THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 179



" Tenang kami tahu rencana mereka selanjutnya, rencananya mereka menuju ke rumah Pak Sahrul karena mereka ingin menemui Pak Sahrul, untuk menanyakan keberadaan Lia,dan kamu tahu siapa yang bersama mereka tadi." ucap Morgan.


" Enggak " ucap Arvin singkat sembari tersenyum.


" Salah satu dari mereka tadi adalah Bokapnya Ariel,dan ternyata Bokapnya itu mencari si menyan itu hahahaha...." terang Morgan sembari tertawa pelan.


" Apa? Bokap Ariel." ucap Arvin


" Hooh, Dia lagi mencari keberadaan Ariel,padahal Ariel ada di kantor polisi hehehe." ucapnya lagi.


" Tapi ngomong-ngomong bagaimana Dia menghubungi pak Sahrul? sedang Pa Sahrul Kan sim cardnya sudah dibuang?" tanya Alvin.


" Iya juga sih, Ah! itu urusan Dia,yang terpenting kita sudah tahu kalau besok mereka menuju kerumah pak Sahrul." ucap Morgan.


" Menurutnya Dia mau menunggu di depan rumahnya pak Sahrul, entah sampai kapan yang jelas kan saat dia menunggu itu kalian berdua melancarkan aksi kalian." ucap Morgan lagi.


Morgan dan Nadine tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Tapi kenapa kalian bisa tahu dengan rencana mereka?" tanya Arvin.


" Tadi kami sebelum ke sini singgah dulu di kedai kopi itu, dan kami pun mendengarkan rencana mereka."


" Tapi bagaimana Aku tidak tahu caranya Apakah Aku dengan Nadine nanti jalan lagi atau gimana, karena belum Aku pikirkan rencana itu." ujar Arvin.


" Tenang aja Aku punya rencana baru, tapi kita bicaranya nanti bertiga aja di rumah Abiyasa, kalau di sini nggak enak." ucap Morgan pelan berbicara sembari menengok kiri dan kanan kalau seandainya ada orang yang mendengar pembicaraan mereka, tapi untung saja pembicaraan mereka tidak didengar siapa pun karena yang hanya ada di situ hanyalah mereka berempat.


" Kalau Nadine sih Kak masalah ikut aja yang penting kan selalu dengan Mas Arvin." ucapnya tersenyum.


" Ya iyalah kamu dengan Arvin masa dengan Aku sih." ucap Morgan terkekeh.


Nadine pun ikut tersenyum, setelah mereka menghabiskan makan gorengannya tersebut, Arvin kemudian membayar gorengan itu dan langsung keluar dari warung penjual gorengan, Mereka pun kemudian melangkah menuju ke arah mobil mereka masing-masing.


" Aku akan mengantarkan Nadine dulu ke rumahnya karena butiknya sudah dipercayakan dengan anak buah kepercayaannya, jadi Nadine kuantar ke rumah hari ini dan Nadine tidak kemana-mana lagi." ucapnya.


Nadine hanya mengangguk.


" Oke! Aku tunggu di rumah ya sekalian kita makan siang aja di rumah." Sambung Abiyasa.


" Tapi sepertinya Aku tidak bisa Biy makan siang dirumahmu,antarkan saja Aku pulang ke rumah, tadi Mamah menghubungi Aku lewat chat pribadi Kalau kami ingin makan bersama di rumah."


" Oh oke,ya sudah kalau seperti itu Aku antar pulang ke rumah." ucap Abiyasa.


Morgan pun mengangguk sembari tersenyum, mobil Mereka pun kemudian melaju meninggalkan depan kedai kopi tersebut menuju ke arah rumah Morgan dan mobil Arvin pun melaju menuju ke arah rumah Nadine.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Abiyasa sampai di depan rumah Morgan, Morgan langsung turun setelah dia berpamitan dengan Abiyasa dan mereka berdua saling mengucap dan membalas salam,setelah itu mobil Abiyasa pun melaju kembali menuju ke arah rumahnya dengan senyuman bahagianya karena sebentar lagi masalah Lia selesai dan pernikahan Clarissa segera dilaksanakan.


