THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 137



Setelah selesai mereka berdua sama-sama berganti pakaian di kamarnya masing-masing kakak beradik tersebut itu langsung menuju kearah keluar rumahnya mereka berdua melangkahi satu persatu tangga rumahnya yang ada didalam dan mereka beriringan berjalan menuju kearah pintu utama rmah mereka, saat dokter Roni mau membuka pintu rumahnya tersebut Nadine iseng membuka tirai rumahnya dia terkejut dan bersuara sedikit pelan.


" Maya?" Ucapnya.


Dokter Roni menoleh langsung kearah sang adik, dan dia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu rumahnya dan mendekati Adiknya, karena mendengar suara Nadine menyebut nama sesorang walaupun sangat pelan dokter Roni masih bisa mendengar ucapan Nadine.


" Maya? mana sih wanita yang bernama Maya tersebut kaya apa sih wajahnya, kakak mau lihat siapa sebenarnya dia." Ucap dokter Roni seraya mengikuti mengintip du balik tirai rumahnya tersebut dan memandang kearah luar, kaca rumah Nadine tersebut tidak nampak dari luar kalau didalam rumah ada aktifitas orang dalam, tapi dari dalam sangat jelas melihat kearah luar.


" Itu yang namanya maya?" Tanya dokter Roni.


Nadine hanya mengangguk saja,dan menatap kearah kakaknya.


" Bukankah itu mobil kamu dek yang di bawa olehnya itu?"


" Iya kak, karena beberapa hari yang lalu dia bertamu kerumah kita dan saat dia mau pulang hari hujan sangat berat dan diapun memaksa untuk meminjam mobil Nadine dengan berat Nadine meminjamkannya dan saat mau Nadine ambil mobil tersebut dengan menghubunginya melalui gawainya dia mengatakan pada Nadine agar Nadine mengambilnya ditempat temannya karena dia kebetulan berada ditempat temannya tersebut, awalnya Nadine menyuruh dia mengantarkan mobil itu,tapi dia bilang kalau dia lagi sakit, makanya Nadine minta serlok dengan dia dimana dia berada." Ucap Nadine berhenti sesaat dan dia menghela nafasnya dengan pelan dan langsung berjalan kearah sofa dan duduk di sofa seraya menyenderkan tubuhnya tersebut,di ikuti oleh dokter Roni.


" Terus kamu datang kesana?" Tanya dokter Roni seraya menatap sang adik.


" Iya kak, tapi saat Nadine sampai disana menggunakan jasa taksi online Nadine tidak mendapatkan dirinya dan malah Nadine yang diseret masuk kedalam rumah tersebut." Ucapnya seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya tersebut.


" Terus apa yang terjadi denganmu?" Tanya dokter Roni sembari berdiri dan mendekati sang adik yang terdengar menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangannya tersebut.


" Katakan dk, apa yang terjadi denganmu." Tanya dokter Roni.


" Nadine bisa menyelamatkan diri Nadine karena di tolong oleh tukang kebun rumah tersebut bernama pak Somat, dia yang membantu Nadine keluar dari rumah tersebut kak,saat itu Nadine pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan mereka dengan Nadine tapi Allah menolong Nadine dengan cepat dengan mengirimkan pak somat yang menolong Nadine, sekarang Nadine tidak tahu nasib pak Somat itu setelah Nadine disuruh meninggalkan rumah tersebut dengan segera, dengan sekuat tenaga Nadine berlari sampai menemukan taksi dan membawa Nadine pulang kerumah, untung saja di saku celana Nadine ada uang untuk bayar taksi tersebut kak, karena semua tas dan yang lainnya entah hilang kemana saat Nadine di seret-seret memasuki rumah tersebut dari halaman depan." Terangnya seraya menatap kearah kakaknya.


" Ya Allah dek, kenapa jadi begini, memang keterlaluan si Maya itu, kakak akan bikin perhitungan dengannya." Ucap dokter Roni geram seraya merangkul sang adik yang menangis.


" Sudah dek, kamu jangan menagis lagi, sekarang kita kerumah Arvin, kamu bisa menjelaskannya semuanya pada Arvin dan keluarganya." Ucapnya seraya menghapus air mata adiknya dengan lembut dan kasih sayang sebagai seorang kakak dengan adiknya.


Kemudian dokter Roni berdiri dan melihat kembali ke arah luar melalui tirai gorden rumahnya, dia melihat ke kiri dan ke kanan dan kesekelilingnya.


Ternyata Maya yang berdiri di depan pagar rumahnya menggunakan mobil Nadine itu sudah tidak ada lagi,kemudian dia membuka pintu rumahnya tersebut.


