
" Pak Maman, bapak bisa pulang aja ke rumah." ucap papa Andre.
" Maksud pak Bos saya pulang begitu saja, bagaimana dengan Pak Bos dan yang lainnya pak bos?"
Papa Andre tersenyum.
" Maksud saya bapak pulang silakan dibawa aja mobil ini."
" Terus Pak Bos pulang dengan apa? kalau mobil ini saya bawa." ucap pak Maman dengan ekspresi yang sangat heran.
" Kami pulangnya gampang Pak Maman, kami bisa naik taksi ataupun ojek, bisa juga jalan kaki bereskan, hehehe." ucap papa Boby.
" Bapak bisa aja hehehe...begini saja Pak Bos mobil saya tinggal aja, biar saya pulang naik ojek aja."
" Jangan Pak Maman, kurang aman kalau naik ojek." lanjut Abi Yosep.
" Iya pak, lebih baik naik taksi aja." Sambung papah Andre.
" Susah pak bos nyari taksi malam-malam begini di sekitar sini."
" Memang kenapa?"
" Jarang lewat sini taksinya Pak Bos."
" Terus kalau naik ojek bapak nyarinya dimana?" tanya Ayah Candra.
" Di depan sana ada pangkalan ojek, saya bisa pulang naik ojek tersebut."
" Tapi nggak apa-apa nih bapak jalan kaki ke sana?"
" Ya tidak apa-apa pak Bos."
" Atau kami antar dulu bapak ke pangkalan ojeknya." Ucap Papah Boby.
" Tidak usah Pak Bos, nanti mengakibatkan kecurigaan, kalau nanti pak bos balik lagi ke sini."
" Tapi aman gak mobil ini kita parkir di sini?" Tanya Abi Yosep.
" In sya Allah aman pak bos." ucap Pak Maman sembari tersenyum.
" Ya sudah ya Pak Bos, saya tinggal dulu,biar pak bos semua bisa kansen mengawasinya, kalau ada apa-apa pak Bos bisa hubungin saya."
" Siap Pak Maman!" ucap papa Andre seraya tersenyum.
Pak Maman pun mengucapkan salam kepada mereka dan kemudian keluar dari mobil setelah mereka membalas salam dari Pak Maman,mereka berempat menatap Pak Maman yang melangkah meninggalkan mobil menuju ke arah pangkalan ojek yang tidak jauh dari mobil tersebut terparkir.
Pak Maman selangkah demi selangkah meninggalkan mereka,sesaat kemudian Pak Maman menghilang dari pandangan mereka, karena di sekitar rumah Nayra tersebut cahaya jalanan agak sedikit gelap.
Mereka pun kemudian saling bertatapan dan tersenyum.
" Sekarang kita waktunya beraksi." ucap papa Boby.
Mereka turun dari mobil semua.
Abi Yosep pun menepuk mobil itu.
" Halo mobil, kamu diam-diam disini ya! bila ada apa-apa kamu berbunyi,dan bila ada orang yang ingin mencuri kamu, kamu cepat-cepat menghilang ya." Ucapnya seraya tersenyum.
" Yosep semprul! itu mobil benda tidak bisa berbicara ulat keket! " Ucap Papah Boby tersenyum melihat ulah Abi Yosep.
" Ya siapa tahu aja dia mengerti hehe."
" Kalau mobilnya hilang Kamu mau jalan pakai apa?" Lanjut papah Boby.
" Ya jalan kaki hehehe." ucapnya lagi.
Papa Boby pun langsung merangkul kepala Abi Yosep dan membawanya melangkah meninggalkan mobil tersebut menyusul kedua sahabatnya yang terlebih dulu jalan.
Mereka berdua melangkah menuju ke arah pintu pagar rumah Nayra.
" Hey! kalian berdua ngapain lewat situ hah? kalau kalian berdua lewat situ manjat pagar rumahnya Nayra,sama aja kalian nyari mati tau nggak?entar Kalian mau diteriaki sama orang kampung sini,dikatakan mereka Kalian mau mencuri dengan cara memanjat pagar seperti itu,mau?" ucap Ayah Chandra.
" Hehehe...benar juga ya " ucap Papah Boby.
" Habisnya kita mau lewat mana Ndra?" Ucap Abi Yosep.
" Makanya sini! Ikuti kami."
Merekapun kemudian mengendap-ngendap sambil melihat-lihat ke arah jalanan, masih terlihat beberapa mobil, motor hilir mudik.
" Sepertinya orang-orang tidak menghiraukan kehadiran kita ya?" Ucap Abi Yosep.
