
Setelah mereka makan siang dan beristirahat sebentar merekapun kemudian berpamitan dengan papa Andre sekeluarga.
Mereka pun meninggalkan rumah keluarga Wibawa menuju ke kediaman mereka masing-masing.
Setelah kepergian mereka Mamah Anisa dan Papa Andre pun beristirahat siang.
Abiyasa dan Ayesha keluar rumah mencari sesuatu keinginan Ayesha.
*****
Keesokan harinya tepat jam delapan pagi mereka meninggalkan rumah mereka masing-masing menggunakan mobil pribadi mereka menuju ke bandara.
Dengan diantar Anak-Anak mereka masing-masing, papa Andre dan Abi Yosep diantar oleh Abiyasa Karena Abiyass mempunyai dua orang tua yaitu orang tua kandungnya dan mertuanya.
Mereka pun menuju ke arah bandara beberapa saat kemudian mereka sampai di depan bandara karena orang tua mereka tidak ingin mereka mengantarkan sampai halaman bandara.
Mereka turun dari mobil pribadi mereka masing-masing, setelah Anak-Anaknya berpamitan dengan orangtuanya seperti biasa mereka meraih tangan kedua orang tuanya dan mencium punggung tangannya tersebut.
Anak mereka hanya bisa mamdangi langkah kaki orang tuanya yang berjalan menuju ke arah bandara, dimana Jet pribadi keluarga Wibawa terparkir.
Abiyasa kemudian mendekati Clarissa.
" Kamu rapi sekali Ris? memangnya kamu mau kemana sehabis mengantarkan Om Bobby kebandara ini?" tanya Abiyasa.
" Aku mau kekantor, karena udah lama ninggalin kantor." senyum Clarissa mengembang.
" Tidak lama banget kali Ris, hanya beberapa hari saja kita nggak masuk kantor hehehe, mereka juga paham kok keadaan kamu, udah kamu nggak usah masuk kantor dulu kamu nikmati dulu lah libur cuti menikah kamu." ucap Abiyasa seraya tersenyum.
Clarissa hanya tersenyum saja.
" Ada apa dengan wajahmu Ris?nampak terlihat pucat ?" tanya Arvin.
" Hehehe.... jangan-jangan kamu terlalu banyak lembur lagi nih?" ucap Arvin.
" Biasalah Vin, pengantin baru, masa kamu nggak tahu sih hehehe."
" Iya Biy,Aku tidak tahu efek pengantin baru hahaha, kan Aku belum nikah Biy."
" Ntar kamu merasakannya kalau sudah nikah baru kamu tahu gimana rasanya lembur yang membawa kita kedalam kebahagiaan yang tiada terkira hehehe." ucap Abiyasa sembari terkekeh, Arvin pun ikut terkekeh. Clarissa hanya tersenyum malu-malu mendapatkan ucapan dari kedua sahabatnya tersebut.
" Aku nggak apa-apa kok, mungkin karena terlalu banyak istirahat jadi mengakibatkan Aku kurang darah kali ya." senyum Clarissa mengembang.
" Hahaha...Clarissa-Clarissa tidak ada orang istirahat kebanyakan tuh kekurangan darah, yang ada tidak istirahat yang kekurangan darah." ucap Abiyasa.
" Sepertinya memang kalian tidak istirahat deh beberapa hari ini hahaha." ucap Arvin lagi sembari tertawa lepas diikuti Abiyasa.
" Iih...apaan sih kamu Vin, makanya kalau mau tahu itu cepet-cepet nikah." ucap Clarissa sembari tersenyum karena Dia tidak bisa lagi berkata-kata yang lain, kedua sahabatnya itu menggodanya yang tidak bisa Dia jawab dengan kepastian.
" Ada apa sebenarnya dengan diriku, Apakah Aku ini terlihat pucat di mata kalian?"
" Ya iya,emang terlihat pucat seperti kurang tidur." ucap Abiyasa.
" Biasa saja kok Aku lihatnya di cermin." ucap Clarissa seraya melirik suaminya,Marco hanya tersenyum simpul seraya menyenderkan tubuhnya disamping mobil.
