THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 248



Diruang tengah dr Roni dan Amelia hanya terdiam tidak ada suara di antara mereka berdua, Amelia pun masih menundukkan kepalanya dan meremas pelan jari jemarinya tersebut dia berusaha melawan rasa kegugupan dirinya karena tatapan mata dr Roni yang begitu penuh arti.


" Sebenarnya terasa tenang sekali perasaan ini saat aku melihat wajahnya " Gumamnya dalam hati,berusaha berdamai dengan degupan jantungnya tersebut.


" Amelia..." Panggil pelan dr Roni sembari menatap Amelia penuh dengan kehangatan dan penuh kemesraan.


" Hmmm...ya Dok, ada apa?" Jawabnya seraya menatap kearah dr Roni sesaat dan tersenyum kemudian dia menunduk kembali.


" Hehehehe...Nggak usah panggil dokter ya, saat kita sedang berduaan seperti ini atau saat kita di manapun, terdengarnya sangat formal banget." ucap dr Roni terkekeh, terlihat Amelia mengangguk dan tersenyum malu-malu.


" Kamu cantik, kalau kamu tersenyum seperti itu." ucap spontan dr Roni, kemudian dia pun terkejut sendiri dan menutup mulutnya dengan salah satu dari tangannya, Amelia pun kemudian menatap kearah dr Roni karena mendengar ucapan darinya itu, membuat Amelia merasa tersanjung,namun dia menyembunyikan rasanya tersebut, dia sedikit tegang, wajahnya memerah karena menahan rasa malu-malunya mendengar ucapan dr Roni tersebut.


Kemudian dr Roni menguasai rasa terkejutnya itu, dia pun kemudian membenarkan posisi duduknya dengan kedua kakinya dan bertopang tangan di atas kedua pahanya.


" Amelia kita sekarang ini sudah dewasa, jadi aku ingin mengutarakan isi hatiku padamu." ucapnya begitu saja keluar dari mulutnya, Amelia pun terperangah, dan Amelia lagi-lagi tidak percaya kata-kata itu keluar dari seorang dr Roni yang ada dihadapannya tersebut.


" Kenapa Amelia? kamu terkejut? Astaghfirullahaladzim, maafkan Amelia, mungkin kamu berpikiran Aku adalah laki-laki yang segampang itu mudah jatuh cinta pada wanita, bukan Amelia! Kamu Jangan berpikiran seperti itu ya, Aku memang benar-benar menyukai kamu, aku bahkan... Bahkan ingin melamar kamu."


Lagi lagi Amelia hanya terdiam dan dia pun menundukkan kepalanya karena seakan-akan tidak percaya kalau seorang dr Roni berbicara jujur dihadapannya.


" Bagaimana Amelia? maukah kamu menerima cintaku ini? aku ingin melamarmu dan menjadikanmu bidadari surga di hatiku." ucapnya lagi.


Amelia masih tidak bisa menjawab pertanyaan dari dr Roni tersebut, dia pun hanya bisa meremas kedua jari jemari tangannya, sebenarnya dia juga menyukai dengannya tapi dia tidak bisa mengatakannya dengan jujur kepada dr Roni, kalau sebenarnya dia itu juga mencintai dan menyukai dr Roni di saat pertama kali melihat dr Roni tersebut, dr Roni pun kemudian mengusap wajahnya dengan kasar dan menangkupkan kedua tangannya di depan mulut dan hidungnya, dia menatap tanpa kedip ke arah Amelia, dia berusaha tenang untuk mendapat jawaban dari Amelia.


" Ehem... ehem... kayaknya ada yang mengutarakan isi hati nih.." ucap papah Bobby menggoda dr Roni.


Dr Roni hanya tersenyum seraya menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa dihadapan Amelia, Amelia tetap tak bergeming dia hanya menundukkan kepalanya dan masih dengan aktivitasnya meremas jari jemari tangannya sendiri, karena dia berusaha menenangkan detak jantungnya, baru saja ia mendapatkan kata-kata yang sangat menyentuh hatinya dan dia juga sebenarnya sangat bersyukur karena cintanya kepada dr Roni tidak bertepuk sebelah tangan, Walaupun mereka berdua baru bertemu tapi Amelia merasa tenang melihat wajah dr Rani, apalagi dengan tatapan mata dr Roni yang begitu sejuk di hatinya, namun dia tidak bisa mengutarakan kepada dr Roni kalau dia juga mau menerima cintanya dr Roni.


Dokter Roni pun malu-malu karena dua kali sudah dia kepergok oleh Papah Bobby, Papa Bobby pun menyentuh pundak Amelia dengan lembut seperti seorang ayah dan putrinya, dia menatap ke arah Amelia.


" Amelia ...kalau kamu memang mencintai dengan Roni dan menyukainya, Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan dari dia? Apakah kamu menyukai dia atau tidak?" tanya Papa Boby, Amelia pun menatap sesaat dengan papah Bobby, Mamah Lala kemudian mendekati Amelia dan duduk di samping kiri Amelia.


