THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 279



Setelah pulang dari bandara morgan berpamitan dengan kak Marco dan Clarissa kekantor lagi, sebelum morgan memasuki mobilnya dia langsung ditegurkan Clarissa


" Morgan sebentar..." Panggil Clarissa seraya melangkah mendekati Morgan yang memegang pintu mobilnya tersebut.


Morgan menoleh kearah Clarissa...


" Ya Ris ada apa...?" Tanya Morgan.


" Sedari tadi aku memperhatikan wajah kamu Mor, kayanya ada sesuatu yang kamu simpan, ada apa Mor?" tanya Clarissa dan Marco pun mendekati mereka karena terlihat sangat serius pertanyaan sang istri pada sang adik.


" Ada apa Morgan, kamu kalau ada masalah lebih baik cerita sama sahabatmu, kalau tidak bisa kamu cerita, setidaknya kamu cerita dengan kakak, jangan kamu simpan sendiri, tidak baik dek...kamu sudah menikah, jangan ada yang disembunyikan diantara kalian berdua Morgan, kejujuran dan saling percaya adalah keutamaan dalam suatu hubungan berumah tangga adik ku.." ucap Marco sembari menepuk pundak sang adik, Morgan menghela nafasnya dengan pelan.


" Ceritalah Morgan, ada apa?" tanya Clarissa.


" Aku dihubungi oleh sebuah nomer gawai yang tidak aku kenal dan penelpon itu mengatakan kalau dia sangat merindukanku, aku tidak ingin Anindita tahu tentang penelpon yang sepertinya sudah sangat mengenalku." ucapnya sembari menutup pintu mobilnya dan menyenderkan tubuhnya dimobilnya sembari memasukkan kedua tangannya dikedua saku celananya.


" Kalau kamu tidak jujur dengan istrimu sama aja ini akan jadi bumerang bagi hubungan rumah tanggamu, lebih baik kamu jujur dan katakan semuanya, kamu harus menjelaskan semuanya pada Anindita, lebih baik kamu yang mengatakannya dari pada nantinya Anindita yang tahu dari orang lain, misalnya bisa saja dia dihubungi oleh si penelpon tersebut dan mengatakan padanya kalau kalian pernah bersana atau bla...bla...bisa sajakan sipenelpon itu adalah orang yang pernah hadir dimasa lalu mu kaya Marco." ucap Clarissa.


" Kok aku sih sayang...?"ucap Marco langsung menoleh kearah Clarissa.


" Hehehe misalnya sayang..." ucap Clarissa sembari membelai pipi sang suami dengan satu tangannya sembari terkekeh pelan.


" Amit-amit...cabang bayi." ucapnya sembari mengetuk kepalanya dengan tangannya dan kemudian tangannya itu di ketukkan lagi kemobil Morgan, Morgan tertawa melihat ulah sang kakak.


" Apakah itu ada hubungannya dengan masa lalumu Mor " tanya Marco.


" Entahlah kak, setahu aku tidak mungkin dia menghubungi aku karena saat itu aja dia mengatakan kalau dia sakit keras dan dia yang meninggalkan aku dan itu sudah bertahun tahun lamanya jauh sebelum aku mengenal Anindita dan aku juga tidak tahu apakah dia sudah mati atau masih hidup." terang Morgan sembari menghela nafasnya.


" Bisa aja sih Mor, jika tuhan berkehendak penyakit yang ganas sekalipun bisa sembuh dengan ijinnya dan ada kemungkinan dia adalah mantan kekasih mu yang dulu." lanjut Marco.


