THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 175



Setelah reda tawa mereka Morgan bicara lagi.


" Mantap juga ya rencana yang akan kamu jalani nanti bersama Nadine, jadi lebih banyak waktu bersama sang kekasih."ucapnya.


" Sudah takdir Mor, dijalani aja heheh." ucap Arvin.


" Gaya kamu Vin! takdir dari mana,adanya takdir yang kamu buat sendiri." ucapnya.


Mereka tertawa lagi.


" Tapi kalau dipikir memang benar sih Arvin menjalankan rencana itu, Dia dan Nadine kan bisa kemana-mana, mau jalan-jalan kemana pun bisa, bahkan menampakan diri dengan jalan kaki bersama pun di depan rumah pak Bowo memancing agar Dia keluar dan merasa apakah Dia tidak salah melihat kebahagiaan Lia dan seorang laki-laki yang ada di foto tersebut." ucap Abiyasa.


" Nah itu Dia yang Aku pikirkan, Dia kan fokusnya dengan Lia, Dia tidak sadar dengan Aku, sekarang kan sudah beberapa tahun mungkin Dia baru sadar kalau Lia tidak jadi menikah dengan Ariel, pasti dipikirannya Lia menikah denganku, apalagi Lia kan mempertahankan bayi yang ada dalam kandungannya waktu itu, pasti Dia berpikir saat ini Lia sudah melahirkan dan membesarkan Anaknya, apalagi sekarang hampir 2 hari pak Sahrul tidak berada di rumahnya, pasti mereka akan mengubah rencana untuk menghancurkan Lia, makanya Aku berpikir untuk memperlihatkan Lia tapi melalui Nadine, coba kalian pikir Aku tidak mungkin kan mau memancing Pak Bowo bersama Lia, sedangkan Aku sudah mau menikah dengan Nadine, nah karena Nadine mirip dengan Lia makanya Aku ajak Nadine aja." ucapnya menjelaskan rencana yang telah dipikirkan bersama Nadine sewaktu berada di rumah Abiyasa.


" Rambut Nadine panjang, rambut Lia pendek Apakah dia tidak curiga nantinya.?" tanya Abiyasa.


" Tidak Biy, kalau masalah rambut yang bisa dipotong pendek atau dipotong panjang." ucap Morgan.


" Kamu ini ada-ada aja Morgan, mana ada sih dipotong panjang, makanya kalau kamu ngomong itu harus konsen, Jangan pikiran kamu itu ke Anindita,sabar dong Bule dua minggu lagi Kamu udah menikah." ucap Arvin sembari mendorong pelan tubuh Morgan ke depan karena posisi Arvin berada duduk di belakang.


" Hahaha.. biasa Vin pembawaan hati yang gelisah hehehe.." kekeh nya.


" Stop-stop! Ini Alamatnya dan itu nomor rumahnya." ucap Arvin.


" Mana Vin nomer rumahnya." ucap Morgan lurus menatap kearah rumah besar tersebut dimana ada beberapa orang berada didepan teras tersebut.


" Itu tuh Bule, di pohon cemara besar itu lho ditempelnya,nggak liat apa nomer 168 itu,angka sebesar itu masih nggak liat,makanya pakai tuh kacamata kuda,biar sekalian nggak liat hehehe..." ucap Arvin terkekeh.


" Hehehe..Rabun Vin, karena kalau liat nomer-nomer selalu nggak bisa liat,dimataku hanya terlukis wajah Anindita." ucap Morgan.


" Iih...kesel Aku lama-lama dengan Bule nih, Biy pecat aja Dia jadi calon ipar hehehe." ucap Arvin terkekeh lagi.


" Hahahah..." ucap Morgan tertawa pelan.


" Udah,kalian ini kapan kelarnya sih,berantem mulu,lihat..pas sekali rumahnya di pinggir jalan jadi kita bisa melihatnya langsung dari seberang jalan ini." ucap Abiyasa.


" Benar kata Pak Sahrul,mereka asik di luar tapi kita tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi sayang kita tidak bisa melihat tuh ciri-ciri fisik yang di berikan oleh Pak Sahrul." ucap Morgan.


" Morgan-Morgan, kita ini ada di seberang jalan Morgan, rumah itu halamannya lebar Bule, mana kita bisa melihat kalau kita tidak turun dari mobil ini." sambung Arvin.


" Hehehe biasa Vin..." ucapan Morgan terputus.


" Bawaan hati yang gelisah!" ucap Arvin menyahut langsung omongan dari Morgan.


Mereka bertiga tertawa...


" Ayo kapan lagi kita turun " ajak Arvin.


" Sebentar!" ucap Morgan mereka berdua menatap ke arah Morgan.


" Kalau kita turun kita sembunyinya dimana?" ucapnya.


