THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 296



Setelah Ibu Nellyana menceritakan semuanya dia pun meminta kepada Amir sekali lagi agar Amir tidak membenci ibu kandungnya sendiri, Amir pun menganggukkan kepalanya dan dia pun langsung memberanikan diri menanyakan kepada sang Mama siapa yang sebenarnya ditunggu mamahnya selama ini.


Saat Ibu Nellyana ingin menceritakan semuanya kepada Amir tentang siapa yang selama ini dia tunggu, sampai-sampai dia tidak mau mengikuti Amir tinggal di luar negeri, namun tiba-tiba kondisi ibu Nelliyana kembali drop, Amir terkejut Dia kemudian berlari keluar dan memanggil dokter yang memang masih berdiri di depan kamar itu, kemudian dengan cepat dr dan suster pun menangani Ibu Nellyana dan menyuruh Amir untuk keluar, Amir pun dengan langkah gontai keluar dari ruangan tersebut dan kembali duduk di depan ruangan ICU dengan pikiran yang tidak menentu setelah dia mendengar sendiri tentang jati dirinya itu.


Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan ICU dan memberikan keterangan kepada Amir dan Amir terlihat lega karena dokter mengatakan kalau namanya tidak apa-apa dan perlu istirahat kembali.


Di rumah Amir... Ibu Ema pun Kemudian menceritakan semua yang terjadi beberapa tahun yang lalu tentang saudara laki-laki Amelia.


" Nellyana memang bekerja di rumah sakit Setia, beberapa tahun yang lalu dia menikah dengan ayahnya Amir, sudah beberapa tahun lamanya tapi tidak dikaruniai seorang anak pun, Karena Nellyana divonis tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya itu, saat insiden terjadinya kecelakaan beberapa tahun yang lalu yang memakan korban satu keluarga diantaranya 1 anak laki-laki selamat dan 1 bayi yang sedang dikandung korbannya, awalnya Nellyana ingin mengadopsi bayi perempuan tersebut, Tapi bayi itu sudah terlanjur diambil oleh kawan dari mamah bayi itu, Nellyana pun hanya mengambil anak laki-laki itu, anak lelaki itu berusia 2 tahun dan diadopsi oleh Nellyana untuk dijadikannya anaknya, walaupun suaminya tidak mengijinkannya tapi Nellyana tetap dengan pendiriannya untuk mengasuh anak laki-laki tersebut." Ibu Ema pun terdiam dia menghentikan kisahnya sesaat, mereka hanya mendengarkan tanpa ada suara ataupun pertanyaan pada Ibu Ema, mereka membiarkan Ibu Ema menyelesaikan kisahnya agar mereka mendapatkan titik terang.


Ibu Ema menghela nafasnya dengan dalam dan dia membenarkan posisi duduknya kembali, kemudian dia pun melanjutkan lagi kisahnya itu.


" Suatu hari suaminya dan Nellyana bertengkar dengan hebat, tentang masalah anak laki-laki tersebut, kemudian saat bertengkar hebat itu saat itu juga teman Nellyana datang berkunjung ke rumah ini, Mereka mendengarkan pertengkaran itu, saat saya berada di samping rumah, saya pun menjelaskan pada mereka pertengkaran yang mereka alami itu dipicu karena seorang anak laki-laki yang ingin dirawat dan dibesarkan oleh Nellyana, ternyata mereka berdua adalah rekan kerja Nellyana yang sama-sama bekerja di rumah sakit Setia, kemudian dia pun meminta kepada saya untuk mengambil anak tersebut,dengan alasan mereka yang mengurusnya, saat itu tanpa sepengetahuan mereka berdua saya pun memanggil anak itu yang ada di dalam kamar saat itu dia sedang tidur, Kemudian saya menyerahkannya pada kedua pasangan tersebut, karena kedua pasangan itu memang sebenarnya berniat ingin mengadopsinya dari Nellyana, makanya dia berkunjung ke rumah kami ini, sebenarnya saya pun berat hati untuk mengasihkan anak itu pasangan suami istri itu, setelah pertengkaran berhenti, dan suaminya memilih pergi, Nellyana mencari ke mana keberadaan anaknya tersebut, Nellyana bertanya pada saya, awalnya saya menutupi agar saya tidak mengatakan padanya kalau anak itu sudah dibawa temannya, tapi saya pun akhirnya mengatakan demi kejujuran bahwa anak itu sudah saya titipkan pada kedua pasangan suami istri tersebut, dia adalah temannya sendiri, Saya kira Nellyana marah pada saya, tapi ternyata tidak, dia akhirnya mengucap syukur, karena saya sudah melakukan hal yang benar, dia terlihat sangat lega, kemudian dia menghubungi kedua pasangan suami istri itu, saat itu saya dengar dia berbicara meminta agar nama anak itu tetap nama yang dia berikan dan jangan pernah dirubah sama sekali, karena nama itu adalah nama yang dia inginkan kalau dia sudah mempunyai seorang anak, itulah keinginannya, setelah kepergian anak itu hari-harinya Nellyana bekerja dan bekerja, jarang dia berada di rumah, kalau dia berada di rumah hanya saat dia libur saja, itu pun dihabiskan waktunya berada di kamar anaknya tersebut, karena saat dia bekerja dia selalu bertemu dengan anaknya itu, tapi setelah beberapa tahun kemudian anaknya itu tidak pernah lagi bertemu dengannya, setelah kedua orang tuanya pindah tugas ke kota lain dan tidak pernah lagi menghubungi Nellyana, Jadi selama ini dia selalu menunggu dan selalu menunggu,dia berharap suatu saat anak itu hadir di depanmu, walaupun kehadiran Amir sudah menghilangkan rasa kangennya dengan anaknya itu, tapi dia tetap menunggu dan menunggu sampai dia jatuh sakit sekarang." terang Ibu Ema, dia pun kemudian menundukkan kepalanya tidak terasa air matanya pun mengalir di kedua pipi tuanya itu, karena dia merasa sedih menceritakan semuanya pada mereka, papah Andre menghela napasnya dengan pelan begitu juga dengan papa Boby dan kak Nico, Amelia pun mendengarkan cerita itu tidak terasa air matanya mengalir begitu saja.