" Ahh...! jangan sampai kak, aku tak mau kalau itu sampai terjadi aku sudah bersusah payah mendapatkan Anindita dan sampai jatuh bangun aku menjalani cinta ini, dan disaat aku bahagia dia datang dengan begitu saja dan ingin menarik perhatianku lagi, nggak mau ahh kak! lagi pula saat itu kenapa aku ditinggalkan tanpa sebab, kalau emang dia yang menghubungi ku kenapa baru sekarang dan lagi tahu darimana dia nomer gawaiku, karena saat itu setelah dia minta aku dan dia pisah dengan alasan dia sakit keras dan tidak bisa lagi untuk mendampingiku dan waktu hidup dia juga tak akan lama lagi katanya makanya aku hanya mengiyakan saja apa maunya saat itu, sakit ditinggalkan orang yang sangat dicintai pada saat sayang-sayangnya kak, aku berusaha kembali dari keterpurukanku setelah bertemu dengan Anindita, aku rasanya menemukan apa yang hilang didiriku saat itu, Anindita lah obat semuanya, aku juga sudah menceritakan tentang masa laluku yang ditinggalkan kekasih tanpa sebab dan akibatnya kata Stevie dia sakit parah." terang Morgan sembari menarik nafasnya dengan pelan.


Marco dan Clarissa mendengarkan cerita Morgan mereka yang masih berada diparkiran bandara itu hanya terdiam karena sebuah pesawat terbang melintas terdengar suara bisingnya, setelah pesawat itu menjauh barulah Clarissa berbicara.


" Kenapa kamu tidak melacak siapa pemilik nomer gawai itu.?" tanya Clarissa.


" Maunya sih seperti itu, tapi aku rada-rada malas dih Ris melacaknya, karena aku pikir itu percuma saja, bagiku tidak penting, tapi sampai saat ini aku malah kepikiran, saat aku dalam perjalanan pulang mau makan siang dirumah bersama istriku, nomer itu terus menghubungiku dan mengirim chat pribadi pada ku, tapi ya itu tadi aku rasa malas ingin mengetahui siapa dia sebenarnya." Ucap Morgan biasa saja.


" Ya udah kalau gitu biar aku yang menghubunginya dan biarkan aku saja yang akan mencari tahu siapa dia, biar aku yng akan membereskannya kamu tunggu kabarnya aja, karena ini tidak bisa dibiarkan kalau berlarut larut akan membut semuanya hancur, kamu tahukan Anindita bagaimana, dia kalau marah bisa bisa sungai dan lautan akan menutup sendiri dan airnya akan kering hahaha..." ucap Clarissa sembari tertawa lepas.


Morgan dan Marco pun tertawa lepas juga mendengar ucapan Clarissa.


" Siapa tadi nama orang yang ada dimasa lalu kamu itu?' tanya Clarissa.


" Stevie..." Jawab Morgan santai.


" Orang mana Mor?" Tanya Clarissa


" Orang tanah air Ris." Jawabnya.


" Maksudnya berasal dari mana Mor???" tanya Clarissa penuh penekanan.


" Berasal dari kota B." Ucapnya sembari terkekeh kecil.


" Ya udah kalau gitu mana nomernya biar sekarang aku hubungi dia." Ucap Clarissa.


Morgan pun mengambil gawainya dan saat dia mau membuka data panggilan, tiba-tiba gawainya berbunyi dari panggilan abang seniornya yang menghubunginya.


" Sebentar ya Ris, Abang seniorku memenggil." ucapnya segera menjawab panggilan tersebut.


" Siap bang, ada apa.?"


" Segera kembali kekantor sekarang, Plb." Ucapnya.


" Siap bang!.." ucapnya seraya menutup panggilan tersebut dia pun bergegas memasuki mobilnya dan membuka kaca mobilnya tersebut.


" Nanti kalau sudah selesai urusan kantor aku kirim chat pribadi ya Ris." ucapnya pada Clarissa seraya tersenyum.


" Assalamualaikum.."


" Waalaikumsalam.." jawab kedianya


Mobil Morgan pun melaju meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri disamping mobilnyanya.


" Ada-ada saja si Morgan..x ucap Marco sembari meraih tangan istrinya dan langsung mengajaknya memasuki mobil pribadinya.


Mobil Marco melaju meninggalkan halaman parkir bandara menuju kearah rumah sakit wibawa dan ingin segera memeriksakan keadaan Clarissa yang tadinya tertunda karena keinginan mereka berdua ingin mengantarkan sang mama dan papah mereka berangkat kekota M.