" Iya benar, orang di sini ini cuek bebek ya seperti elu-elu, gue-gue." Sambung papah Boby.
" Emang seperti itu kayaknya, berbeda daerah, berbeda juga orang-orangnya " ucap Ayah Candra sembari melangkah mendekati pohon yang besar tersebut.
" Kalau seperti itu orangnya pantas aja aman kutu monyet itu menyimpan Nayra dirumah ini " kata Abi Yosep lagi.
Dianggukkan mereka perkataan Abi Yosep,Sekiranya terlalu banyak orang yang hilir mudik mereka berjongkok agar tidak terlihat siapapun dari arah jalanan.
Setelah terlihat sepi barulah mereka melangkah menuju ke arah pagar rumah Nayra, satu persatu melewati parit kecil yang ada di depan rumah Nayra.
Sesampainya didepan pagar yang akan menjadi target panjatan mereka berempat,mereka berhenti dan menatap kearah target panjatan mereka itu.
" Enggak salah nih! kita naik pagar rumah ini?" Tanya Ayah Candra.
" Iya, memangnya kenapa Ndra?" Jawab Abi Yosep.
" Apa nggak ada jalan lain kek,buat ku." Ucapnya tersenyum seraya mengusap wajahnya.
" Enggak?!" Ucap ketiganya seraya menatap kearah Ayah Candra.
" Hehehe....kalian kan tahu aku bagaimana.." ucap pelan Ayah Candra tersenyum.
" Oalah kami lupa Ndra,kalau kamu takut ketinggian..." ucap mereka bertiga lagi secara berbarengan, sebanarnya mereka tahu aja kalau Ayah Candra takut ketinggian.
" Begini saja,bagaimana kalau kamu jaga di sini aja, Aman kan nggak naik-naik hehehe " sambung papah Boby.
" Enggak-enggak! Aku nggak mau, aku juga ingin lihat keponakanku di dalam sana seperti apa." ucap Ayah Chandra.
" Kalau seperti itu ya udah... kamu belajar manjat!" ucap papah Bobby sembari terkekeh pelan.
" Aku harus bisa demi keponakanku!" Ucapnya.
" Ya sudah, begini aja Ndra kamu pejamkan mata kamu kalau saat memanjat pagar ini." Lanjut Abi Yosep terkekeh pelan.
Ayah Candra tersenyum dan mengangguk pasti.
" Kalau seperti itu aku manjat terlebih dahulu, nanti aku akan menolong Chandra dari arah dalam." ucap papa Andre.
Kemudian Papah Andre pun memanjat pagar rumah Nayra, Untung saja pagar rumah Nayra tidak berbentuk tembok semua, tapi melainkan ada sekat-sekat yang bisa memudahkan mereka untuk memanjat pagar rumah tersebut,bentuk pagar rumah Nayra diatasnya ada yang berbantuk seperti bambu runcing kalau tidak hati-hati bisa melukai kulit.
Akhirnya papah Andre pun berhasil masuk ke dalam.
" Ayo cepetan Ndra kamu naik duluan, biar dibantu sama Yosep dan Bobby." Ucap Papah Andre dari dalam seraya berbisik.
" Kamu ini mau panjat pagar Ndra, bukan mau perang! keringatan amat sih tangan kamu." Ucap Papah Boby.
" Hehehe.... biasa aja ini Bob, memang pembawaan suasana."
" Ya udah,Ndra kami bantu, pelan-pelan naik ke atasnya." Lanjut Papah Boby.
Kemudian Ayah Candra pun menutup matanya, dan dengan mata tertutup dia meraba-raba untuk bisa memanjat pagar tersebut, akhirnya dengan bersusah payah dia pun bisa turun dan masuk kedalam halaman rumah Nayra.
" Aku duluan ya Yos.." ucap Papah Boby.
" Ah! jangan kamu Bob, kamu di sini aja dulu, aku duluan."
" Ya udah terserah kamu."
Lalu Abi Yosep pun menaiki pagar tersebut dengan semangatnya, dan tanpa sengaja celananya menyentuh sesuatu mengakibatkan sebuah bunyian yang hanya mereka yang mendengarnya.
" Krek!"
" Yosep! kamu ngapain sih! kamu manjat pagar Yos,bukannya mau BAB di situ, malah kentut lagi." ucap Papa Bobby terkekeh.
" Eh kodok bangkong! aku ini bukannya kentut, tapi celanaku sobek terkena besinya Aditama ini." Ucap Abi Yosep pelan.
" Apa? Astaghfirullahaladzim Yosep..Yosep... naik ini aja kamu sampai sobek celana segala sih!" ucap Papa Andre yang berada di bawah pagar rumah Nayra tersebut.