Selang beberapa menit kemudian mobil pun memasuki halaman rumahnya, Abiyasa langsung memarkirkan mobilnya dan Dia pun keluar dari dalam mobil, Dia menatap kearah teras di mana sang istri sudah berdiri menunggunya dengan senyuman manisnya, rasa lelah yang dia dapatkan hari ini berganti dengan rasa kebahagiaan karena selalu mendapatkan senyuman termanis dari istri tercinta disaat Dia pulang bepergian darimana saja.


Seperti biasanya sang istri menyambut suaminya sambil meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangan suaminya, Ayesha langsung melingkarkan kedua tangannya dipinggang suaminya dengan mesra dan disambut Abiyasa sang suami dengan mencium pucuk kepala dan kening sang istri dengan penuh kasih sayang,mereka berdua langsung melangkah masuk kedalam rumah dengan senyum kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka berdua, Abiyasa melangkah bersama Ayesha menuju kamar pribadi mereka berdua.


" Kemana Mamah sayang? kok rumah terlihat sepi?" tanyanya setelah berada didalam kamar.


" Tadi Tante Lala,Mamah Anisha dan Tante Adel berbelanja keperluan pernikahan Clarissa, Tante Melisa dan Clara keluar sama Om David,sedangkan Umi tadi pulang kerumah sebentar." Terang Ayesha pada suaminya sembari melangkah kelemari baju untuk mencari pakaian ganti untuk Abiyasa.


" Clarissa kemana?"


" Ada dikamarnya bersama Alena, Charlo,Amira dan Anindita." jawabnya.


Abiyasa langsung duduk disofa kamarnya tersebut disusul oleh sang istri yang membawakan pakaian gantinya,Abiyasa kemudian memakai pakaiannya dan tersenyum pada istrinya,Ayesha duduk disamping suaminya dan Abiyasa pun merangkul mesra sang istri seraya menatap mesra kewajah cantik istrinya itu.


" Sayang.." panggilnya.


" Hmmm" sahut Ayesha seraya menatap kewajah sang suami.


" Kamu makin hari makin cantik deh,bikin Mas gemes sama kamu." ucapnya seraya mencium lembut bibir mungil sang istri sekilas.


Ayesha hanya tersenyum saja dan mengeratkan pelukannya pada sang suami.


Abiyasa mengelus pelan perut sang istri yang masih rata sembari berkata.


" Iyakan Nak, Mamah kamu makin cantik kan heheh." ucapnya.


" Iih...ada-ada aja deh Mas ini." ucapnya tersenyum bahagia.


" Kak Abi, ini Amira.." panggil Amira.


Abiyasa dan Ayesha langsung berdiri dan melangkah kearah pintu untuk membukanya.


Setelah dibuka terlihatlah wajah cantik Amira yang tersenyum manis dihadapan mereka berdua.


" Ada apa cebol? ganggu aja kakaknya yang lagi senang-senang." ucap Abiyasa seraya mencubit pelan pipi Adik kesayangannya itu.


" Iiih... Amira nggak cebol kali, Amira nih cantik." protesnya.


" Iya-iya ada apa cantik ?" ucap Abiyasa sembari tersenyum.


" Kak Abi dipanggil Kak Dita dan kak Risa tuh diteras belakang." ucapnya.


" Ya udah Nanti Kakak kesana." ucapnya tersenyum pada Adiknya.


" Oke!" ucap Amira sembari berlalu dari hadapan mereka berdua dan diiringi dengan tatapan dan senyuman Ayesha dan Abiyasa.


" Ayo sayang kita temui mereka." ajak Abiyasa seraya menggenggam tangan istrinya melangkah menuju kearah Clarissa dan Anindita yang berada diteras belakang.


*****


Sesampainya di rumah, pak Bowo pun langsung memarkirkan mobilnya Dia keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan cara menghempaskannya dengan keras, Dia terus menggerutu pelan dan mendengus dengan kesal, Dia mengusap wajahnya dengan kasar, kedua anak buahnya pun tidak dihiraukannya, kedua anak buahnya saling bertatapan dan kemudian mengambil motornya segera meninggalkan rumah Bosnya itu, karena bosnya terlihat sangat marah besar. Pak Bowo memilih menenangkan dirinya di rumah, Dia langsung menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya tersebut.


" Dasar tak tahu diuntung! ini tidak bisa dibiarkan!!Aaarrrggghh!!" ucapnya sambil berteriak sembari menundukkan kepalanya dengan *******-***** rambutnya dengan begitu kuat sehingga Dia mengaduh sendiri.


