THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 221



" Kenapa kamu tertawa sayang?" Tanya heran papah Andre pada mamah Anisha.


" Ya iyalah sayang, mamah tertawa karena papah itu lho,terlalu curigaan aja sama Sinta,papah ingat nggak waktu dulu mamah mau melahirkan si kembar? Dia kan yang mau nolongi mamah dan membawa mamah kerumah sakit,lagipula dia sudah sadar pah,mana mungkin dia kembali lagi membuat ulah." Ucap Mamah Anisha.


Papa Andre kemudian menatap kearah Mama Anisha.


" Kenapa papa menatap Mama seperti itu?" memang benar kan dia sudah berubah dan tidak akan pernah lagi mengganggu kita, kalau dia memang mau mengganggu kita lagi, dari dulu juga dia sudah mengganggu dan mungkin kita tidak mempunyai anak tiga pah." ucap Mama Anisha tersenyum.


" Iya juga sih perkataan kamu sayang, tapi papah merasa ada yang aneh aja, seperti melihat apa gitu... saat papa bertemu dengan dirinya di bandara itu."


" Tapi kamu belum tahu kan Pah kalau itu anaknya Sinta? siapa tahu itu hanya mirip saja dengan Sinta."


" Iya juga sih Mah "


" Saat mereka memutuskan untuk tinggal di luar negeri, mereka tidak pernah lagi berhubungan dengan kita, mungkin saja itu adalah mirip Sinta aja, tapi tidak ada hubungannya dengan Sinta." ucap Mamah Anisha.


Papa Andre pun menganggukkan kepalanya, merekapun kemudian tersenyum dan kembali menatap ke layar kaca yang masih menyala.


Di rumah Papa Bobby, saat mereka duduk santai dan sama-sama menikmati acara televisi juga bersama keluarganya hanya Clarissa yang tidak ada bersama mereka, karena Clarissa sudah berkeluarga dan tinggal dirumah nya sendiri.


Papa Boby kemudian duduk di samping Mama Lala.


" Mbeb.." Panggil Papa Boby.


" Hhmmm..." jawab singkat Mama Lala tapi dia tidak berpaling menatap papa Boby, karena dia tetap asyik menatap layar kaca.


" Apakah kamu pernah mendengar kabar Rendy dan Sinta?"


Mama Lala pun langsung terkejut dan menoleh kearah Papa Boby, suaminya itu hanya tersenyum sembari menatap kearah Mamah Lala, kemudian Mamah Lala pun membenarkan duduknya dan langsung menghadap kearah Papa Boby yang awalnya dia duduk membelakangi Papa Boby sekarang mereka saling berhadap-hadapan dalam satu sofa yang ada di ruang tv tersebut.


" Kenapa kamu terkejut Mbeb?"


" Ya Iya lah Mbeb aku terkejut, karena baru kali ini kamu menanyakan keluarganya Rendi dan Sinta, memang ada apa?" Tanya mamah Lala heran pada suaminya tersebut.


" Nggak aja sih Mbeb, karena tadi di saat kami sampai dari kota sebelah si Andre ditabrak seorang wanita yang mukanya katanya mirip sama Sinta, ya aku mengira aja siapa tahu itu anaknya Sinta yang bernama Amelia, kan waktu itu Amel masih kecil mereka memutuskan pindah ke luar negeri dan sekarang kan mereka hilang kontak dengan kita semua." ucap Papa Boby.


" Hhmmm..." terdengar helaan nafas dari Mamah Lala dia pun kemudian menatap kembali ke layar kaca.


" Mbeb.. memang ada apa sih? tolong dong ceritakan denganku, biar aku bisa mengerti,pasti kamu menyembunyikan semuanya ini dariku,iya kan?" Tanya papah Boby sembari tersenyum.


" Mbeb...Aku tidak menyembunyikan apa-apa dari kamu Mbeb." Jawabnya tapi dia tidak menatap kearah Papa Bobby.


" Pasti ada yang kamu sembunyikan dariku, cerita dong Mbeb." Ucap Papa Bobby seraya menyentuh pundak sang istri.


