan Cabdra? kamu baik-baik aja kan Ndra?" Tanya papah Andre


" Iya nih, ada apa Yos kok kamu bisa ngomong kaya gitu, Candra kan nggak apa-apa." Sambung Papah Boby.


" Hehehe, karena dia belum punya menantu dengan sah." ucap Abi Yosep lagi saking tertawanya dia pun langsung ke selek dengan kunyahannya itu, karena posisinya mengunyah buah anggur.


" Nah kan rasakan kualat kan!" Ucap Ayah Candra tertawa.


Mereka pun kemudian tertawa lagi, mereka yang berada di teras belakang itu pun terlihat bahagia sekali, setelah reda tawa mereka papah Andre melanjutkan bicaranya.


" Setelah pernikahan anak-anak kita terlaksana, kita yang akan berlibur dan mereka akan menjalankan bulan madu mereka masing-masing" ucap Papa Andre


" Dulu kan kita sudah pernah liburan Ndre, saat itu kita sudah keluar Negeri, waktu aku sakit dulu." Ucap Abi Yosep.


" Itu namanya bukan berlibur Yosep, kang Asep, kang gosep kang esep..." Ucap papah Boby seraya mendorong pelan tubuh Abi Yosep sembari terkekeh.


" Ini lain ceritanya Yos, dulu kita berangkat ke luar negeri bukan untuk senang-senang, tapi kita menyembuhkan kamu yang lagi sakit, Alhamdulillah doa kita terjawab dan dikabulkan oleh Yang mahakuasa, akhirnya kamu sehat seperti semula dan sekarang kita akan berlibur benaran dimana kita menikmati hari tua kita bersama dengan istri-istri dan anak-anak kita yang belum menikah." ucap papah Andre


" Terima kasih ya kalian selalu ada untukku." Ucap Abi Yosep.


" Sama-sama." ucap mereka berbarengan mereka pun tersenyum.


Kemudian papah Boby berdiri dari duduknya.


" Mau kemana kamu?" Tanya Ayah Candra.


" Aku mau menemui istriku."


" Masih siang Bob!" Celetuk papah Andre.


" Appaan sih Ndre...aku mau menemui mereka di dapur." Ucapnya tersenyum.


" Untuk apa? Kamu mau belajar masak?" Ucap Abi Yosep.


" Ya nggaklah Yos, aku mau ikut mereka ngerujak buah." Ucapnya terkekeh.


" Hahaha... anaknya yang hamil bapaknya yang ngidam!" Celetuk Ayah Candra.


" Benar tuh! itu sama aja ngidam Bapak hahaha." Ucap Abi Yosep tertawa lepas,di ikuti papah Andre.


" Biarin...!" Ucapnya, kemudian papah Boby pun mengambil bantalan sofa dan melemparnya ke arah Abi Yosep,dan langsung ditangkap Abi Yosep yang masih tetap tertawa, Mereka pun akhirnya tertawa bersama,sedangkan Papah Boby melangkah memasuki ke dalam rumah kembali dan menunju kearah dapur di mana istrinya sedang mempersiapkan rujak buah keinginannya.


*****


Mobil yang dikemudikan Morgan memasuki halaman rumah mertuanya setelah memarkirkan Mobilnya tersebut mereka langsung turun dan melangkah menuju kearah pintu utama rumah tersebut.


" Assalamualaikum.." ucap Morgan


" Waalaikumsalam.." sahut sang istri yang berada diruang tamu rumah mereka yang sedang Asyik didepan layar laptopnya tersebut mengerjakan kerjaannya yang memang harus dikerjakannya dirumah,karena dia tidak masuk kerja, dan yang lainnya masing-masing berada ditempat mereka ada yang berada dikamar, diteras belakang dan ada dimeja makan, siapa lagi yang ada dimeja makan kalau bukan papah Boby dan mamah Lala yang lagi makan rujak ditemani mamah Anisha dan umi Vita.


Sedangkan papah Andre, Abi Yosep dan Ayah Candra masih asyik diteras belakang, Abiyasa dan Arvin berada didalam kamar mereka masing-masing.


Anindita langsung mendekati suaminya itu dan meraih tangan sang suami dan menciumnya begitu juga dengan Morgan tak lupa meraih istrinya dan memberikan ciuman mesra dikening sang istri.


Anindita pun menatap tamunya dan langsung tersenyum, dia pun mempersilahkan tamunya masuk dan membawanya keruang tengah, Smith Pedro langsung tersenyum dan mengikuti langkah sepasang suami istri tersebut.


" Silahkan duduk.." ucapnya tersenyum dan Smith pun mengangguk dan duduk dikursi empuk ruangan tersebut.


" Sayang... bisa panggilkan Kak Amelia dan Nika kesini." Pintanya.


Karena awalnya dia melihat Amelia berada didapur bersama mamahnya.


