THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 275



Morgan yang berada di kantornya tepatnya diruangannya itu,


Dia duduk disofa yang ada diruangannya.


" Akhirnya beres sudah urusan Almira...oh iya aku harus hubungi mamah dulu, ntar kalau tidak dikasih tau mamah jadi kepikiran, mamahkan orangnya sangat pemikir sekali." Ucapnya seraya mengambil gawainya yang ada didalam saku celananya itu.


" Kemana mamah? Kenapa panggilan ku nggak dijawab mamah? Aku coba hubungi kerumah aja.." ucapnya seraya menekan nomer telpon rumahnya tersebut, tapi sama aja tidak ada yang menjawabnya, kemudian Morgan menghubungi sang istri.


" Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam..Ada apa sayang?" tanya Anindita.


" Nggak ada apa-apa sayang, aku mau tanya aja, kenapa gawainya mama tidak menjawab panggilan aku ya?apakah mamah jam-jam segini tidak memegang gawai? Atau Apakah mama lagi sibuk?kamu pasti tahu kegiatan mamah sayang..." tanya Morgan pada sang istri.


" Tidak sayang,Mama kalau sedang sama tante Lala pasti lagi ngobrol."


" Bisa nggak Sayang kirim nomer gawainya tante Lala, karena ada yang ingin aku bicarakan sama Mama, tadi aku menghubungi telepon rumah tapi tidak dijawab juga, mungkin asisten rumah tangga sibuk semua, jadi tidak mendengar kalau aku menghubungi melalui telepon rumah."


" Oh ya udah kalau kayak gitu, tunggu sebentar ya sayang, aku kirim nomer tante lala." Ucapnya langsung memutus sambungan bicaranya, kemudian Anindita memberikan nomer gawai mamah Lala,karena Morgan memang belum sempat menyimpan nomer gawai mamah Lala.


Setelah mendapat nomer gawai tersebut Morgan langsung menghubungi mamah Lala, beberapa saat sambungan itupun tersembung.


" Assalamualaikum ..."


" Waalaikumsalam....Tante "


" Ya Ada apa Morgan?" tanya Mama Lala. Mamah Lala memang menyimpan nomer gawai Morgan jadi dia mengetahui siapa pemanggil tersebut.


" Nggak ada apa-apa sih tante, cuma Morgan mau bicara sama Mamah Anisha."


" Oh, ya udah nih bicaralah..."


" Assalamualaikum nak.."


" Wa'alaikumussalam mah,ada yang ingin Morgan katakan sama Mama kalau Morgan sudah mengizinkan Almira ke pihak sekolah, tapi kata pihak sekolahnya, karena Almira sudah mau memasuki ujian kenaikan kelas, Almira dipinta untuk tidak terlalu lama-lama izinnya, Morgan minta tolong sama mama untuk menghubungi Papa, kalau sudah selesai urusannya di luar negerinya segera kembali membawa pulang Almira ke tanah air."


" Oh iya nak, Mama nanti akan menghubungi Papa."


" Morgan takutnya lupa mah menghubungi papah, karena pekerjaan di kantor banyak." ucapnya.


" Iya nak, kamu fokus aja dengan pekerjaan di kantormu, nanti mama yang akan menghubungi papa, kalau Papa sudah sampai di bandara di sana." ucap Mama Anisha sembari tersenyum.


" Terima kasih ya mah, Morgan mau melanjutkan pekerjaan kembali."


" Oh iya nak.."


Kemudian mama Anisha memberikan gawainya kembali pada mamah lala setelah mertua dan menantu itu saling membalas dan menjawab salam.


" Alhamdulillah...akhirnya beres sudah.." Ucapnya tersenyum dan meletakkan gawainya diatas meja tersebut.


Morgan kemudian melangkah kemeja kerjanya dan mulai sibuk seperti biasanya karena pekerjaan yang beberapa hari ditinggalkannya.


Tapi dia pun kemudian menyandarkan tubuhnya disandaran kursi kerjanya tersebut dan menatap layar gawainya dimana didalam layar tersebut terpampang fhoto wajah sang istri, Dia tersenyum sendiri.


