THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 76



Beberapa saat Morgan berada di ruangan UGD, kemudian Morgan dipindahkan ke ruangan rawat inap VIP.


Mereka mengikuti Morgan sampai ke ruangannya, setelah suster berlalu, Morgan masih terbaring di ranjang rawatnya Abiyasa dan teman-temannya duduk di samping dia.


Kadang-kadang terdengar mereka tertawa mereka yang saling bercanda Ria menghibur Morgan.


Suster masuk kembali dan membawakan beberapa obat yang berbentuk pil, Morgan terbelalak melihat pil yang ada di nampan yang dibawa oleh suster tersebut.


Dia spontan menutup mulutnya dengan tangan kirinya,Abiyasa memandang Morgan penuh tanda tanya.


" Kamu kenapa lagi Bro?" Tanya Abiyasa tersenyum.


" Nggak, tiba tiba aku ngerasa mau muntah." Jawabnya.


" Emang kenapa perut kamu?"


" Terasa perih" ucap Morgan seraya memegang perutnya.


" Alasan!" Ucap Arvin.


Morgan menyipitkan matanya,seraya menatap Arvin, Arvin hanya sengum senyum saja.


" Pak, silahkan di minum dulu ya obatnya" ucap suster seraya menyerahkan obat nya pada Morgan.


Morgan hanya menatap obat yang di pegang sama suster tersebut.


" Kamu kenapa sih butut ?" Tatap Carissa sambil menepuk jidat Morgan.


" Kamu nggak gila kan? "


" Yey! Aku masih waras Ris," bela Morgan.


" Kalau kamu waras cepatan gih minum obatnya" sambungnya lagi.


" Aduh !" ucap Morgan seraya mengambil obat dari tangan suster.


Morgan menyipitkan matanya melihat obat yang bentuknya pil.


" Suster Maaf, ada yang berbentuk sirup nggak?" Tanyanya.


" Morgan kamu minum obatnya bentuk sirup ?" Tanya Abiyasa.


" Enggak...! maksud aku kan biar ada rasa manis nya" ucap Morgan lagi.


" Maaf pak nggak ada" ucap Suster.


" Makasih ya suster " ucap Morgan.


Clarissa kemudian mengambil obat yang ada di tangan Morgan dan langsung membukanya.


" Buka mulutmu,biar obat ini meluncur di tenggorokan mu,dan dengan mulus nya sampai kelambungmu" ucap Clarissa tersenyum.


Namun Morgan langsung menutup mulut nya dengan tangannya.


" Memang ada apa sih, kok kamu nggak mau minum obat " ucap Abiyasa heran.


" Gimana ya bilangnya,"


Kemudian pintu terbuka Anindita masuk keruangan Morgan semua mata terbuka dan langsung terperangah karena Anindita membawa penumbuk khusus obat puyer bayi.


" Buat apa itu Dit?" Tanya Abiyasa.


" Buat numbuk obat kaj" ucapnya santai.


" Maksudmu,numbuk obat pil jadi puyer?" Tanya heran Clarissa.


Dianggukkan oleh Dita.


" Jadi?" Tatap mereka heran melihat Anindita mengambil obat dari tangan Clarissa dan langsung menumbuknya untuk di hancurkan.


" kayak bayi ?" Ucap pelan Clarissa.


" Astaga?!! Morgan...!!!" Ucap mereka semua sambil menepuk jidat mereka masing-masing.


" Badan kamu segede ini? sudah mau menikah? jadi polisi pula, keturunan bule? Masih minum obat diremuk dulu dipecahkan dulu yang bener aja Morgan... Morgan..." ucap Clarissa.


Morgan hanya terkekeh.


" Kamu itu bayi tabung apa bayi gorilla sih " ucap Clarissa lagi.


Lagi lagi Morgan terkekeh.


" Hadeh!! Malu malu in aku banget sih Mor, sudah minum obat dengan cara di hancurkan,takut jarum suntik lagi, kamu waras Mor?" Ucap Arvin tersenyum seraya memegang jidad Morgan dan menempelkan tangannya kearah Clarissa.


" Aku waras Vin nggak sakit" delik Clarissa manis seraya terkekeh.


" Apa? Kamu my Hanny takut jarum suntik? Kok aku nggak tahu? Kamu kenapa nggak bilang pada ku?" Tanya Anindita bertubi tubi pada Morgan.


Morgan hanya tersenyum masam dan garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Anu, itu, my hanny aku memang nggak mau bilang karena memang sengaja aja" ucapnya.


" Hahahaha"


Morgan menatap kearah Arvin dengan cengengesan.