Didalam mobil..


" Aku tidak menyangka kalau masa lalu Morgan begitu menyedihkan, kalau dipikir kurang apa coba Morgan itu, memiliki wajah ganteng, punya pekerjaan, mandiri, dan memiliki rasa sayang dan cinta yang besar, sama seperti kamu sayangku hehehe..." ucap Clarisa sembari tersenyum manis pada sang suami.


Marco pun tersenyum dan membelai kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.


" Ya sayang, aku juga tidak tahu sayang kalau masa lalu adikku itu, karena dia tidak pernah bicara soal Stevie padaku, dulu pernah ada seorang wanita dikenalkannya padaku, tapi saat itu bukan Stevie." Ucap Marco sembari menoleh sesaat kearah Clarissa.


" Siapa yang dikenalnya padamu? masa sih bukan Stevie, jangan jangan wanita yang pernah dikenalkannya itu adalah yang meneror dia sekarang ini." Ucap Clarissa.


" Yang dikenalnya padaku waktu itu Anindita hahahaha..."ucap Marco tertawa lebar.


" Iiihhh... kamu ya, bikin orang berpikiran negatif aja sih, aku kira tadi benaran ada banyak wanita yang pernah menempati hati Morgan." ucap Clarissa terkekeh juga mendengar ucapan sang suami.


" Benaran sayang aku tidak pernah sama sekali dikenalkan Morgan tentang siapa Stevie itu, aku aja tidak tahu kalau morgan memiliki hubungan khusus dengan wanita yang bernama Stevie itu, yang aku tahu hanya Anindita pujaan hatinya, aku kira cinta pertama dan terakhirnya Morgan hanya Anindita, ternyata ada wanita sebelum Anindita dimasa lalu Morgan, mudah-mudahan saja bukan Stevie yang menerornya itu." ucap Marco.


" Benar sayang... " ucap Clarissa seraya menyandarkan kepalanya dipundak sang suami.


*****


Sebuah mobil memasuki halaman villa keluarga wibawa, seorang lelaki yang terlihat berpakaian yang rapi keluar dari mobilnya tersebut bersama seorang lelaki membawa sebuah tas jijing yang berada ditangannya itu, menemani langkah lelaki tampan tersebut, lelaki yang membawa tas jijing itu pun memencet bel beberapa kali, kemudian pintu villa terbuka dan pengurus villa itupun mempersilahkan mereka berdua masuk karena tamu tersebut sudah ditunggu tuannya sedari tadi.


Dengan ramah dan senyuman manis dia memasuki villa di ikuti dengan lelaki yang membawa tas jijing tersebut, terlihat sepertinya lelakii itu adalah asisten pribadinya lelaki ganteng itu.


Abiyasa tersenyum dan menghampiri tamunya tersebut tidak lain dan tidak bukan dialah Alex teman semasa kuliah Abiyasa, Alex menyalami uluran tangan Abiyasa dan mereka pun saling berpelukan sebagai teman yang sudah lama tidak bertemu dan Abiyasa mengajak Alex dan asistennya itu duduk diruang tengah villa Abiyasa dimana ada papah Andre, dan papah Boby yang sedari tadi duduk di sofa ruang tengah villanya.


" Hallo om Andre,,, Hallo om... " ucapnya sembari mengulurkan tangannya menyalami keduany.


" Om boby.." ucap papah boby tersenyum.


" Oh iya om Boby..heheh " jawab Alex terkekeh.


" Pah, Om Boby, inilah orangnya yang ingin membeli perusahaan Almarhum Om Rendy, ini Alex Max namanya teman kuliah Abiyasa dulu." ucap Abiyasa seraya memperkenalkan Alex pada papahnya dan papah Boby.


Mereka berdua tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Kemudian Amelia keluar dari kamarnya dan bergabung dengan mereka, Alex terkejut melihat Amelia, begitu juga dengan Amelia dia juga terkejut melihat Alex ada dihadapannya tersebut.


" Amelia..."


" Alex..."


" Jadi ..." Alex menggantung kalimatnya seraya menatap kearah Abiyasa sembari menunjuk kearah Amelia.