" Cantik sekali istriku ini, jadi kangen sekali, padahal sudah mendengar suaranya tapi kok rasanya tidak puas juga heheeh.." Ucapnya berbicara sendiri sembari matanya terus saja menatap layar gawainya.


Saat dia lagi asyik memandangi wajah foto sang istri tersebut tiba-tiba gawai yang dipegangnya itu pun berbunyi dia terkejut...


" Astaghfirullahaladzim, bikin kaget aja, Arvin ini mengganggu aku yang sedang menikmati wajah sang istri." ucapnya seraya menatap kearah gawainya.


Dia pun langsung menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum... Ada apa Vin?"


" Waalaikumsalam, jangan sewot dong hehehe...


" Gimana nggak sewot, aku lagi asyik memandangi wajah Istriku yang paling cantik digawaiku, tahu-tahu kamu udah menghubungi aku, bikin kaget aja, tau nggak sih!"


" Hahaha..." Arvin pun tertawa lepas di seberang sana.


" Udah diem! Jangan ketawa! ada apa sih Vin? nggak puas Ya sudah bertemu denganku jadi ingin bertemu lagi hah?"


" Iya begitulah Mor! kalau tidak berada disampingmu itu rasanya gimana diriku ini hehehe." ucapnya sembari terkekeh.


" Kamu ini ada-ada aja, emang ada apa? ada yang perlu ku bantu?" Tanyanya.


" Benar banget pak polisi, aku sangat perlu bantuan kamu pak pol."


" Ada apa?"


" Kamu bisa jemput aku nggak sekarang?"


" Jemput kamu? Memang mau ke mana? kamu kan tidak boleh keluar rumah?"


" Memang iya, aku tidak boleh keluar rumah, tapi ini keadaannya mendesak say." Ucapnya terkekeh.


" Memang ada apa?"


" Aku tadi dapat panggilan dari kantor."


" Untuk apa?"


" Untuk menandatangani berkas sidang BP4R Mor."


" Ya udah, kalau kayak gitu aku jemput sekarang, tapi kamu harus sudah siap, aku tidak mau menunggu kamu yang belum siap-siap." Ucapnya tertawa lebar.


" Siap! sekarang aja aku sudah siap nih nunggu diteras, tinggal nunggu kamu aja lagi nih." Ucapnya tertawa.


" Oke! tunggu ya, aku segera meluncur." ucapnya memutus sambungan pembicaraannya berdua setelah mereka sama-sama mengucap dan membalas salam, Morgan pun kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya seraya menatap gawainya tersebut, kemudian dia pun langsung memasukkan gawainya ke dalam saku celananya dan mengambil jaket yang sering dipergunakannya untuk berangkat dan pulang kerja, dia mengambil kunci kontak mobilnya, dan dia pun kemudian melangkah meninggalkan ruangannya tersebut menuju ke mobil pribadinya, beberapa saat kemudian mobil itu pun langsung meninggalkan area parkir kantornya menuju ke arah rumah Arvin.


*****


Disebuah ruangan yang sejuk full Ac, seorang lelaki tampan sedang asyik menikmati sebuah teh hijau yang ada diatas meja kerjanya dan dia juga sedang asyik berbicara melalui gawainya sembari tersenyum dengan begitu bahagianya, Siapa lagi kalau bukan Kak Niko yang kembali bekerja seperti biasanya menggantikan papah Bobby untuk memimpin kantor cabang yang ada di kota itu.


Dia nampak bahagia sekali karena sedang berbicara dengan calon istrinya dan anak sambungnya itu, kadang-kadang dia terkekeh mendengar ocehan dari Kevin.


" Papa Niko di mana sekarang? Kevin kangen sama papa, kok Papa jarang bertemu sama Kevin sih?" ucapnya sembari protes dengan kak Niko.


" Sayang Papa yang ganteng dan pintar, anak sholehnya papah Niko, Papa banyak kerjaan sayang, Nanti kalau sudah selesai kerjaannya Papa pasti akan bertemu dengan Kevin, kalau Papa ke tempat Kevin dan bertemu Mamah, Kevinnya pasti tidak ada di rumah, kata mamah Kevin lagi les pelajaran Kevin yang sudah banyak tertinggal, sempat waktu itu papa berada di rumah mama, Tapi Kevin berada di tempat nenek saudaranya nenek Raisa, kan kita tidak bertemu sayang... hehehe." ucap kak Niko menjelaskan kepada sang anak sambungnya tersebut.