" Ya Allah, ampunilah polisi Bule ini,kenapa juga sih diluluskan jadi Polisi kalau pikirannya tidak berpungsi." ucap Arvin seraya menepuk jidadnya sendiri,Abiyasa hanya tersenyum dan mengusap wajahnya dengan pelan dan menepuk pundak calon adik iparnya tersebut.


" Pak Polisi yang baik dan ganteng seantero kantor saja,denger ya... itu kan nggak pakai satpam dan juga tidak menggunakan pagar rumah, kita bisa masuk tuh ke dalam situ dengan cara mengendap-endap sayang....lihat tuh di pinggir halamannya itu ada beberapa pohon besar, ya cukup lah untuk badan kita melindunginya dari tatapan mereka, Kalau aku lihat dari sini ada lima buah pohon tuh." terang Abiyasa seraya tersenyum.


" Iya Biy Aku paham,tapi sebentar ya walaupun jauh Aku bisa menerawang ya, kalau mereka itu sedang menikmati minuman beralkohol,Jadi mereka tidak menyadari kalau kita sedang berada di balik pohon itu, kita akan mengambil gambar si Bowo itu,dan besoknya kita akan lancarkan rencana si Arvin." ucap Morgan lagi.


Arvin dan Abiyasa menganggukkan kepalanya tanda setuju.


" Tapi menurut Aku Morgan, lebih baik salah satu diantara kita aja yang turun, cuma mau mengambil gambar dari si Bowo itukan " ucap Abiyasa.


" Ya tuh benar kata Abiyasa,Ya udah kalau kayak gitu, Aku yang turun." ucap Arvin.


" Kalau kamu yang turun Vin, sama aja bohong, bukannya aku meragukan pengintaian kamu, tapi kan wajah kamu itu loh siapa tahu dia memang sedang mencari kamu,kalau gagal kamu akan ketahuan Vin hancur deh rencana kita yang sudah dirancang." ucap Morgan.


" Oh iya ya.."


" Ya sudah Aku saja yang turun." ucap Abiyasa.


" Enggak usah Biy, istrimu lagi hamil, kalau kamu kenapa-napa aku nggak bisa tanggung jawab,kalau menjawabnya sih bisa aja Biy,tapi menanggungnya nggak bisa Biy Aku nya." ucap Morgan lagi.


" Jadi siapa yang turun?" ucap keduanya seraya menatap kearah Morgan.


" Ya Aku lah, memang ada lagi tuh selain Aku? nggak ada kan? tapi bau-baunya ada sih yang lain temanmu Vin di sebelah pintu itu hahaha..." ucap Morgan seraya tertawa lepas didalam mobil.


" Iih...bikin Aku merinding aja sih kamu ini Mor!" ucapnya.


" Makanya kita dalam mobil cuma bertiga, kalau kalian berdua enggak bisa turun ya Aku lah yang turun,Aneh ya kalian berdua ini,perhatikan ya Gimana cara Aku pengintaian,Oke!James Bond segera beraksi." ujarnya sembari terkekeh dengan gaya mengacungkan senjatanya di samping wajahnya tersebut.


" Oke Pak James laksanakan." ucap Abiyasa.


" Astaga Abiyasa manusia paling ganteng sedunia, Jangan bilang Pak James dong nggak keren." ucapnya protes.


" Terus Aku harus bilang apa? katanya tadi James Bond, dibilang Pak malah nggak keren katanya."


" Mister James Bond." ucapnya seraya terkekeh kemudian Dia turun dari mobilnya sambil melangkah menuju ke arah belakang mobilnya, kemudian Arvin membuka kaca mobil sembari berbicara kepada Morgan.


" Eh! Bule James Bond ngapain kamu ke belakang mobil,kan tinggal nyebrang aja." tegur Arvin karena merasa heran melihat tingkah polah dari Morgan.


" Nah ini nih, tidak tahu strateginya Mister James Bond, udah kamu diam aja di dalam mobil, nih perhatikan aja trik Aku gimana sampai ke sana oke.!"


Namun mereka berdua tidak lagi melihat keberadaan Morgan yang seharusnya menuju kepohon ketiga sekelip mata memandang Morgan sudah tidak Ada.


" Tidak ada Arvin." ucap Abiyasa.


" Iya.." ucap Arvin.


Mereka berdua saling pandang.


" Kemana James Bond pergi.?" ucap Arvin.


" Namanya juga James Bond bisa menghilang dan bisa terlihat, sebentar kita tunggu." ucap Abiyasa.


" Pasang matamu Biy."


" Memang mataku di mana Vin." tatap Abiyasa heran.


" Matamu maksudnya tetap tajam melihatnya hehehe.'


" Ini Aku sudah menatap dari tadi."


Memang terlihat agak gelap halaman rumahnya pak Bowo. Jadi mempersulit mereka untuk melihat keberadaan Morgan.


