THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 45



"Clarissa dilawan "ucap Arvin seraya terkekeh.


"ya Bagus dong! bikin aja Clarissa marah terus, biar kita di sumpahi yang lebih baik lagi" ucap Abiyasa.


Mereka bertiga sama-sama tertawa sedangkan Clarissa hanya manyun dan memonyongkan bibirnya saja, karena dapat godaan dari sahabat-sahabatnya itu.


Setelah mereka asyik berbicara dan bercanda serta bersenda gurau Arvin berdiri dan berjalan menuju kearah luar.


" Mau kemana vin?" Tanya Morgan.


" Mau bertemu kuntilanak" ucapnya tertawa.


" Ngapain jauh jauh ketemu kuntilanak,kuntilanak nya ada di sini tuh duduk santai" ucap Morgan tertawa lepas.


" Jangan bilang kalau aku kunti nya" ucap Risa.


Morgan dan Abiyasa tertawa lepas.


" Hahahah"


Biyas aku pinjam kamar ya mau ganti pakaian,karena aku sudah gerah dengan baju seragam yang sedari tadi pagi aku pakai" ucapnya memohon pinjam kamar Abiyasa.


Kemudian abiyasa menganggukkan kepalanya.


"Silakan "ucapnya.


"Ah enggak jadi, kejauhan naik kelantai atas,di kamar tamu aja aku bergantinya " ucapnya seraya berjalam ke kamar tamu yang ada di rumah Abiyasa.


"yaudah terserah aja" ucap Abiyasa.


Arvin pun mengganti pakaiannya dengan baju santainya yang selalu dia bawa di dalam mobilnya.


Setelah memakai pakaiannya Dia kemudian menuju kembali ke ruang tengah dimana teman-temannya masih berkumpul bersama.


Mereka kemudian berbicara kembali dan saling tertawa ada-ada saja yang mereka bicarakan yang mengundang tawa senyuman dan teriakan kecil kebahagiaan diantara mereka bertiga sahabat yang sudah besar dipertemukan kembali dan masih tetap selalu bersama ditambah lagi dengan Morgan yang baru dikenal oleh Clarissa dan Abiyasa,sekarang sudah menjadi sahabat mereka.


kemudian Arvin berdiri Seraya membenarkan celana dan pakaiannya yang sudah lama duduk di sofa.


"Mau ke mana kamu Vin?"tanya Morgan.


"Mau pulang, kamu mau tetap di sini aja "ucapnya.


"Ya enggaklah, antarin aku pulang karena kamu yang membawaku kesini,masa aku jalan kaki sih" ucapnya ikutan berdiri juga.


"Ya udah kalau kalian mau pulang, aku juga mau pulang tadi baru aja papah chat diriku katanya kalau sudah dari kantor cepat pulang karena ada orang yang mau ke rumah" ucapnya.


"Ngapain ke rumah kamu?cari mati mau ngunjungi cewek bergejolak preman" ucap morgan terkekeh.


"Emang kenapa? bukan kamu kan yang ke rumah aku?jadi diam aja ntar lama lama aku plester juga tuh mulut" ucap Clarissa tersenyum.


"Aku kan udah ke rumahnya Biyas, ngapain lagi aku ke rumahmu, enggak ada urusan lho sama preman cantik" ucap Morgan tersenyum manis.


Kemudian Clarissa mendorong Morgan pelan.


" Gitu dong, nyenengin kakak ipar" ucapnya tersenyum.


Mereka kemudian saling beriringan menuju kearah pintu utama rumah Abiyasa.


"Ya udah kami pamit dulu ya Biyas Assalamualaikum " ucap Arvin.


" Waalaikumsalam,hati-hati ya" Ucap Abiyasa kepada ketiga sahabatnya kemudian.


Clarissa menaiki mobilnya dan terlebih dahulu meninggalkan rumah Abiyasa disusul oleh Arvin dan Morgan yang satu mobil.


Arvin mengantarkan Morgan ke kediamannya yang bertempat tinggal di perumahan elit yang ada di kotanya tersebut.


Karena jalanan sangat ramai sekali mereka terpaksa memilih jalanan yang agak sepi dan mulus tanpa hambatan. serta tanpa ada lampu merahnya untuk berhenti.


Kemudian dari kejauhan terlihat sebuah mobil yang menghalangi jalan mereka berwarna putih tapi tidak terlihat pengemudinya.


kemudian mobil Arvin berhenti pas dibelakang mobil mewah berwarna putih tersebut.