" Ada apa Lex?" tanya Abiyasa heran.


" Amelia inikah yang kamu ceritakan padaku yang teraniaya oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak tahu terimakasih? " tanyanya.


" Iya Lex, kak Amelia inilah yang aku ceritakan padamu saat itu,yang kedua orang tuannya meninggal dunia."


" Jadi...? pak rendy yang pemilik perusahaan itu papah kamu Mel?" tanyanya


Amelia menganggukkan kepalanya.


" Oh my god, Astaga!! aku tidak menyangka Mel, kalau pak Rendy itu adalah papa kamu, aku selama ini mengagumi papah kamu itu, karena beliau sangat pekerja keras wajar saja perusahaan dia itu sangat maju dengan pesat, aku turut berduka cita ya Mel..." ucapnya seraya menatap Amelia dengan tatapan sedihnya.


" Ternyata kamu sudah kenal ya dengan kak Amelia " ucap Abiyasa tersenyum.


" Iya Biyas." ucapnya tersenyum.


" Kenal dimana Lex?" tanya papa Boby terkekeh.


" Amelia mantan kekasih saya Om, Maaf ya Mel aku sedikit cerita dengan mereka."


" Ya tidak apa-apa Lex, itu hanyalah masa lalu kita saja " ucap Amelia.


" Tapi sekarang kamu sudah berkeluarga kan Lex?" tanya Abiyasa.


" Belum Biy, setelah kami memutuskan hubungan kami berdua dan memutuskan sebagai teman biasa saja, aku lalu berusaha keras untuk menjalankan usaha papah, sampai sekarang belum kepikiran untuk berkeluarga." ucap Alex sembari menatap kearah Amelia.


Amelia hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Alex.


Amelia dan Alex memang pernah menjalin hbungan asmara, saat Amelia magang di sebuah perusahaan pamannya Alex, saat itu mereka menjadi pasangan yang romantis, tapi karena orang tua Alex tidak merestui hubungannya dengan Alex, mereka pun akhirnya sepakat untuk berpisah dan menjadi teman tapi bukan sahabat, saat itu Amelia belum mengatakan pada kedua orang tuanya kalau dia mempunyai seorang kekasih, karena dia tidak ingin mengatakannya pada mereka, kalau seandainya dia mengatakan jujur pada kedua orang tuanya saat itu, pasti orang tuanya akan menyuruhnya segera menikah, bagi Amel dia masih ingin sendiri dan bekerja untuk menggapai cita-citanya untuk membahagiakan kedua orang tuanya tersebut, tapi sayang keinginannya itu hanyalah tinggal kenangan belaka, setelah berpisah dari Alex Amelia tidak ingin mendengar kabar Alek atau pun keluarganya, Alex pribadi tidak pernah dikenalkan pada kedua orang tuanya Amel, makanya dia tidak mengetahui kalau Amelia adalah anak dari papah Rendy dan mamah Sinta.


" Mungkin kami berdua tidak jodoh dan ditakdirkan hanya sebagai teman biasa saja Biy, aku dulunya bersama Amelia kurang lebih setahun lamanya, tapi selama aku bersama dengannya aku tidak pernah mengenal orang tuanya, makanya aku kaget ternyata pak Rendy adalah orang tua Amelia, dia pintar sekali menyembunyikan identitas keluarganya saat itu, aku juga saat itu tidak punya inisiatif untuk mencari tahu siapa sebenarnya kedua orang tuanya, karena aku anggap saat itu hanyalah cinta-cintaan sesaat saja, dan kami terhalang dengan orang tua ku yang tidak mendukung aku bersama dengan Amelia. " ucapnya tidak ada rasa malu atau canggung dia bercerita didepan mereka.