" Mah, kak Amelia mana ya?" Tanyanya.


" Amelia ada dikamarnya sayang, ada apa sayang?" Tanya Mamah Anisha.


" Ada yang mau ketemu, tuh tamunya ada diruang tengah."


Mereka saling pandang dan langsung berdiri melangkah menuju kearah ruang tengah, Anindita pun melangkah menaiki tangganya menuju kearah lantai Atas.


Anindita mengetuk pintu kamar Amelia.


" Tok...tok..."


Pintu terbuka dan terlihat wajah Amelia dengan wajah sedih dan matanya sembab terlihat sekali mata cantiknya masih ada sisa Air matanya.


" Dita, ada apa dek?" Tanyanya sembari mengukir senyum walaupun wajahnya sedih.


" Kakak menangis?" Tanyanya seraya memegang gangan Amelia.


" Tidak dek, mata kakak kemasukan sesuatu jadi perih " ucapnya mengusap matanya sesaat.


Anindita tersenyum, dia tahu kalau Amelia berbohong padanya, Dita paham akan kesedihan Amelia dia pun tidak mau bertanya terlalu banyak padanya, memang benar Amelia baru saja menangis karena teringat akan kedua orang tuanya.


" Begini kak, dibawah ada tamu yang ingin bertemu kakak."


" Tamu? Siapa dek?" Ucapnya heran karena dia baru merasa kali ini ada orang yang ingin bertemu dengannya.


" Dita lupa menanyakan namanya tapi dia datang dengan Mas Morgan." ucapnya tersenyum, seraya meraih tangan Amelia dan membawanya keluar kamar.


Saat mau menutup pintu kamarnya terdengar panggilan Nika dari dalam.


" Kak Amel...jangan temui dia,Nika takut kak." Ucapnya bersuara sedikit keras.


Mereka berdua saling pandang, Amelia dan Dita pun kemudian mendekati Nika yang berada disofa kamarnya itu dan Amelia langsung memeluknya.


" Dek, kayanya dia bukan orang jahat." Ucap Dita seraya mengusap pundak Nika.


" Tapi Nika takut kak kalau orang jahat kaya tadi malam." Ucapnya seraya menatap sendu kearah Anindita.


Anindita tersenyum...


" Sayang ...dia datang dengan kak Morgan, dia pasti datang kesini dan ingin bertemu dengan kakak dengan baik-baik, kamu jangan takut ya, tidak ada lagi orang jahat karena mereka sudah ditangkap polisi dan sudah diamankan semuanya, kamu harus yakin kalau kita sudah tidak ada yang mengganggu lagi,dan kita aman disini ataupun ditempat Om Boby serta dimanapun kita berada kamu harus yakin ya, lebih baik kita temui dia sekarang." Ucap Amelia sembari memegang pipi kiri dan kanan Adiknya tersebut, Nika pun mengangguk, mereka kemudian melangkah keluar kamar dan menuju kearah lantai bawah dimana mereka menunggu.


Amelia terkejut melihat Smith berada di rumah Papa Andre, yang ditemani oleh Papa Bobby dan yang lainnya.


" Sini nak duduk " ucap Mama Anisa.


Mereka pun berdua langsung melangkah dan duduk di samping Mamah Lala dan mama Anisha


" Smith apa kabar." sapa Amelia.


" Baik Mbak.." ucap Smith tersenyum.


" Kok kamu bisa tahu aku berada di rumah ini."


Smith pun tersenyum dan menarik nafasnya dengan pelan.


" Amelia, sebenarnya kami tidak menceritakan pada mu kalau Smith berada di tanah Air, karena pagi tadi saat Pak Kris datang ke kantor polisi..." ucapan papah Boby langsung dipotong Amelia.


" Apa Om? Pak Kris sudah berada di kantor polisi!" ucap Amelia terkejut mendengar keterangan Papah Boby, papah Boby pun menganggukkan kepalanya, mereka memang tidak mau menceritakannya kepada Amelia tentang kedatangan pak Kris yang dengan senang hati dan suka rela menyerahkan dirinya ke kantor polisi tersebut itupun karena rencana Morgan, karena dia tidak ingin membuat luka dihati Amelia bertambah dalam.


" Kenapa Om tidak bercerita dengan Amelia? Amelia ingin bertemu dengan si pak Kris itu, Amelia ingin meluapkan emosi Amelia dengan pak Kris, karena gara-gara dia hidup Amelia sekarang sudah tidak bisa lagi melihat kedua orangtua Amelia." ucapnya.


Mamah Anisha langsung merangkul Amelia dan Mamah Lala pun langsung merangkul Nika yang berada disampingnya.


" Amelia, sudahlah! lupakanlah masalah itu semua, mereka semua sudah menanggung akibatnya dari perbuatan mereka, lebih baik kalian mendoakan kedua orang tuamu." Ucap Papah Boby lagi di anggukan oleh mereka.