Mendengar umpatan dari suaminya Bu Yetni pun keluar dari kamarnya Dia heran menatap sang suami yang berangkat tadi pagi begitu tenang sampai akhirnya Dia pulang kerumah dan mendapati sang suami marah-marah.


Dia kemudian duduk di depan suaminya menatap kearah suaminya tersebut.


" Ada apa kamu ini Mas, datang ke rumah tiba-tiba marah-marah begini,memang kamu ketemu siapa sih?sehingga kamu mengumpat seperti ini, apakah kamu baru saja ketemu dengan setan?"


" Iya Aku ketemu dengan setan!" ucapnya ketus menjawab pertanyaan sang istri.


" Kenapa kamu nggak langsung tangkap tuh setannya,dan masukkan ke dalam botol jadi kamu bisa puas memarahi setan tersebut!" ucap Bu Yetni sembari terkekeh.


" Kamu ini suami lagi marah-marah diajak malah bercanda!"


" Aku tidak bercanda Mas!lagian kamu pergi tadi dengan senyum dan keramahan serta kemesraan denganku! tapi kenapa saat kamu pulang ke rumah kamu malah membawa kemarahan, kalau kamu marah di luar kamu tidak usah membawa kemarahan mu itu ke rumah!" ucap istrinya sembari menatap sang suami dengan tatapan tajamnya.


Lagi-lagi Pak Bowo mendengus dengan kesal.


" Aku tadi ketemu Lia dengan laki-laki yang ada di dalam foto tersebut!"


" Apa?!" Bu Yetni terkejut mendengar sang suami berbicara seperti itu.


" Apa Aku tidak salah dengar nih dengan yang kamu katakan itu Mas."


" Iya kamu tidak salah dengar! Aku memang melihat Lia dan laki-laki itu, saat Aku bersantai dengan pak Rizal di kedai kopi sana Aku dengan jelas sekali melihatnya." terangnya.


" Hahaha!!" Bu Yetni tertawa lepas, Pak Bowo heran menatap kearah istrinya yang sedang tertawa lepas seperti menertawakan ceritanya.


" Kamu ini gila kali Mas! bertahun-tahun Lia tidak pernah kita temukan,kenapa saat ini dia bisa menampakan dirinya." ucap Bu Yetni terkekeh.


" Kamu tidak percaya? dengan apa yang kukatakan hah!" ucapnya seraya menatap sang istri dengan tatapan tajam.


" Kalau Aku melihat sendiri baru Aku percaya, kalau Lia dan laki-laki itu ada! coba kamu pikir sendiri orang yang sudah bertahun-tahun tidak kita temukan sekarang menampakan dirinya, Apakah dia mampu bertahan selama bertahun-tahun itu? apalagi Dia tidak memiliki pekerjaan,hidup dengan apa Dia! pikir Mas! pikir itu pakai otak Mas jangan mikir dengan udelmu!" ucapnya sambil tersenyum mengejek karena merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut.


" Seharusnya kamu percaya dengan ceritaku bukan mengejek seperti itu! Aku ini suamimu yang harus kamu percaya omongannya!istri macam apa kamu yang tidak percaya dengan suaminya sendiri!!


" Aku bisa aja percaya Mas! tapi kamu harus membuktikan semuanya itu denganku! kalau cuma omongan itu setiap orang pasti akan berpikir,Apakah omonganmu itu benar atau tidak!" ucapnya lagi-lagi tertawa.


" Kamu ini sama aja dengan Rizal mengatakan Aku berhalusinasi,tentang Lia dan laki-laki itu!"


" Matamu sudah rabun Mas! makanya jangan otot aja yang dikuatin dan tato dibanyakin tapi otakmu berada di dengkul!" ucapnya mendengus dengan kesal.


" Kamu ini memang keterlaluan!! mataku ini tidak rabun! otakku tidak di dengkul! Aku memang benar-benar melihat mereka berdua!kalau nanti Aku melihat mereka lagi Aku akan mengatakannya kepadamu! dan memberikan buktinya padamu!biar kamu tidak lagi mengatakan mataku rabun dan otakku tidak ada!" ucapnya sangat kesal.


" Itu terserah kamu!" ucapnya kemudian berdiri meninggalkan sang suami melangkah menuju kearah dapur, sedangkan Pak Bowo Hanya bisa menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat, Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan mengusap wajahnya dengan kasar.