" Di manakah saudara ku itu, ya Allah ijinkan aku bisa bertemu dengannya." Gumam Amelia dalam batinnya.


" Dimanakah dia pindah sekarang Bu, setahu ibu?" Tanya Papah Andre.


" Setahu saya mereka pindah ke kota J, itu kata Nellyana, karena saya bisa tahu ceritanya semua Nellyana selalu bicara pada saya."


" Apa? kota J ?Om, bukankah itu kota kita? berarti mereka ada dikota kita." Ucap kak Nico.


" Benar katamu Nico, mereka ada di kota kita, maaf bu, siapa nama orang tua yang mengadopsinya setelah Ibu Nellyana?" Tanya Papah Andre.


" Ibu Kartika dan Bapak Thomas."


" Kerja di mana?"


" Kalau masalah bekerjanya Saya tidak tahu, karena saya tidak berani menanyakan lebih banyak lagi pada Nellyana, karena dia sangat sedih dan selalu menunggu kedatangan anaknya tersebut, kalau dia masih disini, ibu kartika itu kerja dirumah sakit, dan suaminya pengusaha batik."


" Sama-sama Pak, Alhamdulillah kalau nanti bapak bertemu dengannya dan mengajaknya kesini untuk bertemu dengan Nellyana."


Tanpa sepengetahuan Mereka ternyata Amir sudah mendengar cerita semuanya, mereka tidak mengetahui kedatangan Amir, karena suara taksi yang ditumpangi Amir itu tidak terdengar, karena mereka terlalu fokus dengan kisah Ibu Ema.


" Assalamualaikum... Ibu." ucap Amir.


Semua menoleh ke arah pintu.


" Waalaikumsalam.." ucap mereka semua, Amir berjalan ke arah Ibu Ema dan langsung bersimpuh di pangkuannya.


" Ibu.... Maafkan Amir ya Bu, karena selama ini Amir tidak mengetahui kalau ibu adalah ibu kandungnya Amir, ibu yang telah membawa Amir lahir kedunia ini, dan melihat indahnya dunia sekarang ini, maafkan Amir bu." Ucap Amir sembari mencium punggung tangan ibu Ema.


Ibu Ema terkejut, begitu juga yang lainnya, tapi terlihat jelas diwajah ibu Ema merasa bahagia karena Amir telah mengetahui siapa dia sebenarnya.


" Alhamdulillah nak, Kamu sudah mengetahui semuanya, tapi...dari mana kamu tahu." ucap ibu Ema sembari memeluk anaknya itu.


" Mamah yang mengatakannya semua."


" Apakah Mamahmu, sudah sadarkan diri?" Tanya Ibu Ema.


" Iya Bu sesaat, saat itu Mama sadar dan dalam keadaan lemah mamah menceritakan semuanya pada Amir."


" Tolong jangan benci ibu ya nak?"


" Amir tidak akan pernah membenci ibu, Amir akan menyayangimu seperti Amir menyayangi mamah..."


Mereka yang ada di situ pun terharu, Amelia teringat akan kedua orang tuanya yang sama-sama sudah tiada, baik orang tua kandungnya ataupun orang tua angkatnya, dia pun meneteskan air matanya, papah Boby merangkul Amelia penuh kasih sayang, Amelia pun menangis di pangkuan Omnya tersebut, papah Boby menenangkan Amelia selayaknya menenangkan anak gadis yang sedang bersedih.