" Smith datang ke rumah ini kerana dia ingin bertemu denganmu Kak." ucap Morgan.


Amelia menatap ke arah Morgan sesaat dan kemudian menatap kearah Smith.


" Apakah benar Smith, Kamu mau bertemu dengan kami?"


" Iya mbak Amelia, Maafkan saya ya Mbak, karena bertahun-tahun Mbak menderita, karena saya tidak bisa melawan pak Kris, mbak kan tahu bagaimana kejahatan pak Kris setelah kepergian Pak Rendy dan Bu Sinta." Ucapnya seraya menundukkan kepalanya.


Amelia menganggukkan kepalanya.


" Saya ke sini ingin memberikan ini pada Mbak, ini adalah amanat dari Pak Rendy sebelum dia masuk ke dalam penjara dan meninggal dunia."


Smith pun menyerahkan tas yang dibawanya tersebut pada Amelia, Amelia membuka tas tersebut dan dia mengambil beberapa berkas yang ada di dalam tas itu, dia membukanya dan dia pun langsung meneteskan air matanya, dia melihat berkas dan surat berharga yang ada di dalam tas tersebut, aset-aset berharga milik keluarganya sekarang berada di tangannya, dia pun langsung merebahkan kepalanya di pundak Mama Anisha dan Mama Anisha dengan sabar mengelus pundak Amelia seakan-akan memberikan kesabaran kepada anak gadisnya yang sedang tergoncang hatinya itu


" Maafkan Saya ya Mbak, karena saya baru datang sekarang."


" Iya, tidak apa-apa, terima kasih karena kamu sudah memegang amanat dari papa dan memberikannya kepada kami."


Mereka pun dikejutkan suara sebuah mobil memasuki halaman rumah keluarga Wibawa, mata mereka menatap ke arah luar secara bersamaan, mereka menunggu siapa yang datang ke rumah tersebut, beberapa saat kemudian terdengar suara mengucapkan salam dari luar.


" Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam.." ucap mereka semua.


Ternyata yang datang adalah dr Roni, dia pun melangkah bersama dengan Mama Raisa, Mama Anisha pun berdiri dan langsung mendekati mereka menyambut kedua tamunya tersebut dan membawanya duduk bergabung dengan mereka diruang tengah tersebut,dr Roni bahagia melihat sang calon istri, Amelia tersenyum manis kearah dr Roni yang menatapnya itu.


Kemudian dr Roni disenggol oleh Arvin yang kebetulan keluar dari kamarnya itu dan sudah berada bersama mereka, dr Roni terkejut dan tersenyum dia langsung mengambil duduk di samping Morgan dan didampingi oleh Arvin


" Maafkan kami datang tidak pada waktunya dan mengganggu pembicaraan kalian." ucap Mama Raisa.


" Tidak tante, tante datang di saat yang tepat." ucap Papa Andre tersenyum.


Mama Raisa kemudian menatap kearah Amelia dia tersenyum bahagia melihat Amelia yang tersenyum juga padanya.


" Cantik!" ucapnya dalam batinnya.


Amelia pun menganggukkan kepalanya dan mengulurkan tangannya kepada mama Raisha dan mencium tangan orang tua tersebut, dan mama Raisha pun mengusap lembut rambut Amelia.


" Silakan kalau mau dilanjutkan pembicaranya." ucapnya sembari duduk di samping umi Vita.


Mereka pun mengangguk, karena Smith tidak mengetahui kalau dr Roni adalah kekasih hatinya Amelia dia pun langsung bicara lagi.


" Kapan Mbak Amelia dan Nika kembali ke luar negeri dan menjalankan perusahaan almarhum orang tua Mbak?" tanya Smith pada Amelia.


Dr Roni terkejut mendengar perkataan dari Smith.


" Apa?! luar negeri? Ya Allah jangan sampai dia mengatakan bersedia berangkat ke luar negeri sekarang, Aku tidak ingin kehilangan dia, Aku sangat mendambakan dia menjadi istriku dan pendamping hidupku, Ya Allah jangan pisahkan aku dengan dia." ucap batinnya seraya menatap ke arah Amelia.


Arvin dan Morgan pun melirik ke arah dr Roni.


" Kacau nih, galau hati kak Roni pastinya." ucap batin morgan tersenyum.


" Wajah kak Roni sudah berubah,terlihat sedih dan kacau, karena kak Amelia akan berangkat ke luar negeri dan pastinya akan menetap di luar negeri." ucap batin Arvin seraya menatap bergantian ke arah dr Roni dan Amelia, terlihat Amelia menarik nafasnya dengan pelan dan kemudian menatap satu persatu ke arah mereka dan tatapannya berhenti diwajah dr Roni, mereka berdua saling pandang seakan-akan hati mereka berbicara dan hanya mereka berdua yang tahu.