" Nadine! kamu cepat masuk ke mobil kakak segera!kakak mau lihat kedepan pagar rumah kita apakah dia masih ada di depan sana atau dia masih mengawasi rumah kita." Ucap dokter Roni.


Nadine hanya mengangguk, dan diapun langsung melangkah menuju ke arah mobil kakaknya yang memang terparkir pas di depan pintu rumahnya tersebut.


Dokter Roni melangkah menuju ke arah pagar diikuti oleh Bi Anti karena sebelum dia keluar dia memanggil Bi Anti, sesampainya didepan pagar rumahnya tersebut,dia menoleh kekiri dan kekanan bahkan sampai keseberang jalan dan kesekeliling jalanan bola mata dokter Roni mengamati semuanya dengan teliti tapi memang benar sudah tidak terlihat lagi mobil Nadine yang di kemudikan oleh Maya.


" Ternyata sudah tidak ada lagi mobil Nadine yang dibawa oleh Maya itu." Ucapnya.


kemudian dia berbicara dengan Bi Anti.


" Bi Anti nanti setelah kami berangkat meninggalkan rumah segeralah mengunci pagar rumah dan segeralah masuk kedalam rumah dan kunci rapat-rapat pintu rumah." Ucap dokter Roni pada asisten rumah tangganya tersebut yang sangat setia melayani keluarganya tersebut.


Bi Anti hanya menganggukan kepalanya,dan dokter Roni pun langsung melangkah menuju ke arah mobilnya,Dia memasuki mobilnya tersebut dan perlahan-lahan mobilnyapun meninggalkan halaman rumahnya dan sesuai pesan yang diberikan oleh dokter Roni Bi Anti langsung menutup pagar rumah tersebut Bi Anti bergegas melangkah masuk kedalam rumahnya dan menutup kembali rapat-rapat pintu utama rumah bosnya tersebut.


Mobil yang dikendarai oleh dokter Roni dan Nadine melaju dengan tenangnya di jalan beraspal tanpa hambatan menuju kearah rumah Arvin.


Dokter Roni melihat dari kaca spion mobilnya tersebut kearah belakang,dia tidak menemukan mobil ataupun motor yang mencurigakan yang mengikutinya sama sekali.


" berarti memang Maya sudah pergi dari rumah kita." Ucapnya.


Nadine menoleh kearah belakang tidak ada yang mengikuti mobil kakaknya tersebut dia hanya menganggukan kepalanya, beberapa saat kemudian mereka sampai didepan rumah Arvin penjaga rumah Arvin pun menghampiri mobil mereka.


" Maaf Pak mau ketemu dengan siapa.?" Tanya satpam rumah Arvin.


Dokter Roni tersenyum.


" Saya dokter Roni saya mau bertemu dengan Arvin?"


" Maaf pak keluarga den Arvin tidak berada dirumah hampir sudah beberapa minggu." Ucap pak satpam tersebut sembari menangkupkan kedua tangannya di dada.


" Memang mereka ke mana pak?"


" Kalau den Arvin ada tugas luar kota, sedangkan nyonya dan tuan beserta adiknya berada ditempat Kakaknya pak,kakak dari istrinya tuan Candra."


" Kalau boleh tahu dimana tempat Kakaknya tersebut pak."


" Ditempatnya Pak Andre pak."


" Terima kasih ya Pak atas penjelasannya." Ucap dokter Roni.


" Sama-sama Pak " Ucap penjaga rumah Arvin seraya menundukkan kepalanya sembari tersenyum.


Kemudian mobil melaju kembali menuju ke arah rumah papah Andre.


" Apakah kakak tahu tempat om Andre?"


" Ya tahulah dek,om Andre itukan orang tuanya dokter Dita saudara kembarnya Abiyasa." Ucap dokter Roni.


" Memang Arvin ada bilang selama ini pada kamu kalau dia ada tugas di luar kota.?" Tanya dokter Roni.


" Iya Kak sebelum dia berangkat dia ada mengatakan dengan Nadine,Setelah dia berangkat Nadine tidak menghubunginya lagi karena Nadine takut kalau mengganggunya,begitu juga dengan mas Arvin dia tidak ada juga menghubungi Nadine,apalagi setelah gawai Nadine hilang,yang Nadine takutkan kalau seandainya gawai itu ketemu sama Maya dan saat mas Arifin menghubungi Nadine melalui gawai tersebut Maya berkata yang tidak-tidak dan Mas Arvin akan marah dengan Nadine." Ucapnya dengan nada sedihnya,tangan dokter Roni pun membelai lembut pundak adiknya tersebut.