Mamah Lala kemudian memalingkan kembali wajah dan menghadap kearah papah Boby.


" Sebenarnya tidak ada yang aku sembunyikan Mbeb denganmu, semua sudah tahu bagaimana sifat keluarga Rendi, makanya papa aku juga tidak terlalu mengurus mereka, karena disaat Papa mempunyai masalah dulu mereka pun tidak peduli dengan papa, Jadi sebenarnya aku tuh malas untuk bercerita dengan kamu." Terang mamah Lala


" Memang sebenarnya ada masalah apa?"


" Semenjak tante Lani meninggal dunia,kamu kan tahu Rendy mutuskan untuk tinggal diluar negeri,tapi kamu tidak tahu kalau keluarga Rendi di sini ribut dengan peninggalan tante Lani,yaitu usaha yang dirintis tante Lani lah yang diributkan mereka,Rendy sendiri tidak meminta sepeserpun dari peninggalan Mamahnya itu dengan alasan kalau Rendy itu tidak berhak dalam kekayaan Tante Lani itu,karena kekayaan tante Lani itu adalah usaha yang dirintis bersama Om Yoyok suaminya, tante Lani dan Om Yoyok mengadopsi Rendy,karena mereka tidak dikaruniai Anak selama pernikahan mereka."


" Apa? Anak Adopsi? Masa sih Mbeb,kok aku nggak tahu sih?" Ucap Papah Boby seraya menatap Mamah Lala.


" Karena aku juga tidak tahu,setelah tante Lani meninggal barulah almarhum papah bercerita pada kami."


" Buat apa lah Mbeb, aku pikir itu tidak penting juga sih, karena bagiku kandung ataupun Adopsi sama aja,aku tetap menganggap Rendy adalah keluargaku." Ucapnya dianggukkan oleh papah Boby.


" Selama mereka pindah keluar Negeri Rendy nggak pernah menghubungi kami, mungkin dia memutuskan untuk tinggal dan bahagia bersama Sinta dan dua anaknya itu tidak ingin terganggu."


" Sinta mempunyai dua anak ?"


" Iya, dua orang anak perempuan itu yang terakhir aku dengar kabar dari almarhum papah, aku juga tidak tahu sekarang Gimana kabar mereka yang jelas Rendy itu mempunyai hubungan buruk dengan saudara dari Papanya, sampai sekarang juga aku nggak tahu keadaan dia di sana Mbeb." Terang mamah Lala.


Papa Bobby hanya menganggukkan kepalanya saja, Kemudian mereka berdua saling terdiam dan sama-sama menatap ke layar televisi.


Papa Bobby Bun merasa tidak yakin merasa kalau itu adalah anaknya Sinta.


" Tapi saat Andre melihat wajah wanita itu terlihat ada sedikit ketakutan, seperti orang tergesa-gesa, tapi mungkin saja itu bukan anak Sinta Mbeb."


" Sampai sekarang pun aku tidak pernah lagi melihat anaknya itu, apa karena waktu itu dia masih kecil, aku juga lupa berapa tahun umurnya sewaktu dibawa ke luar negeri, untuk memulai kehidupan baru mereka." ucap Mamah lala.


" Yah mudah-mudahan aja tidak terjadi apa-apa dengan keluarga Sinta dan Rendy, dan kalau dia itu memang benar anak Sinta tidak mungkinkan Rendi dan Sinta tidak mengatakan kalau keluarga dari Rendy masih ada, pintu rumah keluarga disini pun masih terbuka ya contohnya seperti kita, kalau memang keluarga dari yang lain tidak mau menampung mereka,setidaknya ada kita yang bisa mereka akui sebagai keluarga mereka." ucap Mamah Lala lagi.


