
Beberapa saat kemudian anggota Arvin dan anggota Morgan datang ke lokasi dan mengamankan mereka berdua sedangkan yang lain mengevakuasi mobil yang digunakan si penguntit untuk dibawa ke kantor polisi.
" Bawa mereka ke Mako,serahkan pada yang ahlinya,nanti pak Abiyasa akan datang memberikan keterangan lebih lanjut." perintah Arvin pada anggota yang lain.
" Siap Ndan! " ucap salah satu dari anggota tersebut, sembari membawa mereka kedalam mobil patroli yang sudah tersedia.
" Pak polisi kami tidak salah! kenapa kami diborgol dan dibawa kekantor polisi hah! hey pak polisi dengar kan kami, kami tidak salah tau tidak pak polisi! kalian salah orang dan kalian akan menyesal menangkap kami! ingat itu pak polisi! mobil mewah itu yang salah pak pak polisi karena dia sudah mengerem mendadak!!" teriak salah satu dari penguntit tersebut.
" Heh!! sudah diam! ngoceh mulu!!" ucap salah satu dari anggota yang lain sembari membawa kedua orang tersebut memasuki mobil patroli, kedua orang itupun langsung terdiam setelah mendapatkan bentakkan dari salah satu anggota itu.
" Kalau mau ngoceh noh! dikantor polisi sana!!" ucap anggota yang lain sembari menutup pintu mobil patroli, setelah salah satu anggota berbicara dengan Arvin kemudian mobil tersebutpun meninggalkan tempat kejadian dan melaju meninggalkan Arvin dan yang lainnya.
Abiyasa dan Ayesha mendekati Arvin dan Niko.
" Mantap euy...kak Niko bisa menggunakan senpi, mantap banget kak." ucapnya sembari tersenyum.
" hehehehehe..." Niko dan Arvin terkekeh.
" Kenapa kalian berdua terkekeh? memang ada yang salah ya dengan ucapanku?" Tanya Abiyasa heran karena melihat mereka berdua menertawakan ucapannya itu.
" Ini nih Biy maksud kamu..." ucap Niko seraya mengacungkan senjatanya pada Abiyasa.
" Eit kak...yang benar aja kak, ntar ada hantunya lho, bisa saja meletus..." Ucap Abiyasa seraya menatap kearah Arvin dan Niko secara bergantian.
" Asalkan ada ijinnya aja kak, biar aman." Ucapnya lagi.
Dan lagi-lagi Niko tertawa...dan dia pun menarik pelatuk senpinya kearah Abiyasa dan Abiyasa langsung memejamkan matanya, begitu juga dengan Ayesha langsung meraih tangan suaminya dan memegangnya dengan erat serta menutup matanya,ternyata setelah ditarik pelatuknya tersebut sebuah api kecil keluar dari lubang senjata itu, Arvin dan Niko tertawa lepas...Abiyasa terkejut dan menarik nafasnya dengan lega.
" Hampir saja.." Ucapnya sembari mengurut dadanya dengan senyuman kecil diwajahnya.
" Mana beranilah Biy,kakak punya yang ginian asli,ini bukan senjata asli Biy, ini adalah senjata palsu, ini hanyalah sebuah pancis hahahaha.." ucap Niko tertawa lepas seraya menyalakan pancis itu lagi.
" Kebetulan dimobil hanya ada ini saja makanya kakak langsung pergunakan ini saja." Ucapnya terkekeh.
Abiyasa, Arvin dan Ayesha pun ikut terkekeh juga.
" Ya udah kalau gitu kita segera ketempat acara, ntar om Andre dan yang lainnya bingung lagi nyariin kita." Ucapnya sembari melangkah menuju kearah yang dituju semula yaitu tempat acara pernikahan Anindita dan Morgan.
Mereka kemudian mengangguk dan memasuki mobil mereka berlalu meninggalkan tempat kejadian perkara.
Kedua mobi litupun menyusuri jalan dengan kecepatan sedang dan beberapa saat kemudian mereka pun memasuki halaman gedung resepsi dan memarkirkan mobil mereka dengan rapi dilahan parkir yang sudah disediakan dan diatur rapi oleh tukang parkir yang disewa mereka khusus mengatur kendaraan para tamu yang akan datang menghadiri acara pernikahan tersebut. Kebetulan saat ini hanya ada beberapa yang datang untuk menghadiri acara akad nikah Anindita dan Morgan yang dihadiri para sahabat dan keluarga dari kedua belah pihak saja.
Mereka berempat berjalan memasuki gedung tersebut, dan mereka melihat Morgan yang sudah siap duduk manis ditengah ruangan yang didesain untuk pelaksanaan akad nikahnya, Morgan yang mengenakan baju akad nikahnya itu terlihat sangat tampan, dia tersenyum melihat kedua sahabatnya dan Niko berjalan menghampirinya dan duduk di tempat yang sudah disediakan tersebut.