Arvin turun dari mobilnya dan berjalan meneliti mobil mewah berwarna putih tersebut, yang sudah menghalangi jalan mobilnya.


Dia kemudian menengok kiri dan menengok kanan mencari sang pengemudi mobil itu,tapi dia tidak menemukannya, kemudian dia berjalan ke depan ternyata pemilik mobil tersebut seorang wanita yang sedang bersandar di kap mobil depannya.


Pemilik mobil itu adalah Nadine, cewek pertama kali bertemu dengan Arvin saat mobil Nadine menabrak mobil belakang Arvin yang sedang parkir.


Kemudian Arvin menegurnya dan mengagetkan Nadine terlihat dari wajahnya.


" Mbak mobilnya kenapa ?"tanya Arvin.


Nadine kemudian membalikkan tubuhnya terkejut karena secara tiba tiba ada lelaki nongol di sampingnya.


"Astaghfirullahaladzim,bahagia lah kamu seumur hidup!" ucapnya seraya mengusap dadanya karena kaget.


Arvin tersenyum...


"Kamu ?!! "ucapnya baru sadar kalau Arvin adalah cowok yang pernah satu kali di temuinya itu.


"Ngapain kamu ikutin saya hah?!" Ucapnya lagi seraya pasang muka jutek nya di hadapan Arvin.


" Mbak saya ini tidak mengikuti Mbak, tapi saya ini mau lewat jalan ini,mobil Mbak yang ada di tengah jalan, menghalangi jalan orang yang lain" ucap Arvin.


"Kamu ini! dimana-mana selalu ada aja, jangan-jangan kamu ini penunggu jalan ini ya! datang tiba-tiba seperti ini hah!" Ucap nya masih dengan nada juteknya.


Arvin tertawa, Seraya memandang wajah Nadine.


" Cantik banget,wajah ini lah yang selalu hadir di pikiran ini" gumamnya.


Nadine yang dipandang mulai dagdigdug jantungnya.


"Di sisi lain jalan sepi,di sisi lain yang menegur ku ini sangat tampan siapa dia sebenarnya" ucap batinnya lagi.


"Kenapa anda tiba tiba nongol di jalan ini sih,seperti jelangkung aja enggak diundang datang pulang enggak diantar" ucap Nadine asal ngomel aja.


Tapi dia tidak kepikiran buat menengok kebelakang mobilnya.


Bahwa mobil Arvin berada pas di belakangnya.


"Maaf Mbak saya ini memang hidup di jalan, jadi saya tahu jalan mana yang memang ada mbaknya" ucapnya menggoda Nadine seraya tersenyum.


Nadine memalingkan wajahnya karena wajah nya bersemu merah di goda Arvin.


"kenalkan saya Arvin seorang polisi yang bertugas di polres di kota ini." Ucapnya.


"Sudah tahu!" ucapnya ketus dengan Arvin.


" Hebat dong mbak, sudah tau kalau saya polisi" ucap Arvin tersenyum.


" Kemaren kan anda pakai seragam polisi saat ketemu saya" ucapnya lagi nggak ada manisnya tapi tetap saja jutek pada Arvin.


Karena Arvin terlihat lama berada di balik Mobil tersebut Morgan kemudian turun dan memeriksanya.


"Ada apa ini?" Tanya Morgan seakan-akan memergoki dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang dimabuk kasmaran di tempat sepi.


Arvin dan Nadine menoleh kearah Morgan.


"Ini ada apa Mbak ?kok pacaran di tempat sepi seperti ini sih," ucapnya pura pura tak kenal dengan Arvin.


"Eh..enak aja bapak ngomong,saya dan dia enggak pacaran kok Pak" ucap Nadine


Arvin hanya tersenyum saja seakan-akan tidak mengenali Morgan.


"Kalau memang tidak pacaran Kenapa mobilnya di tengah-tengah jalan seperti itu? mobil saya mau lewat nggak bisa, memang ada apa dengan mobilnya ini?" Tanya Morgan lagi.


"Mobil saya tiba tiba nggak bisa jalan Pak" ucap Nadine seakan-akan kepergok emang lagi pacaran sama Arvin.


"ini gara-gara pak polisi ini yang bawain ngobrol di sini bukannya bantuin tapi menggoda aja kerjaannya"ucapnya langsung menoleh ke arah Arvin.