" Iya benar juga sih, Biar bagaimanapun itu adalah keluarga kamu." Ucap Papa Boby


" Yang jahat itu adalah keluarga dari Papanya Rendy, karena mamanya Rendy waktu itu saja tidak boleh memberikan bantuan ataupun memberikan apa saja untuk pihak keluarga mamahnya Rendy, sebenarnya mamahnya Rendy itu memiliki beberapa usaha, tapi sekarang tidak tahu usahanya itu siapa yang mengelolanya, Setelah mamanya Rendy itu meninggal dunia,tapi setahu aku salah satu dari usaha mamanya Rendy itu adik dari Bapaknya yang mengurusnya." Ucap Mamah Lala lagi.


Papa Boby hanya menganggukkan kepalanya saja.


" Ya sudahlah biarkan aja mungkin si Andre cuma salah lihat aja kali,atau memang kebetulan wanita itu memang mirip dengan Sinta, karena kan di dunia ini lebih tujuh rupa diciptakan oleh yang mahakuasa." Ucap Papah Boby sembari tersenyum.


Mama Lala hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mereka kembali menikmati acara televisi tersebut,bagi mereka masalah Rendy adalah masalah Rendy, karena Rendy tidak pernah menghubungi keluarga mereka yang ada di Indonesia, mungkin karena Rendy kecewa dengan keluarga Papanya ataupun Rendy tidak ingin menyusahkan keluarga dari pihak mamanya ataupun pihak Papanya, dan dia tidak ingin mengganggunya.


Mereka pun kemudian menganggukkan kepalanya dan kembali menikmati acara TV tapi papa Boby dan Mama Lala larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Jarum jam di rumah mereka masing-masing menunjukkan pukul 22.30 malam, merekapun kemudian masing-masing memasuki kamar mereka dan merebahkan tubuh mereka untuk menikmati waktu istirahat mereka, dan merekapun larut dalam mimpinya masing-masing.


*****


Keesokan paginya sesuai dengan kesepakatan Mereka pun bersiap-siap ingin menghadiri sidang kantor bagi anggota kepolisian yang ingin menikah,Morgan yang berpakaian seragam lengkap memasuki mobil pribadinya,bersama kedua orang tuanya, mobil itupun perlahan-lahan meninggalkan depan rumah pribadi orang tua Morgan, Sedangkan Anindita bersama dengan papa Andre dan mama Anisha pun sudah bersiap-siap menuju ke kantor tersebut, acara itupun dilaksanakan pada jam delapan pagi, Morgan yang terlebih dahulu sampai dikantornya,dia menunggu di depan parkir mobil yang ada di kantornya itu, menunggu calon mertua dan calon istrinya tersebut, sampai beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Papah Andre, Mama Anisha dan Anindita pun memasuki halaman parkir kantornya Morgan.


Morgan tersenyum melihat mobil sang calon istri sudah memasuki halaman parkir tersebut, mereka bertiga turun dari mobil karena mobil dikendarai oleh Papa Andre sendiri dia tidak ingin menggunakan jasa sopir pribadi, disusul dengan kedatangan papah Boby dan Ayah Candra.


Morgan pun berjalan mendekati mereka dan menyalami sang calon mertua,papah Andre dan mamah Anisha tersenyum pada calon menantunya itu, dia mempersilahkan mereka masuk kedalam karena acara sebentar lagi mau dimulai, sahabat mereka hanya Arvin yang datang dikarenakan Abiyasa dan Clarissa masih berada di kota sebelah.


Abiyasa dan Clarissa sudah menghubungi Morgan karena belum bisa mengikuti acara tersebut, karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, kemudian sebuah mobil memasuki halaman parkir kantor Morgan, siapa lagi kalau bukan Marco yang datang karena Marco Tidak ikut dalam satu mobil dengan Morgan, Dia datang sendiri ingin menyaksikan Acara adiknya tersebut,Dia pun kemudian berjalan melangkah menuju ke arah acara yang sebentar lagi mau dimulai.


Beberapa saat kemudian acara pun dimulai, Mereka menyaksikan acara demi acara sampai akhirnya acara itu pun selesai dengan lancar.


Mereka yang berada di tempat itu kembali ke mobil mereka masing-masing dan mereka Langsung meninggalkan kantor tempat Morgan bekerja.


****


Betsambung...


Santai dulu ya teman...😊