
" Alhamdulillah ya Allah sekarang keluargaku sudah mulai lengkap, Ya Allah semoga Abi bisa merasakan kebahagiaan ini." ucap Ayesha dalam hatinya.
kemudian dia berbalik kearah suaminya dan memeluk suaminya dengan erat dan Abiyasa menerima pelukan sang istri.
" Terima kasih ya Mas,karena mas sudah membawa tante dan kakak ke sini." ucapnya begitu bahagia.
" Iya sayang, Alhamdulillah kita tidak terlambat, ya udah ayo kita keluar, kita bicara di luar aja." ucap Abiyasa.
Kemudian tante Dwi di gendong oleh Arvin menuju ke sofa yang ada di ruang tamu.
" Apakah kaki tante tidak bisa berjalan?" tanya Abiyasa setelah Tante Dwi duduk di di sofa.
" Iya nak,tante tidak bisa berjalan, kedua Kaki tante lemas, tante juga tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada kaki tante nak, tante tidak mengalami kelumpuhan, saat berobat diantar sama Bella setelah minum obat dari dokter tante bisa berjalan kembali, tapi saat Bimo yang sering memberikan tante obat saat itulah kaki tante mulai teras lemah, Karena dia nilang Bella tak lagi memberikan obat buat tante karena Bella ada kesibukan di luar, saat minum obat dari Bimo tante tidak bisa lagi berjalan seperti ini."
" Iya Pak,saya sering aja memberi Mamah obat,tapi bila obat mamah habis dia yang membelinya dan dia juga yang memberikannya pada mamah, karena saya tidak boleh lagi mengurus mamah, saya harus fokus pada Bos bos yang telah memberikan bantuan dana pada perusahaan nya. tapi saya tidak tahu apakah obat itu benar yang di tebus dari resep dokter atau sudah di rubah oleh Mas Bimo, mamah di beri obat selalu rutin tapi perubahannya tidak ada sama sekali, saat mau diajak ke rumah sakit ataupun ke dokter spesialis Mas Bimo selalu melarangnya pak." Terang Bella.
" Mbak Bella, mbak nggak usah memanggil saya bapak, saya adalah suaminya Ayesha, adik sepupunya mbak,jadi mbak anggap saya ini adik juga, tidak perlu mbak memanggil saya dengan sebutan bapak." Terang Abiyasa
" Iya dek " ucapnya lagi.
Kemudian Abiyasa mengambil gawainya dan menghubungi Anindita, setelah berbicara dengan adiknya itu,Abiyasa meletakkan gawainya di atas meja.
Beberapa saat kemudian, terdengar mobil Anindita datang, dan Anindita tergesa gesa memasuki rumahnya.
" Ada apa kak.?" Tanya Anindita
" Ini lho dek, mas baru saja membawa Tante Dwi, tante Dwi ini tantenya Ayesha,saudaranya Abi Yosep, kata tante beliau minum obat kalau dari dokter tante bisa jalan, tapi kalau dari menantunya tante tidak bisa jalan." Terang Abiyasa pada Anindita.
" Apa ada contoh Obatnya?" Tanya Anindita.
" Bella nggak bawa mah.." ucap Bella pada mamahnya.
" Mamah ada bawa nak." Ucap Tante Dwi seraya merogoh saku bajunya dan memberikan obat tersebut kepada Anindita.
Anindita mengambil dan memperhatikan obat tersebut.
" Astaghfirullahaladzim...sejak kapan tante mengkonsumsi obat lemah otot ini.?" Ujarnya.
" Apa ? lemah otot?" tanya mereka semua.
" Iya Kak,ini adalah obat pelemahan otot, karena saat dikonsumsi terus-menerus otot kaki akan melemah dan tidak bisa berfungsi seperti biasanya, semua otot tidak akan bisa bergerak tapi yang utama ini adalah otot kaki jadi dia mengalami kelemahan untuk berdiri,walaupun dia bisa berdiri tapi dia tidak akan bisa lama, kalau seandainya sedang duduk,dan mau berdiri pun tidak akan bisa. " Terang Anindita.
" Berarti obat itu sudah di rubah oleh Mas Bimo." Ucap Bella.
" sepertinya begitu.." ucap Abiyasa.
" Ya udah nanti kita ambil darahnya tante Dwi, kita cek di laboratorium." Ucap Anindita.
" Tapi dek, Tante Dwi enggak usah di rawat di rumah sakit, rawat di rumah aja gimana? karena masalah ini belum selesai Tante Dwi jangan keluar dulu dari rumah kita." Ucap Abiyasa.
" Oke Kak, nanti aku akan ngambil darahnya Tante Dwi dan dicek di laboratorium kita, setelah itu nanti aku akan membawa peralatan untuk Tante Dwi dirawat dirumah." ucapannya.
Kemudian mereka duduk bersama lagi Anindita kemudian mengambil darah Tante Dwi dan dia pun berpamitan, Anindita kembali lagi ke rumah sakit untuk mengecek langsung darah Tante Dwi.
" Tinggal rencana selanjutnya." Ucap Abiyasa.
" Kita tunggu kabar dari Morgan." Ucap Arvin, lalu dia menghubungi Morgan tapi gawai Morgan tidak bisa dihubungi.
" Sepertinya Morgan sudah berangkat ke sini kayaknya, gawainya pun sudah tidak bisa dihubungin." Ucap Arvin.
" Siapa yang punya nomor gawai Rahmat.?" Tanya Arvin lagi.
" Aku lupa minta nomor Rahmat." Ucap Abiyasa.
" Sama." Jawab Clarissa.
" Ya udahlah kalau gitu, kita tunggu aja kedatangan Morgan." Ucap Abiyasa lagi.