" Hehehe...celana aku tersangkut pagar rumahnya Nayra Ndre,salah langkah akunya Ndre, lagian Ini kan ada runcing-runcingnya seperti ini, jadi aku tidak waspada makanya kakiku langsung aku langkahkan ke arah dalam, ternyata nyentuh celanaku mana sobeknya besar lagi."
" Makanya Yos, kalau beli celana itu jahitannya itu yang pakai talinya kapal Air, biar kuat heheheh." Ucap Papah Boby tertawa ditahan karena dia tidak bisa tertawa lepas karena masih dalam misi yang harus dilaksanakan
" Enak aja! kalau talinya seperti kapal Air itu ya sama aja besar tali pada celana."
" Udahan cepet turun." Sambung Ayah Candra.
" Bentar Ndra, aku lagi melepasnya, kalau aku paksakan turun sobek semua." ucapnya tersenyum.
" Sudah apa belum Yos?" Tanya papah Boby.
" Udah aku mau turun dulu."
Kemudian Abi Yosep turun dan menyilangkan kakinya kembali turun,tapi ternyata dia tidak menyadari kalau celananya itu masih sedikit benangnya tersangkut dan saat dia turun kebawah dengan gaya meloncat.
" Kreeeeekkkkk..."
" Ya sallam..." ucapnya pelan.
Celananya pun akhirnya menjadi sobek sangat panjang, mereka yang ada di situ pun tertawa tertahan, karena mendengar bunyi sobekan celana dari Abi Yosep.
" Mati aku! kalau seperti ini aku tidak punya celana lagi,sama aja aku masuk kedalam rumah orang seperti mau melahap istri orang aja kalau kaya gini." ucapnya seraya menepuk jidadnya sendiri.
Mereka pun kemudian tertawa masih dengan gaya tertawa ditahan.
" Bob, kamu di mana Bob?cepetan naik." Ucap Abi Yosep.
" Aku di sini Yos dibelakangmu."
" Hah! kapan kamu naiknya?" Tanya mereka bertiga heran.
" Aku lewat situ, kebetulan ada lombang,yang ada disudut pagar ini,dan pas buat tubuhku hehehe..." ucapnya seraya menunjuk disudut pagar rumah Nayra.
" Astaghfirullahaladzim.. Boby...Boby...!Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi sih,kalau ada jalan pintas seperti itu nggak susah-susah manjat kaminya." Ucap Abi Yosep.
" Aku baru nemu sih,heheheh..."
" Emang dasar ulat daun! jika kamu melihat, seharusnya kamu bilang kalau di situ ada lobang, aku nggak cape-cape manjat sampai sobek celanaku ini." Ucapnya lagi.
Papah Boby hanya terkekeh.
" Ya udah nggak apa-apa, sekali-kali mengulang masa muda hehehe." ucap Papa Andre.
" Ya sudah ayo kita masuk kedalam." Ajak Ayah Candra.
Karena suasana rumah Nayra yang terlihat sangat gelap itu, memudahkan mereka untuk melangkah menuju ke arah samping rumah tersebut, saat mereka berada tepat di samping rumah Nayra, terlihat sebuah mobil berhenti didepan pintu pagar dan seseorang turun dari mobil dan membuka pagar tersebut,mobil memasuki halaman rumah tersebut.
" Untung saja kita sudah berada di sini dan sebuah mobil itu memasuki halaman rumah Nayra." Ucap Ayah Candra.
" Jangan-jangan itu adalah Aditama." ucap papah Boby
" Bisa jadi,biar kita lihat aja dari sini." ucap Papa Andre.
Terlihat dua orang keluar dari dalam mobil tersebut, Kemudian mereka pun berbicara di depan mobil,entah apa yang dibicarakan oleh mereka berdua, karena suasana di dalam halaman rumah tersebut sangat gelap, jadi tidak terlihat sama sekali wajah mereka berdua,dan mereka juga tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan dan siapa mereka, yang jelas yang mereka lihat adalah satu orang laki-laki dan satu orang perempuan, terlihat kemudian perempuan itu memasuki mobil kembali dan hanya berdiam diri di dalam mobil tersebut, dengan terdengar suara mobil yang masih menyala dan lampu mobil yang dimatikan, sedangkan seorang laki-laki tersebut memasuki rumah Nayra
Gerak-gerik dari mereka berdua
terlihat jelas oleh mereka berempat yang berada disamping rumah Nayra tersebut.
" Kalian bertiga langsung aja terus ke arah samping, dan kalian bisa melihat Apa yang dilakukan oleh laki-laki itu di dalam terhadap Nayra." Ucap Abi Yosep.