" Ya Iya kalau kamu yang lihatnya, ini kan kami yang lihat kamu, ini di luar ruangan dan di alam terbuka jadi terlihat lho kalau kamu itu emang kurang tidur dan terlihat kecapean, kamu kan biasanya kalau kerja nggak pernah lembur, mungkin sekarang kamu udah lembur ada pekerjaan yang harus dikerjakan, hehehe Ya seperti kerja sampingan hahaha." ucap Abiyasa tertawa lepas lagi, Diikuti oleh Arvin.
" Ah kalian ini ada-ada saja deh." ucap Clarissa sembari menggelayut kan tangannya mesra di tangan suaminya.
" Eh... Marcopolo kamu apain Clarisa sampai dia seperti kekurangan darah itu, jangan-jangan kamu hisap lagi darahnya hahahah." goda Arvin.
" Iih.. enggak ada Aku menghisap darahnya Aku cuma menghisap madunya saja hahaha." ucap Marco sambil tertawa lepas dengan refleks Clarissa langsung mencubit lengan suaminya itu.
" Aauu..sakit sayang!" ucapnya sembari meringis mengusap bekas cubitan dari tangan Clarissa tersebut.
" Makanya Ris, kamu nggak usah masuk kantor, lebih baik kamu istirahat, nanti kalau memang kamu sudah benar-benar terlihat sehat silakan aja kamu masuk lagi, santai aja Ris enggak akan Aku potong juga kali gaji kamu." sbung Abiyasa.
" Bukan masalah gajinya Biy, tapi ini masalah tanggung jawab, Udah lama Aku ninggali kerjaan pasti banyak pekerjaan yang terbengkalai, klien juga banyak yang mungkin menunggu untuk kita menyetujui kerjasama yang mereka ajukan." terang Clarissa.
" Udah kamu nggak usah pikirkan itu, Aku mungkin hari ini enggak bisa ke kantor juga, in sya Allah besok Aku akan pergi ke kantor,nenggok kantor dulu dan mengerjakan semuanya." ucap Abiyasa.
" Kenapa kamu nggak ngantor hari ini? karena permintaan istriku untuk ditemanin satu hari lagi, Kamu kan tahu ibu hamil muda pasti permintaannya aneh-aneh." ucap Abiyasa menjelaskan kepada mereka semua sembari terkekeh.
" Tidak Biy, Aku akan masuk kantor hari ini."
" Tidak usah, Aku sudah bilang kamu nggak usah masuk, Oke! Kamu satu hari ini nggak usah masak dulu, besok kamu boleh masuk kalau kamu nggak mau nambah libur kamu, karena kamu merasa kepikiran terlalu lama meninggalkan kantor." ucap Abiyasa.
" Ya udahlah kalau mau seperti itu, Aku ngikut aja sih, Apa kata kamu."
" Ya gitu dong Kamu harus ngikutin yang Aku katakan, bosnya kan Aku bukan kamu, hahaha.." ucapnya tertawa lepas lagi.
" Ya sudah kalau seperti itu, Aku pamit dulu ya, karena istriku udah lama nunggu di rumah, nantinya Dia marah kalau Aku kelamaan meninggalkannya."
" Waduh! sensitif gitu ya." ucap Arvin.
" Ya iyalah namanya juga wanita hamil,nanti kalau Nadine sudah hamil baru kamu tahu hehehe." ucap Abiyasa sembari memasuki mobilnya.
" Bang Niko kamu langsung pulang ya?" tanya Abiyasa.
" Iya Biy, tapi pulangnya kerumah kamu, karena Mamah nyuruh pulangnya kerumah kamu, Clarakan dititipkan sama Tante Anisha makanya Abang mau jemput dulu Clara tadi ditinggal Mama masih tidur." ucap Niko.
" Oke Bang kalau gitu, Aku pamit dulu ya.." ucap Abiyasa pada mereka seraya membunyikan klakson kepada mereka dan berlalu pergi dari hadapan mereka semua, setelah berpamitan saling mengucap dan membalas salam mereka semuapun langsung tersenyum.
sepeninggal Abiyasa mereka yang ada disitu juga langsung saling berpamitan juga, mereka memasuki mobilnya dan langsung meninggalkan depan bandara menuju ke tempat tujuan yang mereka tuju.
Arvin menuju ke arah kantornya dan Clarissa bersama Marco menuju kembali ke rumah mereka, begitu juga Niko yang menuju kerumahnya untuk menjemput Clara.