" Maafkan aku ya Lex, bukan maksud aku saat itu tidak memperkenalkan kamu dengan kedua orang tua ku, karena saat itu aku tidak ingin menikah secepatnya, karena pikiran aku saat itu tidak kepikiran sampai kesana, mungkin ini kesalahan ku karena aku mencintaimu tapi tidak ingin dinikahi kamu, itulah yang mungkin tidak disukai kedua orang tua kamu, terutama mamah kamu, aku yang tidak pernah mengatakan tentang keluargaku, mungkin saat itu aku dianggap keluarga kamu, aku ini wanita yang tidak benar, itu wajar! kalau orang tua kamu mengira seperti itu, yah! itulah, karena aku memang ingin mencapai cita-citaku yaitu ingin membahagiakan kedua orang tuaku, walaupun saat itu papah sudah berhasil dalam usahanya, tapi karena aku ini adalah sebagai anak yang sudah diurus dan dijaga dari kecil sampai besar sekarang ini aku ingin memberikan kebahagiaan pada kedua orang tua ku, tapi semua impianku ini kandas ditengah jalan dan sekarang aku hanya ingin membahagiakan adikku semata wayang agar tidak kehilangan kasih dan sayang." ucapnya sembari tersenyum getir.


Mereka hanya mengangguk dan terdengar helaan nafasnya mereka mendengarkan cerita Amelia.


" Sudahlah Mel, lupakan saja,benar katamu itu adalah masa lalu kita saja, aku juga saat itu tidak memperjuangkan cintaku sendiri, aku begitu saja mengiyakan kehendak mama, mudah-mudahan aku dapat menemukan calon istri. ucapnya tersenyum dan menatap kearah Amellia.


Amelia tersenyum dan mengangguk.


Sebelum lanjut bicara lagi tentang mereka berdua mengenang masa lalu dan ujung-ujungnya menimbulkan cinta yang sudah mati jadi hidup kembali, papah Boby langsung berbicara.


" Alex, maaf ya Om mau mengundang kamu nanti ketanah air " ucapnya.


" Untuk apa Om?" Tanyanya heran


" Untuk menghadiri pernikahan Amelia dan dr Roni." Lanjut papah Boby.


Alex tersenyum dan menganggukkan kepalanya walaupun diwajahnya terlihat jelas rasa terkejut itu tapi Alek berusaha menyembunyikan rasa itu.


" Hmmm...ternyata memang bukan jodohku Amelia, dia sekarang sudah milik orang lain, tapi tidak apa-apa, semoga saja Amelia bahagia dengan pilihan hatinya, aku akan tetap jadi temannya dan dengan aku membeli perusahaan ini setidaknya aku sudah membantu dia, cinta tidak harus memiliki, tapi cinta bisa dilakukan dengan cara menjadi teman baik." ucap batinnya.


" Baiklah lah Om, nanti saya akan datang ketanah air, kamu Biy harus kasih tahu kapan pelaksanaannya padaku, kamu juga Mel jangan lupa kapan kapan kenalkan aku dengan calon suamimu lewat videocoll oke..." ucapnya tersenyum.


" Siap! aku akan kabari kamu nantinya." Ucap Abiyasa.


" Iya Lex, aku akan memperkenalkan calonku padamu nanti." Ucap Amelia.


Alex tersenyum dan mengangguk.


" Baiklah, kita lanjut ketopik utama untuk kesepakatan pembelian perusahan tersebut." ucap papah Andre membuyarkan pikiran mereka.


" Astaga Om, iya ya saya kesini kan mau membeli perusahan itu, baiklah kita sepakati...." ucap Alex terkekeh dianggukkan mereka semua.


Mereka pun kemudian membicarakan semuanya dan Amelia memperlihatkan surat-surat berharga lainnya pada Alex tentang perusahaan sang papah.


Setelah kesepakatan deal antara keduanya, Alex pun langsung memberikan cek dengan nominal pantastis dan disetujui mereka, setelah urusan penjualan selesai, mereka pun berbincng-bincang sebentar, kemudian Alex mohon diri dengan mereka semua, Abiyasa mengantarkan Alex kepintu utama villa dan Alex pun memasuki mobilnya setelah berpamitan dengan papah Andre dan papah Boby beserta Amelia, mobil Alex pun meninggalkan halaman vila kembali kerumah pribadinya.