" Kamu yang sabar,biar nanti kakak yang jelaskan semuanya dan kamu juga harus berterus terang tentang semua yang telah menimpamu sampai gawaimu yang hilang serta mobilmu yang tidak dikembalikan oleh maya, semuanya kamu harus jelaskan dengan Arvin,Kakak yakin Arvin tidak akan marah denganmu, sebenarnya apa aja yang Maya ceritakan dengan kamu tentang Arvin.?" Tanya dokter Roni seraya menatap kearah Nadine sesaat.


" Maya tidak bercerita apa-apa dengan Nadine,tapi disaat Maya melihat foto Arvin digawainya Nadine,Dia terlihat seperti tidak suka saat Nadine tanyakan dengan Maya,dia hanya menjawab pada Nadine kalau dia sepertinya pernah melihat Mas Arvin tapi dia lupa bertemunya dengan mas Arvin itu dimana,yang Nadine heran kalau dia cuma pernah melihat Mas Arvin Kenapa semua foto Mas Arvin yang ada digawainya Nadine di hapus semua oleh Maya." Terang Nadine.


" Kakak semua sudah tahu ceritanya dari Bi Anti."


Nadine terkejut kemudian menoleh kearah kakaknya.


" Seharusnya kamu menghubungi Kakak melalui telepon rumah, jadi Kakak bisa menghubungi Arvin secepatnya." Ucapnya.


" Apakah mungkin mas Arvin akan percaya begitu saja dengan perkataan Maya dan apakah mas Arvin bisa menerima penjelasanku kenapa selama ini aku tidak menghubunginya." Batinnya berbicara seraya menatap kearah luar.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah kediaman keluarga Wibawa, dokter Roni pun memasuki halaman rumah tersebut, setelah pintu pagar dibuka oleh penjaga rumah keluarga Wibawa itu.


Dia pun memarkirkan mobilnya di di tempat parkir yang sudah disediakan oleh keluarga Wibawa,mereka berdua turun dan melangkah menuju ke pintu utama kebetulan rumah keluarga Wibawa pintunya terbuka lebar.


Dokter Roni pun memencet bell yang ada di depan rumah tersebut.


Mama Anisha langsung keluar dia tersenyum melihat dokter Roni.


" Assalamualaikum Tante " Spa dokter Roni tersenyum.


" Waalaikumsalam dokter Roni silakan masuk." Jawab Mamah Anisha seraya mempersilahkan dokter Roni dengan Nadine masuk kedalam rumahnya.


Kemudian mereka berdua mengikuti langkah Mama Anisha menuju keruang tengah.


" Silahkan duduk." Ucap Mama Anisha mempersilahkan mereka berdua duduk.


Nadine dan dokter Roni pun duduk,Mama Anisha tersenyum.


" Ada apa dokter Roni?tapi maaf Anindita belum pulang dari rumah sakit."


" Enggak tante saya tidak bertemu dengan dokter Dita tapi saya mau bertemu dengan keluarganya Arvin.


" keluarganya Arvin ?"


Mendengar Mama Anisha berbicara dengan seseorang mereka yang ada didalam rumah itupun langsung ke luar menuju ke arah ruang tengah, mereka langsung duduk dan menghampiri tamu mereka,Bunda Adel tersenyum dan Bunda Adel mengenali Nadine.


" Nadine " Ucap Bunda Adel, Nadine pun menoleh kearah Bunda Adel.


" Tante,tante kok ada di sini ?" Ucapnya.


" Iya Nadine,Mbak Anisa adalah kakaknya tante." Ucap Bund Adel tersenyum dan duduk di samping kakaknya tersebut.


Nadine tersenyum dan mengangguk.


" Maaf tante,tadi kami kerumah Arvin tapi kata penjaga rumahnya keluarga Arvin ada di tempat tante." Ucap dokter Roni.


" Oh iya ini Bundanya Arvin." Ucap Mamah Anisha.


Bunda Adel tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dokter Roni pun tersenyum tidak dengan Nadine karena dia baru tahu kalau Bunda Adel adalah orang tua dari Arvin.


Saat mereka mau berbicara kemudian terdengar dua buah mobil memasuki halaman rumah mereka. semua mata menatap kearah luar,ternyata taksi yang membawa rombongan Abiyasa dan yang lainnya sudah tiba di rumahnya.


" Tunggu sebentar ya kami mau menemui mereka dulu." Ucap Mama Anisha dengan penuh kelembutan sembari tersenyum.