Sedangkan Papa Andre dan yang lainnya sudah meninggalkan bandara menuju ke arah tujuan di mana Nayra berada.
*****
Di sebuah kota sepasang suami istri berbicara di rumah mereka,siapa lagi kalau bukan Mito,Mimi dan Toto.
" Bu, hari ini keluarganya pak Andre mau datang ke sini, sebelum Bapak pulang kantor, Bang Maman akan menjemput mereka di bandara." ujar Toto berbicara kepada istrinya.
" Udah Bapak kasih kabar tadi, Kalau bosnya Bang Maman itu datang hari ini?"
" Mungkin Dia sudah ada di bandara,sekedar mengingatkan aja,kan Bang Maman sudah tahu juga, Tapi sebelumnya Bapak mau ke kantor dulu, mau absen kehadiran dulu dan Nanti sekitar jam makan siang Bapak langsung izin mau pulang, kamu kan tahu Bu, Pak Aditama selalu ngecek karyawannya, kalau seandainya salah satu aja terlambat Dia akan marah dan akan memecat tidak pandang bulu, itu yang Bapak takutkan, kalau seandainya Bapak terlambat sedikit kemudian dipecat,kita mau makan apa Bu." ucapnya seraya mengambil sepatu di rak sepatu dan langsung memakainya, Dia pun langsung berpamitan dengan sang istri, Mimi pun meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya tersebut.
" Ya pak hati-hati."
Toto pun menganggukkan kepalanya, Dia langsung mengambil sepeda motornya dan langsung meninggalkan rumahnya tersebut.
Mimi hanya menatap kepergian suaminya itu, kemudian Dia duduk di depan teras rumahnya memandang jauh kedepan.
" Pak Aditama ini memang sangat keterlaluan!" gumamnya.
Toto adalah saudaranya Maman,Maman adalah anak buah dari Papah Andre yang bekerja di salah satu perusahaan Papa Andre, jabatan Maman di perusahaan tersebut sebagai seorang kepercayaan dari Papa Andre, perusahaan tempat Maman bekerja dipimpin oleh papah David Adik iparnya Papa Andre, karena Maman sudah berada di kota di mana Nayra dan suaminya berada, kebetulan Adiknya Maman yaitu Toto berada di kota tersebut dan bekerja di kantor yang dipimpin oleh suaminya Naira yaitu Aditama.
Karena Papa Andre mengatakan kalau mereka akan berangkat pada hari yang ditentukan, sebelum Papa Andre berangkat Maman terlebih dahulu disuruh berangkat ke kota di mana Nayra berada, untuk mencari sebuah penginapan atau tempat tinggal sementara untuk mereka,setelah sampai di kota tersebut dengan senang hati Toto mengiyakan akan mencarikan tempat singgah buat Bosnya tersebut.
Dia pun sudah menemukan tempat tinggal yang strategis untuk sang Bos tersebut,karena Papah Andre tidak ingin merepotkan Adiknya Maman yaitu Toto dan Mimi.
Sesampainya Toto di kantornya Aditama suaminya Nayra, Dia pun langsung memarkirkan motornya di tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak kantor, khusus untuk pengendara roda dua.
Toto melepaskan helmnya sebelum Dia masuk, Dia melihat sebuah mobil mewah memasuki halaman kantor tersebut, siapa lagi kalau bukan mobilnya Aditama bersama pemilik perusahaan tersebut,
siapa lagi kalau bukan istri Aditama yang bernama Lidya.
Mobil itu pun memasuki halaman parkir khusus untuk pimpinan, mereka berdua turun dengan senyuman yang bahagia, Aditama langsung meraih tangan Lidya istrinya tersebut, Sedangkan Toto hanya menatap dari parkiran motor kearah mereka berdua.