Kak Niko sangat menyayangi sekali dengan Kevin, bahkan dia menganggap Kevin anak kandungnya sendiri, begitu pula dengan Kevin yang sangat sayang dengan kak Niko, walaupun mereka hanya beberapa kali bertemu, awal pertama bertemu Kevin saat itu Kak Niko sudah jatuh hati dengan Kevin dan menganggap anaknya sendiri, begitu juga dengan Kevin, menganggap kak Niko sebagai Papah kandungnya sendiri, Lia belum mengatakan yang sebenarnya kalau Kevin adalah anak Ariel yang masih mendekam di dalam penjara.


" Terus kapan papa jemput nih Kevin, Kevin kan ingin jalan-jalan sama papa hari ini, Kevin libur sekolah kok pah." Ucapnya manja pada Kak Niko.


" Kevin libur sekolah? kenapa kamu libur sekolah Sayang, apakah kamu meliburkan diri?"


" Nggak pah, katanya di sekolah Kevin memang harus libur karena guru-gurunya mengadakan pertemuan." ucapnya sembari tersenyum tapi Kak Niko tidak melihat senyum manis sang anak.


" Oh...gitu, Ya sudah nanti papa jemput ya, kita jalan-jalan, bisa nggak gawainya kasihkan sama Mama, Papa mau bicara sama mama." ucap Kak Niko sembari tersenyum sendiri.


" Oke papa Niko, tunggu ya.. Mah ini Papah mau bicara sama mama." ucap Kevin menyerahkan gawai mamahnya itu pada Lia dan dia pun langsung meninggalkan mamanya itu, dia membiarkan mamahnya untuk berbicara dengan papa sambungnya itu.


Kevin pun langsung melangkah meninggalkan Lia dan menuju ke arah dimana neneknya sedang duduk menikmati acara Tv.


" Halo Nenek.." sapanya pada Mama Raisa.


" Cucu nenek, sini sayang duduk sama nenek, sudah ya ngomongnya sama Papa tadi?"


" Udah Nek, Nanti papa jemput Kevin, Kami mau jalan-jalan." Ucapnya senang.


" Iya nenek." ucapnya dengan suara yang menggemaskan, Seraya memeluk sang Nenek.


Mama Raisa pun langsung memeluk cucunya itu dengan penuh kasih sayang dan mereka berdua pun menikmati kembali acara TV yang sedari tadi di tonton Mama Raisa.


" Iya Mas ada apa? udah selesai ngomong sama Kevin."


" Iya Sayang udah selesai, giliran mamahnya lagi dong, mas kan rindu..." Ucap Kak Niko tersenyum.


" Ach...mas ini ada-ada saja deh.." ucapnya tersenyum bahagia.


" Hehehe...sayang, Ntar siang mas jemput ya kalian berdua, kita makan siang bersama." ucapnya.


" Iya mas."


" Sayang..."


" Hmmm..."


" Ada yang ingin Mas bicarakan sama kamu."


" Ada apa Mas? Kita bicaranya nanti aja setelah kita bertemu ya."


" Kalau Mas bicara didepan Kevin rasanya tidak enak sayang, Kasihan dia kalau dia mendengarkan pembicaraan kita berdua, lebih baik Mas bicara melalui gawai ini aja."


" Ya udah, Mas mau bicara apa." Ucapnya.


" Sayang... apakah kamu tidak ada niatan untuk mengatakan pada Kevin kalau Ariel adalah Ayah kandungnya?"


Lia terdiam...


" Sayang...sayang kamu marah ya, kalau Mas bertanya seperti ini?"


" Hmmm...tidak mas, aku tidak marah." Ucap Lia datar.