" Nak...Om Bobby mu benar, kalau kamu menyukai Roni kamu katakan, tapi kalau kamu tidak menyukainya lebih baik kamu katakan juga, daripada dia menunggu jawaban kamu terlalu lama, tapi kamu tidak sama sekali menjawabnya." Ucap mamah Lala menabahi kata-kata papah Boby.


" Maaf tante, Om,mungkin ini adalah salah Roni, karena Roni sudah terlalu cepat mengatakan isi hati Roni kepada Amelia, seharusnya Roni mengenalnya terlebih dahulu, agar saat Roni mengatakan isi hati Roni kepadanya, Amelia tidak merasa terkejut lagi,mungkin sekarang Amelia beranggapan Roni adalah laki-laki yang sama seperti laki-laki di luar sana yang sekejap mengatakan cinta kepada wanita yang disukainya dan mungkin pikiran Amelia juga Roni sekejap itu juga akan meninggalkannya, sebenarnya tidak Om, Roni bergerak cepat karena Roni ingin mempersunting Amelia sebagai istri Roni dan menjadikan Amelia sebagai bidadari hati Roni." ucapnya tidak malu-malu mengatakan semua isi hatinya di depan Papa Bobby dan yang lainnya, mungkin karena Amelia diam itu Roni sudah tahu jawabannya, Amelia pasti tidak akan semudah itu menerima seorang laki-laki yang baru dikenalnya.


" Maafkan aku ya Amelia, maafkan aku sekali lagi, karena telah lancang mengatakan isi hatiku kepadamu." ucapnya sembari kembali ke posisi awal duduknya dengan kedua tangannya ditopang kedua pahanya dan meletakkan tangannya menutupi hidung dan mulutnya.


" Aku salah, seharusnya aku tidak langsung mengatakan ini kepadanya, tapi aku sudah tidak sabar ingin menjadikan dia sebagai istriku, nasi sudah menjadi bubur, aku tahu Amelia tidak akan pernah mencintai aku dan lagi mungkin dia sudah mempunyai pendamping hidup yang layak dan Memang mencintai dia apa adanya, Ini semua salahku, Aku tidak berpikir terlebih dahulu, Apakah dia itu mempunyai kekasih di luar sana, lagipula aku juga salah mengatakan cinta dihadapan dia di saat dia mempunyai masalah seperti ini dan menghadapi ketroumaan Adiknya, Tapi niatku tulus,ingin berada selalu disampingnya dan ingin menemaninya menghadapi masalah yang menimpanya sekarang ini bersama-sama dan tidak akan pernah meninggalkannya, tapi sudahlah! kalau dia memang tidak menyukai aku, aku harus menghargai sikapnya seperti itu, dengan cara diamnya itu aku sudah tahu kalau dia memang tidak menyukaiku dan aku juga harus tidak egois memaksakan kehendak padanya, sebagai temannya pun aku akan merasa bahagia dan senang, selalu berada di sampingnya pun untuk menemani hari-harinya sebagai seorang teman atau sahabat aku pun merasa bahagia." ucapnya dalam batinnya sembari menarik nafasnya dengan panjang dan melepaskannya dengan pelan, Nadine menatap kearah kakaknya tersebut dia merasa kasihan karena kakaknya itu cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi dia juga harus menghargai keputusan dari Amelia kalau Amelia tidak bisa menerima cinta kakaknya itu, Nadine pun menghela nafasnya dengan pelan dan menyentuh pundak sang kakak dengan penuh kelembutan sebagai seorang adik yang memang menyayangi kakaknya.


Dokter Roni menoleh kearah Nadine, Nadine menganggukkan kepalanya dan memberikan senyumannya kepada sang kakak, agar kakaknya itu merasa kuat karena penolakan dari Amelia, walaupun Amelia belum menjawab semua pertanyaan dari dr Roni, tapi dengan diamnya Amelia mereka berdua sudah mengetahui kalau Amelia memang menolak cintanya dr Roni yang sudah mengatakan isi hatinya dan berniat ingin mempersunting Amelia menjadi istrinya tersebut.


" Pasti hancur banget hatinya kak Roni, Diamnya kak Amelia itu berarti dia memang menolak keinginan Kak Roni yang ingin menjadikan dia sebagai pendamping hidupnya, semoga saja kak Roni tabah menghadapi ini semua,ya Allah kalau memang kak Amelia adalah jodohnya Kak Roni persatukanlah mereka, tapi kalau seandainya Kak Roni bukan jodohnya kak Amelia jadikanlah dia sebagai teman ataupun sahabatnya." Ucap batin Nadine.


Papa Boby menarik napasnya dengan pelan, Begitu juga dengan Mamah Lala, Clarisa hanya terdiam menatap mereka, Amelia tetap dengan posisinya menundukkan kepalanya dan *******-***** jari jemari tangannya dan jantungnya terus berdegup dengan kencang, perasaannya sekarang campur aduk, ingin rasanya dia berkata jujur kalau sebenarnya dia juga menyukai dan menyayangi dr Roni, tapi bibirnya kelu, tidak bisa untuk berbicara karena rasa kegugupan yang menderanya itu.