Abiyasa menggandeng sang istri menuju kearah tempat duduk yang berada dibelakang Morgan.
" Darimana aja kalian hah? kenapa baru sampai jam segini, sebentar lagi acara mau dimulai, aku sangat takut kalau kalian tidk ada, karena kalian adalah semangat ku.' Ucap Morgan terkekeh.
" Preeettt!! semangat endas mu Mor! " ucap Arvin terkekeh.
" Kamu bilang semangat kan?" Tanya Arvin seraya menatap tajam Morgan
" Iya, kalian adalah semangatku." Jawab Morgan tersenyum manis seraya menaik turunkan alisnya sembari menatap Arvin.
" Tanpa ada kami kamu tidak semangatkan." Ucap Arvin lagi.
" Iya?" Ucap singkat Morgan seraya masih menatap Arvin dengan wajah sok imutnya.
" Nah kalau kami ini adalah semangat kamu jadi kami akan ada tempat istimewa dong." ucap Arvin dengan senyuman terselubungnya.
" Oh...jelas, itu sudah pasti, maunya dimana?diruang VVip atau ditempat yang sejuk, bilang aja biar aku siapkan nanti.' Ucapnya terkekeh seraya tersenyum bahagia.
" Siap nggak kamu?" tanya Arvin sembari menaik turunkan Alisnya sembari menatap kearah Morgan.
" Hehehehehe..." Tawa Abiyasa dan Niko berbarengan.
Morgan pun ikut tertawa juga dengan pelan.
" Katakan dimana mau tempat istimewanya.?" tanyanya.
" Dikamar pengantin mu, sambil makan buah anggur dan jus jeruk hahahahaha..." Ucap Arvin tertawa lepas diikuti Abiyasa dan Niko yang tertawa lepas, Morgan yang tak sadar dengan kata-kata Arvin pun ikut tertawa dan dia baru sadar setelah Arvin mengulang perkataannya.
" Eh...batok kelapa, ya aku nggak mau lah kalau tempat istimewa dikamar ku, ntar ketahuan dong bentuk senjataku kaya gimana kalau kalian bersama ku ntar bentengnya nggak akan bisa aku jebol dong, dasar semprul! " ucapnya seraya meraih kepala Arvin dan menjepitnya disalah satu keteknya dan Arvin pun terkekeh dalam jepitan sahabatnya tersebut, mereka berempatpun tertawa lepas. Papah Andre pun menatap mereka mengisyaratkan untuk mereka diam dengan tatapannya karena tanpa sadar tawa mereka bertiga itu sudah memecah keheningan diruangan tersebut dikarenakan mereka sibuk dalam pikiran mereka masing-masing yang sedang menunggu kedatangan petugas kantor KUA datang.
Ayesha dan mamah Anisha yang duduk berdampingan kemudian mengajak menantunya itu menemui putri tersayangnya Anindita yang sedang ditemani Clarissa, Nadine dan Lia.
" Aku jadi gugup nih, aku takut lupa mengucapkannya, takut salah." Ucap Morgan.
" Hahahaha...gitu aja gugup.." ucap Arvin.
" Tapi sudah kamu hapalkan Mor?" Tanya Niko.
" Udah kak, sudah semua aku hapalin. dan tak akan terlewatkan."
" Jangan gugup Mor, kalau kamu gugup biar kami wakilkan." Ucap Arvin santai.
Morgan mendelik kearah Arvin, Arvin tersenyum seraya memainkan alisnya.
" Jangan mendelik gitu dong say...perlihatkan sangarmu broo, jangan perlihatkan kegugupan mu, semangat.." Ucap Arvin lagi tersenyum.
" Awas lho jangan sampai salah, kalau kamu sampai salah aku pecat ntar jadi adik ipar." ucap Abiyasa terkekeh.
" Yah, kamu Biy, bisa aja deh ah, bikin aku lemah nih sekarang...hehehehe..'' ucapnya terkekeh.
Lagi-lagi papah Andre menatap kearah mereka berempat tapi bukan tatapan untuk memerintahkan mereka diam tapi tatapan papah Andre tersebut mengisaratkan dengan pertanyaan pada anaknya tersebut yang datang terlambat sampainya digedung pernikahan, Abiyasa menatap kearah papahnya itu dengan memberikan senyumannya, Abiyasa tahu kalau sang papah pasti akan melontarkan pertanyaan padanya, karena dia sempat melihat sang papah berbicara sebentar dengan sang istri sebelum istrinya tersebut memasuki ruangan rias dimana Anindita berada.