" Ini Biy, kertasnya." Kata Arvin seraya memberikan kertas kecil pada Abiyasa.
" Kertas apaan Vin.?" tanya Abiyasa.
" Lihat aja sendiri." Jawab Arvin tersenyum.
Kemudian Abiyasa mengambil dan melihat kertas yang dikasihkan oleh Arvin pada nya.
" Astaga...!cek nya ini,gimana caranya kamu ngambilnya Vin?bukan kah cek ini ada di saku kemejanya pak Bimo.?" Tanya Abiyasa sembari tersenyum.
" aku jadi polisi...!" ucap Clarissa memotong ucapan Arvin.
" Hadeh...! gayamu Vin." ucap Clarissa lagi seraya tersenyum pada Arvin.
Arvin terkekeh...
" Tadi kan kamu lihat, aku sengaja menabrakkan diriku pada si Bimo, saat itu aku langsung ambil cek nya dari kantong saku kemejanya,Jadi sekarang dia tuh sudah hilang semuanya, istrinya, mertuanya, sama cek itu, hehehe ya tinggal kita menggebrak nya langsung aja, kapan kita akan menangkapnya." ucap Arvin sangat bersemangat ingin menangkap si Bimo.
" Kenapa sih Biy kamu mengasihkan cek sebanyak itu.?" Tanya Clarissa.
" Itu tuh sebenarnya rencana Aku, sebelum aku menggerebek dia, aku sudah menghandle nomor seri cek itu,walaupun dia mau mencairkan cek itu pun, dia tidak akan bisa mencairkan nya karena aku sudah email ke bank dengan nomor resi yang ada di cek itu, dia kan nggak tahu tuh yang ditandatanganinya berkas apa? sebenarnya yang ditandatangani nya itu adalah penyerahan istri dan mertua nya ke tangan keluarga istri dan mertua nya, ya tangan kita gitu loh, makanya aku tawarkan Dia membacanya tapi syukur Allah melindungi kita,dia tidak membaca berkas itu. Jika seandainya dia pintar, mungkin dia membacanya terlebih dahulu, tapi karena dia menginginkan uang itu makanya dia tidak membacanya, karena dia melihat wajahku ini orangnya jujur jadi dia percaya aja padaku." ucap Abiyasa.
" Hebat....! mantap kau Abiyasa, aku padamu.!" ucap Alvin tersenyum.
" Eh...! ada istri aku nih, ngapain kamu padaku." Kekeh Abiyasa.
" Ntar jeruk makan jeruk lagi heheh." Sambung Clarissa tertawa pelan.
" Aku bilang,aku tuh... Aku padamu Abiyasa, karena aku suka dengan gaya rencananya yang tidak terduga." ucap Arvin membela dirinya.
Mereka pun tertawa bersama-sama, sekarang tante Dwi dan mbak Bella, kalian tinggal aja di sini dulu, dan tolong jangan keluar dari rumah ini, apapun yang kalian perlukan bilang lah sama ART disini, dan bilang lah pada diriku atau istri ku." Ucap Abiyasa.
Tante Dwi dan Bella hanya mengangguk.
" Rumah kita dijaga lagi dong Mas." Ucap Ayesha.
" Iya sayang, sementara waktu harus dijaga,karena tidak mungkin kan Mas selalu ada di rumah Sayang." ucapnya sembari tersenyum.
" Iya Mas." ucap Ayesha.
Di rumah Bimo...
Dia kemudian mengambil sebuah minuman yang berakohol, dia mengambil dari simpanan minumannya tersebut.
Kemudian dia membawa minuman itu dan meneguknya sedikit demi sedikit, sembari duduk di sofa nya.
" Akhirnya aku mendapatkan uang 2 milyar, aku sekarang bisa happy bahkan aku juga bisa mendapatkan yang lainnya lagi selain dengan Abiyasa, pintar juga mertuaku itu." Kekehnya.
Dia meraih gawainya dan menghubungi pak Ginos yang ada di kota S.
" Halo selamat siang saudaraku.." ucap pak Bimo.
" Selamat siang, ada apa? gimana kabarmu?"
" Kabarku baik aja." Jawabnya.
" apakah kamu tidak merindukan Bella yang cantik itu?"
" Sampai kapanpun aku selalu akan merindukan pelayanan Bella kepada ku."
" Kalau kamu merindukannya datanglah ke sini,aku akan memberikan yang lebih lagi dari Bella "
" Oke..nanti kalau aku ada di kotamu,aku akan memberi kabar padamu dan Langsung ke rumahmu."
" Kamu ada di mana sekarang.?"
" Aku sekarang ada di kantor ku,kelihatan nya kamu ini memerlukan sesuatu dari ku.?"
" Hahahah...kamu tau aja."
" Oke, aku tahu maksud kamu, nanti aku transfer seperti biasa" ucapnya terkekeh.
" Kamu memeng rekan bisnis yang pengertian." Ucap Bimo.
" Kamu juga rekan yang terbaik memberikan yang sangat cantik, aku suka Bella." Ucapnya.
Setelah saling puji mereka lalu mengakhiri sambungan bicaranya.
" Hahahaha....mantap sekali, dua milyar sudah ada ditangan dan ratusan juta juga akan mendarat di rekening gendut ku hahaha." Seraya mempraktekkan gaya mendarat sebuah pesawat dengan telapak tangan nya.
" Wus..." Ucapnya sembari tertawa lebar.
Namun dia tidak menyadari kalau cek tersebut sudah raib dan berpindah ke tangan Arvin dan kembali ketuannya Abiyasa.
Dia juga tidak menyadari kalau dia sudah di tunggu hotel prodeo gratis Arvin dan Morgan.