" Kasihan Aku melihat hidupnya pak Aditama awalnya Dia jadi karyawan, sekarang menjabat sebagai Bos, karena Dia harus menikahi Bu Lidya yang sudah menjadi janda berkali-kali, dengan alasan suaminya tidak ada yang becus menjadi seorang suami dan tidak bisa memenuhi keinginanannya, Aku kasihan juga dengan Bu Nayra Dia menderita selama ini tidak pernah dihiraukan oleh Pak Aditama, Ah! sudahlah! Nanti kalau ada yang dengar akan omonganku ini pasti Aku yang celaka, karena orang semua bekerja di kantor ini hanya ingin mencari muka didepan pimpinan, bahkan mereka pun bisa membunuh perasaan sesama karyawan,dan menjelekkan teman kerja sendiri demi mendapatkan kepercayaan dari pimpinan seperti pak Aditama." ucapnya pelan seraya menengok kiri kanan,belakang dan depan Dia takut kalau ada orang yang mendengar Dia bicara sendiri, Dia pun langsung meletakkan helmnya di stang motor kesayangannya tersebut, Dia kemudian merapikan sedikit kerah bajunya dan merapikan tatanan rambutnya, Dia pun kemudian melangkah memasuki kantor tersebut.
Setelah Dia mengambil kartu absensi kehadiran di kantor, Dia langsung menuju kekursi kerjanya,dimana disitu banyak teman-temannya yang sudah berdatangan, Dia langsung menuju ke arah kursi kerjanya dan Dia menghentakkan tubuhnya di kursi tersebut, sembari menggantungkan tasnya disandaran kursi kerjanya.
" Kamu terlambat To?" ucap salah satu temannya yang bernama Yudi yang duduk disampingnya.
" Tidak! Aku tidak terlambat."
" Kenapa Bos duluan datang, baru kamu."
" Aku yang duluan datang tadi, cuma Aku lama di parkiran, nggak mungkin kan Aku masuk lebih dulu mendahului Bos di belakangku, makanya Aku biarkan Bos duluan masuk baru Aku masuk."
" Oh! Aku kira tadi kamu terlambat, kalau kamu terlambat habislah riwayatmu."
" Itu sudah Aku pikirkan dari rumah." ucapnya sembari tersenyum, di anggukan oleh temannya tersebut.
" Kamu tahu nggak apa yang diomongkan Bos tadi setelah melintas dari meja kerja kita ini, Aku rasa mereka semua pasti dengar."
" Ada apa?"
" Katanya Mereka mau bulan madu keliling Eropa."
" Bulan madu?keliling Eropa?"
" Iya lah To namanya juga orang kaya,tapi tidak memikirkan nasib karyawannya."
" Mereka sudah lama menikah dan kemarin itu kan mereka sudah juga bulan madu keliling Eropa, memang mau keliling Eropa lagi.?"
" Ya namanya juga orang kaya, jadi mau kemana aja tinggal sebut, apalah daya kita sebagai karyawan bawahan ini, digaji sekian aja sudah bersyukur, tidak dipecat aja itu malah lebih dari segala-galanya, kasihankan kayak si Lina, cuma telat beberapa menit udah tuh dipecat tidak pandang bulu, bahkan Dia juga tidak mengetahui kenapa sampai Lina itu terlambat, alasan Lina kan tepat Dia mengantar ibunya ke rumah sakit, sedangkan Dia sudah menghubungi pihak kantor untuk izin beberapa menit, tapi keterangan Lina tidak diambil dan tidak didengar oleh pak Aditama, dan dengan satu ucapan Lina dipecat! gila kan itu, Dia tidak mikirin kita To, maunya hidup bersenang-senang! Bos gila itu." ucap Yudi sedikit emosi tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Toto menarik napas dengan pelan Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
" Benar juga, makanya itu yang Aku bicarakan sama istriku, setidaknya Aku jangan sampai terlambat sedetikpun, karena Aku takut kalau seandainya terlambat sedetik aja mungkin Aku sudah ditendang dari kantor ini, jangankan cuma sedetik beberapa menit aja sudah dipecat."
" Yah begitulah To, Kita harus mengikuti apa kata pimpinan, apa Dia itu nggak sadar ya, kan dia sebagai karyawan juga dulunya, Gimana rasanya penderitaan seorang karyawan, seharusnya Dia tuh membela karyawan-karyawan yang ada disini, bukannya memberikan aturan seperti itu,telat sedikit dipecat, sakit di potong gajih, jelas-jelas ada surat keterangan dari dokter,tetap aja dipotong gaji, sebel Aku To!"
" Sudah.. Kamu jangan ngomong seperti itu,hati-hati tembok juga nanti bisa ngomong, kalau sampai kedengaran pembicaraan kita ini sampai ke telinga Dia, wah! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
" Tapi Aku yakin To, Dia nanti akan mendapatkan pembalasannya yang lebih kejam lagi." ucap Yudi.