Dokter Roni dan Nadine pun hanya menganggukkan kepalanya mereka semua langsung menyambut kedatangan mereka yang dari jauh seperti biasa Mama Anisha langsung meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya tersebut. Begitu pula dengan papa Andre dia dengan kebiasaannya selalu mencium kening Mama Anisha dan pucuk kepala Mama Anisha. Begitu juga dengan istri-istri mereka yang lain,Mereka kemudian tersenyum bahagia karena sudah sampai di depan rumah setelah mereka mengantarkan Marco kerumah sakit yang dibangun oleh Papah Andre di kota mereka tersebut.


Abiyasa menatap kearah mamahnya, mamah Anisha paham karena Ayesha istri tercintanya tidak berada di luar untuk menyambut kedatangannya.


" Ayesha ada di kamarnya nak, dia kurang enak badan." Terang mamah Anisha.


" Istri Abi sakit mah?" Tanyanya lalu bergegas melangkah masuk kedalam, Mereka pun kemudian melangkah menuju ke dalam,mengikuti langkah Abiyasa.


Saat sampai di ruang tengah Abiyasa menoleh kearah dua orang tamu yang sedang duduk di sofa dengan memberikan senyumannya.


" Kak Roni?" Ucap Abiyasa seraya menyalami dokter Roni dan Nadine.


" Nadine." Sapa Arvin langsung menatap mesra penuh kerinduan dimata Arvin.


Arvin mendekati Nadine dan duduk di depan Nadine dan Nadine hanya tertunduk dia takut kalau Arvin marah dengannya.


" Sebentar ya kak,aku mau menemui istri aku dulu karena istri aku dalam keadaan sakit." Ucapnya permisi sebentar dengan yang lainnya.


Dokter Roni hanya menganggukkan kepalanya dan Abiyasa langsung melangkah menaiki tangga rumahnya yang menghubungkan lantai Atas dan lantai bawah rumahnya tersebut.


" Biyas istrimu tidak berada di lantai atas dek, tapi berada dikamar bawah." Ucap Bella yang baru saja turun dari lantai atas menuju lantai bawah.


" Berada di kamar bawah?"


" Iya dek" Ucap mbak Bella seraya berjalan menuju kamar mamahnya yang berada di dibawah semenjak dalam perawatan Anindita tante Dwi memilih berada dikamar bawah,Abiyasa langsung menuju kamar pribadinya yang berada dilantai bawah, dan mbak Bella menuju kamar tamu dimana sang mamah berada karena dia mau mengajak mamahnya keluar untuk bertemu dengan Reno beserta istri dan anaknya.


Abiyasa langsung membuka pintu kamar pribadinya yang berada di lantai bawah kalau dia malas naik kelantai dua dia menempati kamar pribadinya yang ada dilantai bawah.


Abiyasa melihat sang istri yang sangat dirindukannya sedang terbaring diatas kasur berukuran king size dengan nuansa biru langit yang sangat romantis, memang kamar Abimanyu yang berada di lantai bawah itu ditata dengan rapi dan sesuai dengan warna kesukaan Abiyasa tersebut yaitu warna biru langit.


Dia menatap wajah istrinya yang sangat cantik dengan terbalut hijab itu sedang tertidur,Abiyasa pun melangkah perlahan-lahan mendekati ranjang dimana sang istri terbaring dengan memejamkan matanya karena sedang tertidur.


Abiyasa dengan perlahan duduk di bibir ranjang sang istri dia tersenyum manis pada istrinya yang masih tertidur.


" Bidadariku yang selalu aku rindukan siang dan malam,kamu cantik sayang." Ucapnya pelan seraya mencium kening sang istri dan membelai pipi mulus sang istri.


Ayesha kemudian membuka matanya secara perlahan, dia melihat sang suami yang berada duduk disampingnya tersebut yang sedang tersenyum manis padanya, lelaki yang sangat dirindukannya itu berada di depannya sekarang ini.


" Mas.." Ucapnya pelan seraya bagun dari tidurnya dan Abiyasapun membenarkan letak bantal yang direbahi Ayesha tadi mengaturnya untuk jadi sandaran sang istri.


*****


Terimakasih karena masih mau menunggu kelanjutan cerita ini,tapi maaf🙏 kalau ada yang berkomen " masa sih kerjaan di dunia nyata sangat sibuk dan tidak sempat up." maaf 🙏 saya memang mementingkan dunia nyata dan dunia halu ini hanya sekedar hoby saja,terimakasih sekali lagi yang masih mau menunggu kelanjutan cerita saya🙏.


semoga semuanya dalam lindungan Allah SWT dan selalu sehat semua.Amin..


Salam santun dari saya 🙏😘