" Pak polisi ?kamu bilang dia Pak polisi ?mana terlihat dia polisi mbak, sedangkan dia cuma pakai baju biasa seperti itu,mbak bilang seorang polisi ?Mbak jangan percaya sama orang yang mengaku sebagai polisi tapi sebenarnya tidak seorang polisi, hati-hati lho mbak,yang polisi itu saya, saya bisa membawa kalian berdua ke kantor polisi, atas tuduhan sedang berduaan di jalan umum dan menghalangi jalan saya" ucap Morgan tegas.


"Bukan pak!saya tidak pacaran sama dia pak, jangan kan pacaran kenal aja enggak!" Ucapnya lagi hampir berteriak.


"Mana ada sih maling ngaku mbak, kalau maling ngaku nggak susah saya nangkepnya,dan penjara juga penuh Mbak" ucapnya Seraya menahan tawanya.


"ini kan gara-gara kamu! kamu selalu nongol di hadapan aku!jadi aku dibilang pacaran sama kamu!" Ucap Nadine marah dengan Arvin.


"Kalau pacaran memangnya kenapa ?Apa salahnya" ucap Morgan lagi .


"nggak!nggak! nggak! dan nggak Pak!, saya tidak pacaran sama dia,Mobil saya mogok kok, benar-benar mogok" ucapnya membela diri.


" Masa sih mbak,mobil mewah bisa mogok" ucap Morgan.


" Bisa aja kali pak, kenapa tanyanya kaya gitu pak,lama lama bapak juga ngeselin deh ah" ucap nya mulai emosi pada Morgan.


"Coba saya lihat" ucap Morgan.


Kemudian Morgan membuka kap mobil Nadine dan berpura pura mengutak-atik mobil Nadine, padahal dia juga tidak tahu arti dengan mesin karena dia bukan seorang montir.


Kemudian Dia menyuruh Nadine menghidupkan tapi dengan intruksi dari dirinya.


Nadine mengangguk...


"Tunggu dulu mbak,kalau mobilnya hidup berarti kalian berbohong kepada saya,terpaksa saya akan membawa kalian berdua kekantor polisi " ucapnya sambil tersenyum yang tidak terlihat oleh Nadine.


Nadine mendelik kearah Arvin setelah mendengar ucapan Morgan dan dia mendapatkan senyuman manis dari Arvin.


"Ish.." gerutunya.


Nadine kemudian berjalan dan membuka pintu mobilnya untuk menghidupkan mobilnya tersebut.


Sebelum menghidupkan mobilnya Nadine mendengar ucapan Morgan.


"Tunggu dulu!" ucap Morgan.


" Apalagi sih pak?" Ucap malasnya.


"Sebelum aba-aba dari saya jangan dihidupkan dulu mobilnya, Ntar bisa nyetrum ke saya,Bisa bisa kalian menghilangkan barang bukti dan saksi seperti saya ini" celetuknya.


Tanpa sepengetahuan Nadine Arvin mendorong kepala Morgan dengan pelan dan Morgan hanya tersenyum saja.


"jangan-jangan ini cewek yang pernah menabrak mobil mu ya Vin" ucap Morgan pelan.


Arvin mengangguk kepada Morgan.


"0ke kalau gitu, ikuti aja permainan ku " ucapnya lagi.


Lagi-lagi Morgan mendapat dorongan pelan di kepalanya oleh Arvin Seraya tersenyum, Morgan pun ikut tersenyum.


Arvin merasa bahagia tak terkira karena dia bertemu kali keduanya dengan wanita yang selalu mengganggu pikirannya selama ini.


"iya Mbak, Sekarang hidupkan mobilnya, kalau memang mobil ini tidak hidup berarti memang benar Apa katanya Mbak, kalau mobil Mbak ini sedang mengalami mogok, tapi kalau mobil ini hidup berarti mbak berbohong kepada saya, berarti mbak dan Mas ini ingin menghilangkan barang bukti dengan alasan mobil mogok dan tidak saling kenal,tapi untung ada saya sebagai saksinya.siap siap lah mbak dan mas ini saya gelandang kekantor polisi.


" Saya nggak mau!!" Ucap Nadine.


" Mbak pilih aja kantor polisi atau kantor KUA". Ucap Morgan tegas dan menahan tawanya.


Nadine hanya terdiam saja dengan ucapan Morgan.


Sedangkan Arvin tersenyum manis.