" Tidak ada Biy, kemana Morgan kira-kira ya." ucap Arvin.


Abiyasa hanya menggeleng seraya terus menatap kearah Morgan tadi berada.


Beberapa menit mereka tidak melihat keberadaan Morgan, karena saking seriusnya mereka berdua menatap kearah pohon kedua yang berada dipinggir pekarangan rumah pak Bowo tersebut, Mereka pun dikejutkan oleh seseorang yang mengetuk jendela mobilnya.


" tok tok tok tok "


" Awas ular piton besar!!" ucap Abiyasa seraya mengangkat kakinya.


" Subhanallah! hiduplah Aku di zaman purba." ucap Arvin karena saking terkejutnya. Abiyasa langsung menoleh kearah Arvin.


" Tumben Vin,kamu terkejut berubah kata-kata."


" Aku juga tidak tahu Biy, tapi Aku deg-deg banget siapa yang mengetuk." ucapnya seraya menutup matanya.


" Yaiyalah kamu nggak lihat,mata kamu aja tertutup gitu!" ucap Abiyasa tak sadar kalau Dia memegang kuat tangan Arvin.


" Kamu juga Biy,apa-apaan sih megang erat tanganku."


" Hehehe...Aku kaget Vin." ucapnya.


" Hey!buka dong!" ucap Morgan.


Mereka berdua menoleh kearah samping kiri, karena mereka berdua berada disamping kanan mobil mereka, setelah melihat siapa yang mengetuk kaca mobil mereka spontan saja mereka berdua bersuara berbarengan.


" Astaga!! Morgan!" Lalu mereka membuka kaca jendela mobil tersebut.


" Ada apa Morgan? Kenapa kamu ada di sini lagi? padahal kamu sudah di pohon nomor 2 sana." ucap Arvin.


" Hehehe....gimana Aku mau mengambil gambar muka si curut itu,sedangkan Gawaiku berada di dalam mobil."


" Masya Allah, sangat hebat sekali pengintaian James Bond ini! Aku sampai terkagum-kagum sekali.!" ucap Arvin.


" Hehehe Maaf Broo.. lupa Aku tadi."


" Udah capek-capek Aku pasang mata biar tidak ada nyamuk sama sekali yang menggigitmu, ternyata kamu berada di sini kembali." ucap Arvin sembari tersenyum.


" Nih gawaimu cepat kesana lagi." ucap Abiyasa.


" Oke! Aku siap!" ucap Morgan sembari mengambil gawainya yang diberikan oleh Abiyasa dengannya.


Abiyasa dan Arvin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah polahnya Morgan.


" Mister Bule James Bond memang mantap! Untung saja Aku punya teman satu seperti Dia, jika dua sudah gantung diri Aku di pohon sirih." Ucap Abiyasa sembari terkekeh sedangkan Arvin hanya bisa tertawa pelan.


Mereka pun kembali memperhatikan gerak-gerik Morgan yang menuju ke pohon satu dan kemudian menuju lagi ke pohon dua dan lanjut ke pohon Tiga.


Abiyasa dan Arvin dari jauh melihat seseorang keluar dari dalam rumah membawa sesuatu di tangannya sebuah tas hitam kecil.


" Arvin kamu perhatikan rumahnya dan aku akan perhatikan gerak-gerik Morgan." ucap Abiyasa.


" Oke!"


Kemudian Arvin pun fokus menatap ke arah rumah besar tersebut, dan Abiyasa fokus memperhatikan gerak-gerik Morgan yang sedang berusaha mengambil gambar pak Bowo.


Beberapa saat kemudian pun gambar tersebut sudah didapat oleh Morgan dan Dia pun kembali ke mobilnya dengan menggunakan trik dan langkahnya semula, sampai akhirnya dia pun kembali membuka pintu mobilnya.


" Sudah Aku dapatkan fotonya." ucap Morgan seraya menutup pintu mobilnya dan memberikan gawainya kepada Abiyasa, lalu kemudian Diapun menghidupkan mesin mobilnya dan langsung melajukan mobilnya kembali menuju ke rumah Abiyasa.


______________________


** Maaf πŸ™ ya kalau cerita ini kebanyakan banyolannya,karena serita ini romansa komedi,kalau memang bosen dengan cerita ini silahkan tinggalkan saja ceritanya ya nggak usah dibaca lagi.😊😊 Author juga manusia dan juga punya hati nurani yang sensitif jadi kalau komennya tolong ya yang membangun biar Saya semangat lagi dalam berkaryanya,kalau memang cerita ini sudah nggak asik lagi Monggo...silahkan, diperkenankan, nggak usah baca lagi dan nggak usah ngomen yang bikin down Authornya 😒


TerimakasihπŸ™ semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dan sehat selalu πŸ€²πŸ™ salam santun dari saya Sischa cintara.