" Bukan apa-apa Sayang, lebih baik dia mengetahui semuanya, jangan sampai dia mengetahuinya lewat orang lain nantinya,mas takut itu akan mengganggu pikirannya dan mentalnya, kalau dia sampai mengetahui dari orang lain,tapi kalau kita sendiri yang mengatakannya, in sya Allah dia pasti akan memahaminya, Mas yakin Kevin adalah anak yang baik dan dia juga anak yang pintar lebih baik kita memberikan pengertiannya sejak dini sebelum dia mengetahuinya dari teman-temannya nanti, karena berita yang tidak enak itu akan cepat tersebar dengan cepat sekali, beda dengan berita kebaikan, pasti orang-orang menyampaikannya itu tidak secepat berita yang tidak baik tersebut, kamu pahamkan apa yang Mas katakan." ucap Kak Niko berbicara kepada Lia dengan pelan.


Lia hanya menarik nafasnya dengan pelan.


" Sebenarnya ada benarnya juga apa yang dikatakan mas Niko padaku." Gumam batinnya.


" Bagaimana Sayang? kenapa kamu diam? Apakah kamu akan memperkenalkan Kevin dengan ayah kandungnya?" Tanya kak Niko.


Lagi-lagi terdengar helaan napas dari seberang sana.


" Baiklah sayang, mas tidak akan memaksanya, kalau kamu tidak mengiyakannya dan menyetujuinya dengan ucapan Mas, mas paham kok kesulitan dalam posisimu itu, maafkan Mas ya sayang...Jangan marah ya sayang dengan Mas, walaupun Sebenarnya Mas masih berharap kamu mengatakan yang sebenarnya pada Kevin." Ucap kak Niko.


Lia masih terdiam sembari menatap jauh keluar dimana kendaraan yang hilir mudik di depan rumahnya itu.


" Ya sudah ya Sayang nanti siang mas jemput, kamu dan Kevin siap-siap kita makan bersama." Ucap Kak Niko.


" Iya Mas " ucap Lia singkat.


" Assalamualaikum..." Ucap kak Niko.


" Waalaikumsalam..." Jawab Lia


Pembicaraan itu pun terputus, Niko meletakkan gawainya diatas meja dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya sembari menghela nafasnya dengan pelan dan meremas rambutnya dengan perasaan yang kacau.


" Apakah aku salah mengatakan ini kepada Lia? Aku tidak ingin suatu saat Kevin mendapatkan berita kalau dia masih mempunyai ayah kandung yang mendekam di penjara, aku tidak ingin mentalnya itu terganggu dan pikirannya juga dihantui dengan berita tersebut dari orang lain, mudah-mudahan dia tidak berprasangka yang tidak-tidak denganku." ucapnya sembari menatap langit-langit ruangannya itu, kemudian diapun dikejutkan oleh ketukan pintu di ruangannya, pintu pun terbuka setelah dia mempersilahkan si pengetuk masuk, ternyata adalah sekretaris pribadinya yang ada di kantor itu, sekretaris itu pun kemudian memberikan beberapa berkas yang dipintanya sejak tadi, setelah mempersilahkan sekretarisnya untuk keluar kembali dia pun kemudian mengecek berkas-berkas itu dan mulai melanjutkan pekerjaannya lagi.


*****


Beberapa saat kemudian mobil Morgan pun berhenti di depan sebuah rumah besar kediaman Ayah Chandra dia langsung memasuki halaman rumah tersebut dan memarkirkan mobilnya dengan rapi, Dia turun dari mobil dan menatap ke arah rumah itu.


" Di mana Arvin? katanya dia udah menunggu di teras, nih anak emang benar-benar deh." ucapnya seraya melangkah menuju ke arah pintu utama rumah itu.


" Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam.." ucap mereka yang ada di dalam.


" Morgan?" sapa Ayah Chandra sembari tersenyum melihat Morgan melangkah mendekati mereka yang sedang duduk diruang tengah rumah kediaman AyahCandra.


Morgan pun kemudian menyalami kedua orang tua yang ada di depannya itu dan mencium tangan Ayah Chandra dan Bunda Adel, Morgan langsung duduk di sofa yang ada di ruang tengah itu.


" Ada apa Morgan? ada perihal penting?" tanya Bunda Adel merasa heran karena Morgan berkunjung ke rumahnya itu.