" Kamu takut jarum suntik,tapi ntar kamu suntik aku ketagihan" ucap Anindita tersenyum.


" Hahahah" mereka tertawa mendengar ucapan Anindita,sedangkan Morgan hanya tersenyum saja.


Tiba tiba ponselnya Clarissa berdering dan dia pun langsung mengambil ponselnya tanpa melihat siapa pemanggilnya dia menjawab telpon tersebut,yah! Clarissa sudah menyeting nada panggilan dari mata matanya di ponselnya jadi dia tahu siapa yang memanggilnya.


" Maaf aku permisi keluar dulu ya" ucap nya Seraya berjalan keluar ruangan dan langsung berbicara dengan mata matanya itu.


" Ya ada apa?"


" Ini bu, saya sudah mendapatkannya alamatnya dan sekarang saya sudah mendapatkan rekaman pembicaraan antara si Sugeng dengan selingkuhannya, nanti saya kirim kan rekaman suaranya tersebut."


" bagus!,kerja bagus" ucap Clarissa tersenyum.


" Mereka sudah menempati rumah baru mereka bu"


" Oke, segera kirim alamatnya dan rekaman suara mereka.


" Siap bu "


" Maaf bu sebelum pembicaraan mereka saya rekam di sebuah restauran saat mereka lagi makan siang, mereka merencanakan sesuatu bu buat ibu dan pak Abiyasa"


" Apa?" Clarissa kaget mendengar keterangan tersebut.


" Iya bu, makanya saya rekam semua pembicaraan mereka."


" Ya udah ntar kamu ketahuan lagi,kalau lagi menghubungi ku"


" Tidak bu, aman " ucapnya.


Kemudian telpon langsung di matikan oleh Clarissa.


" Kurang di peras tuh si Sugeng,ternyata dia nya masih aja Angel, tunggu yo Sugeng, kamu belum tahu sepak terjang si Clarissa anaknya mak Boby,ups! Keceplosan, maaf ya papah, Risa khilaf" ucapnya tersenyum seraya masuk kembali berkumpul dengan mereka lagi.


Abiyasa yang curiga langsung menanyakan pada Risa.


" Ada apa?"


" Intelijen ku mengabarkan kalau ternyata si Sugeng itu sudah berani merencanakan sesuatu pada kantor dan tergetnya adalan kita berdua Biy" ucap Clarissa.


" Apa?! Tidak jera jeranya ya dia" ucap Abiyasa.


" Ya udah ayo kita kekantor buat merencanakan sesuatu juga buat dia" ucap Abiyasa lagi.


" Kalau penyerangan tunggu aku sembuh ya, aku mau ikut juga tuk melahap dia" ucap Morgan.


" Kelamaan kalau nunggu kamu" ujar Arvin.


" Wah jahat nih, kan aku sudah srmbuh, nih lihat sembuhkan," ucapnya seraya mengangkat tangan nya kuat.


" Eh,... Hebat yah! Mau nih aku suntik lagi? Sekalian aja ntar aku suntik mati,mau?" Ucap Anindita seraya tersenyum.


" Waduh! Jahat benar sih hanny" ucap Morgan.


" Makanya nurut istirahat dulu" delik Anindita.


" Iya...iya...sayang" ucap Morgan.


" Lagian mana ada sih orang langsung sergap gitu aja,mereka kan pasti juga melihat seluk beluk dari keterangan dan saksi saksi" ucap Anindita.


" Hehehe" Morgan hanya bisa terkekeh.


" Mereka bertiga hanya senyum senyum saja melihat Morgan di marahi oleh Anindita.


" Ya udah kami permisi dulu ya, cepat sembih biar bisa ikut penyergapan" ucap Abiyasa tersenyum.


Morgan hanya bisa memandangi langkah kaki ketiga sahabatnya yang berlalu dari ruangannya.


" Biy,kita makan dulu ya, aku laper banget nih" ucap Clarissa.


" Sama aku juga laper" sahut Arvin.


" Ya udah kalau gitu kita makan bareng dan setelah itu kita bicarakan rencana selanjutnya.


" Oke," ucap keduanya.


Clarissa dan Arvin memasuki mobil Abiyasa.


" Lho, mobilmu mau kamu tinggal di rumah sakit Vin?" Tanya Biyas.


" Aku nggak bawa mobil, mobilku di kantor polisi, yang aku bawa tadi mobilnya Morgan" ucap Arvin.


" Oh..." Jawab singkat Abiyasa.


Mobil yang di kendarai Mereka meningggalkan rumah sakit dan menuju kearah resto Favorite empat sekawan itu.