Toto hanya tersenyum saja, Dia menarik nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.
" Benar katamu Yudi, sebentar lagi Dia pasti akan merasakan apa yang pernah dia perbuat dengan Bu Nayra! tunggu saja tanggal mainnya." batin Toto sembari tersenyum, Dia kemudian menghidupkan layar komputer yang ada di depannya, kemudian Dia pun asyik mengerjakan pekerjaannya kembali.
Diruangan Aditama.
" Sayang Aku benar-benar bersyukur deh mendapatkan suami seperti kamu, kamu itu pengertian banget, tidak seperti suami-suamiku yang dulu, mereka hanya menginginkan harta dan kekayaan papaku aja, tapi kamu itu berbeda, kamu memang segala-galanya buatku, kamu juga rela melepas istri kamu walaupun belum kamu ceraikan, tapi kamu selalu ada waktu untukku, bahkan hampir setiap hari kamu berada denganku dan kamu melupakan istrimu sendiri. Aku memang benar-benar menyukai kamu, dan memang benar-benar menyayangi kamu, Kamu begitu berharga bagiku sayang!" ucapnya seraya duduk di pangkuan Aditama suaminya tersebut.
Aditama hanya tersenyum saja seraya meraba pipi sang istri, dari kaca jendela itu terlihat sepasang mata menatap ke arah dalam ruangan tersebut, karena kaca disamping ruangan Aditama itu memang masih bisa terlihat oleh sekretaris di kantornya itu.
" Emang gila pasangan ini! tidak tahu tempat hanya bermesraan aja kerjaannya, nggak ada sopan santunnya ni Bos,norak! jadi Bos, kerjaan nya hanya bisa nyuruh-nyuruh aja dan tidak memikirkan nasib karyawannya kaya apa, sampai kesejahteraan karyawan aja nggak bisa dipikirkan! kaya mereka aja yang pernah menikah! geregetan Aku jadinya dengan makhluk tuhan seperti mereka berdua! moga aja mereka ditelan buaya dan tak akan pernah kembali lagi selamanya.!" ucap Beni sekretaris Aditama.
Kemudian Dia berdiri dan sengaja keluar ruangan menghindari dua manusia yang tidak punya malu. Dengan muka yang kesal Dia melangkah menuju kearah belakang,Dia ingin mnyegarkan pandangannya.
" Hmmm...Setidaknya Aku sesaat bisa menyegarkan kedua bola mataku,dari perbuatan yang tidak pantas Aku lihat! memang keterlaluan Bos gila itu! berciuman tidak tahu tempat,ini kantor bukan rumah pribadinya! seenaknya aja seperti itu." gumam batinnya seraya menatap kearah luar dari pintu belakang.
Kemudian Dia dikejut oleh Yudi.
" Ben kenapa kamu disini? ntar Bos nyariin kamu lagi, kamu kan tahu kalau Dia marah kaya apa? padahalkan Dia teman kita juga ya,setelah menjadi Bos lupa deh dengan kita yang teman seperjuangannya." ucap Yudi pelan berbicara takut kalau ada yang mendengar ucapannya.
" Iya nih, Aku juga kesal dengannya,karena sikap Dia yang kelewat batas."
" Maksudmu?"
" Iya Yud, setiap hari hanya bisanya bermesraan diruangannya,bukannya Aku cemburu dengannya,mau dia berbuat kaya gimana kek,mau jungkir balik kek,ataupun nungging kek,itu urusannya,tapi wong jangan dikantorlah,kamu kan tahu kaca antara ruanganku dan ruangannya terlihat sangat jelas,kalau mau bermesraan yah ditutup dong pakai apa kek,biar nggak terlihat sama Aku, nggak malu apa mereka bersikap begitu terlihat orang lain, geregetan Aku dibuatnya." ucap Beni sedikit menahan emosinya.
" Yah! namanya juga Bos Ben, Apapun yang Dia lakukan sah-sah saja dimatanya." ucap Yudi.
Beni mendengus dengan kesal.
" Ya udah Bro Aku lanjut kerja ya" ucap Yudi menepuk pundak temannya itu,dianggukkan Beni dengan senyuman.
Beni pun lalu melangkah menuju ruangannya kembali.