Morgan menatap ke arah Bunda Adel dan ayah Chandra sembari tersenyum.


" Morgan mau jemput Arvin Tante, Om."


" Jemput Arvin?" ucap Ayah Candra sembari menatap ke arah Morgan.


" Dia baru aja menghubungi Morgan, katanya dia mau menandatangani berkas yang masih kurang di kantor untuk sidang BP4R nya."


" Tapi Arvin masih ada di dalam kamarnya, sebentar Tante panggilkan." ucap Bunda Adel seraya meninggalkan mereka berdua, dia melangkah menuju kearah kamar Arvin yang ada di lantai atas, Arvin pun kemudian membukakan pintu kamarnya.


" Lho, katanya mau ke kantor untuk menandatangani berkas BP4R Kamu, kenapa ini belum siap Nak.."


" Heheh..kok Bunda tahu, kalau Arvin mau keluar."


" Itu Morgan sudah menunggu di bawah."


Arvin pun terkekeh, kemudian dia mengambil pakaiannya yang sudah berada di tempat tidurnya tersebut, dia langsung memakainya dan mengiringi langkah bundanya menuju ke lantai bawah, Morgan menatap sinis Arvin yang masih terkekeh sembari duduk di samping sang Ayah.


" Pak pol yang ganteng, jangan sinis gitu dong hehehe..." Rayu Arvin pada sahabatnya itu.


" Katanya tadi kamu sudah mau menunggu Aku di depan teras, tapi nyatanya belum siap-siap juga, gimana aku nggak sinis padamu nyet!" ucapnya sembari terkekeh sambil mengambil bantalan sofa yang dia pegang dan melemparnya ke arah Arvin, Ayah Candra dan Bunda Adel pun ikut tertawa melihat ulah mereka berdua.


" Ya Maaf Broo... Hahaha..." Ucap Arvin.


" Ya udah ayo sekarang kita berangkat." ucap Morgan.


" Oke!!" lanjut Arvin kemudian mereka berdua pun berpamitan dengan Ayah Chandra dan Bunda Adel setelah mengucap dan membalas salam mereka berdua pun meninggalkan rumah Ayah Candra menuju ke kantor untuk melengkapi berkas yang belum lengkap, Bunda Adel dan Ayah Candra pun tersenyum melihat mereka berdua.


" Akhirnya tidak terasa waktu itu pun akan tiba." ucap Bunda Adel.


" Iya sayang.." ucap Ayah Candra sembari menjawab perkataan sang istri.


" Oh ya katanya hari ini makan siang bersama dengan Smith? Siapa yang jemput Smith dan Alena Yah?" Tanya Bunda Adel.


" Tadi Alena udah memberikan kabar melalui chat pribadi ke Ayah, katanya dia dijemput sama Smith di rumah sakit dan langsung menuju ke rumah kita." Terang Ayah Candra.


" Dijemput Smith? emang Smith tahu rumah sakit Wibawa di mana Alena kerja? "


" Heheh...dia sudah mengetahuinya karena diberitahu oleh Alena share lokasi tempatnya." Ucap Ayah Candra.


" Mereka berdua pakai taksi ke sini ya?"


" Nggak lah Sayang, di rumah pribadinya Abiyasa itu ada sebuah mobil dan mobil itu memang diperuntukkan untuk Smith, untuk memudahkan dia pergi kemana-mana dan dia pun juga sudah menghubungi Alena karena dia mau menjemput Alena dan bertamu ke rumah kita." terang Ayah Candra, Bunda Adel pun hanya menganggukkan kepalanya.


" Rasanya Bunda tidak percaya ya karena mereka berdua sudah mau membina rumah tangga, mudah-mudahan aja rumah tangga mereka ini sakinah, mawadah dan warahmah, saling menyayangi, mengasihi satu sama lain dan bahagia selalu." ucap Bunda Adel sembari menyandarkan kepalanya di pundak sang suami, Ayah Candra pun membelai kepala istrinya itu yang terbalut hijab sembari mengangguk.


" In sya Allah sayang..." ucapnya.


Mereka pun sama-sama tersenyum...