" Kamu mau kemana Yos?" Tanya Papah Boby.
" Aku akan menyelesaikan wanita yang ada di dalam mobil itu."
" Apa yang mau kamu lakukan Yos?" Tanya Ayah Candra.
" Tenang aja, aku kan hantu penunggu pohon nangka, ingat nggak? Hehehe " ucapnya sembari terkekeh pelan.
Mereka pun semua mengangguk dan menutup mulutnya untuk tertawa.
" Aku suka gaya kamu Yos!" ucap papa Bobby.
Kemudian mereka bertiga pun langsung melangkah pelan-pelan di samping rumah Nayra, karena posisi mereka berada di samping pas di dekat kamar Nayra yang terlihat masih menyala lampunya,dan memudahkan mereka mendengar apa yang dilakukan lelaki tersebut dengan Nayra.
Sedangkan Abi Yosep langsung mengendap-ngendap kearah samping pohon yang berdekatan dengan mobil tersebut,dimana didalam mobil itu ada seorang wanita.
Karena suasana masih gelap dan tidak terlihat oleh wanita yang berada di dalam mobil tersebut, dia langsung menuju ke arah belakang mobil itu, tanpa sepengetahuan si pemilik mobil yang sedang asyik memainkan gawainya yang ada di tangannya itu.
" Tunggu saja kamu pasti akan merasakan ketakutan yang luar biasa wanita pengganggu rumah tangga orang! lihat aja aksiku hihihi..." ucapnya sembari menaik turunkan alis matanya
Saat Abi Yosep mau melancarkan aksinya,wanita yang ada didalam mobil tersebut yang ternyata adalah Lidya, dia kemudian turun dari dalam mobil.
" Sepertinya dia ini tidak ada rasa takut-takut sekali berada di dalam kegelapan seperti ini, kayaknya dia ini sering ke sini, apakah ini istri mudanya Aditama?" gumam Abi Yosep sembari berlindung di belakang mobil yang tanpa sepengetahuan oleh Lidya.
Lidya yang sedang menerima sebuah panggilan dari gawai pribadinya itu terdengar sedang berbicara.
" Halo..ya pah, Lidya masih berada bersama dengan suami Lidya, lagi ada urusan menemui seseorang, Oh iya Pah nanti kalau sudah selesai Lidya akan kabari sama papa, apa pah?gawai Lidya tidak bisa diberikan kepada Mas Aditama, karena dia lagi bertemu dengan klien yang memang meminta bertemu saat malam ini, pertemuan mereka dari jam 8 malam sampai sekarang belum selesai,Lidya juga jenuh menunggunya." ucapnya kemudian dia menyudahi panggilannya dengan papanya tersebut.
" Apa yang di omongi Papanya kepada si anak ya? kok aku nggak bisa mendengarnya, Oalah aku kan memang nggak bisa mendengarnya, diakan nggak menggunakan lospeker sih hehehe." Ucap Abi Yosep seraya menutup mulutnya terkekeh takut terdengar oleh targetnya hantu pohon nangka.
Kemudian Lidiya pun masuk kedalam mobil lagi dan kembali mengutak-ngatik gawainya yang berada di tangannya itu.
" Sekarang tibalah saatnya aku akan melancarkan aksi ku, wanita cantik tapi palsu, Aku tidak pernah melihat wajahmu makanya aku bilang kamu palsu, tiba saatnya kamu merasakan bagaimana rasanya seseorang yang mati gentayangan,heheheh." Ucap Abi Yosep pelan berbicara sendiri.
Karena suaranya tidak terdengar mobil yang digunakan oleh Lidya kedap suara, jadi suara di luar tidak sangat terdengar.
" Mobil ini mobil mahal,jadi suara aku tidak akan terdengar, Baiklah aku akan menggunakan caraku yang paling mantap."
Kemudian Abi Yosep pun melangkah pelan dan Dia mengetuk kaca mobil pas di samping Lidia sebanyak tiga kali.
" tok-tok-tok "
Lidya terkejut dia pun langsung menoleh ke kaca mobilnya itu, kemudian dia membukanya secara perlahan dia menengok kiri dan kanan mengeluarkan kepalanya, tapi dia tidak menemukan orang yang mengetuk kaca mobilnya itu.
" Siapa yang mengetuk pintu mobil ku?biasanya aku menunggu di sini tidak ada bunyi-bunyian seperti ini, rumah Ini kan aman tidak tahu siapa pun kalau di dalam sini ada orangnya." ucapnya pelan tapi Abi yosep sempat mendengar perkataan dia seperti itu.